Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Perhatian


__ADS_3

"Bisakah aku mempercayaimu?"


Sebuah pengharapan yang terdengar melalui ucapan lirih yang diucapkan Dihyan tepat di hadapan Armada.


Pria muda yang menjadi satu-satunya harapan untuk menjadi orang terdekat dan sebagai kepercayaannya saat ini.


"Bisa Pak!" Lagi-lagi Armada memberikan jawaban tegas dengan penuh kepercayaan diri.


"Sekarang, aku tak bisa mempercayai siapapun, baik itu di kantor ataupun di rumah."


"Semuanya juga tidak percaya padaku, hahaha."


Pria itu tertawa, tawa yang terdengar sangat Sumbang dan terlalu dipaksakan. Ini bukanlah sesuatu yang lucu, tapi miris. Jika dalam hubungan keluarga mereka saling percaya dan menyayangi, tapi tidak untuk keluarganya. Terkhusus untuknya.


Ya apalagi sebabnya, selain kesalahannya di masa lalu pada Rima. Hanya itu saja, namun semua orang selalu melihat kesalahannya berkali-kali, tanpa mau menerima kata maaf dan penyesalannya. Sekalipun Ia melakukan seribu kebaikan, mungkin takkan ternilai bagi orang lain.


"Kamu tahu, aku sendirian!" Dihyan menundukkan pandangannya, dengan tangan yang memainkan pulpen di atas berkas di hadapannya.


"Aku hanya butuh satu orang kepercayaan. Bisakah kamu menerima kepercayaan yang kuberikan?"


Pria muda itu terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Ia pun tak tahu posisinya bagaimana saat ini.


Apakah ia bersama dengan orang yang baik atau tidak?


Apakah ia mampu mengemban kepercayaan itu atau tidak?


"Aku pernah melakukan kesalahan fatal di masa lalu, tapi itu dulu. Dan sekarang, Aku hanya ingin memperbaiki hidupku dan menjalani semuanya secara normal."


"Tapi, ... tak ada seorangpun yang mau percaya jika aku sudah bertobat dan menyesal. Mereka masih menghukumku hanya karena kesalahanku dulu. Mereka masih memandangku sebagai satu orang, orang yang melakukan kesalahan."


Kediaman Armada mampu dibaca dengan baik oleh Dihyan. Pria muda itu tengah bimbang dengan tanggung jawab yang akan dilemparkan padanya.


"Jika saat ini kamu juga tak percaya padaku, kepada siapa lagi Aku mengharapkan bantuan."


Nadanya semakin lirih, ada raut keputus asaan yang terlihat di wajahnya.


"Saya siap pak!"


suara tegas itu mampu mengalihkan pandangan Dihyan yang tadinya tertunduk, sekarang mengangkat kepala memandang ke depan.


Pria muda dengan penuh semangat yang bersedia berdiri di belakangnya.


" Baiklah, aku percaya!" Kepala mengangguk sekali. Percaya, percaya sekali. Bahkan harus percaya.


" Tugas pertama dan utama bagi kamu adalah menyembunyikan segala sesuatu tentangku. Keadaanku, posisiku, bahkan tentang istriku."


"PADA SIAPAPUN ITU!" Ucapan tegasnya pada akhir kalimat, lengkap dengan tatapan tajam yang masih penuh dengan pengharapan.

__ADS_1


tok tok tok.


"Masuk!"


Rima hanya menyembulkan kepala menatap ke arah dalam ruang kerja suaminya.


"Aman?" Tanyanya.


Ia ingin masuk demi mengecek keadaan suaminya, tapi takut jika keberadaannya mengganggu pekerjaan Dihyan.


Menatap ke dalam ruangan, dua pria duduk saling berhadapan di antara meja kerja besar dengan laptop di hadapan masing-masing.


Sejenak Rima merasa Iba melihat suaminya tetap harus bekerja meski dengan kondisi yang setengah sehat. Bahkan singlet yang kemarin ia gunakan masih terlihat mengalung di leher sang suami.


"Masuklah!" mendengar perintah Dihyan,Rima mulai melangkahkan kakinya masuk.


"Siapkan rapat untuk besok. nanti aku Pimpin, video conferencing saja!"


Pembicaraan segera Dihyan alihkan, tak mungkin ia berbicara seperti itu saat ada Rima di antara mereka.


Rima tetap melangkah meskipun pembicaraan kedua pria itu masih sekitaran pekerjaan. Dari penuturan suaminya, pria itu belum berminat masuk kerja untuk keesokan harinya.


