The Way Love

The Way Love
CXII


__ADS_3

Suasana Vila begitu sepi. Tidak ada penjagaan yang ketat seperti semalam. Seperti semua orang pergi entah kemana.


Disebuah kamar di vila itu. Anna terbaring dengan banyak luka ditubuhnya. Letih. Itulah yang terlihat diwajahnya saat ini.


Perlahan matanya mengerjap. Dengan susah payah Anna mencoba untuk duduk. Dia melihat jam di ponselnya. Sudah siang, batin Anna. Anna melihat sebuah pil di atas nakas. Dia tahu, saat ini dia harus lebih sering meminum pil itu.


Tanpa sadar air mata Anna menetes. Hanya karena orang yang dicintainy memilih yang lain. Anna harus masuk kesebuah jurang yang tidak memiliki dasar. Hanya untuk balas dendam tentang cinta yang selalu tertolak.


"Semua ini gara-gara kamu, Sya. Cepat atau lambat, aku pasti akan melihatmu sengsara."


Tangan Anna menyeka air matanya. Dia menatap kelangit-langit kamar itu. Dia kini memiliki pemilik yang menyukainya. Lebih tepatnya menyukai tubuhnya.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Anna. Anna melihatnya, pemberitahuan dari bank. Dia mendapat kiriman uang yang cukup besar. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Tom.


Tom memang memberikan segalanya. Hanya saja, Anna harus merelakan kebebasan juga harus mau datang. Kapanpun Tom menginginkanya.


"Nona. Tuan Tom memberikan ini untuk Nona."


Entah sejak kapan pelayan itu berada disana. Anna menerima kotak itu dan membukanya. Sebuah kalung, disana terdapat kertas. Aku akan memperlakukanmu seperti ratu, Lufas pasti akan menyesal. Itulah tulisan yang berada di atas kertas.


Anna menyunggingkan senyum. Lalu kembali melihat kearah pelayan disampingnya.


"Siapkan air mandi dan juga baju untukku," kata Anna.


"Baik, Nona."


Setelah membersihkan dirinya. Anna bersiap untuk kembali ke vila averest. Dia akan datang ke vila ini jika Tom membutuhkannya. Hanya itu. Hidup Anna masih lah miliknya, selama Tom tidak sedang bersamanya.


***


Hidangan untuk sarapan sudah siap. Sya kembali masuk ke kamar dan mencoba membangunkan Lufas. Perlahan, Sya memegang tangan Lufas sembari memanggil namanya.


"Lufas. Bangun, sudah pagi. Kamu kan harus kerja."


Lufas mengerjapkan matanya. Dia langsung melihat wajah Sya saat itu. Wajah yang terlihat begitu lelah.


Tangan Lufas menarik tubuh Sya kembali berbaring di tempat tidur. Sya mencoba untuk bangun, tapi Lufas menghentikannya.


"Tetaplah dipelukanku, lima menit saja."


Akhirnya Sya hanya diam dan menuruti perkataan Lufas. Sampai lima menit itu berakhir, Sya bangun dan menarik Lufas. Dia sudah mendapat dua panggilan dari Ben karena ada rapat pagi ini.


Saat Lufas akan memasuki kamar mandi. Sya langsung menyerobot masuk dan menguncinya dari dalam. Entah apa yang membuat Sya melakukan ini, dia hanya merasa mual dan ingin muntah.


"Sya. Kamu kenapa Sya," Teriak Lufas.


Tidak ada jawaban. Lufas hanya mendengar suara Sya sedang muntah.


"Buka pintu Sya. Kamu kenapa?"


Tidak lama Sya membuka pintu. Lufas langsung membantunya untuk kembali ke tempat tidur.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lufas.


"Ya. Aku baik saja. Hanya mual setiap pagi."


"Mau periksa ke dokter? atau kau sudah salah makan?"


Sya menggeleng. Dia memegang tangan Lufas perlahan.


"Ini karena aku hamil. Aku harus menikmati semua ini."


"Tapi..."

__ADS_1


"Tidak ada tapi. Sekarang mandilah, lalu sarapan. Kantor sedang membutuhkanmu saat ini."


Dengan berat hati akhirnya Lufas meninggalkan Sya. Sya merasa kembali mual, tetapi memilih untuk menahannya. Jika Lufas tahu, dia akan memilih untuk berada di apartemen sepanjang waktu bersamanya.


Sya memilih untuk mandi disaat Lufas sarapan. Hal itu akan membuatnya segar dan sedikit menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba datang.


Tanpa menunggu Sya keluar kamar mandi. Lufas membersihkan meja makan. Dia juga menyiapkan buah untuk Sya makan. Saat Lufas membuka pintu lemari, Lufas melihat kotak susu. Dia membaca kata dalam kemasan susu itu. Susu untuk ibu hamil.


Senyum Lufas terlihat. Dia mulai membaca cara menyeduhnya. Setelah itu masuk ke kamar dengan satu gelas susu dan piring berisi buah yang telah dikupas.


Sya keluar dari kamar mandi dan melihat apa yang sedang dilakukan Lufas. Kaget sekaligus merasa senang.


"Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu," kata Lufas.


"Terima kasih," kata Sya yang langsung memeluk Lufas.


Kali ini Lufas merasakan ada yang berbeda saat Sya memeluknya. Walau begitu, Lufas mencoba membuang pikiran anehnya. Dia melepaskan pelukan Sya itu.


"Aku pergi kerja dulu. Kau baik-baiklah di sini."


