
Wajah Sya begitu cerah. Dia sedang menyuapi Danendra makan. Saat ini sudah waktunya minum obat. Kadang Sya merasa sedih saat melihat Danendra sedang terlelap. Masih kecil, tapi sudah memiliki penyakit yang begitu menyakitkan.
Danendra masih saja ceria dengan keadaanya saat ini. Sya merasa begitu kagum. Danendra bisa menahan semua rasa sakit itu.
Ponsel Sya berdering. Sya melihat nama orang yang menelfonya. Wajah Sya langsung terlihat berubah. Ada gurat kegelisahan.
"Nendra. Mama angkat telfon dulu ya," ucap Sya dengan lembut.
"Ya."
Sya keluar dari ruangan dimana Nendra di rawat. Dia mengangkat telfon itu dengan perlahan. Dia sudah siap dengan apapun hasi sidang kali ini.
"Halo," ucap Sya.
"Halo, Bu."
"Bagaimana dengan sidangnya? Apa ada masalah?"
"Tidak ada masalah dalam hal perceraian. Hanya saja, pihak dari Pak Lufas meminta hak asuh untuk Danendra."
"Apa?!" Kali ini Sya tidak bisa menahan emosinya.
"Ya. Akan ada sidang lagi."
Sya berfikir untuk sejenak.
"Aku ingin kau memenangkan sidang ini. Apapun yang terjadi."
"Baik."
Sya menutup telfonya. Dia kembali masuk ke ruangan. Danendra sedang duduk dengan mata tertuju pada TV. Dia sedang menonton acara kartun.
"Nendra. Apa Nendra sayang sama Mama?" Sya bertanya tanpa memikirkan hati Danendra.
Saat ini Sya membayangkan jika dia harus berpisah dengan Danendra. Selama ini hanya Danendra yang menjadi penyemangat dan sandaran bagi Sya.
"Ada apa Mama? Mama dan Papa bertengkar lagi."
Sya tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini pada Danendra. Saat ini dia sedang berjuang untuk hidupnya, sangat tidak mungkin jika Sya harus mengatakan hal itu.
Mental dan jiwa Danendra pasti akan terkena juga. Sya menatap dalam pada wajah Danendra. Sya tidak tahu harus mengatakan apa, tanpa ragu Sya menarik tubuh Danendra. Sya memeluk erat tubuh kecil itu.
Tidak tahu kenapa. Danendra ikut meneteskan air mata, memang benar seorang anak dapat merasakan emosi dari ibunya.
"Sayang. Kenapa kamu menangis?" Tanya Sya.
"Mama menangis. Disini terasa sakit," Danendra menunjuk kearah dadanya sendiri.
"Mama sudah tersenyum, kamu juga harus tersenyum."
"Baik, Mama."
"Sayang. Mama ada janji dengan seseorang. Nendra di sini yang tenang ya, istirahat."
"Ya. Nanti malam Mama akan menemaniku disini kan?"
"Tentu."
__ADS_1
Setelah berhasil menidurkan Danendra, Sya keluar. Di luar Bi Sali baru saja keluar dari lify. Sya langsung merasa lega. Setidaknya, dia tidak akan merepotkan perawat saat ini.
"Dimana ruangan Nendra, Bu?"
"Kamar 504."
"Baik."
"Tolong jaga Nendra. Saya ada janji bertemu dengan teman."
"Ya, Bu."
***
Rista sudah menunggu di sebuah cafe dekat kantor. Sya masuk dan melihat Rista. Tanpa ragu dia langsung mendekat dan duduk.
"Mau minum apa?" Tanya Rista.
"Kamu saja yang pesankan."
Sya melihat ponselnya. Tidak ada pesan, Sya memasukan kembali ke dalam tas.
"Kamu pasti sudah menunggu lama," kata Sya.
"Tidak. Baru saja aku keluar dari kantor."
Sya mengangguk. Tidak sangka, saat itu Lufas masuk dan diikuti oleh seorang wanita. Sya mencoba untuk mengalihkan pandangannya. Hanya saja tidak tepat, Lufas lebih dulu melihatnya.
"Jika kamu tidak nyaman. Kita bisa pergi sekarang," kata Rista.
"Tidak perlu."
Rista melihat Sya yang hanya diam. Rista menyesal sudah membawa Sya ke dalam tempat ini.
"Kenapa kau duduk disini? Bukankah kau mengajakku makan berdua?" wajah Mika terlihat tidak senang.
