The Way Love

The Way Love
LXIX


__ADS_3

Degup jantung Sya begitu cepat. Dia bangun dan langsung duduk. Matanya berair seperti baru saja menangis.


Sya mengambil gelas dan langsung meminum semua air yang berada didalam gelas itu. Dia bermimpi buruk karena belum juga mendapat kabar tentang Arda. Pikirannya begitu kacau, sampai dia mengambil ponsel.


Panggilan masuk dari Ruka masuk. Dia mengangkatnya dengan perasaan yang masoh saja belum tenang.


"Halo, apa kau baik-baik saja disana?" Tanya Ruka langsung.


"Ya. Memangnya kenapa, Kak?" Tanya Sya balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya mencemaskanmu."


"Aku baik-baik saja. Kak, apa aku boleh tahu keadaan Arda. Hatiku sangat gelisah memikirkan keadannya saat ini."


Ruka menghena nafas. "Lupakan dia."


Klik. Ruka langsung menutup telfon itu. Sya kembali dibuat kecewa oleh kakaknya. Mau tidak mau Sya hanya bisa pasrah. Dia akan menunggu saat dimana Ruka mau mengatakannya.


Tidak ada hal yang akan dia lakukan. Sya memilih untuk mandi. Setidaknya dia tidak akan terlalu fokus pada keadaan Arda saat ini.


Bahkan niatnya untuk melupakan malah semakin membuat Sya ingat dengan Arda. Sya bahkan hampir terjatuh saat didalam kamar mandi. Hal itu membuatnya sedikit kesal.


Sya keluar dari dalam kamar mandi. Dimeja, beberapa menu makanan sudah tersedia. Disana ada sebuah note yang ditujukan untuk Sya.


Sya mengambil note itu. 'Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu. Jadi, aku pesankan semua ini. Lufas."


Baru kali ini ada seorang pria yang begitu perhatian pada Sya. Padahal mereka baru saja bertemu. Tidak ingin membuat Lufas kecewa, Sya duduk dan membiarkan rambutnya masih terlilit handuk.

__ADS_1


Dia memakan makanan yang sudah dipesankan Lufas. Walau sebenarnya Sya tidak suka dengan makanan seafood. Sekuat tenaga Sya mencoba makanan itu, walau rasa mual akan muncul dengan sendirinya.


"Nona, kenapa Nona memakannya," kata Mira sembari menarik piring dihadapan Sya.


"Tidak apa. Lufas sudah memesankan untukku. Dia akan kecewa jika aku tidak memakannya."


"Nona bisa saja menolaknya dan meminta makanan lain."


Sya tersenyum mendengar ocehan Mira. Dia begitu memperhatikan apa yang Sya suka dan tidak suka.


"Baiklah. Pesankan aku makanan lain, tapi jangan sampai Lufas tahu."


"Siap, Nona."


Tidak lama makanan yang dipesan Mira datang. Nasi goreng sosis dan jus jambu. Sya tersenyum, dia langsung memakan makanan itu dengan lahap. Entah kenapa, dia merasa sangat lapar setelah mandi.


***


"Apa ada masalah?" Tanya Sya.


"Tidak. Aku hanya datang terlambat saja. Jadi, aku harus memperbaikinya. Maaf, aku tidak bisa mengajakmu berkeliling."


"Tidak masalah. Ada Mira yang akan mengajakku."


Lufas mengarahkan pandangannya pada Mira. "Aku sangat berterima kasih padamu."


Mira hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu mereka kembali berpisah. Sya melanjutkan acara berkelilingnya dengan Mira.

__ADS_1


Dering telfon membuat Sya kembali diam ditempat. Dia menatap layar itu dan tersenyum. Eri yang menghubunginya.


"Sya. Bagaimana kabarmu disana? Apa kau baik-baik saja? Kau tahu, aku sangat merindukanmu."


"Kau sangat berlebihan," ucap Sya.


"Apa kau tidak menanyakan kabarku?"


Sya hampir tertawa. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Sya kemudian.


"Aku baik. Hanya merasa kesepian setelah kau pergi."


"Bukankah kakakku selalu menemanimu."


"Apa kau bilang. Dia bahkan tidak menemuiku setelah kau pergi. Oh ya, apa kau sudah tahu tentang Arda?"


"Ya. Hanya saja Kak Ruka tidak mau mengatakannya padaku. Apa kau tahu kabar Arda."


"Tentu saja. Dia masih koma saat ini. Aku juga tidak tahu seperti apa."


Wajah sedih Sya muncul. "Eri. Apa kau mau mengatakan semuanya tentang Arda padaku. Kau tahu, Kak Ruka tidak akan suka jika tahu hal ini."


"Tidak masalah. Ini rahasia kita. Sudah dulu ya, ada banyak pelanggan. Nanti aku kabari lagu."


"Baiklah. Sampai nanti."


Setidaknya Sya sudah tahu kanar tentang Arda. Walau kabar itu begitu membuatnya terluka. Hal itu juga berpengaruh pada moodnya. Sya memilih untuk kembali kekamar. Dia ingin sendirian lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2