The Way Love

The Way Love
XLIX


__ADS_3

"Biarkan aku bicara dengan Sya. Sudah lama aku tidak melihatnya," kata Jovi.


Sya menggeleng dengan cepat. Bahkan jika dibayarpun Sya tidak akan mau bicara dengan Jovi hanya berdua.


"Aku tidak mau."


"Kau menolakku?" tanya Jovi dengan mata yang memerah.


Jovi sudah siap untuk mendekat dan menarik tangan Sya. Sampai sebuah tangan menahan tangan Jovi.


"Kau berani denganku?"


Untuk sesaat Jovi masih saja bersikeras mendekat pada Sya. Sampai sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Dia melihat pria yang selama ini disegani dikalangan atas.


Mata mereka bertemu. Tidak seperti tadi, kali ini Jovi terlihat ketakukan. Dia mencoba mendekat, tapi sang pemilik mata memilih menjauh.


"Siapa yang menyuruhmu datang?" tanya Ruka.


"I...itu. Aku..."


"Pergi dari sini sebelum aku membuatmu kehilangan nyawa."


Jovi langsung masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas secepat mungkin. Ruka menepuk pundak Sya, dia masih gemetar ketakutan karena Jovi.


"Bawa Sya masuk. Aku akan urus para pelanggan ini," kata Ruka.


"Baik."


Eri membantu Sya agar tetap berdiri dengan tegap. Sengaja Eri langsung membawa Sya kedalam kamar. Sya sempat menolak, tapi Eri terus memaksanya. Lagi pula, kondisi Sya tidak memungkinkan untuk tetap berada di luar ruangan.


Air hangat sudah datang. Sya memegangnya dengan kedua tangan. Sesekali mata Sya melihat keluar jendela. Dia berharap malam itu Arda datang. Entah harapan itu akan terjawab manis atau tidak.


"Apa yang dilakukan Sya?" tanya Ruka pada Eri.


"Sejak tadi dia menunggu Arda. Bahkan, Arda juga tidak mengabarinya."


"Pria kurang ajar," lirih Ruka.


"Apa kau bilang?"


"Tidak ada. Kalau begitu aku pergi sekarang. Ada hal penting yang harus aku kerjakan."


Ruka pergi tanpa berpamitan pada Sya. Dengan motor gedenya, Ruka pergi. Dia mengarahkan motornya ke rumah Arda. Dia ingin tahu apa saja yang Arda lakukan hingga tega membuat Sya menunggu tanpa kepastian.


***

__ADS_1


Kembali Arda menatap dirinya sendiri. Dia masih tidak percaya dengan telfon masuk dari Sya. Ya, dia mengira jika Sya benar-benar akan pergi darinya. Untuk selamanya.


Kini dia kembali dengan telfon dan nada suara ceria. Hal itu membuat Arda dengan semangat menyiapkan dirinya untuk bertemu. Ada rasa rindu yang kini akan terobati.


Bruk. Arda kaget saat mendengar suara sesuatu terjatuh. Dia keluar dan melihat Aila sudah terduduk dengan tangan memegang perut. Hal itu membuat Arda langsung mendekat dan menggendongnya.


Lupa. Arda lupa jika seharusnya dia mengabari Sya. Saat ini Arda sudah disibukan oleh Aila. Dia membawa Aila masuk ke rumah sakit. Hatinya kacau, dia merasa takut jika sesuatu terjadi pada Aila atau pada bayi yang dikandungnya.


Lama menunggu ditemani dering ponsel. Beberapa kali ponsel Arda berdering, tapi tidak dia jawab. Dia memilih untuk duduk dan menunggu dokter keluar setelah memeriksa Aila.


"Bagaiman, Dok?" tanya Arda begitu Dokter keluar dari ruangan Aila.


"Tidak masalah. Hanya saja, si ibu harus istirahat total agar bayinya tidak ada masalah."


"Terima kasih, Dok."


"Kalau begitu saya permisi."


Arda masuk. Dia melihat Aila yang berbaring dengan wajah pucatnya. Selama dalam perjalanan, Aila mengeluh perutnya sakit.


"Apa bayiku baik-baik saja?" tanya Aila.


"Ya. Hanya saja kau harus istirahat total."


"Benarkah?" ada gurat sedih dimata Aila, "aku akan sangat merepotkanmu."


Wajah sedih itu berubah. Aila kira jika dia melakukan hal ini akan membuat Arda terus di sampingnya. Kini semuanya sama saja.


"Aku harus pergi. Ada hal penting," kata Arda.


