Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kenapa Harus Dia?


__ADS_3

Malam pun telah tiba, menghantarkan para penduduk bumi Kembali Pulang ke rumah masing-masing guna mengistirahatkan tubuh yang telah seharian dipergunakan untuk mencari cuan.


Pun dengan Reno, meski hari ini pria itu sedikit terlambat pulang ke rumah namun pria itu masih menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarganya.


Kehangatan keluarga yang selalu saja ia rindukan. Ibu yang cerewetnya minta ampun, ini itu masih diatur meski ia sudah sebesar ini. Adik satu-satunya yang paling ia sayangi, yang akan setia bersamanya ketika ada maunya.


Dan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh ibu, mengingat waktunya berbicara dengan putranya itu hanya malam ini saja. karena besok, mereka akan


" Dira, kamu masuk gih sudah malam. besok kan masih kuliah!" langkah pertama ibu, menjauhkan anak gadisnya sebelum berbicara


" besok kuliahnya kesiangan Bu. Lagian ini kan baru jam berapa, Ibu usir aja." gadis itu terlihat cemberut, namun tubuhnya beringsut memepet tubuh Sang kakak. Biasanya jika sudah begini Gadis itu pasti ada maunya. Biasalah duit.


" Ibu mau bicara sama kakakmu dulu, masuk kamar!"


" Yaelah ibu. Kita kebanyakan di kamar, pintunya digedor. Kita udah keluar marah disuruh masuk, maunya gimana sih?" Gadis itu masih saja mencoba menyahut. Cerewetnya hanya berlaku jika berada di dalam rumah, namun ketika ke luar rumah, maka ia akan menjadi sosok pendiam. Sedikit insecure dengan bodinya yang sedikit berbobot, namun untuk diet, maaf susah baginya.


...----------------...


*Red. Cerita Dira ada di, "Nilai Sebuah Kesetiaan!" Kalau mau ke sana silahkan undah tamat, ratingnya 5 bintang, dengan cerita yang berbeda. *


Bukan tentang perselingkuhan, tapi tentang perjuangan cinta dua anak manusia.


...----------------...


" Ren ada waktu nggak? Ibu mau bicara." Ibu mulai meminta waktu pribadi Reno.


Jika mengharap pada anak gadisnya, mungkin tengah malam baru mereka punya waktu untuk berbicara berdua.


" Mau bicara apa Bu?" pria itu penasaran.


" Ada!"


Reno sudah tahu maksud ibu, tangannya merogoh saku celananya mengambil sesuatu berupa lembaran berwarna merah. mode sogok dia jalankan, biar cepat.


" Hehehe, makasih Kakakku yang paling cakep!" Gadis itu tersenyum manis, tak lupa mencubit pipi sang kakak sebelum benar-benar beranjak dari sana. Dan kini hanya ada Reno dan ibu duduk berdua.


Ibu memilih beranjak dari tempatnya, dan kini duduk tepat di samping Reno. Tangannya terulur menggenggam tangan Sang putra, ia akan berbicara dari hati ke hati.


Sempat menghembuskan nafas pelan, mungkin pembicaraan ini kan sedikit panjang mengingat besok mereka  sudah akan menunaikan undangan makan malam di kediaman Pak Cakra, bisa jadi untuk membahas kedua anak manusia ini.


" Kamu pacaran sama Diandra?" Notasi suara Ibu masih pelan, takut di dengar oleh Dira yang kini tengah berada di dalam kamarnya.


"Loh kok? Maksudnya?" Jelas saja terperangah. Ia tak pernah membahas gadis itu di rumah ini.


"Gak pa-pa kok. Bagus. Justru kita mau membicarakan hubungan kalian."


Ibu tersenyum merona, tahu pun jika putranya ini pasti malu.


"Bukan begitu bu. Aku sama Andra memang gak ada apa-apa kok. Sekarang saja, kita udah gak pernah ketemuan." Jelas Reno segera meluruskan.

__ADS_1


"Loh kok?" Kini berganti ibu yang terlihat terperangah mendengar penuturan Reno. Jujur kini diirinya sedang bingung. Lalu darimana kabar yang Pak Cakra dengar jika Reno dan Diandra tengah menjalin hubungan.


"Kamu yakin gak ada hubungan apa-apa dengan Diandra? Tanyanya lagi memastikan.


Reno  menggeleng masih dengan keyakinan di raut wajahnya.


"Kamu gak pernah memberi Andra harapan, atau apapun itu?"


Takut jika tanpa sadar Reno justru menjanjikan sesuatu hubungan pada gadis itu.


