
Masih sangat pagi bagi Danendra untuk bangun. Dia terbangun karena baru saja mimpi buruk. Dia tidak bis tidur lagi, matanya mencari sosok yang dirindukanya. Mama, Syaheila. Baru sehari Sya tidak menemuinya, tapi Danendra begitu merasa rindu.
Bi Sali langsung terbangun begitu mendengar suara Danendra. Dia berdiri dan mengambilkan air minum untuk Danendra.
"Apa mimpi buruk lagi?" Tanya Bi Sali sembari memberikan segelas air putih untuk Danendra.
Danendra menerima itu. Dia tidak menjawab, hanya matanya yang terlihat sedih.
"Tidak bisa tidur lagi?"
"Ya. Aku ingin Mama."
"Nanti Mama pasti datang. Kamu tidur lagi ya."
"Baiklah."
Danendra kembali membaringkan tubuhnya. Dia mencoba untuk tidur. Berharap saat bangun lagi Sya sudah berada di hadapanya.
Melihat jam yang sudah pagi. Bi Sali bersiap untuk bersih-bersih. Membantu pekerjaan pembantu di rumah itu. Dia juga harus menyiapkan makanan untuk sarapan Danendra.
Setelah selesai melakukan semuanya. Bi Sali berniat untuk kembali ke ruangan Danendra. Saat itu Lufas turun dari tangga. Dia memanggil Bi Sali.
"Bi. Apa Nendra sudah bangun?" Tanya Lufas.
"Ya. Baru saja bangun, tapi sepertinya sudah tidur lagi," jawab Bi Sali.
"Baguslah. Buatkan aku secangkir kopi."
"Baik, Tuan."
Baru saja Bi sali akan masuk ke dapur. Terdengar teriakan dari kamar Danendra. Bi Sali dan Lufas buru-buru masuk. Danendra sudah duduk dengan air mata mengalir.
"Ada apa?" Tanya Lufas yang langsung memeluk Danendra.
"Aku mimpi buruk lagi," ucap Danendra.
"Tenang. Papa ada disini," ucap Lufas.
"Pa. Kapan Mama datang, biasanya Mama akan menemani Nendra kalau Nendra mimpi buruk."
Lufas terdiam untuk sesaat. Dia tidak membolehkan Sya datang karena Sya akan menikah dengan Mike.
"Pa."
"Nendra. Mulai sekarang, Mama tidak akan sering mengunjungimu. Dia sudah bersama orang lain."
Danendra menatap bingung pada Lufas.
"Intinya, Nendra tidak boleh terus tergantung pada Mama. Mama tidak hanya memiliki Nendra."
"Siapa?"
"Suami Mama yang baru."
"Bukankah suami Mama adalah Papa?"
"Tidak lagi Sayang."
__ADS_1
Wajah sedih terukir pada wajah Danendra. Dia merasa sudah diabaikan oleh Sya. Sya bahkan tidak mengatakan pada Danendra tentang hal ini.
"Sekarang makan dan minum obatmu. Sebentar lagi dokter Jo akan datang untuk memeriksa kondisimu."
"Baik, Pa."
Sebelum Lufa pergi, dia mencium kening Danendra lebih dulu. Saat ini dia tidak ingin Danendra hanya diam. Bagaimanapun, Danendra harus tahu semuanya.
"Siapkan sarapan Nendra. Berikan juga obatnya," kata Lufas pada Bi Sali.
"Baik."
"Jika Sya datang kesini. Bilang padanya untuk menemuiku di ruang kerja."
"Baik."
***
Mike melihat Sya masih terlelap. Dia memilih untuk menunggu sembari terus menatap Sya. Entah bagaimana, Sya merasa dirinya sedang di perhatikan.
Matanya perlahan mulai terbuka. Sampai wajah tampan Mike menyapanya. Rasa kaget membuatnya langsung duduk.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Sya.
"Melihat istriku tidur dengan nyenyak."
Sya menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur.
"Aku bukan istrimu."
"Calon istri maksudku."
Dengan handuk mandi Sya keluar dari kamar mandi. Dia tidak tahu jika Mike masih ada di sana. Saat Sya hampir membuka handuk itu, Sya melihat pantulan Mike di cermin.
"Pergilah, dasar mesum."
"Aku tidak mesum. Kau sendiri yang ingin membukanya."
"Lupakanlah. Keluar sekarang juga. Aku ingin ganti baju."
