
Hari hari berlalu dengan cepat. Sya mulai terbiasa dengan apa yang dia lakukan. Walau tetap saja rasa bosan hadir saat dia berada di rumah.
Arda lebih sering berada di kantor. Dia hanya memberikan kabar beberapa kali sehari. Itupun jika saat dia benar-benar dalam keadaan tidak sibuk.
Seperti hari ini. Sya sudah siap dengan rantang makananya. Dia sengaja datang ke kantor Arda karena hampir satu minggu mereka tidak makan bersama.
Kabar miring memang tidak ada dihubungan Sya dan Arda. Hanya saja jika terus seperti ini mereka bisa merasakan sama-sama bosan. Tidak ada komunikasi yang rutin. Apa lagi pertemuan dengan penuh mesra dan romantis.
"Maaf, Bu. Pak Arda sedang mengadakan meeting."
"Kalau begitu aku akan menunggu disini," kata Sya pasrah.
Dia duduk di bangku yang tersedia di lobi. Sesekali dia melihat ponsel untuk mengecek pesan dan juga jam. Waktu terus berjalan, hampir satu jam Arda menunggu.
Lelah? jelas dia rasakan. Apa lagi karyawan di rumah itu begitu profesional hingga enggan menyapanya. Sampai seseorang masuk dan melihat tingkah Sya.
"Sya."
Sya mendongakkan kepalanya. Dia seperti mendapat angin segar saat ada yang menyapanya.
"Kenapa kau disini? apa Arda yang menyuruhmu?"
"Tidak. Tadi resepsionis mengatakan jika ada meeting. Aku tidak mau mengganggunya."
"Benarkah?"
"Ya, Kak. Kakak ada apa disini?" tanya Sya pada Ruka.
Ruka tidak menjawab pertanyaan itu. "Akalau kau ingin bertemu dengannya kau bisa langsung ikut aku."
Awalnya Sya terlihat semangat dan berdiri. Sampai dia sadar jika makanan yang dia bawa sudah dingin. Jika seperti itu bagaimana dia bisa makan dengan Arda.
"Ada apa lagi Sya?" tanya Ruka.
"Aku akan pulang saja Kak. Permisi," lirih Sya dengan wajah kecewa keluar dari kantor.
Ruka hanya menatap kasihan pada Sya. Dia melihat jika cinta Sya pada Arda bukanlah isapan jempol semata. Kini kesibukan Arda sudah mengalahkan semuanya. Dia memilih bersama dengan pekerjaanya dan tidak menghiraukan istrinya.
***
Banyak berkas yang masih bertumpuk di hadapan Arda. Satu persatu dia ambil dan dian tanda tangani. Sampai tidak sadar jika ada yang masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Pantas saja istrimu memilih pergi. Kau lebih mencintai kertas-kertas ini."
Gerakan tangan Arda terhenti diatas kertas. Dia melihat Ruka yang duduk dengan sebuah buku ditangannya. Melihat tidak ada hal penting Arda kembali melakukan aktivitasnya.
"Kau sangat keras kepala." Kali ini nada suara Ruka begitu keras.
"Apa maksudmu datang dan marah-marah?"
"Apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan? istrimu pergi dengan wajah kecewa dari kantor ini."
Arda tertawa. Dia mengira jika Ruka sedang membohonginya saat ini. Walau begitu dia tetap mengerjakan tugasnya.
"Aku tahu ini impianmu Arda. Hanya saja, istrimu juga membutuhkanmu."
"Sudahlah. Aku tidak ada banyak waktu untuk bercanda. Apa alasanmu kemari?"
"Tidak ada." Wajah Ruka terlihat sangat kesal.
Dia keluar dari ruang kerja Arda dan memilih untuk kembali ke kantornya. Sakit hati Ruka rasakan saat melihat wajah terluka Sya. Dia merasa jika Sya membutuhnya, lebih saat dia membutuhkan Arda.
