
"Mama."
Semua suara menjadi satu, memamnggil tubuh yang tergelak di lantai itu. Pergerakanmu sama serentak mendatangi.
Dihyan berdiri membuat tubuh Rima yang sedari tadi berada di atas pangkuannya juga ikut berdiri. Menghampiri mama yang telah berada dalam rengkuhan papanya.
"Biar aku saja pah." Ucapnya sambil menepuk pundak papa demi menggantikan posisinya. Tubuh lemah itu kini telah ia bopong menuju ke kamar dengan seluruh keluarga yang mengikut di belakangnya.
"Ambilin minyak kayu putih." Perintahnya di tujukan pada siapa saja, asal cepat.
Rima ikut maju hendak menggunakan keahliannya meski dengan wajah pias. Dalam hati ia merutuki tingkah b0d0h Diandra. Semua ini terjadi karena ulah gadis itu yang berlebihan. Kenapa harus ada acara berlutut di depan seluruh keluarga, bukankah gadis itu telah pernah meminta maaf padanya?
"Ngak pa-pa, mama cuma pingsan." DIhyan menoleh ke arah sang istri dengan menyinggung sedikit senyum menenangkan.
Sementara papa berada di sisi sebelah menggenggam tangan sang istri yang terasa sedikit dingin. Beliau tak hendak mengomentari apapun. Hatinyapun terasa kebas saat melihat semuanya.
Diva berada di samping sang ayah. Wajah gadis muda itu terlihat panik, mengkhawatirkan mamanya. Mungkin ini pertama kali ia melihat mamanya pingsan, seingatnya wanita yang pernah melahirkannya itu adalah wanita yang kuat dan aktif. Otaknya telah memikirkan hal paling ekstrim dalam hidupnya. Bagaimana jika mama,...?
Diandra yang tak kalah paniknya dengan Diva. Dalam hati terus merutuki Rima, kenapa lamban sekali wanita itu mengambil keputusan. Padahal mudah sekali bukan jika hanya untuk berkata "iya, aku maafkan!"
Tapi wanita itu justru sengaja mengulur waktu lebih lama lagi. Apakah senang bagi Rima memandangnya merendahkan diri di hadapan seluruh keluarga? Biar bagaimanapun, gadis itu tetap saja menyalahkan Rima atas kondisi sang mama.
Dihyan terus berusaha menggosokkan minyak kayu dibawah hidung mama, telapak tangan dan juga pelipis. Sesekali memanggil mama dengan lembut.
Beberapa saat, mama mulai mengerjapkan mata demi menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Mah." Semua mendekat dengan wajah lega meski masih menyisakan sedikit kekhawatiran.
Mereka masih memberikan kesempatan pada wanita itu mengembalikan kesadaran secara penuh. Mama memijat pucuk hidung bergantian dengan pelipis.
" Perasaan mama gimana? Ada yang sakit?" Dihyan mewakili semuanya.
__ADS_1
" Biar aku periksa dulu mah!" Rima kembali maju mendekat.
" Tak perlu, kita tunggu saja dokter!" Kalimat yang keluar dari bibir papa mampu menghentikan kakinya yang hendak menaiki ranjang.
Ia ditolak. Papa lebih memilih memanggil dokter lain dari pada menggunakan jasa gratis dari anggota keluarganya.
Mungkin papa kecewa dengan mereka berdua.
Hingga beberapa waktu lamanya, seorang dokter wanita telah muncul bergabung dengan mereka semua di kamar mama.
"Kalian boleh keluar!" Suara papa kembali menjadi komando untuk mereka semua. Memberi ruang pada dokter itu memeriksa kondisi wanita yang selama ini menemani hari-harinya.
"Kalian juga!" Kini papa menjurus pada Rima dan Diandra yang terpaku di tempat. Padahal mereka masih berguna di sini, tapi, ah sudahlah!
Kini semua telah mengambil langkah meninggalkan kamar itu, menyisakan papa, mama dan sang dokter.
Dengan langkah lunglainya Rima lebih memilih melaju ke arah kamar. Kamar Dihyan yang berada di rumah ini. Baru membuka pintu ia telah disambut dengan sebuah bingkai besar. Gambar sepasang pengantin yang menampakkan kebahagiaan melalui senyum indah itu.
Kaki jenjang itu terus melangkah meski rasa hati sempat tersinggung dengan penolakan papa.
Jika dulu ia merasa kuat saat ada mama yang selalu mendukungnya, namun kini ia tak tahu pada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan dan merebahkan tubuh saat lelah.
Peran Mama Cinta begitu sangat berpengaruh dalam seluruh kehidupannya.
Mama Cinta yang mampu menggantikan sosok ibunya menjadi sandaran ketika ia tengah merasa lelah.
Mama Cinta yang menjadi pelariannya saat jenuh kala menghadapi masalah.
Namun wanita itu kini terbaring lemah. Tak bisa membelanya kala papa Mertuanya justru mengusirnya.
Siapa yang bisa ia salahkan sekarang ini? Ia tak hendak menikmati kesalahan itu. Ini bukanlah salahnya.
__ADS_1
Padahal papa menolaknya karena melihat kekhawatiran yang tergambar jelas di matanya. Papa tak ingin memberikan beban dipundak itu terlalu banyak.
Kaki melangkah pelan dengan pandangan masih terpaku pada bingkai besar nan indah berwarna emas.
"Mbak?"
Sapanya pada gambar yang terpajang di dinding. Wanita yang tengah memeluk lengan sang suami.
"APa kabar? Baikkan?" Rima tersenyum miris.
"Mbak pasti sudah bahagia di sana, iya kan? Sementara aku?"
"Aku terluka mbak, aku terluka." Ucapnya dengan menunduk.
" Tapi tak ada yang mau tau dengan perasaanku saat ini."
" Aku bahkan telah mengorbankan cintaku, tapi apa yang aku dapatkan?"
" Tak ada kecuali rasa kecewa. AKu marah, sedih tapi tak bisa menunjukkan semuanya pada orang lain."
Ia bahkan hendak mengeluh, mengeluarkan segala yang mengganjal dalam hatinya, tapi pada siapa?
"Mungkin selama hidup mbak Nindy merasa beruntung memiliki suami yang mencintai dengan tulus, tapi aku,...?"
Ia ingin mengatakan jika ia tak bisa memiliki pria yang mencintai dan ia cintai, namun rasanya itu tak wajar, takut jika ada yang mendengar terutama Diandra.
" Aku punya suami tapi seperti tak ada. Dia hanya menginginkan anak dariku saja!"
Hanya sebatas itu anggapannya terhadap pria itu.
"Rima."
__ADS_1