Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bahagianya RIma


__ADS_3

Hingga akhirnya mobil yang digunakan Reno penuh dengan gadis-gadis petugas dari Rumah Sakit itu.


Dalam hati Reno menggerutu, kenapa harus bawa mobil, masalahnya Rima tidak termasuk dalam salah satu daftar penumpangnya.


Jelas, karena Rima pasti bersama dengan Leli.


"Om bukami kaca mobilta di?" Pinta gadis yang duduk di belakang.


"Tidak bisaka lama naik mobil, mabukka nanti." Wajah sedikit pias, hingga membuat Reno mengangguk cepat lalu mematikan ac mobil.


"Om."


Reno menoleh ke arah samping. Di sana gadis berjilbab pink duduk sambil memangku ranselnya.


Mendengus perlahan hendak protes namun sungkan.


Di sini, dirinya sendiri yang pria, asing, pendatang, tak di undang pula.


Panggilan itu ada karena dirinya sendiri yang meminta pada sang pemilik hajat untuk bisa turut serta. Benar-benar devinisi tak tahu malu.


Acara pernikahan kakak dari pria yang bernama Aco tadi. Malam ini acara mappaccing dan besok acara resepsi pernikahan.


Acara mappacing biasanya lebih rame. Lebih tepatnya karena banyak hiburan yang bisa dinikmati.


Makanya semua teman-temannya diajak menginap di rumahnya malam ini juga.


"Suaminyaki Dokter Rima?"


Suara itu kembali membuat Reno menoleh, dengan kening berkerut, bingung.


Di belakan kursi yang ia duduki, nampak dua gadis yang turut menatap ke arahnya. Mungkin menanti jawab.


Reno hanya tersenyum menanggapi, terserah mereka mau bilang apa.


Dibilang suami Rima juga tak ada masalah baginya. Anggap saja sebagai doa untuknya dan RIma.


Ah, mengapa jadi berharap begini, pikirnya.


Mobil mulai melambat, di depan sana sudah nampak Aco yang berdiri di sisi jalan melambaikan tangan.


"Sini, sini." Mengarahkan mobil masuk ke sebuah pekarangan rumah.


Rumah panggung yang lumayan besar dengan halaman yang cukup untuk menampung dua mobil. Di sana motor Aco telah stand by terlebih dahulu.


Tersenyum riang sekali, saat teman-temannya turut dari dua mobil berbeda.


"Rumahnya ini kakakku." Ucapnya bangga pada teman-temannya. "Ayo-ayo!"


"Mana rumahmu?" Tanya salah satu temannya sambil merenggangkan tubuh.


"Ayok mi jalanki!"


Memulai langkah terlebih dahulu di ikuti langkah teman-temannya yang lain dengan masing-masing ransel besar yang disampirkan di pundak.


Melalaui titian pematangan empang mereka berjalan, berbaris dan teratur.


"Deh jauhna rumahmu Aco." Keluhan mulai terdengar.


Terik mentari di sore hari masih terasa menyengat di kulit.


"Itu sana'e." Tunjuk Aco ke depan sana.


Suara gendang dan riuh para sanak keluarga dan tetangga mulai terdengar.


Tenda telah berdiri dengan jejeran kursi yang sedikit tak teratur.


"Deh, ramenya." Rasa kagum terucap oleh temannya yang lain. "Kalo sampai, mauka minum sirup nah!" Sudah request saja.


Rima turut berjalan, dengan wajah sumringah dan juga kagum.


Barisan paling belakang, Reno mawas sambil sesekali menatap ke arah wanita pujaan hati.


"Sini. SIni!"


Riuh seketika saat mereka baru saja tiba di halaman rumah bertenda yang sudah nampak indah dengan hiasan bunga dan tirai berwarna-warni.


Mereka langsung berebut minuman berwarna yang disuguhkan oleh pemilik hajatan.

__ADS_1


Puffftttt. Reno menjatuhkan bokong pada kursi plastik yang telah terbungkus kain. Sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah, berusaha mengusir penat dan gerah sehabis berjalan.


"Ini dek minumannya."


Reno tersenyum dan menoleh, sedari tadi sapaan yang ia dapatkan dari teman-teman Rima adalah, om.


Apakah tampangnya sudah terlihat tua?


Ternyata yang menyapanya kali ini adalah ibu-ibu. Pantas saja ia dipanggil adik.


Mengangguk sebagai tanda hormat, "Terima kasih bu."


Ah lega yaaaa. Sejuk sekali.


Demi Rima, ia melakukan semua ini.


Kembali menatap ke arah RIma yang duduk melingkar bersama dengan teman-temannya di sana.


Menikmati minuman dingin sambil bercanda ria. Tertawa, kadang menepuk-nepuk pelan tubuh temannya yang lain.


Hampir tak percaya, jika wanita itu menikmati hidup yang seperti ini.


"Hajji lolo, kusimpanki motor sama mobilnya temanku itu di rumahta nah."


Teriak Aco pada seorang wanita yang terlihat baru saja menuruni tangga.


(Sebutan Hajji lolo banyak di pergunakan untuk wanita yang dalam keluarga telah terdapat haji yang lain yang lebih tua atau lebih dahulu. Arti lolo sebenarnya adalah muda. Jadi Haji Lolo itu artinya haji muda.)


Betapa Haji menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka.


Baju bling-bling lengkap dengan turban ciput di penuhi dengan manik-manik menyilaukan mata.


Make Up full color, tersenyuman indah dengan bibir merah menyala.


kalung menjuntai hingga ke perut, dengan induk kalung yang tak kalah besar, mewah dan memukau.


gelang di tangan berjajar kiri dan kanan, menimbulkan bunyi Gemerincing setiap bergerak.


Cincin, hampir memenuhi ruas jari.


