
Dihyan berjalan sambil mendorong kursi roda ke ruang perawatan.
Seluas pandangan matanya, Ia tak menangkap ada sosok papa dan Reno selama perjalanan.
Syukurlah, hingga pertikaian meski dalam bentuk pandangan mata yang begitu tajam tak perlu terjadi.
Ia tahu, bahwa papa akan membawa Reno menjauh dari sana. Mungkin dengan alasan pekerjaan atau apa saja. Dan mulai saat ini ia harus lebih memberikan jarak antara Rima dan Reno.
Seribu alasan yang ia utarakan Β tentang dua insan dengan perasaan yang salah itu, tak kan membuatΒ kedua orang tuanya percaya begitu saja. Reno adalah orang kepercayaan yang dikirim papa untuk menjaga Rima. Dan aku...?
Membantu tubuh Rima berpindah ke ranjang.
" Rima, kata bi Sumi perlengkapan dedeknya kamu taruh di mana?" Mama Cinta dengan ponsel yang masih melekat di telinga. Ia tengah menghubungi Bi Sumi untuk bisa mengantarkan segala kebutuhan untuk menantunya dan sang bayi.
Dihyan menghentikan pergerakan tangannya yang tengah menyodorkan teh kemasan kotak pada Rima.
Pria itu menatap lekat pada sang istri yang turut membalas tatapannya.
" Di mana Rima?" Ternyata mama masih menuntut jawabannya.
" Ini Bi Sumi nungguin loh!" Ucap Mama lagi sambil menggerakkan tangannya menunjukkan ponsel yang tersambung dengan ponsel wanita paruh baya yang kini telah mempersiapkan semua kebutuhan sang majikan.
" Kenapa diam?" Mama lagi sambil menatap bergantian ke arah Rima dan Dihyan.
" Jangan bilang kalian belum mempersiapkan kebutuhan bayi kalian?" Mata memicing, satu tangan digunakan menunjuk ke arah sepasang orang tua baru itu.
Keduanya sama, merimis sambil melempar pandangan satu sama lain.
" Beneran belum ada?" Mama cinta, telunjuk masih menggantung ke arah sana. Mata membola tak percaya atau mungkin masih menunggu jawaban.
Dan diamnya kedua orang tua baru itu membuat Mama menyimpulkan sendiri. Jika benar keperluan Bayi Mereka belum ada.
Menarik nafas menghembuskan perlahan lalu kepala yang menggeleng pelan dan mata yang terpejam.
" Kalian lupa atau bagaimana?"
" Maaf mah, kita lupa, kan sama-sama sibuk." Dihyan hanya bisa meringis, kemudian tersenyum manis berharap mamanya maklum keadaan ini.
Yang ada bukan hanya karena kesibukan mereka, tapi karena pertikaian yang seolah tiada habisnya hingga melupakan untuk menyiapkan keperluan bayi mereka.
" Sikap kalian ini menandakan, jika kalian belum benar-benar siap untuk menjadi orang tua."
__ADS_1
" Mah bukan begitu mah. Mama kan tahu kita sama-sama kerja. Waktu libur digunakan untuk beristirahat, Mama nggak boleh dong langsung beranggapan seperti itu!"
Sejenak Mama Cinta terdiam dan mata yang terkejam erat. Masih hendak melanjutkan ceramahnya, namun kembali ingatan tentang pertikaian suami istri itu pun turut menghiasi otaknya.
Dan kini, mereka lebih memilih untuk tak mengingat dan menggubris lagi tentang hal-hal itu.
"Heeeh, ya sudah sekarang kita bagi tugas." Ucapnya pada Sang putra.
" Kamu mau pergi belanja atau menjaga Rima di sini?"
" Ya di sinilah! Mama gimana sih, gitu aja pakai ditanyain?" Dihyan dengan entengnya, tanpa memperdulikan wajah kesal sama mama.
" Ya udah biar nanti mama sama Bi Sumi aja yang belanja kebutuhan Dedek, aduh panggilnya apa sih? Kamu kasih nama siapa?"