***
Rambut yang masih basah itu dia biarkan saja. Matanya menatap kosong, pikirannya juga melayang jauh entah kemana. Masa indah yang dinanti Sya kini hilang sudah. Suaminya tidak akan kembali lagi seperti dulu.
Suara pintu terbuka. Sya masih tetap diam dan tidak menoleh. Dia tahu siapa yang masuk ke dalam kamar itu. Arda. Siapa lagi yang mampu masuk ke kamar itu selain dia.
"Ini sudah larut malam. Kenapa kau tidak keringkan rambutmu?"
Tidak ada jawaban. Sya masih diam dengan handuk yang dia pakai. Saat Arda berjalan mendekat dan berniat untuk membantu mengeringkan rambut. Sya berdiri dan pergi dari kamar itu.
Kamar disebelah adalah kamar tamu yang kosong. Sya masuk dan menyalakan lampu. Dia sudah menyiapkan baju ganti disana. Seelah ganti baju. Sya langsung masuk ke dalam selimut. Untuk menghangatkan tubuhnya.
Tes, tes, tes. Air mata Sya mulai bergulir dengan lembut diwajahnya. Dia tidak bisa menahan air mata itu terlalu lama lagi. Dia merasa sudah dicampakan dengan perlakuan Arda.
"Seandainya saja aku tidak mencintainya," lirih Sya dalam keheningan.
Arda hanya menatap tingkah Sya. Bahkan tidak ada niatan untuk mendekat dan membujuk Sya. Setahu Arda, saat wanita marah dia hanya ingin sendiri dan tidak ingin diganggu.
"Tuan, apa lauknya mau dihangatkan?"
Arda menoleh dan menatap pelayan itu. Tidak biasanya seorang pelayan menanyakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Sejak pagi, Nona Sya memasak untuk Anda. Bahkan tadi siang juga datang ke kantor Anda."
Deg. Arda sadar apa yang sudah dia lakukan. Apa yang dikatakan Ruka benar. Dia tidak sedang bercanda saat menemuinya.
"Kalian makan saja masakan itu," kata Arda.
"Baik."
Kembali Arda menatap Sya yang kini berada dibawah selimut. Entah sudah tidur atau belum. Saat ini, Arda merasa sangat bersalah. Hanya saja tidak tahu harus melakukan apa.
Dorongan di hati Arda membuatnya masuk dan mendekat pada Sya. Dia menyibak selimut yang digunakan Sya.
Bantal itu basah. Bukan karena rambut yang basah, tapi air mata yang terus menetes. Mata Sya dan Arda bertemu, perlahan Sya bangun dan duduk.
"Maaf," ucap Arda.
"Tidak perlu minta maaf. Aku yang salah dalam hal ini. Aku terlalu berharap waktu pada pria sibuk sepertimu."
"Sya." Panggil Arda.
"Jika kau merasa bahagia dengan pekerjaanmu. Bekerja saja dan jangan pikirkan yang lain."
"Maksudmu apa Sya?"
Sya menoleh pada Arda. "Lebih baik kita berpisah. Jadi, aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Apa yang kau katakan? aku mencintaimu. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan kamu."
"Lupakan semua janji itu. Percuma saja kau berjanji jika akhirnya kau tidak bisa menepatinya. Aku punya suami, tapi aku selalu sendiri. Apa bedanya aku dengan seorang janda."
Perkataan Sya begitu memukul untuk Arda. Kini dia sadar jika sudah menelantarkan istrinya yang begitu cinta padanya. Rasa kecewa itu membuat Sya memutuskan untuk berpisah.
"Beri aku kesempatan Sya."
"Aku ingin istirahat sendiri. Lebih baik kau tidur, bukankah besok kau harus ke kantor."
Arda keluar dari kamar Sya tanpa berkata-kata. Dia tidak bisa kembali menyangkal perkataan Sya. Beberapa hari ini dia memang sangat sibuk sampai lupa segalanya.
Tangan Arda terluka karena memukul tembok yang tidak bersalah. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Dia merasa sudah membuat Sya begitu terluka.
"Maafkan aku Sya," lirih Arda diantara malam.
__ADS_1
***