The Way Love

The Way Love
CLII


__ADS_3

Danendra mendengar suara gaduh diluar. Dia mencoba untuk bangun dan melihat apa yang terjadi. Hanya saja dia belum kuat untuk berdiri sendiri.


Suara Sya terdengar menjauh. Danendra sadar jika itu adalah suara Mamanya. Ingin mengejar, hingga dia akhirnya terjatuh.


Bi Sali kaget dan langsung membantu Danendra untuk bangun.


"Apa Mamaku datang?"


Bi sali mengacuhkan pertanyaan itu. Dia hanya membenarkan posisi Danendra kembali keatas tempat tidur.


"Bi. Apa Mama datang?"


"Ya."


Kenapa tidak datang ke sini. Aku merindukannya.


"Bi Sali tidak tahu."


Jawaban itu membuat wajah Danendra langsung berubah. Dia terlihat begitu kecewa dengan hal ini.


Saat itu Lufas masuk. Melihat kesedihan di wajah putranya. Dia langsung mendekat, dengan isyarat mata dia meminta Bi Sali keluar. Bi Sali hanya mengangguk, lalu pergi.


"Ada apa?" Tanya Lufas.


"Mama datang tapi tidak menemuiku," jawab Danendra.


"Kau tidak boleh sedih. Mama pasti akan datang lain kali."


Danendra menatap Lufas.


"Kenapa harus lain kali. Aku adalah anaknya."


Lufas diam. Dia tidak tahu Danendra begitu paham dengan hal-hal semacam ini.


"Apa mama tidak sayang lagi padaku?"


Lufas menggeleng.


"Papa. Saat ini hanya ada Papa, apa Papa akan selalu sayang padaku? tidak akan meninggalkan aku?"


"Tentu saja."


Danendra memeluk Lufas dengan erat. Saat ini Lufas merasa ada yang lain. Sejak bertemu dengan Danendra. Baru kali ini Danendra memeluknya dengan erat dan penuh makna.


"Nendra." Panggil lufas.


"Cepatlah pulih. Kau akan segera masuk ke sekolah," kata lufas.


"Apa aku boleh memilih sekolahku sendiri?"


"Tentu saja."


"Dulu Mama tidak membiarkanku memilih sendiri," ucap Danendra.


Lufas hanya tersenyum. Kemudian dia berpamitan untuk pergi kerja. Danendra setuju asal dia dibelikan buku bacaan baru. Tentu saja Lufas langsung menyanggupinya.


***


Sya masuk ke dalam taxi dengan wajah pucat pasi. Saat ini dia begitu takut, memang dia pernah melakukan semuanya dengan Lufas. Hanya kali ini situasinya berbeda. Mereka bukanlah pasangan yang sah. Bahkan, hubungan itu sudah berakhir.


"Nona. Nona mau kemana?" Tanya sopir taxi itu.


Sya tersadar dari lamunanya. Dia menoleh pada sopir yang sedang bicara denganya.


"Ya. Tolong antarkan aku ke daerah perumahan elite."


"Baik."


Dalam perjalanan kembali. Sya masih memikirkan kejadian itu. Dia tidak tahu hal apa yang akan terjadi jika sampai terjadi. Baginya, menjadi janda tidak masalah. Tapi jika sampai diperlakukan seperti itu, hatinya sangatlah tidak senang.

__ADS_1


Sampai di rumah Mike. Sya masuk ke dalam kamar. Dia melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya yang baru saja disentuh tanpa ijin.


Pikiranya saat ini meras takut untuk kembali ke rumah Lufas. Meski begitu, anaknya ada disana. Danendra di bawah asuhan Lufas. Mau tidak mau Sya harus tetap datang kesana. Untuk Danendra.


Mike sudah kembali dari pekerjaanya. Di halaman belakang rumah itu sedang ada persiapan pernikahan. Dekorasi dibuat seindah mungkin.


"Bagus. Apa Sya sudah melihatnya?" Tanya Mike pada asisten Lee.


"Belum Tuan. Nona masih berada di kamarnya."


"Panggil dia untuk melihat semua ini. Jika dia tidak suka, dia bisa menggantinya."


"Baik, Tuan."


Asisten Lee menuju kamar Sya. Saat itu Sya baru saja keluar dari kamar mandi, dia hanya menggunakan handuk mandi saja. Untung saja asisten Lee begitu paham akan privasi. Sebelum masuk, Asisten Lee mengetuk pintu lebih dulu.


Sya membuka pintu. Hanya sedikit, sampai dia bisa melihat siapa yang datang.


"Ada apa asisten Lee?" Tanya Sya.


"Tuan Lufas meminta Nona untuk ke taman belakang."


"Ya. Aku akan segera datang kesana."


