
Hawa dingin masuk. Suasana malam begitu terasa. Lufas berdiri sembari menatap segala barang diruangan itu. Baju, foto, sepatu, sandal, dan masih banyak lagi.
Semua itu adalah kenangan dari Nita. Lufas sengaja menyimpanya untuk kenangan mendiang istrinya. Sampai dia tahu kebenarannya.
Nita masih hidup dan terus mengawasinya. Bahkan tanpa Lufas sadari Nita sudah berhasil mendekati istrinya saat ini. Sya. Sya yang tidak tahu apa-apa hanya menjadi tokoh dalam permainan.
Nita sengaja melakukan operasi plastik dan membuat identitas baru. Semua itu berhasil, kini perlahan Nita masuk kehubungan Sya dan Lufas.
Sya tidak pernah bisa percaya pada Lufas. Semenjak Sya tahu jika Lufas juga seorang mafia yang kejam. Sementara Nita yang sudah berubah menjadi Anna dengan mulus mendekat pada Sya.
Merasa sangat emosi. Lufas mengobrak abrik seluruh ruangan itu. Semua foto pecah, baju dan yang lainnya rusak. Tidak ada penyesalan yang ada.
"Ternyata aku sudah salah menilaimu. Aku pasti akan mencegahmu melukai Sya."
Seorang pria masuk keruangan itu. Dia melihat Lufas yang begitu kacau saat ini. Bahkan tangannya juga berdarah.
"Hanya karena wanita dimasa lalu kau melakukan hal ini?"
Lufas menoleh. Dia melihat teman lamanya yang sekaligus tangan kananya. Selama ini temannya berada di negara lain. Tentunya untuk memperluas bisnis.
"Kapan kau datang?" Tanya Lufas dingin.
"Aku langsung datang begitu mendengar kabar tentang Nita. Aku tahu kau pasti akan sangat terluka."
"Aku tidak terluka. Aku hanya tidak ingin dia masuk kembali ke dalam hidupku."
"Terserah katamu. Aku hanya tahu jika kau butuh aku saat ini."
Lufas tersenyum tipis. Dia keluar dari ruangan itu untuk mencari kotak P3K. Dia akan mengobati luka itu.
"Kenapa kau bisa terluka?"
Sya mendekat dan langsung memegang tangan Lufa yang berdarah. Dia menatap wajah Lufas karena tidak memberikan jawaban.
"Aku bertanya padamu. Kenapa kau terluka?"
Plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Sya. Sya menoleh dan menatap pria yang baru saja menamparnya itu. Sya tidak tahu siapa dia.
"Kenapa kau menamparku?" Tanya Sya.
"Aku menamparmu untuk kesalahan yang sudah kamu lakukan."
Sya menggelengkan kepalanya. Dia tidak paham dengan perkataan pria itu. Lufas mencoba mengatakan sesuatu, tapi pria itu sudah berkata lebih dulu.
"Nita. Aku tidak aka membiarkan hidupmu tenang."
Mendengar nama Nita membuat emosi dihati Sya meningkat. Dia menatap Lufas dengan rasa kecewa.
__ADS_1
"Lagi. Kau melakukan ini lagi padaku. Apa aku harus merubah wajahku agar kau puas. Saat aku mulai memaafkanmu. Kamu membawa orang untuk kembali mengingatkan aku jika aku adalah wanita masa lalumu." Sya hampir meneteskan air mata saat mengatakannya.
"Sya. Aku tidak bermaksud...."
"Cukup Lufas. Kali ini aku benar-benar kecewa padamu." Sya berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kau memanggilnya Sya?" Tanya pria yang masih belum paham itu.
"Dia istriku Ben. Bukan Nita."
Pria yang bernama Ben itu kaget mendengar perkataan Lufas. Dia sudah melukai orang yang salah. Bahkan kali ini Lufas juga pergi meninggalkannya sendiri. Buru-buru melfon anak buahnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika Sya mirip dengan Nita?!"
"Maaf, Tuan. Saya lupa mengatakannya."
Ben benar-benar meras bersalah. Apa lagi Lufas mengatakan jika dia dan istrinya baru saja berbaikan. Hal ini tentunya akan membuat perang besar lagi dalam hubungan Sya dan Lufas.
***
Tangan Sya masih sibuk mengetik email di laptopnya. Dia sedang membantu Xiu mencari tempat untuk meeting. Dengan suasana yang tidak biasanya tentunya.
