The Way Love

The Way Love
XCVIII


__ADS_3

Beberapa hari ini Sya terlihat murung. Kembali dia teringat dengan Arda. Bukan tentang cinta mereka, Sya hanya merasa iri. Saat ini Arda sudah bahagia, tapi tidak dengan dirinya.


Mata Sya melirik kearah tempat tidur. Dimana Lufas berbaring dengan mata tertutup. Setelah kejadian di restoran, Lufas terlihat cukup berbeda. Bahkan, dia yang berubah romantis kini kembali seperti dulu lagi. Dingin.


Helaan nafas Sya sedikit berat. Dia mengambil tas tangan dan hendak pergi. Dia ada janji dengan Xiu. Sejak bisnis yang mereka jalankan lancar. Xiu dan Sya kini semakin dekat, bahkan terlihat seperti teman lama.


"Kau mau kemana?" Lufas duduk melihat Sya membuka pintu.


"Aku ada janji dengan Kak Xiu."


"Kalau begitu pergilah."


Mendengar jawaban itu membuat Sya yakin jika Lufas sudah kembali ke masa lalu. Memang saat ini wajah Anna sudah berubah, tapi rasa cinta yang mereka jalanki dulu masih sama. Kini hanya Sya yang terjebak dalam hubungan itu.


"Tunggu."


Lufas langsung menarik tangan Sya. Mata mereka bertemu. Hal itu membuat jantung Sya berdetak cukup kencang.


"Malam ini kita makan di luar. Ada hal yang harus kita bicarakan," kata Lufas. Setelah itu Lufas melepaskan kembali peganganya pada pundak Sya.


"Baik," lirih Sya.


Sya menebak-nebak apa yang akan dikatakan Lufas. Apa dia akan kembali pada Anna nantinya. Jika iya, sudah tentu perceraian akan datang menghampirinya.


Bibir Sya terlihat tersenyum tipis. Dia memikirkan apa akan menjadi seorang janda lagi. Hal besar yang bahkan dia belum pernah memikirkannya.


Bruk. Tidak sengaja Sya dan Anna bertabrakan. Piring berisi buah ditangan Anna jatuh. Semua buah berserakan kemana-mana. Sya menunduk dan akan mengambilnya, tapi Anna menarik tangan Sya.


"Jangan diambil. Aku tidak mau kau menyentuhnya."


Sya membenarkan tasnya. Dia melihat Anna bergegas mengambil buah-buah itu. Saat dipotongan terakhir, dengan sengaja Sya menginjaknya. Matanya menatap tajam pada Anna dan berkata, "Setidaknya kau harus sadar. Sampah tidak akan dipungut lagi."


Langkah arogan Sya meninggalkan Anna yang menggerutu. Saat ini Lufas memang sedang tidak menghiraukannya, tapi Sya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Lufas akan tetap memilihnya.


***


Xiu dan Sya baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Mereka membawa beberapa tas yang penuh dengan barang baru. Mereka sudah selesai belanja untuk hari ini.


Langkah Sya tiba-tiba berhenti. Dia melihat Lufas dan Anna sedang bersama. Mereka terlihat bahagia dengan tawa diwajah mereka. Tidak sadar jika ada satu mata yang menatap dengan hati terluka.


Xiu menoleh kebelakang saat sadar jika Sya tidak mengikutinya. Dia melihat Sya diam dengan mata fokus. Xiu mencoba melihat apa yang sedang ditatap oleh Sya.


Kini Xiu paham dengan apa yang terjadi. Setelah selesai mengurus barang, Xiu langsung menghampiri Sya. Dia menepuk pelan pundak Sya.


Hal itu berhasil membuat Sya mengalihkan pandangannya. Xiu tersenyum dan berkata, "Apa perlu aku turun tangan?"


Dengan cepat Sya menggeleng. Dia memegang tangan Xiu untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Biarkan saja," kata Sya kemudian.


"Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?"

__ADS_1


"Tidak. Kami baik-baik saja."


Xiu menatap tidak percaya.


"Benarkah? Lalu siapa wanita itu?"


"Dia Nita, maksudku Anna."


"Nita?" Tanya Xiu dengan mata lebar.


"Ya, dia melakukan beberapa operasi. Kini dia menjadi Anna."


"Apa Lufas tahu?"


Sya hanya menganggukan kepalanya.


"Apa Lufas sudah gila," lirih Xiu.


Kali ini Sya teringat. Sampai saat ini, semua orang yang kenal dengan Lufas akan mengira jika dia adalah Nita. Hanya Xiu yang tidak melakukan hal itu.


"Oh ya. Aku baru ingat, bagaimana kak Xiu tahu jika aku Sya bukan Nita saat dibandara."


Xiu tertawa. "Kalian memiliki aura yang sangat berbeda. Aku langsung tahu jika kau bukan wanita itu."


Sya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa kau benar mencintai Lufas?"


"Malam ini kau harus menginap ditempatku. Aku tahu kau butuh ketenangan."