"Baik."


Sya mengambil dress putih tanpa corak. Dia keluar dengan rambut terurai. Tanpa polesan sedikitpun diwajahnya. Hal ini memancarkan aura kecantikan yang alami.


Di taman belakang. Mike sedang duduk dengan secangkir teh di tanganya. Sya melihat beberapa orang yang sibuk bekerja. Jujur saja, Sya merasa sangat senang dengan dekorasi ini.


"Dekorasinya bagus," ungkap Sya.


"Kau menyukainya?" Tanya Mike.


"Tentu saja."


"Hanya saja terlalu berlebihan."


Ekspresi diwajah Mike langsung berlebihan mendengar hal itu.


"Kenapa menurutmu berlebihan?"


Sya tersenyum. "Aku dan kau menikah bukan karena cinta. Untuk apa dekorasi sampai seperti ini."


"Aku mencintaimu Sya."


Sya diam.


"Sya."


"Mike. Aku harus kembali ke kamar, aku merasa lelah."


Belum juga Mike menjawab. Sya sudah pergi dari hadapanya. Mike hanya diam dengan tatapan dingin.


Sya masih saja menganggapnya teman. Tidak lebih. Hal ini sedikit mengganggu hati Mike, meski begitu Mike hanya diam dan terus mengamati. Dia tidak ingin jika Sya sampai pergi. Saat ini, Mike hanya ingin Sya di sampingny dulu. Meski tanpa cinta.


***


Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh Sya. Saat ini Sya merasa begitu gelisah. Sejak siang dia terus mencoba menelfon Bi Sali. Hanya tidak dapat tersambung.


Pikiran Sya sudah jauh entah kemana. Dia takut jika Lufas akan menyakiti Bi Sali. Apa lagi dengan Danendra. Sya menelfon Bi Sali juga karena ingin bicara pada Danendra.


"Aku coba sekali lagi."


Sya menekan nomor Bi Sali. Dia berharap panggilanya saat ini bisa tersambung. Tidak lama telfon terangkat. Sya bernafas lega.


"Halo, Bi."


"Ya, Nona. Ada apa menelfonku malam-malam?"

__ADS_1


"Bi. Apa bisa aku bicara dengan Nendra?"


Bi Sali tidak langsung menjawab.


"Bi. Aku mohon, aku sangat merindukannya."


"Baiklah."


Bi sali mendekat pada Danedra.


"Nendra sayang. Mama ingin bicara denganmu."


"Tidak. Aku tidak mau."


"Mama merindukan kamu."


"Bi. Aku tidak ingin bicara dengan Mama."


Sya mendengar semua itu. Hatiny merasa sangat sakit. Sya juga tidak tahu kenapa Danendra tidak ingin bicara denganya.


"Maaf, Nendra tidak mau bicara denganmu."


"Ya. Aku sudah mendengarnya."


"Sepertinya Nendra marah. Lebih baik jika Anda bisa datang menemuinya langsung."


"Aku tidak bisa. Besok hari pernikahanku."


Bi sali diam.


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Bi Sali kemudian.


"Terima kasih. Bi, tolong sampaikan ucapan maafku pada Nendra. Jika sudah ada waktu, aku akan datang kesana."


"Baik."


Sya memutuskan telfonya. Saat ini dia memegang ponsel itu dengan perasaan yang tidak tenang. Matanya menatap kearah langit yang tampak kosong. Tidak ada bulan ataupun bintang.


Mike melihat Sya dengan kaos lengan pendek di malam hari. Tangannya meraih selimut di atas sofa, kemudian mendekat pada Sya. Tanpa ragu, Mike langsung menyelimutkan selimut itu pada Sya.


Sya menoleh. "Terima kasih."


"Tidak bisa tidur?" Tanya Mike.


Sya mengangguk.


"Apa ada masalah?" Tanya Mike lagi.


"Tidak."


"Lalu kenapa?"


"Aku merindukan Nendra."


"Kau bisa menelfonya."


Sya menunduk dan mencoba menyembunyikan hatinya yang terluka.


"Sudah. Dia tidur," kata Sya.


"Kalau begitu besok pagi telfon lagi."


Sya mengangguk. Sebenarnya mike masih ingin bertanya lagi. Melihat kesedihan di wajah Sya, juga Sya yang mencoba menyembunyikannya. Membuat Mike diam.


"Tidurlah. Besok hari yang penting."


"Ya."


Sya berjalan pelan masuk ke kamarnya. Mike mengambil ponsel dan menelfon asisten Lee. Dia ingin tahu, apa yang membuat Sya begitu sedih saat ini. Mike tidak ingin acara besok hancur karena kesedihan Sya.

__ADS_1


__ADS_2