Saat Arda sudah membuka pintu. Aila memegang perutnya seraya berteriak, "Sakiiit. Arda ini sangat sakit."


Arda mengurungkan niatnya pergi dan memilih untuk kembali pada Aila. Dia memegang perut Aila dengan lembut. Tanpa Arda sadari, Aila tersenyum tahu niatnya berhasil.


Brak. Pintu terbuka dengan paksa. Arda dan Aila menoleh secara bersamaan. Mereka melihat Ruka dengan wajah garangnya mendekat.


Buk. Sebuah pukulan mendarat di wajah Arda. Dia tidak tahu apa yang membuat Ruka begitu marah padanya. Arda mencoba untuk berdiri, tapi kembali Ruka memukulnya.


"Kak Ruka!" teriak Aila.


Ruka menoleh dengan wajah yang terlihat semakin marah. Bahkan matanya terlihat merah karena amarah itu.


"Kenapa kau memukul suamiku?"


"Karena dia tidak bisa adil pada kedua istrinya."

__ADS_1


Mendegar hal itu Aila langsung menundukan kepalanya. Dia tahu, Ruka tidak pernah ada dipihaknya. Dia selalu ada dipihak Sya.


Sementara Arda ingat dengan janjinya bertemu dengan Sya. Tanpa pikir panjang dia pergi begitu saja. Dia ingin segera menemui istri tercintanya itu.


Kini hanya ada Aila dan Ruka. Aila merasa sangat takut dengan tatapa yang diberikan Ruka. Buk, Ruka mendekat dan menggebrak kasur yang digunakan Aila.


"Aku tahu niatmu ingin menjauhkan Sya dan Arda, tapi jangan harap aku akan membiarkannya."


Aila mendongakkan wajahnya.


"Apa alasamu melakukan ini? bukankah apa yang aku lakukan benar. Aku bisa membuatmu dan Sya bersatu."


"Apa kau kira cinta hanya sebatas itu?" tanya Ruka.


Aila membuang muka. Dia terlihat kesal dengan apa yang Ruka lakukan. Kembali Ruka menghancurkan usahanya.


***


Mobil Arda berhenti tepat di depan rumah Sya. Rumah itu terlihat sangat berbeda sejak terakhir dia datang. Sampai Arda sadar jika rumah itu sudah dijadikan cafe.


Suasana rumah tampak sepi dan gelap. Arda hanya bisa memandang kearah kamar Sya yang terlihat masih memiliki cahaya. Berharap jika kelasihnya itu masih membuka matanya.


Beberapa kali Arda mengirim pesan dan mencoba menelfon. Tidak ada jawaban, namun jendela kamar Sya terbuka. Hati Arda merasa sangat senang, namun kembali kecewa saat tahu siapa yang membuka.


"Jangan mengganggunya. Hari ini dia sangat lelah."


Arda mengangguk. Dengan rasa kecewa, Arda masuk kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana. Dia sudah membuat kekasihnya itu menunggu terlalu lama. Hingga dia terlelap dengan rasa menunggu.


Eri kembale menutup jendela itu. Dia mendekat pada Sya yang masih terjaga dengan rasa lelahnya. Sengaja Eri melakukan hal itu pada Arda. Tentunya agar Arda tahu apa itu kecewa.


"Aku sangat ingin menemuinya. Kenapa kau malah mengusirnya," kata Sya.


"Tahan sebentar rasa rindumu itu. Dia pasti akan kembali. Aku sengaja melakukannya agar dia juga bisa merasakan kecewa."


Sya terlihat sedih. Hal itu membuat Eri merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.


"Kirim pesan singkat padanya. Dia pasti akan merasa senang," ucap Eri kemudian.


Senyuman diwajah Sya mengembang. Dengan penuh semangat Sya mengambil ponselnya. Dia mengirim sebuah pesan singkat pada Arda.


Dalam perjalanan Arda merasa sangat bersalah. Beberapa kali dia memukul setir mobilnya dengan keras. Dia sudah bodoh karena mencampakan Sya.


Sampai sebuah pesan masuk. Arda menghentikan mobilnya. Dia membuka pesan yang baru saja masuk. Nama Sya yang tertera bersama sebuah kalimat aku mencintaimu darinya.


Reaksi Arda tidak diduga. Dia begitu senang sampai mencium ponselnya. Sadar dengan apa yang dilakukannya memalukan. Arda kembali menjadi dirinya sendiri. Menawan dan terlihat dingin.

__ADS_1


***


__ADS_2