"Tentu saja."


Sya kembali sendiri di apartemen. Melihat semua pekerjaan sudah selesai. Sya memilih sebuah buku di rak. Dia membaca dengan tenang. Walau sesekali dia harus merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


Bel apartemen berbunyi. Sya merasa terganggu, tapi dia harus melihat siapa yang datang. Seorang pengantar paket dengan seragam merah.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sya.


"Ada paket untuk Tuan Lufas."


Sya menerima paket itu. Sebelum si pengantar paket pergi. Sya harus tanda tangan lebih dulu. Sebagai tanda bukti jika benar-benar dia yang menerimanya.


Di dalam kamar Sya meletakan paket itu. Dia begitu penasaran namun takut untuk membukanya. Karena bingung, Sya memilih untuk menelfon Lufas terlebih dahulu.


Setelah beberapa dering.


"Ada paket untukmu."


"Paket?"


"Ya."


"Dari siapa?"


Sya melihat lagi ke kotak paket itu. Disana tidak ada nama pengirim. Hanya ada nama sebuah tempat.


"Tidak ada nama pengirim. Hanya ini dikirim dari sebuah apotik yang dekat dengan vila averest."


"Aku tidak memesan apapun dari sana."


"Lalu kenapa ada paket atas namamu?" Sya kembali bertanya.


"Buka saja. Setelah itu telfon aku lagi."


"Baiklah."


Sya menutup telfonya. Dia meletakan ponselnya diatas tempat tidur. Dia juga membuka kotak dengan teliti.


Ada beberapa obat di dalam sana. Tidak ada resep atau keterangan apapun. Hanya obat saja. Sya yang penasaran obat untuk apa itu memilih mencari tahu diinternet.


Hasil diinternet begitu banyak. Hanya sebagian besar mengatakan jika obat itu adalah penggugur kandungan. Sya kaget tahu hal ini, dia berfikir jika Lufas memesan obat itu untuk Sya. Beberapa hari lalu Lufas memintanya untuk menggugurkan kandungan.


Rasa kecewa hadir dalam hati. Sya meletakan obat itu sembarangan. Dia memilih untuk masuk ke dalam selimut. Dia ingin bersembunyi dari Lufas. Meski itu tidak mungkin.

__ADS_1


***


Di dalam ruangannya Lufas beberapa melihat kearah ponselnya. Tidak ada panggilan yang dikirim oleh Sya. Lufas juga penasaran dengan paket yang baru diterima Sya.


Lufas mencoba fokus pada pekerjaanya. Tidak bisa, Lufas merasa ada yang salah. Dia mengambil ponsel dan mencoba menelfon Sya.


Tidak ada jawaban.


Beberapa kali Lufas mencoba. Hasilnya sama saja, Sya tidak mengangkat telfon itu. Hal ini membuat Lufas merasa gelisah. Hal itu dilihat oleh Ben. Ben mendekat.


"Apa ada yang salah?" Tanya Ben.


"Tidak. Aku akan pulang sebentar. Kau urus kantor."


Ben hanya mengangguk. Percuma dia bertanya saat ini Lufas sudah berjalan pergi dari ruangan itu. Melihat pekerjaan yang masih menumpuk Ben melanjutkanya tanpa komentar.


Dalam perjalanan kembali Lufa terus mencoba menghubungi Sya. Walau hasilnya masih sama tapi Lufas tidak menyerah.


Sampai di apartemen Lufas masuk dan mencari Sya. Dia membuka kamar dan melihat Sya yang terbungkus selimut. Ponselnya berada di luar selimut di samping bungkus obat.


Lufas mendekat dan melihat obat itu. Dia lalu duduk di samping Sya.


"Obat apa ini?" Tanya Lufas.


Sya masih diam saja.


"Sya. Aku bertanya padamu. Obat apa ini?"


Sya menyibakkan selimutnya dengan keras. Dia duduk dan menatap pada Lufas.


"Kau bertanya padaku obat apa itu? bukankah kau sendiri yang membelinya."


"Apa maksudmu Sya?"


"Aku tahu kau tidak menginginkan anak ini. Hanya saja kenapa kamu tega melakukan ini."


Lufas terlihat kebingungan.


"Sya jelaskan padaku," kata Lufas.


"Tidak perlu aku menjelaskannya. Pergi dari sini dan jangan kembali sampai kau tahu kesalahanmu," kata Sya.


"Sya."


Dengan sekuat tenaga Sya mendorong tubuh Lufas keluar dari kamar. Setelah itu Sya kembali masuk dan menutup pintunya. Tidak lupa Sya menguncinya dengan rapat.


"Sya. Buka dulu pintunya. Jelaskan padaku."


"Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu saat ini."


Lufas menatap obat ditangannya. Sya benar-benar marah pada Lufas. Mau tidak au Lufas harus mencari tahu obat apa itu dan siapa yang mengirimnya.


Jika hal ini masih belum selesai. Lufas akan sengsara karena tidak bisa melihat Sya.


Sampai di kantor Lufas melempar obat itu pada Ben. Ben menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Cari tahu obat apa itu dan siapa yang mengirimkannya padaku."


"Apa ada masalah?" Tanya Ben.


"Ya. Sya marah padaku karena ada yang mengirim obat itu untukku."


"Baiklah."

__ADS_1


"Cari tahu secepatnya atau Sya tidak akan mau bertemu denganku lagi."


Ben tahu masalah ini begitu gawat. Jadi dia harus bertindak cepat.


__ADS_2