
Mungkin ini yang dikatakan main dokter-dokteran.
Di saat Rima sedang ingin fokus memeriksakan kesehatan Dihyan, pria itu justru terus berusaha agar bisa menenggelamkan wajahnya pada Rima. Kedua tangannya telah melingkar dengan menahan pergerakan Rima.
" Tunggu dulu Ih!" Kesal juga lama-lama, tangannya memukul lengan Dihyan yang tak pernah mau melepaskannya.
" Perasaan kamu gimana sekarang? Atau mau dipanggilan dokter, Aku nggak punya alat masalahnya."
" Nggak usah aku cuma mau tidur sebentar. Kayaknya cuma kurang istirahat ini."Dihyan.
Rima mencoba mendorong kepala Dihyan, Gadis itu hendak memberikan pijatan-pijatan lembut menenangkan. Namun tak begitu dengan Dihyan, pria itu terus saja menempel sambil mengusal-ngusal di dada Rima. "Sana dulu, biar aku pijitin."
"Nggak usah, Aku cuma mau meluk kamu. Kamu pijat-pijat justru akan membangunkan semuanya."
Pria itu terus saja tempelkan wajah pada tubuh Rima, hingga waktu mengantarnya pada lelap meski mentari masih tersenyum lebar.
Dihyan bangun dari tidurnya, menoleh ke kanan Rima sudah tak ada di sampingnya. Tak apa, tidur dua jam membuat perasaannya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Waktu menunjukkan tengah hari, perut pun mulai keroncongan, mungkin Rima sekarang berada di dapur tengah menyiapkan makan siang untuk mereka.
Benar,Rima sekarang berada di dapur. Menyiapkan makan siang? Tentu saja tidak, wanita itu tak tau dan tak mau tau apapun tentang dapur. Kalaupun hendak membantu, mungkin hanya bagian pengirisan, itupun kalau dia mau.
Wanita itu hanya tinggal duduk di meja makan sambil menikmati potongan buah yang ia persiapkan sendiri.
Dihyan mulai beranjak dari tempat tidur, pintupun telah ditutup. Namun enntah mengapa perasaan Dihyan kembali tak enak. Semua benda terlihat berputar-putar, lantai yang ia pijaki terasa bergetar, gempa lokal datang tiba-tiba.
"Rimaaaaa." Dihyan mulai berteriak memanggil sang istri.
Ingin berjalan lebih jauh tapi ia takut terjatuh. Menyeret langkah kaki hingga ia telah sampai di dekat tangga, namun penglihatannya terlihat semakin kacau.
Tangga di bawahnya terlihat menjauh lalu kembali mendekat, alu menjauh dan kembali mendekati lagi.
"Rimaaaaa." Ia hanya bisa teriak, dengan tangan yang memegang erat pegangan tangga, berusaha menahan tubuh agar tak terjatuh. Satu tangannya digunakan menjambak rambutnya sendiri demi mengurangi rasa pusing. Mata ditutup rapat agar penglihatan tak terlalu membuat kacau perasaannya.
"Rimaaaaa,…"
Teriakannya mampu menghentak ketiga wanita yang berada di dapur.
"Itu suara bapak."
Saat memasang telinga baik-baik mendengarkan suara yang terdengar menggelegar.
Ketiga wanita itu saling memandang, berbagai macam pemikiran langsung saja menghantui mengingat Dihyan tadi mengaku sedang sakit. Melempar apa saja yang mereka pegang sebelum berlari menuju ke arah suara yang memenuhi langit-langit rumah.
Bi sumi segera mematikan kompornya sebelum beranjak dari sana.
__ADS_1
" Ya ampun bapak!"
Serunya saat melihat Dihyan di ujung tangga, meringis seperti tengah menahan sakit.
Di atas, Dihyan dengan merentangkan kedua tangan saat melihat Rima berlari ke arahnya. Ia masih sempat menghentakkan kaki, kesal Rima terlalu lambat untuk sampai padanya.
"Kamu kenapa?" Rima saat ia telah mampu mencapaiDihyan.
Pria itu tak menjawab, perlahan melorotkan tubuh ke lantai saat dirasa Rima tengah mencapai tubuhnya."Tiba-tiba pusing."
Rima ikut melorot, hingga tubuhnya ikut berbaring mengikuti Dihyan yang langsung memeluknya.
" Ya ampun Bapak kenapa?"Bi Siti.
" Itu itu itu pingsan itu!" Bi Sumi, sambil mengguncang pelan lengan rekan kerjanya.
" Ya ampun bapak, kita harus ngapain ini?"
