Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
apa kabar hati?


__ADS_3

Matahari tersenyum menandakan Hari baru telah dimulai, mengetuk mata setiap insan agar bangun dan mulai bergerak demi menyambut pagi.


Pun dengan rima, berdiri di depan cermin dengan pakaian rapi tak lupa turut menampilkan senyum sumringahnya, bahagia terasa saat ia bisa kembali ke dunianya.


"Sudah siap?" Dihyan yang juga telah siap dengan pakaian kerjanya.


"Siap!" Semangat sekali dia pagi ini.


"Ini kenapa seperti ini?" Dihyan mengapit dagu Rima demi menolehkannya ke arahnya. Bibir indah berhias warna merah menyala itu terlihat sedikit lebih besar dan berisi hari ini. Mata pria itu menyipit demi mengamati wajah istrinya. Apa yang beda yah?


Rima memang selalu cantik, meski di rumah make up wanita itu selalu full color. Tapi, ...?


Bibirnya terlihat lebih seksi dari biasanya.


Perlahan Dihyan mendekatkan wajah, menyatukan bibir dengan bibir Rima.


"Ishhh, kamu apaan sih?" Pekikan Rima sambil mendorong dada suaminya agar menjauh darinya.


"Ciuman selamat pagi." Sambil terkekeh, padahal niatnya demi menghapus lipstik sang istri yang telah diukir dengan sangat sempurnanya.


"Ayo cepat, nanti kamu terlambat." Segera menarik tangan Rima keluar dari kamar, agar wanita itu tak lagi berhadapan dengan alat make upnya.


Rima hanya diam sambil memasang wajah cemberutnya. Penampilan yang tadinya telah cantik paripurna kini telah di rusak oleh DIhyan.


"Masih cantik kok. Malah lebih cantik ini dari pada yang tadi."


"Beneran?"


Bodohnya RIma tetap percaya saat pria itu menganggukkan kepala.


Pagi ini sungguh berwarna.


Sarapan hingga berangkat kerja bersama, semua dihiasi dengan senyuman di wajah sepasang suami istri itu.


"Sampai." DIhyan.


"Ya ampunnn, ..." Rima masih terdiam di tempatnya, memandang ke dalam Rumah Sakit tempat barunya. "Coba sini!" Mengambil tangan Dihyan, meletakkannya di dadanya. "Deg-degan! Hihihihi." Ucapnya diiringi dengan kikikan, tentunya menertawakan diri sendiri.


"Mau aku antar sampai ke dalam?" Dihyan menawarkan diri, mungkin takut jika istrinya itu canggung dihari pertama kerja.


"Idih lebay. Gak usah, nanti kamu lagi yang telat ke kantor."


"Aku gak masalah kalau cuma telat, asal tetap masuk kantor, papa gak bakalan marah kok." Pria itu bersungguh-sunggu, gengaman tangannya bahkan sangat erat masih menempel di dada pria.


"Gak usah, aku masuk yah!" Mengulurkan tangan hendak salim. Biar bagaimanapun hari ini indah karena usaha seorang Dihyan.


Pria itu membalas dengan kecupan di kening.


Ah, indahnya hari ini.

__ADS_1


...----------------...


Rima menatap pada paper bag yang tadi pagi diberikan Bi Sumi. Ada dua buah kotak bekal di dalamnya.


"Buat jaga-jaga, siapa tau gak sempat makan siang!" Kata Bi Zumi tadi pagi.


Nyata siang ini, suasana terlihat lebih lenggan. Memang begitu, mereka para medis. Kadang berjuang memburu waktu demi menyelamatkan satu nyawa, kadang juga waktu membiarkan mereka beristrihat sejenak dari para pasien.


Rima memilih beranjak dari meja kerjanya, segera berlari keluar. Tadi sempat ijin pada rekan kerjanya. Lagian di masih sebagai dokter pengganti saja, sementar dokter inti juga masih ada di sana.


Sesekali matanya melirik pergelangan tangan kiri, menatap ke arah jam mini pemberian Dihyan. Dia harus cepat agar bisa kembali dengan cepat pula. Lebih menggunakan ojek motor, bisa sat set sat set di tengah padatnya kendaraan. Entah mengapa jantung ikut berdebar, mungkin karena terlalu takut jika terlambat nantinya.


