The Way Love

The Way Love
CIV


__ADS_3

Suara hujan yang begitu besar membuat Sya yang berada di dalam kamar merasa terganggu. Dia perlahan berjalan menuju ke jendela. Tirai berwarna hitam putih itu dia buka.


Pemandangan awan hitam dan rintik hujan terlihat. Sya menatap semua itu dengan hati yang terasa begitu hampa. Tidak lama Sya melihat sebuah mobil masuk ke rumah itu.


Mata Sya membulat. Dia tahu mobil itu milik Lufas. Sudah pasti jika Lufas mencarinya saat ini. Walau begitu, tetap saja Xiu tidak memberikan dia ijin keluar dari kamar itu.


Tok tok tok. Mendengar suara pintu yang diketuk. Sya bergegas untuk membukanya. Seorang pelayan dengan laptop ditangannya. Sya hanya menatapnya tanpa tanya.


"Nona Xiu ingin kau melihat CCTV di laptop ini," kata pelayan itu.


"Masuklah."


Sya mempersilahkan pelayan itu masuk. Dia duduk di sofa sembari menunggu pelayan itu menyiapkan laptopnya.


Tidak membutuhkan waktu lama. Gambar Lufas dan Xiu yang sedang duduk kini terlihat. Sya menatap keduanya, tidak ada hal yang mencurigakan.


"Bagaimana keadaan Anna?" Tanya Xiu.


"Saat ini dia masih dalam perawatan," jawab Lufas.


"Apa kau akan menceraikannya? Sya yang menceritakan padaku."


Lufas terlihat berfikir saat ini.


"Oh ya. Ada apa kau tiba-tiba saja datang ke rumah ini?"


"Aku mencari Sya Berharap kau menyembunyikannya disini."


"Apa dia pergi?" Tanya Xiu.


Lufas mengangguk. Dia menceritakan kejadian yang baru terjadi antara dirinya dan Sya. Xiu mengamati setiap rincian cerita itu.


"Menurutmu apa aku salah?" Tanya Lufas kemudian.


Xiu tersenyum kecil.


"Kau sangat bersalah. Apa Sya pernah melukaimu? Apa dia pernah mencelakaimu?"


Lufas menggeleng.


"Dia tidak melakukannya. Anna yang melakukannya padamu, kenapa kau malah melukai wanita seperti Sya"


"Ya. Aku mencarinya untuk minta maaf."


"Apa jika dia kembali kau akan berubah? Setidaknya buang sifat kejammu itu saat bersama dengannya," kata Xiu.


"Ya. Aku akan mencoba yang terbaik."


"Aku mengatakan semua ini bukan karena aku membela Sya. Aku hanya ingin kau memberikan kepastian untuknya. Dia hampir merasakan bahagia sampai saat Anna muncul dan merebutmu."


"Meskipun begitu. Saat ini aku masih belum bisa menceraikan Anna. Dia sangat membutuhkanku saat ini."


Bukan hanya tawa kecil. Kali ini Xiu tertawa lebar. Entah apa yang sedang dia tertawakan.


"Kau ini seorang Bos. Bos mafia, kau bisa luluh hanya karena trik kecil yang dilakukan Anna."


Lufas hanya diam.


"Kembalilah sekarang. Aku ada urusan lain," kata Xiu.


"Tunggu. Apa Sya ada disini?"

__ADS_1


Xiu yang sudah berdiri kini kembali menatap pada Lufas. "Kau baru saja menghawatirkan Anna. Untuk apa kau mencari Sya."


"Xiu. Aku hanya ingin Anna sembuh, sementara Sya adalah belahan jiwaku dan separuh nafasku."


"Jangan katakan hal semacam itu di depanku. Aku tidak percaya." kata Xiu dan masuk ke dalam.


Lufas memikirkan apa saja yang baru saja dia bicarakan dengan Xiu. Lufas tahu, Xiu memintanya untuk memilih. Hanya saja saat ini dia tidak dapat menentukan pilihan itu.


Setelah berfikir cukup lama. Akhirnya Lufas memutuskan untuk pergi dari sana. Antara kecewa dan sedih Lufas meninggalkan tempat itu.


Sya hanya diam sembari menatap semua itu. Setelah itu Xiu masuk. Dia menutup laptopnya dan menatap pada Sya.


"Apa yang kau pikirkan saat ini?" Tanya Xiu.


Sya menggeleng.


"Sya. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Aku tidak ingin kau terluka untuk kesekian kalinya."


Jari Sya memainkan ujung baju. Dia terlihat berfikir keras saat ini.


"Aku akan selalu di sampingmu. Pikirkanlah jalanmu selanjutnya dengan matang. Jangan hanya karena cinta kau melupakan segalanya," kata Xiu.


Laptop yang berada di atas meja diraih oleh Xiu. Dia meninggalkan Sya untuk berfikir sendiri. Jika Sya meminta untuk kembali pada Lufas. Xiu akan memberikannya ijin. Begitu pula saat Sya memutuskan untuk berpisah dengan Lufas. Xiu akan selalu menemaninya.


***


Anna tersenyum kecil sembari menatap layar ponselnya. Dia merasa sudah menang saat ini. Sya sudah pergi meninggalkan Lufas yang mau tidak mau harus menemaninya.


Jari jemari Anna mulai mengetik dalam pesan singkat. Dia mengirimkan pada Lufas jika saat ini dia butuh dirinya. Lufas tidak akan menolak karena dia sudah membuat janji. Bukan hanya berjanji pada Anna, tapi juga pada dokter yang menanganinya.