"Terima kasih atas tawaran Kakak."


"Tenang saja. Kita kan teman."


Mereka saat ini menuju keapartemen Xiu. Yang dikatakan Xiu benar. Sya butuh ketenangan untuk pikiran dan hatinya. Sya tidak boleh hilang sabar karena Anna.


Sampai disebuah apartemen. Sya ternganga, apartemen elite dengan segala fasilitanya yang mewah. Dia merasa Xiu benar-benar orang kaya yang wow. Tidak seperti Lufas, kaya tapi tidak memikirkan sebuah rumah atau apartemen. Dia malah memilih sebuah vila tua.


"Ayo masuk. Kamu bisa langsung mandi dan istirahat."


Sya melihat jam tangannya. Ternyata sudah waktunya makan malam. Dia ingat jika ada janji dengan Lufas saat ini.


"Kak Xiu. Maaf, sepertinya aku nggak bisa nginep disini malam ini. Aku ada janji dengan Lufas makan diluar."


"Apa kau akan menemuinya?" Tanya Xiu.


"Ya. Aku sudah janji."


"Kali ini jangan temui dia. Biarkan saja dia merasakan apa yang kamu rasakan."


"Tapi..."

__ADS_1


"Tidak ada tapi. Aku ingin kamu menjadi wanita yang kuat. Malam ini bersantailah disini. Aku juga sudah menyiapkan seseorang untuk memijatmu. Kamu harus rileks."


"Baiklah."


Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Sya berbaring sementara seorang wanita sedang memijat kakinya. Terlihat sekali jika Sya merasa nyaman dengan pijatan itu. Perlahan matanya mulai menutup. Sya tertidur.


"Kau sudah bisa pergi," kata Xiu pada wanita pemijat.


Wanita itu langsung keluar. Xiu dengan penuh perhatian menyelimuti tubuh Sya. Lalu dia meninggalkan kamar Sya. Membiarkan Sya istirahat.


***


Lufas menatap ponselnya dengan kesal. Sejak tadi dia mencoba menghubungi Sya, tapi tidak ada jawaban. Bahkan Sya juga tidak kembali ke vila sejak pagi.


Tidak lama seorang wanita masuk. Dia duduk di depan Lufas tanpa permisi. Dengan kesal Lufas meminta wanita itu pergi. Bukannya pergi, wanita itu mendekat pada Lufas. Dia memberikan sebuah ciuman padanya.


Lufas kaget, tapi belum sempat dia memint penjelasan. Wanita itu langsung pergi begitu saja. Sampai Lufas sadar saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari Xiu, dia meminta Lufas untuk pulang. Malam ini Sya istirahat dengan nyaman di tempatnya.


Bagaimanapun, Xiu tidak mau hubungan Lufas dan Sya memburuk. Dia hanya ingin membantu, itu saja.


Lufas menggertakan giginya. Kali ini dia merasa jika Xiu sudah mulai ikut campur dalam rumah tangganya. Dengan emosi Lufas keluar dari restoran.


Mobil melaju dengan begitu cepat. Emosi Lufas kali ini benar-benar sudah memuncak. Dia hanya ingin bicara dengan Sya, tapi Xiu mencoba menjauhkan mereka.


Beberapa kali Anna mondar-mandir. Keluar masuk dari rumah hanya untuk melihat apa Lufas sudah kembali atau belum. Sampai Anna mendengar deru mobil Lufas.


Dengan semangat Anna mengambil piring buah. Dia menyambut Lufas dengan senyuman. Melihat raut wajah Lufas yang kecewa, Anna tahu jika malam ini Sya tidak menemuinya.


"Kamu sudah pulang?" Tany Anna.


Lufas menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh pada Anna yang terlihat membawa sebuah piring buah.


Crang. Piring buah itu dibuang oleh Lufas. Dia menatap tajam pada Anna.


"Lain kali jangan lakukan hal ini lagi. Jika kau masih melakukannya. Aku akan mengusirmu."


"Kenapa kau marah padaku? Apa salahku?" Tanya Anna dengan nada keras.


"Tidak usah berteriak. Suaramu membuat telingaku sakit."


"Aku tahu kau kesal karena Sya tidak menemuimu. Tentu saja dia tidak mau denganmu, Arda begitu lembut. Sedangan kau pemarah dan jahat, kau lebih cocok denganku."


"Apa kau akan mengatakan lagi jika Sya bertemu dengan Arda?"


"Itu sudah pasti."


Plak. Tamparan mendarat diwajah Anna.


"Lain kali jangan menjelekan Sya didepanku."


"Kau..."

__ADS_1


Belum sempat berkata lagi. Lufas sudah berlalu meninggalkan Anna sendiri. Walau begitu, sebuah senyuman terlukis diwajah Anna. Bagaimapun, Lufas sekarang menjauh dari Sya. Itu karena foto yang diberikan Anna pada Lufas. Foto saat Arda dan Sya bertemu.


__ADS_2