
Dengan dress bercorak koral Sya masuk ke rumah sakit. Semalam Bi Sali yang menemani Danendra di rumah sakit. Jadi, Sya ingin menyapa anak kesayangannya itu.
Sampai di rumah sakit dia masuk ke ruangan Danendra di rawat. Tidak ada siapapun, bahkan ranjang disana terlihat begitu rapi. Pikiran Sya tidak tahu kemana, dia keluar dan langsung menuju ke meja perawat jaga.
"Dimana anak saya? Kenapa dia tidak ada di ruangannya?"
Terlihat jelas jika Sya begitu panik dan gelisah.
"Pasien atas nama Siapa?" Tanya Perawat itu.
"Danendra."
Perawat itu melihat data di komputernya. Lalu dia tersenyum pada Sya.
"Bagaimana?" Tanya Sya.
"Pasien atas nama Danendra sudah di bawa ke ruang rawat lain. Di tempat VIP."
"Siapa yang memindahkannya?"
"Bapak Lufas," kata perawat itu.
"Beri tahu aku nomor kamarnya."
"514."
"Terima kasih."
Sya masuk ke dalam lift. Dia mencari kamar VIP dengan nomor 514. Benar saja, saat Sya masuk Danendra menghambur kearahnya. Ruangan itu terlihat begitu berbeda. Bahkan dindingnya tidak putih polos. Ada gambar kartun disana.
Bukan hany itu saja. Disana juga banyak mainan dan hal lain yang begitu menyenangkan untuk anak.
"Mama, Papa sangat menyayangiku. Dia memindahkan aku ke kamar yang indah ini."
Sya tersenyum pedih. Dia merasa menjadi ibu yang gagal, tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Tidak lama Bi Sali masuk membawa makanan untuk Danendra. Sya memberi isyarat agar bisa bicara dengan Bi Sali saja.
"Danendra. Kamu main sebentar. Mama mau bicara dengan Bi Sali."
"Baik, Ma."
Sya dan Bi Sali berada tepat di depan kamar Danendra. Sya merasa marah dengan Bi Sali.
"Kenapa tidak mengatakan padaku?"
"Maaf, Bu. Tadi malam ponsel saya mati."
Sya berdecak. Terlihat jelas jika saat ini Sya marah dan baru kali ini Sya marah dengan jelas pada Bi Sali.
"Apa selama ini kau memihak pada Lufas?"
__ADS_1
Bi Sali hanya diam. Tanpa sadar Bi Sali melirik kearah lift. Sya melihat kearah yang sama, Lufas datang dengan setelan jasnya.
"Kenapa kau memindahkan anakku tanpa persetujuanku."
"Aku hanya berharap dia bisa sembuh lebih cepat."
"Tapi dia anakku."
"Tanpa aku kau tidak akan memiliki dia," ucap Lufas dengan sebuah tawa.
Sya berpaling. Saat ini dia merasa begitu kesal. Lufas mendekat dan langsung memeluk tubuh Sya. Dengan tenaga yang Sya punya, akhirnya Lufas melepaskannya.
"Apa kau gila?"
"Aku sangat gila karena kamu," jawab Lufas.
Ponsel Sya berdering. Melihat siapa yang menelfon, Sya menjauh dari Lufas. Lau dia mengangkatnya.
"Maaf, Bu. Sidang kali ini kita kalah. Tuan Lufas mendapatkan hak untuk mengasuh Danendra."
"Bagaimana bisa?" Sya merasa semakin marah mendengar kabar itu.
"Ya. Saat ini semua hak memang lebih memilih pada Bapak Lufas. Anda tidak memiliki pekerjaan, dan saat ini Danendra membutuhkan banyak biaya untuk perawatan."
"Apa tidak bisa diusahakan lagi?" nada suara Sya berubah menjadi lebih rendah.
"Maaf, Bu. Saat ini, Bu Sya hanya perlu mencari pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk Danendra. Mungkin hal itu akan membantu"
"Terima kasih atas bantuanya."
Dia duduk di tangga. Memikirkan cara agar bisa mendapatkan hak asuh Danendra. Selama ini hanya dia yang menjadi semangat Sya. Kini semangat itu harus menjauh.
"Kau masih bisa menemuinya kapanpun kau mau."
