
Pagi sudah kembali hadir. Malam yang panjang baru saja dilalui dengan penuh perjuangan. Rasa takut dan gelisah meliputi hati yang baru saja diancam.
Sinar mentari yang masuk melalui celah tirai membuat Sya duduk dengan pelan disamping tempat tidur. Dia masih belum bisa tidur nyenyak setelah ancaman itu tiba. Rasa seperti diawasi membuat Sya enggan berbuat apapun.
Lufas melihat Sya yang masih melamun. Kakinya masih terbungkus selimut tebal. Ruangan kamar yang dominan berwarna putih membuat Sya begitu terlihat.
Perasaan Lufas tidak bisa dibohongi. Dia takut meninggalkan sya dalam kesendirian. Hanya saja pekerjaan sudah menantinya. Tidak mungkin jika dia harus terus menerus mengurung dirinya bersama Sya.
Dengan perasaan yang berat Lufas mendekat pada Sya. Tangan Lufas memegang pundak Sya, perlahan agar Sya tidak terkejut.
Meski Lufas sudah begitu pelan. Tetap saja Sya tersentak. Dia melihat Lufas yang berdiri di sampingnya. Tanpa pikir panjang Sya langsung memeluk tubuh tegap itu.
"Jangan tinggalkan aku," lirih Sya.
Lufas melepaskan pelukan Sya dan duduk di sampingnya. Tatapan takut dimata Sya membuat Lufas hampir goyah lagi.
"Dengarkan aku. Aku hanya pergi bekerja sebentar. Setelah itu aku akan kembali."
Sya menggeleng dengan cepat. Dia menggenggam tngan Lufas dengan begitu erat.
"Bagaimana jika dia datang dan melukaiku. Dia sudah mengancamku."
"Apa kau merasa memiliki musuh disini?" tanya Lufas kemudian.
Sya kembali menggeleng. Di dalam pikiran Sya saat ini hanya ada nama Anna. Anna lah yang selama ini ingin menyingkirkan Sya. Walau begitu Sya tidak ingin mengatakan pada Lufas. Bagaimanapun Lufas masih memiliki ikatan dengan Anna saat ini.
"Ben akan disini selama aku di kantor."
"Baiklah. Setidaknya aku tidak sendiri disini."
Lufas mengelus kepala Sya, lalu dia mencium kening Sya. Sya hanya diam.
"Nanti aku kabari jika ada hal yang terjadi di kantor."
"Ya."
Mau tidak mau akhirnya Sya mengantar Lufas keluar dari apartemen. Pikiran Sya berjalan entah kemana. Sampai saat di depan pintu Sya langsung memeluk Lufas dari belakang.
"Apa kau benar akan pergi?"
"Sya. Kamu bukan anak kecil lagi. Ben juga sedang dalam perjalanan kesini. Bersabarlah."
"Aku takut sendiri dan kembali di teror. Itu sangat meresahkan."
"Aku tahu. Hanya saja aku juga memiliki tanggung jawab yang lain. Aku akan kembali padamu nanti."
"Sangat sulit rasanya," lirih Sya.
Lufas berbalik. Dia menatap Sya dengan lekat lalu berkata, "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
"Masuklah ke kamar. Ben akan segera datang."
Setelah itu dia kembali masuk dan mengurung dirinya lagi di dalam kamar. Jika benar Anna yang mengirimnya, Sya merasa perlu untuk bertemu.
Di dalam lift Lufas terlihat begitu sibuk dengan ponsel ditangannya. Sampai seseorang masuk dan menyapanya dengan ramah.
"Pagi."
__ADS_1
Lufas menoleh dan melihat nenek yang sudah tua. "Pagi juga, Nek."
"Apa kau akan pergi bekerja?"
Lufas mengangguk.
"Bagaimana dengan istrimu?" Tanya nenek itu pada Lufas.
Pertanyaan itu langsung membuat Lufas paham jika nenek itulah yang mengirim kue untuk Sya.
"Dia di rumah, Nek."
"Apa dia sendirian?" Tanya nenek lagi.
Lufas mengangguk.
"Padahal aku sudah bilang padanya jangan sendirian. Orang hamil tidak boleh sendirian."
Mata Lufas membulat. Baru saja dia mendengar kata hamil dari si nenek.
"Apa maksud nenek?"
"Istrimu sedang hamil. Apa kau tidak tahu itu?"
Lufas memencet tombol lift agar terbuka. Dia akan menemui Sya dan menanyakan kabar itu sendiri padanya. Saat ini hati Lufas begitu kacau.
Sya yang mendengar suara bel apartemen buru-buru membukannya. Dia mengira jika Ben yang sudah sampai, tapi saat membuka pintu Lufaslah yang berdiri dengan tatapan tajam.
