The Way Love

The Way Love
LXXXI


__ADS_3

Pemandangan yang begitu indah. Gunung yang menjulang tinggi dengan banyak pohon yang tumbuh. Pemandangan yang tidak mungkin ada di daerah perkotaan.


Saat ini, Sya hanya bisa diam sembari menatap pemandangan itu. Dia sedang menuju kesebuah tempat dimana Lufas membawanya.


Mereka akan tinggal disebuah vila yang berada dipinggir kota. Hal itu cukup menenangkan bagi Sya, karena dia tidak suka dengan kebisingan.


Meski begitu. Raut wajah Sya terlihat tidak bahagia. Dia terus menerus menatap kearah luar kaca mobil. Bahkan beberapa kali Lufas mengajaknya bicara, Sya tidak menjawabnya.


"Sya. Ada apa denganmu?" Kembali Lufas bertanya.


Kali ini Sya merespon. Dia menoleh pada Lufas dan menyunggingkab senyum tipis.


"Apa karena Ruka kau menjadi sedih seperti ini?" Tanya Lufas.


Ya. Sampai Sya berangkat bersama Lufas. Sya tidak bisa menemui Ruka. Sekretarisnya mengatakan jika dia tidak bisa ditemui. Banyak urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda.


"Apa kau ingin kembali?"


Sya menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu. Aku akan menelfon Kak Ruka nanti."


"Baiklah."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan tenang. Tanpa ada gangguan. Hanya beberapa kali Lufas menghentikan mobilnya untuk bertanya pada seseorang.


***


Ruka hanya diam saat menatap foto Sya. Sebenarnya dia tidak ada pekerjaan. Dia hanya tidak ingin menemui Sya. Jika dia melihat Sya saat akan pergi. Mungkin air matanya akan mengalir.


Hal itu membuat Ruka memilih untuk berbohong dan mengurung dirinya di dalam ruang kerja. Rasa sedih karena harus berpisah lagi dengan keluarga satu-satunya membuat perasaan cengeng muncul dihati Ruka.


"Tuan. Tadi Nona Sya menelfon," kata Mira.


"Aku akan menelfon balik nanti malam. Kau kerjakan saja pekerjaanmu."


"Baik, Tuan."


Rasa percaya Ruka pada Lufas membuat dia tidak memikirkan hal buruk. Ruka berfikir jika nasib Sya dan Lufas sama. Jadi, kemungkinan besar mereka akan saling mengerti. Walau tidak saling mencintai.


Tidak ingin pikirannya terpaku saja pada Sya. Ruka memilih membuka laptopnya. Dia melihat beberapa pekerjaan yang bisa dia lakukan.


"Ruka. Kau membawa Sya kemana?" Tanya Arda begitu masuk keruang kerja Ruka.


Ruka menoleh. Dia kembali menutup laptopnya dan memilih menemani Arda duduk.


"Ruka. Biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali."


Kali ini Ruka tersenyum. Dia mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Arda.


"Aku juga tidak melihatnya untuk yang terakhir."


"Apa maksudmu?" Tanya Arda.


"Dia sudah pergi dengan suaminya. Aku tidak bisa mencegahnya."


Arda menggelengkan kepalanya. Dia terduduk di sofa ruangan itu dengan tatapan kecewa. Dia benar-benar sudah gagal. Walau hanya ingin meminta maaf, Arda sudah tidak memiliki kesempatan lagi.


"Permintaan maaf ini tidak akan pernah aku ungkapkan," lirih Arda.


Ruka hanya diam. Dia kembali meletakan air putih itu dan duduk di hadapan Arda. Dia menatap Arda yang begitu terpuruk. Ada rasa bersalah karena sudah memisahkan orang yang saling mencintai.

__ADS_1


Hanya saja, Ruka memiliki alasan untuk melakukan hal itu. Dia tidak ingin Sya sampai mengalami hal yang sama, seperti saat bersama dengan Arda.


"Mulailah lembaran baru," ucap Ruka.


***


Sya dibuat terpukau dengan apa yang dia lihwt. Vila yang memiliki taman yang luas. Pelayan yang ramah-ramah. Pemandangan yang begitu menenangkan dan memukau.


Seorang pelayan ditugaskan oleh Lufas untuk mengantar Sya berkeliling. Sesekali Sya harus bungkam karena keindahan yang disuguhkan.


"Apa kau tahu kamar yang akan kutempati. Aku lelah," kata Sya kemudian.


Pelayan itu mengangguk. "Saya akan antarkan."


Mereka berjalan melalui lorong yang terbuka disisinya. Sampai disebuah kamar yang berada tepat di tengah. Pelayan itu membukakan kamar itu.


"Nona bisa istirahat disini."


"Terima kasih."


Sya masuk. Kamar itu terlihat begitu rapi seperti baru dibersihkan. Nuansa disana juga sangat menenangkan dengan dominasi warna emas.


Mata Sya berkeliling. Dia merasa baru pertama kali melihat desain kamar seperti itu. Indah dengan berbagai hiasan.


Sampai mata Sya tertuju pada sebuah pintu yang menuju ke balkon. Tanpa pikir panjang Sya meletakan tasnya. Dia membuka pintu itu.


"Woooow," ucap Sya dengan girang.


