
Jarinya terus dimainkan diujung baju. Tatapannya terlihat begitu gelisah. Bahkan, suasana malam itu semakin membuatnya tidak nyaman.
Di ruangan itu Sya terus menatap jam dindinh yang seolah tidak berjalan. Ya, sejak tadi dia berada diruangan Ruka. Kata seorang pegawai hotel, tadi Ruka pergi dengan mobilnya. Tanpa sopir.
Kembali Sya mencoba menelfon Ruka. Tetap saja, tidak ada jawaban yang dia inginkan. Sampai pintu terbuka. Ruka masuk dengan pakaian yang basah kuyup.
"Ada apa dengan kakak?" Tanya Sya yang langsung memberikan handuk tebal.
"Tadi mobil mogok saat hujan lebat," jawab Ruka.
"Apa ada masalah sampai Kakak baru pulang?" Tanya Sya lagi.
Ruka menoleh sembari menyunggingkan senyuman.
"Aku sibuk."
"Sibuk?"
"Ya. Untuk acara pertunanganmu dan Lufas."
Mendengar hal itu membuat Sya kembali teringat kenapa dia berada di ruangan Ruka. Hanya saja dia bingung mau mengatakan dengan cara apa.
Sya kembali duduk. Dia hanya duduk tanpa melakukan apapun. Ruka sudah selesai mandi, dia keluar dan melihat Sya duduk dengan tatapan kosong.
Perlahan Ruka duduk disamping Sya. Dia tahu, ada masalah yang membuat Sya begitu gelisah. Bahkan tidak fokus.
"Sya," panggil Ruka sembari menepuk pundak Sya.
"Kakak. Sudah selesai mandinya?"
"Ya. Apa ada masalah?"
Sya terlihat bingung saat akan mengatakannnya.
"Kak. Aku...aku tidak mau menikah dengan Lufas. Lufas juga..."
"Sya. Jangan bohong padaku."
Sya membuka mata lebar. Dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh Ruka.
"Kau sendiri yang mengatakan pada Arda jika kau dan Lufas akan bertunangan."
Kaget. Sya tidak tahu bagaimana Ruka tahu akan percakapannya dengan Arda di lorong. Apa mungkin Ruka melihat CCTV, atau Arda yang mengatakan pada Ruka.
Semuanya sudah terjadi. Sya tidak bisa menolak lagi. Apa lagi, Lufas juga tidak memancarkan wajah penolakan saat Arda mengatakan padanya.
"Malam ini tidurlah. Aku akan bicarakan semuanya pada Lufas nanti."
"Kak..."
"Aku tahu kau sudah tidak sabar tentang hal ini."
Perasaan yang masih kacau membuat Sya keluar juga dari ruangan Ruka. Saat berada di depan kamarnya. Sya melihat Lufas berdiri, mungkin sedang menunggunya.
__ADS_1
"Kau disini?" Tanya Sya.
"Ya. Bagaimana?"
Sya menggeleng lemas.
"Aku sudah mengatakannya bukan. Sekarang maumu bagaimana?" Tanya Lufas yang mendapati wajah kurang menyenangkan dari Sya.
"Aku sudah tidak bisa lari lagi. Maafkan aku, aku tidak bisa menolak hal ini."
Lufas tersenyum. Dia mengusap pelan kepala Sya. Hal itu membuat Sya mengulas senyum tipis.
"Kita akan menikah." Ucap Lufas dengan tatapan lucu.
Hal itu langsung membuat Sya tertawa. Selama ini Sya sudah salah menilai Lufas. Ternyata Lufas bukanlah orang yang sok perhatian dan sok baik. Lufas benar-benar mampu membuat Sya tertawa.
Disisi lain. Arda begitu marah melihat hal itu. Dia melihat Lufas begitu perhatian dan lembut pada Sya. Bahkan, Sya terlihat tertawa.
Arda beberapa kali memukul tembok dengan keras. Dia bodoh karena sudah melupakan hal yang begitu indah dalam hidupnya. Bahkan, dia kini sudah tidak bisa berbuat apapun. Selain menatap Sya yang akan bersanding dengan pria lain.
"Arda. Kau disini? Sejak tadi aku mencarimu?"
Arda menoleh dan mendapati Aila dengan baju tipis. Terlihat sekali jika Aila sedang menggodanya.
"Apa kau sudah meminum obat yang aku berikan padamu?" Tanya Aila lagi.
"Ya. Aku sudah meminumnya."