Namun lagi-lagi Dihyan dan Rima terdiam dengan mata yang saling memandang, membuat Mama kembali menghembuskan nafas keras untuk kesekian kalinya.
" Jangan bilang kamu juga belum mendapatkan nama untuk anakmu?" Tebaknya lagi.
" Hehehe, Maklum mah nggak kepikiran." Dihyan kembali menampilkan senyuman manis nan maut, berharap agar mama terpesona hingga berhenti mengomel.
" Nggak kepikiran kamu bilang?" Kini kedua tangan tengah berada pada pinggang.
" Para calon orang tua di luar sana telah mempersiapkan nama-nama untuk anaknya Jauh sebelum persalinan berlangsung. Bahkan ada yang baru tahu istrinya hamil dia sudah mempersiapkan nama untuk baik mereka. Lah kalian?"
" Kamu kenapa ketawa?" Dihyan menarik selimut yang terlihat bergetar, hingga menampilkan wajah istrinya yang benar-benar menahan tawa dibalik selimutnya tadi.
" Apaan sih?" Tanyanya balik pada sang suami, berusaha menarik kembali selimutnya demi menutupi tubuh hingga ke wajahnya.
"Eh eh eh," Tangannya terulur ke depan menahan pergerakan suaminya yang ingin ikut bergabung dengannya di atas ranjang. " Jangan naik, nggak boleh!" ucapnya.
" biarin!" kekuatan Rima nyatanya tak mampu menandingi kekuatan pria itu yang terus beringsut menempelkan tubuhnya pada sang istri.
" Daripada dengerin mama ngoceh, mending tidur!" Suaranya Lirih, berusaha agar tak terdengar oleh Mama. Tangannya bahkan telah terulur di atas perut sang istri.
Masih ada sedikit waktu untuk menikmati tidur siang sambil memeluk sang istri.
" Gimana nggak ngomel coba. Kalian mau punya anak nggak ada persiapan banget padahal waktu kalian panjang loh."
"Sembilan bulan-sembilan bulan untuk kalian mempersiapkan semuanya. Tapi gak ada apa-apa sampai sekarang?
Penekanan pada kata sembilanΒ bulan itu lengkap dengan tangan yang mengacungkan jari sebanyak sembilan.
__ADS_1
"Rima juga. Kamu kan bisa telepon Mama? Tanya Mama apa-apa yang dibutuhkan bukan hanya diam. Mama Kira, kamu sebagai dokter sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya. Ternyata Sama Saja. Kamu sama suamimu."
Di akhir kalimat, kembali terdengar helahan nafas dari wanita paruh baya itu.
Tak dapat dipungkiri jika ia turut andil tidak memperhatikan hingga ke hal ringan namun sangat penting seperti ini.
Ia salah, telah mempercayakan semuanya pada kedua orang ini.
Harusnya, Ia terus mendampingi anak dan menantunya di masa-masa kehamilan itu. Bukan melepas mereka begitu saja, dan datang ketika ada masalah saja.
Sejak awal memang ini sudah salah.
Sementara, di balik selimut suami istri itu saling memberi kode dengan dengan tangannya, bibir berkembang namun tetap menahan diri agar suara cekikikan mereka tak terdengar oleh orang lain.
" Kamu!"
" Kamu!"
Ucapan itu tanpa suara saling menuduh satu sama lain.
...****************...
Happy New Years.
πππ
Selamat menyambut tahun baru, Dinda Ucapkan pada kalian yang tidak memiliki kegiatan kecuali baca novel, kita sama guys hihihi.
Makan donat sambil minum Boba juga mantap kok.
Selamat Tahun Baru juga Dinda ucapkan pada yang membaca novel ini saat tahun baru telah tergapai.
Semoga di tahun mendatang bisa lebih baik lagi. Semoga berkah dan kesuksesan yang benar-benar layak kita dapatkan.
Dan segala cita bisa terwujud.
Kemarin adalah Kenangan.
Hari ini adalah kenyataan.
Esok adalah impian.
__ADS_1
baik buruknya Jadikan semua sebagai pelajaran, untuk menggapai sesuatu yang lebih baik.
πππππππππππππππππ