Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Pelampiasan Sebenarnya


__ADS_3

Rima melangkah menuruni satu anak tangga, membuat mereka berada dalam posisi sejajar saling berhadapan.


Entah siapa yang yang memulai hingga kening dan puncak hidung mereka saling bertemu, sangat dekat dan saling berbagi nafas.


Saling menikmati keheningan yang sangat bermakna.


Hingga Reno mulai kembali bersuara, “Jangan seperti ini, aku takut tak bisa menahan diri untuk tidak menciummu!”


"Boleh?"


Rima mulai memisahkan wajah. Menggeleng dengan senyum tipis di wajah, berganti tangannya yang terulur menyentuh wajah tampan itu, membelai pipi dengan sentuhan dari jari-jari lentiknya sambil berkata, ...


“Kak, menikahlah! Carilah wanita lain! Bahagialah!”


“Aku terlalu sibuk memperhatikanmu sampai lupa kalau masih ada wanita lain di dunia ini selain kamu,” Reno sambil senyum simpul kembali menghiasi wajahnya.


Menikmati sentuhan Rima di pipinya.


Hendak menutup mata, namun enggan sebab tak ingin kehilangan waktu menatap wajah cantik sang kekasih.


Pertemuan ini rasanya masih kurang untuknya. Terlebih rindu mungkin belum beranjak pergi.


“Aku akan menunggumu! Pulanglah!”


Ya ampun! Cinta seperti apa yang dimiliki lelaki ini, bahkan setelah mengetahui wanitanya telah menikah hingga hamilpun, ia masih tetap ingin menunggunya. Berharap mereka masih bisa bersatu suatu saat nanti


Menunggu?


Menunggu apa?


Rima sungguh tak tahu apa maksudnya.


Dalam setiap pandangan mata mereka, ada cinta yang besar tertanam di kalbu.


Dalam setiap hembusan napas ada sebuah pengharapan yang sangat besar.


Merekapun saling menjauhkan diri.


Rima kembali memakai hellsnya dan berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Reno yang masih setia memandangi sampai hilang di balik pintu. Tersenyum sambil memandangi kekasihnya hingga hilang di balik pintu.


Ia kembali ke lift dan memencet tombol yang mengarahkannya ke lantai tempat Dihyan.


BUK.


“Ada apa?” Dihyan yang baru saja bertubrukan dengan Rima di pintu saat hendak keluar dari ruangannya, “Apa ada yang terlupa?”


“Aku lupa menciummu!” Rima mulai menyatukan bibirnya dengan Dihyan.


Gelora yang sejak tadi sempat bergemuruh harus dilampiskan pada orang yang tepat, yaitu suaminya.

__ADS_1


Sementara Dihyan tercengang mendapati Rima yang seperti ini. Tak biasanya.


Ini jelas bukan karena rindu.


Rima mulai mengangkat kedua tangannya guna mengalungkanya di leher Dihyan yang di sambut dengan sangat baik. Dihyan turut melingkarkan kedua tangan di pinggang sang istri.


Dengan memejamkan matanya sambil menikmati gelenjar-gelenjar indah yang sempat tertahan. Mereka mulai menelusuri jalan-jalan indah, bagai berjalan diatas pelangi berwarna-warni


Beberapa gigitan-gigitan kecil yang diberikannya pada Reno yang ternyata adalah Dihyan membuat orang itu semakin menggila.


Apa yang tengah dipikirkan wanita ini?


Apakah ia tengah berfantasi dengan pria yang berbeda?


“Maaf aku tak bisa menahan diri,” Hampir sama persis dengan kalimat yang baru saja ia dengar di tangga darurat lantai tujuh. Kalimat dari orang yang ia cintai.


Ia baru saja tersadar ketika Dihyan mulai merasuki dirinya, “Aaaakh!”


Apakah ini yang dimaksud dengan tak bisa menahan diri?


Ketika wajah mereka sempat terpisah, sejenak ia menundukkan pandangannya ke bawah dan melihat semua telah tergeletak benar-benar di bawah sana. Mulai dari bawahan yang tadinya ia gunakan, jas hitam milik Dihyan, bahkan berkas yang tadinya berada di tangan Dihyan.


Pandangannya kembali lurus ke depan, mendapati kemeja Dihyan yang telah terbuka karena sudah tak terkancing lagi begitu juga dengan kancing kemejanya yang kini tak jauh berbeda dengan milik Dihyan.


Dihyan Menggeser tubuh mereka menuju ke tembok yang lebih kokoh meninggalkan pintu yang tadinya bersuara kik-kik-kik akibat dari hentakan-hentakan yang ditimbulkan oleh Dihyan.