"Iye," Si Aco sambil mengangguk.


"We, Ini kakak ku." Aco mulai memperkenalkan wanita itu pada teman-temannya.


"Ini rumahnya tadi yang kita simpani mobil."


Hingga semua teman-temannya berdiri sambil mengulurkan tangan satu persatu. Pun dengan Reno, harus tetap berterima kasih dalam segala hal.


Hari telah malam, acara berpusat di dalam rumah. Dengan para pria yang seperti menatunkan salawat dengan intonasi indah. Kadang sahut-menyahut bergantian dan teratur.


Sementara wanita menyediakan konsumsi pada seluruh tamu yang datang.


Di sudut teras rumah, Rima berdiri sendiri menghadap keluar, menikmati pemandangan indah lainnya di bawah sana.


Senyumnya masih saja terlihat segar.


Reno berjalan tenang namun sedikit lebih cepat, takut Rima pergi dari sana.


"Kamu bahagia?"


Suara tenang Reno mampu mennghentak kesadaran RIma.


Gadis itu masih tersenyum menanggapi pertanyaan Reno.


Mau di jawab apa? Jika memang kebahagiaannya ternyata terletak saat jauh dari kampung halaman sendiri.


Hening untuk beberapa lama.


Baik Reno maupun RIma enggan berkata.


Berdiri bersisian menikmati semilir angin malam di rumah panggung yang dikelilingi oleh tambak. Dingin dan sejuk.


Hingga suara deringan ponsel dalam saku celana Reno menyapa.


Ck, berdecak kesal saat melihat nama bos menghias layar.


Menjauh dari Rima, enggan memberi tahukan siapa yang menelponnya. Takut akan merubah mood bahagia gadis itu.

__ADS_1


"Ya," Sapa seadaanya, masih berupaya menyembunyikan kesal.


"Kamu di mana? Tadi aku ke rumahmu, tapi kamunya gak ada."


Jawaban dari sana mengerutkan keningnya.


"Ngapain?" Nada mulai ketus.


"Ya cari kamulah. Maunya temani nongkrong bentaran. Kan malam minggu." Dihyan.


"Gak, aku sibuk."


"Kamu sibuk apasih. Udah dua minggu selalu keluar kota gak tau kemana?" Dihyan*. "Itu suara apa sih?"*


Saat pendengarannya menangkap suara riuh ramai di belakang.


"Ya kan ini. Aku ada teman nikahan?"


"Siapa?" Dihyan penasaran.


"Kepo banget sih kamu? Gak punya kerjaan lain apa?" Rasanya sudah enggan menyembunyikan kesal. Bisa gondok jadinya.


"AKu mau ngomongin masalah Rima."


Reno tersentak, jelas terkejut. Melirik pada wanita yang baru saja namanya ia dengar.


Lagi mesti harus berbohong, menutup rapat segalanya tentang RIma.


"Gak tau. Udah ah, gak enak sama temanku yang lain."


Cepat-cepat menutup panggilan lebih baik dari pada harus kembali mencari alasan. Ujung-ujungnya pasti kebohongan yang akan ia beberkan.


Puuufft. kembali menghembuskan nafas kasar, bingung juga jika harus terus berbohong seperti ini.


Selang beberapa lama Leli keluar, " Kamu kenapa sendiri di sini? yang lain di dalam semua."


" Gerah." Rima.


"Kalian nggak lagi dua-duaan kan?" Tunjuk Leli ke arah Reno yang berada di sudut lain.


"Apa sih?" Rima dengan bola mata yang berputar jenuh juga rasanya selalu dicurigai.


Ai sudut sana Reno berasa bersyukur, mungkin harus berterima kasih pada Dihyan yang telah menelponnya di waktu yang tepat.


Hampir saja ia kedapatan berdekatan dengan Rima.


"Om, tidak ganti bajuki?"


Tanya Aco saat menghampiri dirinya.


Suasana teras atas seketika kembali ramai oleh mereka.


"Gak bawa baju ganti." Ucapnya sambil tersenyum. Risih sebenarnya. Apalagi saat memandangi semua kelompok mereka telah berganti kostum. Ada yang pakai gamis pula, dengan make up kinclong.


"Mauki pinjam bajuku? Tapi baju biasaji, bukan baju mahal om."


Meneliti penampilan Reno dengan outfit yang lumayan, membuat sang tuan rumah minder sendiri. Beruntung pria itu mau menerima segala kekuarangan mereka.


"Emang boleh?" Reno memastikan.


Pembicaraan itu ternyata menjadi pengamatan yang lain.


"Bolehji. Kalau mauki. Ayomi." Aco berjalan mendahului. Meninggalkan para wanita yang masih menatap ke arah mereka.


"Ada warung gak. Mau beli sikat gigi juga."


"Oh, nanti kutanyaki Dg. Te'ne, sempat bisajaki na ambilkan dari warungnya." Aco.


"Maaf yah, merepotkan!" Ucapnya sungkan. Benar-benar sungkan hanya untuk lebih dekat lagi dengan Rima.


Tidur di ruang tamu yang telah lapang tanpa sofa dan perabot lainnya. Beralaskan karpet tebal yang membentang, menutupi seluruh lantai.


Bukan hanya dirinya dan SI Aco, tapi banyak. Mungkin kerabat jauh yang memilih nginap di sini.


Di dalam kamar, cewek-cewek itu saling berbaring, berhimpit-himpitan sambil bercerita sesekali tertawa. Entah pukul berapa suara-suara itu teredam secara sendirinya, Reno tak tahu karena ia yang lebih dulu masuk ke alam mimpi.


Hingga akhirnya amplop yang tebal menjadi salam perpisahan juga sebagai ungkapan terima kasihnya pada pemilik rumah.

__ADS_1


__ADS_2