Tiba di depan sebuah gedung, gadis itu masih melangkah dengan sedikit kecepatan.


"Saudari mau ke mana?" Seorang gadis cantik yang ia yakini sebagai reseptionis mampu menahan langkahnya.


"Mau ketemu dengan Pak Dihyan?" Ucapnya sopan.


"Sudah buat janji?"


"Belum? Kenapa?" Sedikit mengangkat dagu dengan dada di busungkan.


Kesal juga ternyata dihalangi seperti ini, padahal ia harus segera kembali.


"Anda tidak diijinkan masuk sebelum membuat janji terlebih dahulu."


Aaah, iya tahu sebenarnya tentang itu, tapi, ... ?


"Saya istrinya. " Maju beberapa langkah di depan sang gadis. Bahkan seperi ingin masuk ke tempat sang gadis.


"Masih berani di tahan? Kalau saya terlambat, kamu kena akibatnya."


Tanpa mendengarkan sanggahan lagi, Rima kembali berjalan, sedikit berlari. Perdebatan barusan sedikit menyita waktunya yang semakin menipis saja.


Hemm.


Sempat berbalik memberikan tatapan sinis pada gadis itu. Wajah menoleh pun di hentak demi memberi kesan antagonis yang semakin nyata.


Masuk ke lift yang menuju ke atas di saat karyawan lainnya bergerak turun dan keluar demi mengisi kampung tengah masing-masing.


Sementara di sana, gadis cantik itu terpaku di tempatnya. Ia bahkan bimbang mau melakukan apa.


Percaya tidak percaya jika wanita cantik yang baru saja lewat di depannya adalah istri dari sang bos besar.


Dikiranya, bosnya itu adalah seorang duda ditinggal mati. Tapi ini?


Jika pun memang bosnya telah menikah lagi, mengapa tak ada kabar atau pesta?


Secara, ini pemimpin perusahaan loh.

__ADS_1


Apakah dirinya salah jika membiarkan orang yang belum jelas asal usulnya masuk dan langsung menemui pimpinannya? Apakah harus memanggil tim keamanan kantor? DI sini, ia juga menghawatirkan keselamatannya bosnya dan dirinya. Apalagi wanita tadi membawa sesuatu dalam paper bag yang ia tak ketahui apa isinya.


Ah, lebih baik minta tolong sama security.


Hendak menekan nomor telpon, namun tangannya terhenti saat lagi-lagi bimbang merajai.


Bagaimana jika wanita itu benar istri bosnya? Wanita tadi mungkin bisa mengadukannya pada sang bos.


Aduuuuh, pusinggg.


Ia lebih mencari aman dengan meminta tolong pada security untuk memastikan siapa wanita tadi.


Biarlah nanti nasib saja yang menentukan.


Rima berdiam diri sejenak di dalam lift.


Di sini, seorang pria yang pernah mengisi hatinya menggenggam tangannya sambil menyatakan cinta.


Ah ya ampun. Apa yang ia pikirkan saat ini?


Bagaimana kabar pria itu?


Apakah benar masih mengingat dirinya?


Seberapa lama mereka tak pernah bersua?


Apakah ada rindu untuknya?


Ting


Pintu berbunyi, menandakan ia telah sampai pada lantai tujuannya.


Menghela napas panjang berupaya menyingkirkan bayangan yang sempat menyesakkan dadanya.


Waktu yang bergulir mampu mengubah segalanya, membolak-balikkan hati manusia.


Pun dengan mereka. Ia tak terlalu berharap jika namanya masih terkurir di dada pria itu.


Hembusan kasar demi meninggalkan segala pemikirannya sebelum kaki melangkah keluar.


Namun pandangan di depan mampu menghentikan langkahnya.


Bukan hanya langkah, namun denting jarum jam pun serasa ikut berhenti.


Di depan sana, pria yang sempat merasuki pikirannya turut berdiri kaku sambil memeluk berkas dengan pandangan mata yang mengarah  padanya.


Rima bergeming, meski bahunya tersenggol beberapa kali oleh mereka yang hendak masuk ke dalam lift.


Hai, apa kabar hati?

__ADS_1


Baik-baikkah di dalam sana.


Mungkin duniapun turut berhenti berputar, demi memberikan waktu pada mereka untuk melepas rindu meski lewat pandangan mata.


__ADS_2