Sya menoleh dan melihat wajah Lufas. Saat ini, Lufas juga merasa sedih dengan keadaan Sya.
"Kau jahat."
Hanya itu yang diucapkan Sya. Sya berjalan melewati Lufas begitu saja. Dia kembali ke kamar Danendra. Dengan air mata Sya langsung memeluk Danendra.
Saat ini Danendra tertidur. Dia tidak membuka matanya sama sekali. Hal ini semakin menghancurkan hati Sya.
"Bi, aku tidak peduli kau memihakku atau Lufas. Aku hanya berharap, kau yang akan menjaga Nendra nantinya. Tolong, Jangan persulit aku untuk menemuinya."
Bi Sali mendekat dan memeluk Sya. Saat ini, Bi Sali juga merasakan kesedihan Sya. Dia bahkan ikut menangis saat melihat Sya menangis.
***
Mike menunggu di luar rumah sakit. Dia melihat Sya keluar dari rumah sakit. Terlihat sekali jika Sya sedang sedih. Bahkan matanya begitu sembab.
"Apa ada masalah?" Tany Mike.
__ADS_1
Sya diam. Dia terlihat begitu lemah saat ini.
Buk. Sebuah gulungan kertas tepat mengenai Sya. Sya dan Mike sama-sama menoleh. Dilihat dari gaya mereka, mereka adalah penggemar Mike yang marah.
Buru-buru Mike membawa Sya masuk ke dalam mobilnya. Saat ini, Sya tidak bereaksi apapun. Dia hanya memikirkan hidupnya nanti jauh dari Danendra.
"Sya. Aku akan mengurus mereka. Kau tenang saja."
Sya masih diam. Mike mengambil ponsel dan terlihat mengirim pesan pada seseorang. Mobil perlahan berjalan. Mike yang melihat Sya masih diam memilih untuk berhenti di sebuah restoran.
Saat mobil berhenti. Tiba-tiba saja Sya menangis. Mike kebingungan, tanpa ragu dia mendekat dan memeluk Sya. Berharap Sya akan merasa lebih tenang.
Setelah semuanya terasa tenang. Sya menceritakan apa yang terjadi. Mike merasa kasihan karena Sya harus jauh dari Danendra. Meski begitu, Mike juga merasa bebas untuk mendekati Sya.
"Bagaimana jika kau bekerja untukku. Aku akan berikan gaji tinggi untukmu."
Wajahnya langsung terlihat senang.
"Apa kau akan menerimanya?" Tanya Mike.
"Ya." Jawab Sya dengan penuh semangat.
"Jadi istriku," kata Mike dengan tenang.
Sya langsung mendorong Mike untuk menjauh. Wajah Sya berubah tidak senang.
"Aku serius Sya."
"Aku tidak ingin membahasnya."
Mike tertawa.
"Aku ingin pulang saja."
"Aku lapar Sya. Semua ini karena aku harus menunggumu di depan rumah sakit."
"Baiklah. Aku akan menemanimu makan."
Mereka masuk ke restoran itu. Mike memesan beberap makanan. Sementara Sya sibuk dengan ponselnya.
"Kau tidak makan?"
"Aku tidak lapar. Aku hanya akan menemanimu sampai selesai."
"Apa kau tidak mau menemaniku sampai tua nanti?"
Sya hanya menggeleng, tapi dia tersenyum. Mike juga ikut tersenyum. Setidaknya Sya tidak akan sedih lagi.
Sementara itu, Lufas membanting ponselnya. Dia mendapat gambar saat Sya di peluk oleh Mike. Dia kira dengan Danendra bersamanya, Sya akan lebih sering datang.
Harapannya hancur. Sudah ada pria yang saat ini mau menemani Sya. Jika begini, kesedihan Sya akan berangsur pulih, mungkin Lufas akan benar-benar terlupakan.
__ADS_1
Mika masuk dan melihat Lufas yang hanya menatap ponselnya. Tanpa ragu, Mika memeluk Lufas dari belakang.
Lufas yang tahu itu Mika hanya diam saja. Saat ini hanya ada bayangan Sya yang dipeluk pria lain. Hal ini membuat Lufas tidak mempedulikan apapun yang dilakukan oleh Mika.