Menempatkan diri di belakang tubuh Sang suami, dengan kedua tangan telah berada di kepala memberikan pijatan-pijatan pelan hingga menjalar ke pundak. "Perasaan kamu sekarang gimana?" Tanyanya.


"Pusing." Dihyan menjatuhkan kepala miring di atas meja, perhatian Rima justru membuat tubuhnya lemas seketika. Ia ingin mendapatkan perhatian lebih dari wanita itu.


"Kamu minta kursi di luar!" Dihyan mengangkat kepalanya pelan, menatap Armada saat memberikan perintah.


" Baik Pak!" Pria muda itu segera berlalu, keluar demi mengikuti perintah sang Bos, mungkin dirinya masih diperlukan. Kembali masuk dengan sebuah kursi. Menatap ke arah sana, istri Bosnya itu telah duduk di samping sang suami sambil terus memberikan pijatan-pijatan.


"Ngak usah terlalu dipaksakan. orang kamu kan banyak."


"Masih ada Papa juga kan?"


Armada terpaku saat mendengar ucapan wanita itu.


"Sekarang, aku tak bisa mempercayai siapapun, baik itu di kantor ataupun di rumah."


"Semuanya juga tidak percaya padaku, hahaha."


Apakah yang Dihyan ceritakan tadi, juga termasuk orang tua pria itu? Nyatanya, kini Ia kembali Bimbang harus berdiri di mana. Tapi tak bisa ia pungkiri, jika ada rasa Iba pada pemimpinnya itu.


Ia telah beberapa kali bertemu dengan ayah dari pemimpinnya ini. Terlebih saat Dihyan beberapa kali tidak masuk kantor, maka pria itu yang akan menggantikan bosnya ini.


Dan penilaiannya terhadap Pak Cakra, adalah pria tegas, berwibawa dan pasti sayang keluarga.


"Kamu sehat aja berani tinggalin kantor, apalagi kalau sakit begini!" Itu masih suara wanita di sana.

__ADS_1


"Kamu mau aku dimarahin Papa lagi?" Dihyan.


" Papa pasti ngerti, kalau kamu sedang sakit. Bilang aja lagi ngidam, hihihi."Rima.


Dihyan menggelengkan kepala kencang. Ia belum terlalu berminat untuk menyampaikan kabar berita itu kepada orang lain meskipun pada keluarganya. Bisa jadi Mama mengambil istrinya dengan alasan demi menjaga kehamilan Rima.


Big no.


" Ya udah, istirahat bentaran dulu. Bentar baru lanjut lagi ya!"


Pria itu masih setia merebahkan kepala di atas meja sambil menikmati sentuhan tangan Rima.


"Nggak usah, aku masih bisa kok. Cuma butuh kamu di dekatku."


Gadis itu mencibir, permintaan Dihyan terdengar seperti gombalan di telinganya.


Di seberang meja, Armada menunjukkan kepala, pendengarannya mampu menyimpulkan tentang sakit yang diderita Dihyan adalah sebuah kebahagiaan pada sepasang suami istri itu.


Istri yang hamil dan suami yang mengidam.


Terdengar sangat indah dan mesra.


"Mau dibuatkan sesuatu?" Rima.


"Hemmm, Mada Kamu mau minum apa?"


Armada terkesiap saat mendengar namanya disebut.


"Apa saja Pak!" Nada tegas kembalinya persembahkan meskipun sedikit ada rasa terkejut.


"Kopi aja deh, biar melek. Ini waktu-waktu yang enak buat tidur." Dihyan.


"Air putih aja ya, bentar lagi makan siang kan?" Rima.


Dihyan mengangkat kepalanya, menatap sang istri dengan wajah berdelik. Tadi istrinya sendiri yang menawarkan pada mereka, ujung-ujungnya hanya air putih yang akan disuguhkan istrinya ini.


Kenapa harus bertanya kalau begitu?


Ini mah cuma PHP doan!


"Nanti kalian kenyang padahal belum makan nasi." Seperti sedang ingin membantah saat melihat pandangan suaminya yang terlihat kesal padanya. " Kita udah masak masalahnya."


"Terserah!"


Sedikit mencibir tak percaya. Dari yang ia dengar dari para bibi, jika Rima hanya bertugas di bagian pemotongan bahan. Untuk masalah yang berkaitan langsung dengan kompor, wanita itu tak tahu.


Mungkin takut jika panas kompor merusak pori-porinya.

__ADS_1


__ADS_2