"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Sya.
Tanpa kata Lufas maju dan langsung mencekik leher Sya. Susah payah Sya mencoba untuk melepaskan tangan Lufas. Kekuatan Lufas begitu besar. Kini Sya terhimpit di dinding dan sulit bernafas.
"Apa kau hamil?" Tanya Lufas.
"Apa yang kamu lakukan?!" Ben mendekat dan langsung melepaskan tangan Lufas dari Sya.
Sya terduduk lemas sembari terbatuk-batuk. Meski begitu Sya bersukur dengan kedatangan Ben. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kenapa kau melakukan hal ini pada Sya?" Tanya Ben.
Lufas menatap tajam pada Sya. Sya menunduk takut.
"Dia hamil tapi tidak mengatakan padaku."
Ben ikut menoleh pada Sya.
"Apa benar?"
Kali ini Sya tidak menyembunyikannya lagi. Sya menganggukan kepalanya.
"Gugurkan kandungan itu," kata Lufas dengan wajah dingin.
Sya menggeleng.
"Jika tidak. Aku tidak akan kembali padamu."
Lufas pergi tanpa menoleh pada Sya. Sya merasa hancur saat tahu Lufas menolak bayi yang dikandungnya.
Ben tidak tega melihat Sya. Dia mendekat dan memapah Sya ke sofa. Setelah itu memberikannya minum.
__ADS_1
"Apa kau merasa lebih baik?" Tanya Ben.
"Ya. Terima kasih."
"Sudah berapa bulan kamu hamil?"
"Jalan dua bulan."
Ben menghela nafas panjang. Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini.
"Kenapa dia menolak anakku?"
"Sebenarnya sejak awal dia tidak ingin memiliki anak. Dia takut jika anaknya nanti lahir dan tahu siapa ayahnya. Anak itu akan malu dan pergi darinya."
"Apakah hanya itu alasannya?"
"Ya. Bagi Lufas mafia adalah pekerjaan yang buruk."
"Lalu kenapa dia mau melakukannya?"
"Aku tidak tahu. Saat ini, jagalah dirimu dan bayimu. Aku akan mencoba membujuk Lufas. Berharap dia mau menerima anakmu."
Ben keluar dari apartemen Sya. Meninggalkan Sya sendirian dengan alasan konyol Lufas. Bagi Sya alasan itu begitu konyol. Hanya karena dia seorang mafia, dia tidak ingin memiliki anak.
***
Rumah kecil di tengah hutan yang penuh dengan tanaman liar. Lufas duduk dengan air mata yang baru saja menetes. Dia merasa terpuruk dengan keadaan saat ini.
Mana ada orang yang mau membunuh anaknya sendiri. Apa lagi sudah jelas jika anak itu akan lahir nantinya. Lufas tidak tahu harus apa saat ini. Dia ingin menjadi seorang ayah, tapi dia tidak ingin anaknya nanti mengalami hal yang sama dengannya.
Mobil merah muncul dan berhenti di hadapan Lufas. Ben turun dan langsung duduk di samping Lufas. Tidak lupa dia memberikan air minum padanya.
"Apa yang dilakukan Sya?"
"Dia akan mempertahankan anak itu. Untuk kamu."
"Kau sudah tahu alasanku, Ben."
"Sya juga tidak memiliki alasan lain selain menjaganya."
Lufas diam.
"Jangan terlalu terikat dengan masa lalu. Bukankah kau ingin berhenti. Ini saatnya berhenti. Buatlah keluarga seperti yang kau impikan," Kata Lufas.
"Mereka masih membutuhkan aku."
"Itu bukan alasan kuat. Kau sudah membuat Sya seperti ini. Bertanggung jawablah. Jangan jadi pengecut."
Lufas berfikir jika Ben benar. Dia memang sudah berniat keluar dari dunia mafia sejak lama. Ini memang saat yang tepat, tapi Lufas masih merasa begitu terikat dengan dunia itu.
"Aku tidak memintamu pergi begitu saja. Perlahan saja, kau pasti akan menjadi lebih baik nantinya. Sekarang kau juga sudah terkenal menjadi pengusaha muda."
"Bagaimana anakku nanti?"
"Mereka pasti akan menerimamu. Percayalah."
"Bisakah kau pergi. Aku ingin sendiri dulu."
"Ya. Pikirkan dengan baik, semuanya butuh proses. Tidak ada yang instan."
__ADS_1
Ben masuk ke mobil dan tancap gas. Lufas sendiri memikirkan segalanya. Konsekuensi jika dia berhenti dari dunia mafia sangatlah banyak. Bahkan Sya bisa saja dalam bahaya nantinya.
***