
Rima perlahan membuka matanya, mengerjapkan mata beberapa kali.
Setelah benar-benar menerima cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya, ia lalu mengeliatkan tubuhnya mengusir ketegangan otot-otonya setelah tertidur di sofa.
“Sudah bangun?” Dihyan kini telah duduk di kursi kerjanya.
“Jam berapa sekarang?” Tanyanya sambil bangkit dari sofa itu. Pertarungan tadi masih menyisakan sedikit lelah.
“Jam 4, mau kemana?” Dihyan saat memandang Rima yang berajak dari sofa.
Itu artinya ia telah terlelap hampir dua jam lamanya. Ya ampun! Apakah benar ia seletih itu?
“Pipis,” Rimapun berjalan menuju ke kamar mandi.
Sempat memikirkan bagaimana nasip pekerjaannya. Pada hari pertamanya bekerja ini, ia justru minggat dipertengahan hari. Meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Ck, mungkin ia benar-benar semakin dianggap tidak profesional.
Apa memang nasibnya hanya berdiam diri di rumahnya?
"Kenapa?" Tanya DIhyan saat melihat matanya memandang lurus tak bertepi, bahkan hampir tak berkedip. Sudah jelas jika wanita itu tengah memikirkan sesuatu.
"Bagaimana dengan pekerjaanku?" Rima.
"Tenang saja, aku sudah menghubungi atasanmu." Wajah DIhyan terlihat biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Jauh berbeda dengan RIma yang terlihat sedikit ragu.
Bukan hanya atasannya yang ia pikirkan, tapi teman-teman sejawatnya juga.
Mungkin saat ini, ia tengah menjadi bahan gunjingan di tempatnya bekerja.
"Bekerja seenak jidat."
"Pulang semaunya."
Saat ini ia tengah menyiapkan hati demi mendengarkan gunjingan-gunjingan dari teman-temannya beesok.
Mungkin seperti itu ia dianggap oleh teman-temannya.
"Aku bilang kamu butuh sedikit istrihat, tenang saja!" Tahu jika istrinya itu masih memikirkan tentang hari ini. "Mereka tahu kamu sedang hamil, pasti mengerti kok."
“Kamu lapar?” Tanyanya, lebih baik mengalihkan pembicaraan dari pada membiarkan wanita itu terus berpikir tentang yang belum terjadi. Dihyan justru merasa, tenaga medis wanita, pasti akan sama-sama mengerti tentang kondisi tubuh wanita yang sedang hamil kan?
“Tadikan sudah makan, aku haus.” Rima.
“Mau minum apa?” Tanyanya lagi, tapi Rima tak menjawab hanya langsung berjalan ke arah pendingin kecil di sudut ruangan.
“Tunggu sebentarnya, kita pulang sama-sama!” Dihyan.
__ADS_1
...****************...
Dihyan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ini memang bukan yang pertama bagi Rima, bahkan sudah sangat sering melihat penampilah Dihyan seperti sekarang.
Tapi satu yang mencuri perhatiaannya adalah tanda merah yang tadi siang ia buat, terpampang nyata di dada pria itu. Membuatnya tak berkedip sekalipun. Entah memang benar tanda merah atau bentuk penampakan dada bidang milik Dihyan yang menjadi perhatiannya.
Melihat Rima yang menatapnya tanpa berkedip, bahkan saat Dihyan telah berada di hadapannya, membuat pria itu berinisiatif untuk meraih sebelah tanggan Rima meletakkannya di dadanya.
Ia yakin, Rima tergoda dengan tubuhnya.
Apakah ini yang namanya dada? Rasanya sangat ingin menggigitnya. Batin Rima sembari mengelus dada rata berbulu halus milik sang suami.
“Ssssttt.”
Rima menengadahkan kepalanya melihat Dihyan yang meringis tapi tersenyum menatapnya setelah itu.
Oh, astaga apa yang baru saja ia lakukan? Sebuah tanda merah kembali terpampang di dada Dihyan.
“Astaga, maaf-maaf aku gak sengaja!” Rima membelai Dihyan mencoba mengalihkan rasa sakit di dada pria itu
karena perbuatannya.
Dihyan malah tersenyum melihat tingkah lakunya, “Tak apa, ini milikmu! Kau bebas mau melakukan apa saja.”