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Kau tidak ingin keluar. Aku yang akan keluar."
Sya melenggang menuju pintu. Pintu sudah terbuka, selangkah lagi Sya keluar dari kamar itu.
Dengan sigap Mike manarik tubuh Sya dan menendang pintu sampai tertutup. Sya kaget dengan apa yang dilakukan oleh Mike.
"Apa kau tidak berfikir diluar banyak pelayan pria?"
Sya hanya diam.
"Jangan perlihatkan tubuhmu pada pria lain aku tidak suka."
Sya mendongakkan wajahnya. Sebuah kecupan mendarat di dahi Sya. Setelah itu Mike melepaskan pelukanya.
"Aku akan menunggumu untuk sarapan."
__ADS_1
Setelah Mike keluar, Sya masih diam di tempat. Dia sudah dua kali menikah. Hanya saat ini dia merasa begitu berharga. Mike begitu baik, membuat Sya merasa tidak pantas untuk bersanding dengannya.
Ponsel Sya menyala. Sebuah pesan masuk. Sya melihat Bi Sali yang mengirimnya. Dengan tangan gemetar Sya membuka pesan itu. Dia bergetar karena takut mendapat kabar yang buruk.
'Tuan Lufas sepertinya sedang marah. Dia tidak membolehkanmu datang. Jika ingin datang, dia ingin kau ke ruang kerjanya dulu.'
Sya hanya bisa menghela nafas. Di samping Lufas sudah ada Mika. Kenapa juga Lufas masih terus mengurus kehidupan Sya. Bahkan, seharunya lufas tidak selenggang itu untuk memikirkan wanita.
Mike sudah menunggu di ruang makan. Sya datang dan langsung duduk. Mereka sarapan tanpa saling bicara. Sampai akhirnya Mik berdiri untuk pergi.
"Kau mau kemana? Bukankah hari ini tidak ada jadwal untuk pemotretan."
"Aku ada urusan lain."
"Apa?" Terlihat sekali jika Sya begitu penasaran.
"Jika ingin tahu. Cium dulu."
Sya langsung membuang muka. Mike yang melihat reaksi Sya akhirnya tertawa.
"Aku bukan hanya seorang model. Aku juga punya beberapa bisnis."
Sya mengangguk.
"Bisnis apa?"
"Kau juga akan tahu nantinya. Sekarang aku harus pergi dulu."
Setelah Mike pergi. Sya tidak tahu harus melakukan apa. Semua persiapan pernikahan sudah selesai. Tinggal mendekor rumah Mike untuk acara sakral itu.
Sya memikirkan dirinya sendiri. Sudah tiga kali ini dia akan menikah. Melihat umurnya, tentu sudah tidak lagi dibilang muda apa lagi remaja. Dia yang menikah tiga kali seperti sedang mempermainkan sebuah acara sakral itu. Meski Sya yang mampu menjawab hal itu Sendiri.
***
Mata Sya memandang sendu kearah rumah Lufas. Dia tidak bisa terus diam dijauhkan dari Danendra. Bagaiamanpun, selama ini Danendra yang selalu ada di sampingnya.
Sya melangkah masuk. Sunyi, tidak ada siapapun. Saat ini dia bisa saja langsung masuk ke kamar Danendra. Hanya dia tidak ingin memancing masalah. Dia memilih untuk menemui Lufas di ruang kerjanya.
Tok tok tok.
"Masuk."
Mendengar perintah itu Sya masuk. Wajah Lufas tersenyum, senyum yang aneh.
"Kau ingin menemui Nendra?" Tanya Lufas langsung.
"Ya untuk apa lagi aku datang jika bukan untuknya."
Lufas tertawa. Dia membiarkan Sya duduk. Kemudian menutup pintunya.
"Ada syarat jika kau ingin menemuinya?"
"Aku hanya ingin bertemu anakku."
Lufas tidak menjawab. Dia terus mendekat pada Sya yang duduk di sofa. Tanpa ragu Lufas langsung mendorong tubuh Sya.
Sya membelalakan matanya. Dia terus meronta dari cengkraman Lufas. Sampai Sya berhasil menendang milik Lufas.
__ADS_1
Lufas kesakitan. Dengan begitu Sya bangun dengan kancing baju yang sedikit terbuka. Sya terus berlari, dia bahkan tidak sempat untuk menengok Danendra