" Aduh, jangan tiduran di sini!" Rima tahu jikaDihyan belum benar-benar hilang kesadaran, pelukan erat di tubuhnya menandakan pria itu masih tersadar.
Kedua wanita paruh baya itu turun mengelilingi mereka dengan wajah pucat pasi.
" Ya Tuhan, bapak sakit lagi itu bagaimana ini?" Bi Sumi, kedua tangan memukul-mukul pelan pahanya sendiri, tangan terulur namun kembali ditarik saat sadar dirinya Rasanya tak pantas untuk menyentuh Atasannya itu.
" Tadi kan sudah kubilang untuk panggil dokter tapi kamunya nggak mau. Kita pindah masuk ya! Bisa kan?" Rima.
"Pusing!" Dihyan.
" Ya udah Bibi Panggil dokter dong!"
" Makanan di bawah disiapin, biar kita makan di kamar aja!" Rima memberi perintah kepada kedua bibi itu.
" Iya, iya Non."
Keduanya langsung bergerak, mengikuti perintah Nona mudanya.
" Bik minta minum dong, Tolong ya!" Rima harus mengencangkan suara, karena para bibi telah berada di lantai bawah.
"Kita masuk ya, tidur di kamar aja!" Rima.
"Bisa bangun? Atau aku panggilin cowok biar bantuin kamu pindah."
Dihyan menggeleng lalu meringis, bahkan untuk mengerakkan kepalanya saja terasa sulit. Namun meminta bantuan orang lain hanya untuk pindah ke kamar rasanya belum dibutuhkan. Ia masih bisa menggunakan tubuh Rima demi memopang tubuhnya.
"Kamu aja!"Dihyan.
__ADS_1
"Ya udah bangun dulu! Aku nggak bisa ngangkat Tubuh kamu." Rima mulai bangkit dengan menarik lengan Dihyan agar ikut bangkit bersamanya.
Mulai melangkahkan kaki meski terseok-seok, tubuh besar Dihyan menjadi bebannya kini.
Di dalam kamar, sepasang suami istri itu berbaring di atas ranjang. Dihyan kembali memeluk tubuh Rima dengan sangat eratnya, menghirup wangi tubuh sang isrti yang sebenarnya sedikit banyak bercampur dengan bumbu dapur.
"Maafkan aku!"
Rima mengerutkan kening saat mendengar permintaan maaf Dihyan. Kalau hanya karena memapah tubuh besar itu, tak perlu maaf.
"Tadi aku mau turun, tapi liat tangganya goyang jadi gak jadi. Aku takut."
"Dulu pasti kamu sakit banget waktu jatuh dari tangga kan? Dan itu karena aku."
"Apalagi kamu hamil anak kita." Dihyan lalu mengangkat kepala, membuat pertemuan pandangannya sayu dengan Rima. Pria itu telah meneteskan air mata.
Rima telah mengerti arah pembicaraan Dihyan, meski pria itu hanya terdengar seperti gumaman di dalam dadanya.
"Harusnya yang dulu gak usah lagi diingat-ingat lagi. Karena itu akan menyakiti kita lagi." Rima menarik kepala Dihyan agar kembali masuk dalam pelukannya.
Benar, ia sakit.
Sakit fisik dan hatinya. Namun saat harus kembali mengingat yang dulu-dulu lagi itu hanya akan kembali menggores luka lama. Anggapannya, seperti ini saja sudah mampu membuatnya hidup dengan tenang.
Hanya berselang beberapa menit, Bi Sumi muncul dengan Baki yang berisikan makanan.
"Non, makan siangnya non!"
"Kita makan dulu ya, sambil nungguin dokter!" Rima mulai menjauhkan diri demi meraih makanan yang di bawa oleh bibi.
"JAngan jauh-jauh!" Tangannya langsung meraih tangan Rima, menahan agar tubuh tak terlalu menjauh.
"Bentar," RIma.
"Pusing!" Dihyan dengan menggeleng pelan.
"Iya makanya makan dulu, habis diperiksa Dokter sudah bisa langsung minum obat. Aku nggak tahu mau ngapain kamu! dari tadi cuma bilang pusing pusing pusing!"
"Telepon mama ya, aku takut kamu kenapa-napa!" Rima, pikirnya ia tak mengetahui banyak hal tentang Dihyan setelah berpisah dulu.
"Enggak usah, takut mereka panik lagi. Kamu aja, asal sabar!" Dihyan.
Rima mengangguk, mengerti. Sedari tadi memang ia mencoba sabar menghadapi Dihyan.
Andaikan saja pria itu mau mendengar semua perkataan dan arahannya mungkin tak terlalu emosi seperti ini.
__ADS_1