The Way Love

The Way Love
CLXI


__ADS_3

Suasana jalan sedang begitu ramai. Sya baru saja keluar dari sebuah super market saat mendapatkan sebuah telfon.


Melihat siapa yang menelfonya. Dia memilih untuk berada di tempat yang sedikit sepi. Sya meletakan semua barang yang dia bawa. Lalu mengangkat telfon itu.


"Halo, ada apa menelfonku?" Tanya Sya.


"Halo, Nyonya Sya. Persidangan sudah selesai, saya akan melaporkan hasilnya untukmu."


Ya. Hari ini adalah hari persidangan yang menentukan hak asuh Danendra seutuhnya. Jantung Sya berdetak begitu cepat. Dia tidak tahu, harus memposisikan diri seperti apa.


"Nyonya."


"Ya, katakan saja."


"Apa saat ini kau di rumah?"


"Tidak."


"Jika begitu. Aku akan menelfonmu lagi nanti untuk hal ini."


"Kenapa? Kau bisa mengatakannya sekarang."


"Nyonya..." Suara itu menggantung.


"Aku tidak apa. Katakan saja."


"Ya, hasilnya tidak baik. Danendra didatangkan, dia jelas menolak anda dengan segala alasan yang dia bawa."


Sya tersenyum kecut mendengar itu.


"Dia memilih untuk tetap tinggal dengan Tuan Lufas."


"Tidak masalah. Kau sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih," kata Sya.


"Ya."


Sya menutup telfon itu dan diam. Dia menatap jalanan lagi. Rasanya, dia tidak mampu untuk melangkah maju.


Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat dimana Sya berdiri. Mike keluar dari mobil itu dan langsung memeluk Sya. Beberapa orang yang lewat menatap mereka.


"Kau tidak apa?" Tanya Mike.


"Ya. Aku tidak apa."


Setelah mendengar hal itu. Mike melepaskan pelukannya. Dia membantu Sya untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu baru Mike mengambil barang belanjaan Sya.


Di dalam mobil Sya tidak mengatakan apapun. Tatapanya kosong. Mike dengan lembut memegang tangan Sya. Mencoba mengatakan jika dia akan selalu ada untuk Sya.


"Mike. Aku tidak apa."


"Benarkah. Wajahmu mengatakan hal yang lain."


"Aku hanya lapar. Ayo kita cari tempat makan."


Mike melihat jam tangannya. Memang sudah wwaktunya untuk makan siang.


"Baiklah. Kita akan makan di tempat yang kamu inginkan."


"Aku ingin makan makanan yang kamu suka," kata Sya.


"Ok."


Mike datang menjemput Sya bukan karena dia ingin. Dia mendapatkan kabar tentang hasil persiidangan. Mike tahu, Sya pasti akan sedih, jadi dia datang untuk menghiburnya.


Meski Sya mengatakan jika dia baik-baik saja. Mike masih saja tidak percaya akan hal itu.


***


"Mika. Maaf, aku mengatakan hal itu kemarin," kata Lufas dengan nada memelas.


Mika masih saja diam dengan tangan menyuapkan makanan kemulutnya. Dia masih marrah dengan apa yang dikatakan oleh Lufas kemarin.


"Jika kau ingin menikah denganku. Baiklah, aku akan datang menemui orang tuamu. Kita akan segera menikah."


Saat itu Mika langsung menghentikan tangannya menyuap makanan. Dia menoleh pada Lufas.


"Ya. Aku serius mengatakan hal ini."


"Kalau begitu. Apa anakmu akan setuju tentang ini?"


"Aku akan membuatnya setuju."


Mika sedikit tersenyum. Lalu mendorong piring di depannya. Dia memilih untuk memegang tangan Lufas.


"Kau belum pernah memperkenalkan aku pada anakmu. Bagaimana jika kita mengadakan makan malam bersama."

__ADS_1


"Ya. Apapun yang kau mau, Sayang."


Mika terlihat senang dengan hal ini. Jika dia sudah menikah, Sya tidak akan lagi mengusiknya mengenai sebuah hubungan. Dia juga bisa mencerca Sya sepuasnya nanti.