Pemandangan yang terlihat dari sana begitu indah. Sya hanya menatap pemandangan itu saja.


"Apa kau suka?"


"Ya. Aku menyukainya."


Lufas tersenyum. "Hanya beberapa menit saja untuk kita sampai ke kota. Apa kau mau jalan-jalan kesana."


"Tidak. Aku ingin istirahat saja hari ini."


"Baiklah. Aku juga ada urusan dengan teman di luar. Kau bisa istirahat."


"Tentu."


"Jika ada apa-apa. Cepat hubungi aku," kata Lufas lagi.


"Ya."


Sya kembali sendiri di kamar. Merasa tubuhnya sangat lelah. Sya memilih untuk mengistirahatkan dirinya. Sebelum itu, dia memilih untuk berendam sebentar.


Di dalam kamar mandi. Kembali Sya dibuat kaget. Kamar mandi yang mewah dengan banyak barang berpasangan. Dalam hati, Sya merasa tersanjung.


"Ternyata Lufas romantis juga," lirih Sya di sela senyumannya.


Entah mengapa. Sya merasa jika Lufas sengaja melakukan semua ini untuknya. Mulai dari vila sampai semua barang yang berada di sana.


***


Malam sudah mulai datang. Sya masih senang duduk di balkon kamarnya dengan ditemani secangkir teh dan buku. Sampai saat telfonya berdering.


Perlahan tangan Sya meraih ponsel itu. Dia melihat nama yang tertera disana. Ruka. Dengan senang hati Sya mengangkat telfon dari kakaknya itu.

__ADS_1


"Kakak, kenapa baru menelfonku? Apa pekerjaanmu itu sangat-sangatlah penting?"


Ruka tertawa kecil. "Maaf. Aku baru saja selesai meeting dengan teman. Bagaimana disana? Apa kau suka?"


"Ya. Lufas membawaku kesebuah vila dengan pemandangan yang indah. Kapan kau akan berkunjung kesini?"


"Baru sehari kau pergi dan sudah minta dikunjungi?"


Sya tersenyum tipis. "Bagaimanapun. Kakak satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku ingin Kakak melihat aku bahagia."


"Aku tahu. Pilihanku untukmu tepat bukan? Lufas mencintaimu."


"Tapi aku belum mencintainya."


"Perlahan kau juga akan mencintainya."


Tuk tuk tuk. Sya kaget dan menoleh kebelakang. Lufas sudah berdiri dan mengetuk pintu balkon itu.


"Kak. Aku akan menelfonmu lagi nanti. Sudah dulu ya," kata Sya yang langsung mematikan ponselnya.


Kali ini Sya tahu jika Lufas mendengar semuanya. Hanya saja, itu kenyataanya. Sya memang belum memiliki rasa cinta untuk suaminya itu. Hanya ada rasa kagum semata.


Lufas meletakan tas dan ponselnya. Dia juga membuka jas hitamnya. Setelah itu mendekat pada Sya. Dia duduk berhadapan dengan Sya. Hal itu, mampu membuat jantung Sya berdegup kencang.


"Sya. Apa kau tidak ingin membuka hatimu untukku?"


Pertanyaan yang terlontar dari bibir Lufas mampu membuat Sya membeku.


"Perlahan rasa cinta dihatiku tumbuh Sya. Kenapa kau masih saja menutupnya."


"Lufas. Aku...aku...aku masih..."


"Ya. Kau masih mencintai Arda."


Mata Sya membulat. "Bukan. Bukan itu, aku hanya..."


"Aku akan terus menunggu sampai kau jatuh cinta padaku."


Setelah mengatakannya. Lufas meninggalkan Sya sendiri di balkon. Hal itu membuat Sya tidak enak hati. Bagaimanapun, Lufas sudah memberikan banyak hal padanya. Bahkan, Lufas tidak pernah menyakitinya.


Tanpa sadar. Sya sudah membuat janji pada dirinya sendiri untuk berusaha membuka hati. Dia akan menerima Lufas sepenuhnya. Walau Sya masih merasa ganjil karena cinta Lufas yang tiba-tiba.


Disisi lain.


Arda duduk dengan foto Sya ditangannya. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa menjaganya saat Sya menemaninya. Permintaan maafpun belum sempat dia katakan.


Kini. Sya sudah pergi dengan cintanya yang baru. Cinta yang tidak mungkin di dapatkan saat bersama dengan Arda.


Kenyataan itu membuat Arda semakin terpuruk. Dia enggan untuk bekerja arau meeting dengan temannya. Dia hanya berdiam di dalam kamarnya saja.


Sampai saat sebuah pesan masuk ke dalam emailnya. Disana, ada foto Sya dengan Lufas. Entah siapa yang mengirim, namun tulisan dibawahnya membuat Arda merasa ada harapan.


'Pernikahan ini palsu. Mereka memiliki surat kontrak tidak saling mencintai.'


Arda mencoba melihat siapa pengirimnya. Hanya saja, dia tidak tahu. Bahkan saat Arda akan membalas pesan itu pun tidak bisa.


Secercah harapan muncul di hati Arda. Saat ini, dia tidak akan mencari Sya. Dia akan membuktikan lebih dulu cintanya pada Sya. Sampai saat jalan cinta kembali mempertemukan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2