Langkah cepat Lufas masuk ke kamar Sya. Dia sengaja datang ke kamar Sya karena hampir satu jam dia menunggu Sya dimeja makan. Emosi Lufas menjadi tersulut.
"Kenapa kau tidak datang ke ruang makan?" Tanya Lufas langsung.
Sya tidak menjawab dan masih fokus pada laptopnya. Hal itu membuat Lufas semakin kesal. Tanpa pikir panjang Lufa langsung menutup laptop itu.
Tangan Sya meletakan ponsel dengan tenang. Tatapan mata Sya tertuju pada Lufas. Bahkan tatapan itu lebih tajam dari tatapan Lufas.
"Tanpa permisi kau datang dan melakukan ini?"
"Aku sudah menunggumu satu jam di ruang makan." Jawab Lufas.
Sya menghela nafas panjang. "Baru kemarin kau mengatakan jika aku harus menjadi asisten pribadimu. Aku juga harus membantumu menangani clien perempuan. Aku sedang melakukannya," kata Sya.
"Setidaknya kau bisa makan malam dulu denganku."
"Aku tidak lapar. Jadi aku memilih bekerja."
"Benarkah? Apa kau masih marah dengan perkataan Ben tadi siang?"
Sya akhirnya tahu nama pria yang sudah memanggil dirinya Nita lagi. Kali ini Sya tersenyum tipis.
"Sya. Maafkan Ben, dia sudah salah."
"Aku ingin istirahat. Pergilah."
__ADS_1
Kembali Sya bersikap dingin pada Lufas. Hal itu mengganggu perasaan Lufas.
"Aku mohon jangan marah Sya."
"Apa pedulimu. Jika aku marah atau aku sedih, hal itu tidak akan mempengaruhimu. Apa lagi niatmu dari awal sudah tercapai. Semua orang menganggap aku Nita."
Sya berbalik badan dan akan pergi dari ruangan itu. Tangan Lufas buru-buru mencegahnya. Dia menarik Sya sampai mereka kembali berhadapan lagi.
"Aku sudah menghapus semua tentang Nita. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai Nita. Kau hanya Sya, Sya yang aku cintai."
Kali ini Sya melihat mata Lufas dengan lekat. Tidak ada kebohongan dimatanya, hanya ada kesungguhan. Hal itu membuat Sya perlahan luluh. Air mata Sya mulai menetes. Rasa sakit muncul di hati Lufas saat melihat air mata itu.
Perlahan Lufas menarik tubuh Sya. Dia memeluk Sya dengan erat. Hal itu membuat tubuh Sya merasa ada yang aneh.
"Aku katakan padamu dengan sungguh-sungguh. Aku sudah jatuh cinta pada Syaheila." Bisik Lufas.
Kali ini Sya membalas pelukan itu. Kembali erek bersatu, bukan karena kesepakatan. Semua itu karena kerelaan hati.
***
Dengan tenang Sya dan Lufas sarapan bersama. Tidak lama Ben masuk dengan buet bunga ditangannya. Buket itu berisi bunga daffodil sebagai permintaan maaf.
"Pagi." Sapa Ben dengan lembut.
"Pagi juga," jawab Lufas.
Sya tidak menjawab. Dia melanjutkan makan dengan tenang. Satu tangannya sibuk dengan ponsel.
Ben yang sadar langsung mendekat pada Sya. Dia meletakan buket bunga itu disamping tangan Sya.
"Kakak ipar. Aku sungguh minta maaf atas kejadian kemarin."
Sya menoleh. "Kau?" lalu mata Sya tertuju pada buket bunga disamping tangannya, "Apa ini untukku?" Tanya Sya kemudian.
"Sebagai tanda maafku, Kak."
Sya tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu."
"Benarkah?" Tanya Ben dengan raut wajah bahagia.
"Tentu. Aku harus pergi sekarang karena Bu Xiu sudah menunggu. Kau bisa sarapan dengan Lufas."
"Baik, Kak."
Lalu Sya menoleh pada seorang pelayan. "Tolong simpankan bunga itu dikamarku."
Pelayan itu mengangguk. Sementara Sya langsung keluar. Dia tidak ingin Xiu menunggunya terlalu lama.
__ADS_1
"Dia bahkan tidak berpamitan padaku," lirih Lufas yang merasa dicampakan.
***