"Aku ke toilet sebentar."


Lufas mengangguk. Dia langsung menghela nafas panjang saat Mika keluar dari ruangan itu. Saat ini, Lufas hanya ingin Mika melakukan apa yang dia inginkan. Termasuk mengintimidasi Sya hingga dia tidak bisa tersenyum lagi.


Ponsel Lufas berdering. Dia melihat Danendra yang menelfonya. Saat ini Lufas mengangkatnya.


"Ada apa?" Tanya Lufas langsung.


"Aku sudah melakukan semua yang Papa mau."


"lalu bagaimana hasilnya?" Tanya Lufas yang tidak sabaran.


"Kita menang."


"Apa Mamamu datang kesana?"


"Tidak." Jawaban Danendra terdengar tidak baik.


"Mungkin dia tidak ingin kau melihatnya menangis."


Danendra tertawa. "Aku malah ingin melihatnya menangis."


"Jangan seperti itu. Dia Mamamu."


"Bukan. Aku tidak punya Mama."


"Sudahlah. Papa sedang ada urusan. Kita bicara lagi nanti."


"Ok."


Saat Lufas memasukan kembali ponselnya ke kantung. MIke dan Sya masuk ke dalam restoran. Entah apa yang terjadi, tapi mata Sya dan Lufas saat itu langsung bertemu.


Senyuman terurai di wwajah Lufas saat itu. Sya tahu, Lufas sedang tersenyum mengejeknya. Meski begitu, Sya tidak ingin sampai kesedihanya di lihat orang lain.


"Ada apa?" Tanya Mike yang merasa jika ada yang berbeda dari Sya.


"Tidak." Sya langsung menggandeng tangan Mike.


Saat itu Mike menoleh kearah Lufas. Senyum, setelah itu Mike memilih untuk memeluk pinggang Sya dengan mesra.


Wajah tersenyum Lufas langsung berubah. Dia bahkan menggertakan giginya karena kesal.


"Ya," jawab Sya.


Mereka memilih tempat duduk yang tidak jauh dari Lufas. Mike sengaja menyullut rasa cemburu di hati Lufas. Bagaimanapun dia suka saat istrinya banyak yang menyukai.


"Mau makan apa?" Tanya Mike.


"Kau saja yang pilihkan."


"Ya."


Mike memilih beberapa menu. Lufas masih mencoba mencuri pandang pada Sya dan Mike. Bagaimanapun, perasaan Lufas yang sebenarnya masih belum bisa disembunyikan.


Mika baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Lufas menatap kearah lain. Mata Mika mengikuti arah tatapan itu. Mike dan Sya.


Mika tanpa ragu menarik tangan Lufas saat itu. Lufas yang kaget langsung melepaskan tangannya dan mendorong Mika. Hampir saja Mika terjatuh saat itu.


"Kau kenapa?" Tanya Mika dengan nada tinggi.


"Tidak. Aku kira kau siapa."


"Ayo pulang. Aku harus menyiapkan makan malam untuk nanti."


terlihat jika Lufas akan menolak ajakan itu.


"Apa kau akan tetap disini? Menatap pasangan yang bermesraan itu? Apa kau masih mencintainya?"


"Mika.."


"Lupakan."


Mika langsung melangkah pergi. Lufas langsung mengikuti langkah kaki itu. Baru saja mereka berbaikan. Kali ini, Mika kembali marah padanya.


"Mika. Kenapa kamu marah?" Lufas menarik tangan Mika.


"Kau masih mencintainya buan? Aku lihat dari matamu."


"Sayang. Jika aku mencintainya, untuk apa aku berjanji menikah denganmu."


Mika diam saja. Lufas menarik Mika ke dalam pelukannya. Bagaimanapun, Mika tidak boleh pergi dari sisinya kali ini. Dia ingin membuat Sya merasa menyesal dan terluka.

__ADS_1


"Kita pulang ke rumahku. Aku akan memperkenalkan kamu pada nendra."


"Benarkah?" Wajah Mika terlihat senang.