Hingga ia tanpa sadar menggigit dada Dihyan yang polos dengan sangat keras, karena sesuatu yang terasa membuncah tak karuan seperti ingin mendobrak dari dalam.


Dihyan memeluknya dengan sangat erat saat merasakan hal yang sama, meninggalkan jejak pada rahimnya.


Dihyan masih memeluknya, saat ia yakin permainan mereka telah usai namun nafas mereka sama-sama terdengar pendek. Mengatur detak jantung yang tadinya berlomba mengalahkan dentingan detik jam.


Rima merasakan butir-butir keringat telah membasahi punggungnya. Lututpun terasa lemas. Ia tak yakin bisa bergerak lebih setelah ini.


“Terima kasih!” Dihyan sambil mencium keningnya.


Kalimat yang terdengar lirih namun sangat syahdu merasuk ke dalam hatinya.


Hingga beberapa saat semua kembali normal, Dihyan mulai memisahkan dirinya menuju ke meja hanya untuk mengambil tissu untuk membersihkan diri mereka.


“Masuklah, bersihkan dirimu!” Dihyan menunjuk pada pintu kamar mandi.


Rima menurut, mulai berjalan ke sana setelah mengenakan pakaiannya secara asal.


Apa yang baru saja mereka lakukan?


Dan apa tadi? LAgi-lagi Dihyan membawanya menggapai puncak keindahan tiada tara.


Ia selalu bisa  menikmati permainan dari pria itu.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi ia sempat merutuki dirinya yang mungkin di luar kendali. Tapi apa yang salah? Bukankah mereka adalah pasangan yang sah?


Salah karena pandangannya tadi tertutupi oleh wajah Reno dan bukan Dihyan.


Ia keluar dengan handuk menutupi kepalanya karena basah, lantai sudah mulai bersih dari barang-barang yang tadi ia lihat berserakan.


Jas hitam Dihyan sudah berpindah ke sandaran sofa dan berkas kini telah tertata di atas meja. Menyisakan Dihyan yang terlihat sedikit kacau namun sangat tampan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya seperti baru saja mendapatkan keuntungan bernilai triliunan rupiah.


“Sini!” Dihyan yang tengah duduk di sofa mengulurkan tangan padanya.


Menuntunnya untuk ikut duduk di samping, bukan tapi menuntunnya untuk berbaring di sofa.


Dihyan berjongkok tepat dihadapannya, sambil mengelus lembut wajahnya, “kau lelah? Maafkan aku!” Tak lupa kecupan di dahinya.


“Istirahatlah terlebih dahulu!” Lanjutnya.


“Aku harus kembali ke RS, ini hari pertamaku bekerja,” Rima.


“Aku sudah menelpon Hendra meminta ijin padanya,” Dihyan.


“Rapatmu?” Rima.


Dari yang Dihyan ceritakan tadi, mereka akan kembali memulia rapat yang sempat terhenti karena jam istirahat siang.


“Kutunda satu jam.” Dihyan kembali mengecup keningnya, “Terima kasih!”


Dihampiri istri di sela-sela kesibukannya saja telah menjadi sebuah hadiah yang sangat besar untuknya. Terlebih saat memiliki kesempatan mengarungi samudra cinta, membuatnya melambung ke atas langit biru.


Bahagianya seorang DIhyan saat ini, sungguh tak terukur.


“Aku mandi dulu, tidurlah!” Dihyan mulai meninggalkan Rima masuk ke kamar mandi.


Ya, Rima memang lelah setelah pertarungan tak terduga yang ia lakukan akibat dari kesalahannya.


Kesalahan di tangga darurat lantai tujuh yang berakhir indah dan halal dengan pasangan resminya.


Dihyan keluar dari kamar mandi, mendapati Rima yang telah tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka.


Berjongkok di samping sofa, mengamati wajah cantik istrinya.


Tangan terulur, mengusap pelan pipi mulus keny@l sebelum mendaratkan bibirnya di sana. Bibir tersenyum,  kejadian tadi mengacaukan pikirannya.


Sebenarnya sangat memancing dirinya untuk kembali menyatukan wajah mereka. Pria itu masih terlihat bersemangat meski rambutnya telah basah, jantungpun kembali berdetak kencang.


Tapi dengan keadaan Rima yang sedang tertidur? Yang benar saja!


Dihyan menggunakan jasnya untuk menutupi bagian bawah tubuh Rima, dan keluar setelah pakaiannya kembali rapi.


“Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam, istriku sedang tidur!” Ucapnya pada Ghea dengan senyuman indah.

__ADS_1


“Baik pak!” Ghea dengan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Entah mengerti dengan perintah bosnya atau mengerti arti senyuman bahagia bosnya itu.


__ADS_2