"Aku mau jus alpukat. Cepat belikan," perintah Anna pada perawatnya.


"Ya."


"Kau mau kemana?" Tanya Lufas.


"Nona Anna meminta jus alpukat. Aku akan membelikannya di kantin," kata Perawat itu.


"Cepatlah kembali."


Perawat mengangguk.


Lufas masuk dan mendapati Anna sedang duduk dengan pakaian yang minim. Lufas langsung menyelimutinya dengan jas yang dia pakai. Hal itu memicu senyuman yang indah dari bibir Anna.


"Aku mencoba menelfonmu, tapi kau tidak datang-datang."


"Apa ada masalah?" Tanya Lufas.


Anna mendekat dan langsung memeluk Lufas. Dengan tenang Lufas melepaskan pelukan itu. Dia manatap Anna dengan tatapan yang tidak mudah diartikan.


"Apa aku cantik?" Tanya Anna dengan tawa kecil.


"Apa kau sudah tanda tangani surat cerai itu?"


Wajah Anna langsung berubah begitu saja. Dia mengira jika Lufas sudah melupakan semuanya. Anna berdiri dan menatap pada Lufas dengan tatapan tajam.


"Aku sedang sakit dan kau masih saja mengingat perceraian itu? Apa kau benar-benar sudah melupakan aku?"


Lufas mengarahkan pandangannya pada luar kaca. "Aku tidak melupakanmu. Aku hanya sudah memiliki kehidupan yang baru."


"Apa maksudmu Sya?"

__ADS_1


Lufas hanya diam dan menundukan kepalanya.


"Sudah aku bilang padamu. Dia hanya wanita yang tidak akan membuatmu bahagia."


"Aku hanya mencintai dia. Tanda tanganilah surat cerai itu. Aku harus kembali ke kantor saat ini juga."


Anna mencoba untuk menghentikan langkah kaki Lufas. Dia memeluknya dari belakang, hal itu membuat Lufas berhenti. Bayangan Sya muncul dipelupuk matanya. Dengan tangannya sendiri Lufas melepaskan pelukan itu. Dia berbalik dan memegang ke dua pundak Anna.


"Aku sudah tidak ingin bersamamu. Jangan melampaui batas."


Lufas keluar dari kamar. Dia berpapasan lagi dengan perawat Anna. Perawat itu tidak tersenyum atau apapun. Dia langsung masuk ke dalam kamar Anna.


Anna mengobrak-abrik tempat tidurnya. Air matanya mengalir deras. Dia merasa sangat terluka dengan apa yang dilakukan Lufas padanya. Perawat itu mencoba mendekat, tapi Anna terduduk dengan lemas.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Perawat.


"Kau tidak perlu bertanya. Sebaiknya kau pergi, aku tidak membutuhkanmu lagi."


Perawat itu diam. Anna menelfon sekretarisnya, dia meminta untuk segera mengeluarkannya dari rumah sakit itu. Kemudian Anna menoleh, dia masih melihat perawat itu disana.


"Apa kau tuli. Aku sudah menyuruhmu pergi," kata Anna dengan nada membentak.


Tidak ada ekspresi yang diberikan perawat itu. Dalam diamnya, perawat itu keluar dari dalam kamar.


***


Sya duduk berhadapan dengan Xiu. Kali ini dia sudah memutuskan jalan mana yang akan dia pilih. Hal itu membuat Xiu sedikit gugup.


"Apa kau sudah memikirkannya?" Tanya Xiu disela diamnya Sya.


Perlahan Sya menganggukan kepalanya. Dia menatap pada Xiu.


"Terima kasih untuk apa yang sudah kak Xiu berikan. Aku tidak tahu harus memberikan alasan apa padamu. Hanya saja, hati ini sudah tertambat. Aku tidak tahu cara melepaskannya."


"Lalu?"


"Aku ingin kembali. Aku akan memberikan kesempatan pada Lufas."


"Bagaimana jika bermain kasar lagi denganmu?"


Sya menunduk. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini. Jika dia memiliki banyak alasan. Sudah tentu Xiu tidak akan mengizinkannya kembali.


"Jika itu sudah keputusanmu. Aku hanya bisa mendukung."


Mendengar hal itu Sya mendongakkan kepalanya. Xiu tersenyum, tanpa basa-basi Sya mendekat dan langsung memeluknya.


"Terima kasih," lirih Sya.


"Jangan berterima kasih. Saat kau kembali nanti, aku harap kau tidak mengatakan tentang sebuah kehamilan pada Lufas."


Sya terlihat ingin tahu kenapa Xiu melarangnya.


"Kau tidak perlu tahu alasannya. Kau hanya perlu diam tentang bayimu ini. Janji padaku."


"Ya. Aku berjanji."


Xiu memeluk Sya. Setelah itu Xiu menatap Sya dengan lembut. Bagaimanapun Xiu benar-benar menganggapnya seorang adik. Dia tidak ingin jika Sya sampai terluka.


"Aku akan menyiapkan mobil untukmu. Jika ada masalah, katakan padaku."


"Terima kasih, Kak Xiu."

__ADS_1


Dengan berat hati Xiu melepaskan Sya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Lufas pada Sya. Jika tahu tentang kehamilannya. Xiu hanya berharap tentang kebaikan untuk Sya.


__ADS_2