Hanya saja Arda memegang tubuh Aila. Dia menarik Aila masuk ke dalam kamar. Arda tidak ingin Aila melihat dia marah karena Sya.
Di dalam kamar. Aila tidak pikir panjang. Dia langsung memeluk Arda dengan tatapan penuh gairah. Walau begitu, Arda terlihat biasa saja. Bahkan tampak murung. Apa lagi, dia sudah tahu kenyataan pahitnya.
"Aku masih ada pekerjaan. Kau tidurlah sendiri," kata Arda.
Aila menahan tangan Arda, "Aku ingin kau malam ini."
"Apa kau ingin aku bangkrut?" Tanya Arda yang membuat Aila langsung diam. "Aku akan selesaikan pekerjaanku. Kau tidurlah."
Arda masuk ke dalam ruang kerjanya. Aila hanya menatap dengan tatapan tidak percaya. Biasanya Arda akan selalu menurutinya, tapi beberapa hari ini Arda terlihat menjauhinya.
***
Pagi itu pelayan restoran begitu sibuk. Mereka pastinya mendapat tamu yang cukup cerewet. Hal itu sudah biasa di dalam hotel. Ada tamu yang mudah di taklukan. Ada juga tamu yang selalu ingin merepotkan pihak hotel.
Sya menatap semua pelayan itu dengan tatapan senang. Ya, Sya merasa senang. Bukan karena dia lebih tinggi dari pelayan itu. Hanya saja, dia senang melihat orang dengan sifat pekerja keras.
"Arda. Aku mohon dengarkan aku dulu. Aku..."
"Cukup Aila." Bentak Arda.
Sya menoleh dan melihat Arda dan Aila sedang berseteru. Pasti bukan masalah kecil jika Arda sampai marah dan membentak Aila. Sya membenarkan posisi bajunya dan akan mendekat. Lalu, sebuah tangan mencegahnya.
"Kau mau kesana?"
__ADS_1
Sya menoleh. "Lufas."
"Sya. Jangan urusi masalah orang lain. Hal itu akan menambah masalahmu."
"Tapi mereka..."
"Kau sudah janji pada Ruka. Tirutilah dia," kata Lufas.
"Baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa kau ada disini?"
Lufas tersenyum. "Ruka memintaku menjemputmu."
"Ya. Ayo kita ketempat Kak Ruka."
Arda menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam lift. Ya, di dalam lift itu sudah ada Lufas dan Sya. Jika dia masuk, dia pasti harus menahan rasa marah dan kesal. Ingin menjaga hatinya, Arda memilih untuk melewati tangga dari pada lift.
Lain hal dengan Aila. Dia bernafas lega saat Arda pergi dari sisinya. Dengan buru-buru Aila masuk ke dalam kamar. Dia mengambil ponsel dan langsung menelfon seseorang.
"Aku akan turun sebentar lagi," kata Aila.
Seorang wanita menunggu kedatangan Aila. Dia duduk dengan baju hitam dan topi hitam. Sebuah rokok bahkan tersemat di tangannya. Begitu sampai, Aila langsung duduk di hadapan wanita itu.
"Kenapa kau memintaku datang langsung. Bukankah kau sudah tahu aku begitu sibuk. Kau bisa menghubungi anak buahku bukan?"
"Maaf. Aku melakukan ini karena aku pikir obat itu tidak ada efeknya lagi."
Wanita itu mematikan rokoknya dan menatap pada Aila.
"Apa kau yakin suamimu meminum pil itu?"
"Ya. Dia selalu menuruti apa yang aku katakan."
"Lalu sejak kapan dia berubah."
"Tiga hari ini."
Wanita itu tertawa dengan sangat keras. Bahkan beberapa pengunjung sampai menatapnya. Walau begitu, Aila hanya bisa diam.
"Apa kau bodoh?" Tanya wanita itu.
"Maksudmu apa?" Tanya Aila.
"Jika suamimu berubah sejak tiga hari lalu kenapa kau tidak curiga padanya. Dia pasti tidak meminum pil itu."
Aila hanya diam. Pikirannya mencoba mengingat kapan dia lupa memberikan obat. pada Arda. Sampai dia ingat Arda memintanya pergi saat akan minum obat. Sejak saat itu, tingkah Arda berubah.
"Aku pergi. Jika benar pilku yang salah. Kau bisa menelfonku lagi."
"Baiklah."
Aila masih duduk. Perasaanya mulai campur aduk. Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Apa lagi, jika Arda sampai mengingat masa lalunya. Sudah pasti dia akan hancur. Diceraikan dan dipenjarakan.
***
__ADS_1