"KIta gak pernah bahas apa-apa bu. Memang kenapa?" Penasaran juga lama-lama, bagaimana bisa hubungan yang tidak pernah ada justru sampai di telinga ibunya.


"Tadi siang Pal Cakra ke toko bapak, katanya kalian pacaran. Katanya kalian saling mencintai." Notasi ibu semakin merendah, ada ragu pun terlihat dari tatapan itu.


"Kok  bisa?" Reno, tak pernah menyangka jika atasan tertingginya itu justru berlaku seperti itu. Dari mana?


Diandra kah?


Otaknya kembali melalanglang buana. Benar, ia tak menjanjikan apa-apa pada gadis itu. Membahas  tentang hubungapun tak pernah. Lalu, ...


Sayangnya, ia justru tak mengingat satu orang itu. Seorang pria yang membuatnya berada dalam posisi membingunkan seperti ini, Dihyan.


"Besok malam kita di ajak makan malam bersama di rumah mereka." Ibu lagi, masih terlihat binggung, pandangan ke depan hampir tak berkedip.


"Tapi kamu gak punya pacar kan?" Meneloh pada sang putra, kini pandangan terlihat penuh pengharapan.


"Kenapa gak terima perjodohan ini saja. Lagian kan kalian sudah lama saling kenal, jadi gak ada masalah kan?"


"Siapa?"


"Nanti."


"Apa wanita yang dulu pernha kamu bawa ke sini?"


"Ooh, masih ingat yah bu?" Reno tersenyum, ternyata kehadiran Rima mampu membekas di ingatan ibunya. Gengaman ibu kini ia balas sehangat mungkin.


Namun siapa sangka, ibu justru beranjak dari sana. Meninggalkannya seorang diri bahkan sebelum menjawab apapun.


Malam semakin tinggi, hingga mereka pun harus beranjak untuk tidur.


Reno menyempatkan diri ke dapur, menjenguk ibunya sekaligus membasahi kerongkongan yang mulai kering.


" Kenapa harus wanita itu lagi?" Reno terdiam, tangan pun yang masih memegang Gelas Kaca itu menggantung di udara. Sedari tadi ibu terdiam, sekalinya bersuara namun entah mengapa harus mendengar hal seperti ini.


Ibu sepertinya tak suka dengan pilihannya, padahal dulu, ...


" Kenapa harus menantunya Pak Cakra?" Suara Ibu semakin lirik. Sangat kentara jika Ibu sedang menahan tangis.


Ibu tahu? Bagaimana bisa?

__ADS_1


Bodoh sekali pemuda ini. Ia mungkin lupa tentang ibu yang pernah menghadiri acara *aqiqah *di rumah Dihyan.


Atau mungkin ia berharap jika ibu tak bertemu dengan Rima seperti dirinya?


" Kenapa harus istrinya Dihyan? Bukankah kalian berteman sejak dulu?"


" Aku yang lebih dulu Mencintainya." Reno, rasanya tak ada lagi yang harus ia tutup-tutupi.


" Ini bukan masalah Siapa yang lebih dulu, tapi tentang siapa yang lebih berhak."


" Kami berdua saling mencintai, buuu." Jelas saja ia merasa lebih berhak mendapatkan Rima, Reno masih belum mengalah.


" Tapi cinta kalian salah."


" Ibu malu."


" Ibu,..."


" Malu."


"Bisakah kamu melupakan wanita itu?"


"Bisakah kamu menerima Diandra sebagai jodohmu?"


"Bapak sangat bahagia saat membahas hubunganmu dengan DIandra."


"Bapak ,..."


Ibu tak lagi mampu menyambungkan kalimatnnya.


Pancaran kebahagiaan yang ia lihat di wajah bapak tadi siang, sungguh sangat membekas. Harapan untuk berbesan dengan orang yang sangat ia hormati sangat lah tinggi.


Lalu bagaimana bisa harapan itu pupus seketika.


Lalu bagaimana jika Pak Cakra tahu jika menantunya justru mencintai putranya ini.


Bagaimana bisa Reno menghancurkan keluarga Dihyan, anak dari pak Cakra.


Pak Cakra pasti akan marah.


Pak Cakra pasti akan kecewa.


Lalu bagaimana dengan suaminya?


Di belakang ibu, Reno terdiam?


Apakah sekarang giliran dirinya yang harus mengalah dengan hubungannya bersama Rima? Padahal hubungan Rima dengan suaminya sebentar lagi akan berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Maaf cuma bisa satu bab, Dinda lagi galau, eh bukan lagi gak enak badan ini.


Yang mau jengukin boleh, sekalian bawa bunga atau kopi yah! Hihihihi, mode malak tetap berlaku.


__ADS_2