"Ya, dia pasti akan menyukaimu."


"Aku tahu. Aku bisa menjadi ibu sambung yang baik."


Mereka masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas. Sementara Mike dan Syamenikmati makanan yang mereka pesan.


***


Danendra sedang bermain game saat Lufas masuk ke dalam kamarnya. Saat itu juga Danendra menghentikan aktivitasnya.


"Papa pulang?"


"Ya. Aku juga membawa seseorang untukmu."


Danendra mengernyitkan dahi. Lufas sedikit menggeser posisi duduknya. Lalu Mika masuk dengan senyuman manisnya.


"Kamu siapa?" Tanya Danendra polos.


Mika langsung menatp pada Lufas.


"Nendra. Dia adalah tante Mika."


"Ya. Lalu?"


"Dia teman papa." Jawab Lufas.


Danendra mengangguk-angguk.


"Tante bawakan makanan untukmu." Mika memberikan sekotak coklat pada Danendra.


Danendra menerimanya. Meski begitu, wajahnya masih saja datar.


"Mika. Kau bisa siapkan makan malam. Aku akan bicara dengan Danendra."


"Baik."


Mika keluar. Saat itu Danendra langsung melemparkan kotak coklat ke atas meja. dia duduk dengan sembarang di kursi.


"Kenapa Papa membawanya?" Tanya Danendra.


"Diaa calon ibumu."


Mendengar jawaban itu. Danendra kembali duduk dengan tegap. Dia tidak percaya dengan perkataan Papanya itu.


"Ya. Tidak mungkin kau tumbuh tanpa seorang ibu. Papa hanya ingin hidupmu lebih lengkap."


"Kenapa bukan mama Sya saja."


"Kau bilang dia bukan Mamamu. Dia juga sudah meninggalkan kita."


"Lalu apa Mika itu lebih baik dari Mama Sya."


"Ya. Kau bisa buktikan sendiri."


"Jika tidak. Jangan harap kau akan menikah denganya."


Lufas tahu jika Danendra sudah marah. Dia juga tidak bisa memaksakan perasaan anaknya itu untuk menerima Mika. Sementara dirinya sendiri juga tidak begitu cinta pada Mika.


***


Mike baru saja pergi untuk pekerjaanya. Sebelum itu, dia sudah meyakinkan Sya jika dia baik-baik saja. Mike taut, Sya akan merasa sedih saat dia pergi.


Sya yang tenang membuat Mike pergi untuk bekerja. Setelah itu dia mengunci kamarnya. Dia duduk dengan perasaan yang tidak menentu.


Mengingat semua hal yang begitu menyakitkan. Cinta yang tidak pernah memiliki ujung. Cinta yang selalu berakhir dengan kepahitan. Juga anak yang diia asuh memilih orang lain untuk mengasuhnya.


Rasa semangat dalam diri Sya mulai pudar. Yang ada hanya kesedihan dan kesepian. Rasa percaya pada orang lain juga perlahan hilang. Dia tidak percaya lagi dengan adanya sebuah cinta yang tulus dan suci.


Sya menikah dengan Mike hanya karena dia merasa jika Mike sudah melakukan hal yang baik untuknya. Bukan karena cinta.


Mengingat hubungan mereka juga tidak direstui oleh orang tua Mike.


Bulir air mata perlahan mengalir. Membasahi pipi yang awalnya dibalur make up tipis. Make up itu sudah terganti dengan ratapan pedih dalam hati.


"Kenapa harus aku?" lirih Sya dalam sela tangisnya.


Dia harus bersikap baik-baik saja agar tidak dianggap lemah. Meski begitu, hatinya sudah hancur berkeping-keping sejak lama.


Status yang selalu menjadi tolak ukur dalam masyarakat. Janda berkali-kali karena sebuah kebodohan.


Sya merasa dirinya tdak ada gunanya lagi di dalam kehidupan ini. Tidak ada alasan baginya untuk tetap melanjutkan hidup. Kosong, bagi Sya masa depanya adalah kosong.

__ADS_1


***


__ADS_2