Lufas menatap Mika. "Bukankah kau lihat sendiri. Aku sedang bersama istriku."
"Maaf Tuan Lufas. Lebih baik kau jaga kekasih kecilmu ini. Kita sudah tidak ada hubungan. Kau harus ingat itu," kata Sya dengan tenang.
Lufas baru ingat. Sya dan dia sudah resmi untuk berpisah. Meski Lufas terus saja menolak dan tidak ingin berpisah.
"Rista. Bukankah kau mau mengajak aku ke rumahmu?" Tanya Sya sembari mengedipkan mata.
Rista paham. Dia langsung berdiri dan membayar minuman mereka.
"Ayo," ajak Rista.
Saat Rista dan Sya sudah berjalan beberapa langkah Mika mendekat.
"Baguslah jika Kakak sudah bercerai dengan Lufas."
Tawa Sya pecah begitu saja. Dia berbalik dan melihat Mika. Mika masih terlalu muda bagi Sya. Bahkan dandananyapun masih seperti anak kecil.
"Aku bukan kakakmu. Juga, jangan berterima kasih untuk perpisahan ini."
"Seharusnya kamu menyesal. Lufas begitu baik. Dia bahkan memberikan aku uang jajan."
__ADS_1
"Apa kamu tahu, hubungan cinta bukan hanya tentang uang jajan. Kembalilah pada Lufas, sebelum dia berpaling untuk wanita lain."
Melihat ekspresi wajah Mika. Sya merasa puas, dia pun keluar. Rista sudah menunggunya di dalam mobil.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Rista.
"Mendongeng untuk anak-anak," jawab Sya.
Sementara di cafe. Mata Mika masih terus menatap pada Sya. Bahkan tatapan itu begitu tajam. Meski Mika terlihat masih anak-anak tapi pemikiranya begitu dewasa. Apa lagi untuk urusan ranjang. Dia tahu apa yang Lufas suka.
"Jangan dengarkan apa yang Sya katakan. Dia hanya bercanda."
"Apa kau masih menyukainya? Sudah aku bilang dia bukan wanita yang baik," ucap Mika dengan tangan terkepal.
Lufas tidak menjawab. Dia hanya melihat Sya yang pergi. Kali ini Lufas sudah benar-benar kehilangannya.
"Aku ada meeting. Kamu kembalilah ke rumah."
"Tidak. Aku akan menemanimu."
"Mika."
"Ya. Aku akan pulang, tapi nanti kau harus menjemputku."
"Ya."
***
Rista dan Sya duduk di sebuah taman. Mereka membahas banyak hal tentang wanita. Sampai beberapa wartawan datang. Sya kaget, begitu juga dengan Rista.
Banyak pertanyaan yang ditujukan pada Sya. Semuanya menyangkut tentang skandal yang terjadi. Mau tidak mau, Sya harus mengklarifikasi. Jika tidak, dia akan terkena masalah lebih jauh.
"Saya dan Lufas sudah berpisah." Tegas Sya.
Setelah Sya mengatakan hal itu. Wartawan masih belum juga berhenti, mereka menanyakan hubungan Sya dan Mike. Bagaimana mereka bertemu dan kenapa bisa sedekat itu.
"Kami..."
"Kami adalah sepasang kekasih. Dia calon istriku."
Sya menatap Mike. Dengan tegas Mike mengatakan semua itu. Padahal sudah jelas, Mike dan Sya tidak memiliki hubungan apapun.
Setelah mengatakan itu Mike membantu Sya untuk masuk kembali ke mobil Rista. Rista hanya melongo saat mendengar apa yang diucapkan oleh Mike.
"Aku ada pemotretan. Nanti malam aku akan menemuimu," kata Mike.
Belum juga Sya mengatakan sepatah kata. Mike sudah menutup pintu, kembali dia dikerubungi oleh para wartawan.
"Apa kalian benar sepasang kekasih?" Tanya Rista.
"Tidak. Dia hanya sembarangan bicara."
"Jika penggemar Mike tahu. Mereka pasti akan mengamuk."
"Ya. Kau benar. Sepertinya, masaah ini akan terus berlanjut."
Benar saja. Para penggemar Mike begitu kaget mendengar hal itu. Bahkan ada yang marah dan mengatakan jika Sya dan Mike tidak pantas bersama.
__ADS_1
Tentu saja. Umur Mike dan Sya memang berbeda, lebih tua Sya lima tahun. Hal ini pasti akan memancing berita baru.
***