Tapi Rima masih saja terlihat bersalah, “Bagaimana rasanya? Apa sakit?” Tangannya masih bekerja memberikan elusan-elusan bekas merah di sana. Rasa bersalah menyeruak, merutuki perbuatannya yang tanpa sada iru.
Pertanyaan itu justru membuat Dihyan terbahak, “Hahahaha....”
“Kau mau tau rasanya seperti apa?”Dihyan menyeringai lebar, “Setelah ini!”
Dihyan mulai mempertemukan bibir mereka
Kemudian berpindah pada tempat yang sama saat Rima meninggalkan tanda merah di dadanya.
Dan wanita itu harus mulai berpikir tentang bagaimana rasanya.
Rasanya seperti,...?
Perih, saat kulitnya terasa tertarik.
Namun ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Terlebih bukan hanya bibir Dihyan yang bekerja saat itu, tapi tangannya juga.
Mengacaukan sistem pertahanan tubuh Rima. Semua persendian terasa lemas, ia butuh pijakan, atau sandaran demi bisa menopang bobot tubuh.
jantung pun bekerja tak karuan, bergeduk kencang seperti pencuri yang tengah diburu oleh aparat keamanan.
ingin menjauh, namun rasa penasaran Semakin menjadi.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya?” Dihyan menengadahkan kepala hanya untuk menatap ekspresinya.
“Lagi!” Rima, meski sebagian besar yang terdengar hanya helaan napas tak beraturan.
Menjadikan Dihyan kembali mengulang hal yang sama pada sisi yang lainnya, membuatnya semakin menggila mengharapkan Dihyan melangkah ke level selanjutnya.
Persetan dengan surat cerai yang selalu ia gembor-gemborkan. Persetan dengan dendamnya pada Dihyan yang jelas saat ini, “Aku mau sekarang juga!”
Membuat senyum Dihyan semakin melebar, “Pesanan datang!”
Setelah mendengar kata itu, ia semakin merasa berada dia atas awan. Menikmati keindahan dunia dari atas.
Sangat indah, bahkan ia tak berharap agar semuanya tidak cepat berlalu.
Jika di awan suasananya sejuk sebab mengandung air, tapi tidak dengan dirinya yang semakin memanas. Hingga
sadar atau tidak tangannya terus berkelana mencari tempat berpijak demi mengimbangi perasaannya yang semakin terbang melayang semakin jauh.
Dan membuatnya seolah ingin memperlambat waktu demi menikmati keindahan dunia dari atas awan.
Remasan tangannya berfokus di pada guling yang berada di kepalanya. Remasan itu semakin erat ketika sesuatu
yang mendobrak dari dalam sama seperti yang ia rasakan tadi siang di kantor.
Rima seolah menahan nafas karena Dihyan semakin mempercepat gerakannya hanya demi merasakan dobrakan yang sama seperti yang baru saja Rima rasakan
Dengan napaf yang tersengal-sengal Dihyan menarik dirinya dan ikut terbaring di samping Rima.
Dihyan menarik Rima masuk ke dalam pelukannya, hingga telinganya tepat berada di dada Dihyan merasakan detak jantung yang masih lebih kencang dari pada suara dentingan detik jam.
“Astaga , aku sampai lupa kalau kamu hamil. Apa sakit?” pria itu sedikit bangkit demi melihat ekspresi dari wajah sang istri. Sambil mengelus perut Rima yang sudah sedikit menonjol.
“Maaf yah!” Dihyan.
Rima hanya menggeleng lalu mengangguk tak mampu menjawab pertanyaan Dihyan dengan kata-kata. Sepertinya ia tak sanggup bertahan, ingin sekali terlelap saking lelahnya setelah mendapat jawaban dari bagaimana rasanya?
------
Panas gak panas gak?
Banjir gak banjir gak?
Kalau belum panas, maafkan Dinda yang tak bisa memberikan panas berlebih.
Batas panas yang bisa Dinda suguhkan hanya sampai seperti ini saja. Selanjutnya, silahkan berimajinasi dan melambung sendiri yah!
Masalahnya Dinda termasuk dalam otor yang solihin, Yang baik hati dan tidak sombong.
__ADS_1
Jadi gak boleh panas-panas dan banjir-banjir.
Hihihihi.