
Dihyan tersenyum saat mendapati Rima telah berdiri di ambang pintu dan kini turut memandanginya.
Pria itu mengulurkan tangannya pada sang istri, sejak tadi Ia hanya duduk seorang diri di sebuah kursi malas dan sekarang sudah ada Rima yang ia tarik ke dalam dekapannya, menemani.
" Adeknya mana?"
" Masih tidur!"
Setelah tanya jawab yang singkat itu, kini suasana kembali hening. Dihyan
" I love you!"
Rima yang sudah dari tadi tenggelam di dalam dekapan Dihyan kini mengangkat kepalanya kala mendengar kalimat manis itu.
Wanita itu bahkan mendelikkan pandangannya pada sosok yang baru saja berucap, memandang Dihyan yang justru tersenyum manis padanya.
Tak lupa pria itu menjatuhkan sayang di kening sang istri, seolah meyakinkan jika ucapan itu benar ia ucapkan dengan sesadar-sadarnya.
" Kenapa, nggak tahu bahasa Inggris?" Tanyanya saat Rima justru memandang aneh padanya. " Sekarang sudah ada gogele, jadi gak ada alasan lagi untuk tidak tau!"
Namun Rima hanya melongo memandanginya. Terlihat lucu kala wanita cantik itu terdiam dengan bibir yang terbuka dan mata yang membulat, emm seperti apa yah? Dihyan justru mencari persamaan istrinya kini.
" Aku mencintaimu!" Ucapnya lagi masih dengan bibir yang tersenyum melihat kebingungan di mata sang istri.
" Kenapa?" Tanyanya lagi, pria itu masih saja menahan senyumnya.
" Nggak tahu maksudnya? Tahu bahasa Indonesia kan?"
Iya tahu, menurut Rima ini aneh, bahkan benar-benar aneh.
Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan kalimat cinta ini dari bibir Dihyan. Dia pun tak pernah mau bermimpi tentang hal ini.
" Aku mencintaimu Rima!"
" Aku mencintai istriku ini!"
Kini ia telah menjatuhkan sayang tepat di bibir yang masih terbuka itu, dengan begini iapun tak perlu bersusah payah.
Wanita ini telah mengorbankan banyak hal untuk mereka. DIrinya, saudaranya bahkan seluruh keluarga.
Tak perlu Berbicara tentang kebahagiaan dulu. Itu akan datang dengan sendirinya setelah mereka saling menerima satu sama lain.
Dan Ia memang merasa wajib untuk mencintai wanita cantik dan baik hati ini. Beruntung Nindy memberikan Rima padanya, rasanya ia harus berterima kasih pada mendiang istri pertamanya itu.
Dalam hati berjanji akan mencoba membahagiakan Rima di sisa hidup mereka.
Sejenak mereka terdiam dengan kening yang saling menyatu, membiarkan bibir basah dan kering dengan sendirinya.
Dihyan kembali menarik tubuh sang istri, wanita yang ia cintai ini ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Memandang luruh ke arah sana, sambil menikmati debaran jantung yang datang secara tiba-tiba.
Ya, ia merasa berdebar setelah lancang mengucap kata cinta untuk Rima. APakah memang seperti ini?
" Diandra akan Meminta cerai dari Reno."
Atau mungkin kalimat ini yang sedari tadi Dihyan pikirkan dalam diamnya.
" Kenapa?"
" Katanya dia tak mungkin terus memaksakan cintanya." Dihyan.
" Reno tak mencintainya."
"Jangan!" Rima me-mekik sambil menjauhkan tubuh. " Jangan sampai mereka benar-benar berpisah."
" Tapi mereka tak akan bahagia meski bersama." Dihyan.
" APakah kamu pernah berpikir akan sampai ke garis ini bersamaku?" Garis di mana pria itu mengucapka kata cinta untuk wanita yang pernah ia anggap melepaskan kebahagiaannya.
Dihyan mengerjapkan mata, memandang serius pada wanita yang terlihat terdapat sebuah permohonan dari sorot matanya.
"Kita tak bisa memaksa mereka untuk tetap bersama Rima."
"Bisa." Seyakin itu wanita ini. Seyakin ia yang telah melihat betapa gigihnya pria ini dalam mempertahankannya.
DIhyan menggelengkan kepalanya, tak yakin.
" Hehehe," Pria itu hanya terkekeh mendengarkan.
" Kamu juga pasti bisa melakukannya pada pernikahan Andra dan Reno kan?"
"Bukan aku RIma, tapi papa. Waktu itu aku yang mohon sama papa untuk menunda permohonanmu itu."
"Jadi lakukan lagi itu untuk mereka."
Ck, kenapa sekarang wanita ini terlihat keras kepala yah, kok jadi kesal sendiri.
"Yah, yah. AKu bantu deh ngomong sama papa!" Pintanya lagi.
" Kalau kamu mau, tunjukkan saja jika kamu bahagia dengan pernikahan kita." Kini senyum Dihyan telah surut berganti dengan wajah yang serius. Ia yakin jika Reno masih mengharapkan Rima.
"Akan aku usahakan."
" MAu tau caranya bagaimana?" Pria itu tersenyum, tapi ada yang aneh dengan senyuman itu, apa yah?
" Bagaimana?"
" Hamil lagi! Kamu hamil anak kedua kita!"
__ADS_1
Ck, apaan sih.
"Aku serius Rima. Dengan kamu yang kembali mengandung anak kedua, itu artinya kita telah berhasil melewati segala rintangan. "
Namun Rima masih bergeming, tak menunjukkan reaksinya.
"Atau gini aja!"
Emm, pria itu memperbaiki posisi tubuhnya, sepertinya ada sesuatu yang serius yang akan ia katakan.
" Aku akan membuatkanmu sebuah klinik sendiri jika kamu hamil anak kedua."
Krik.
Krik.
Krik.
Masih diam dengan Rima yang semakin memandangnya bingung.
" Aku serius Rima."
" Jika kamu telah hamil, kita langsung cari lokasinya." Pria itu bahkan berbicara dengan menggebu, semangat sekali.
" Ingat, reputasimu sebagai dokter kurang baik."
"Iya tahu! Dan kamu yang membuat reputasiku itu buruk!"
Dan kini tawa pria itu pecah seketika.
Ia akui jika yang dikatakan Rima memang benar. PErmasalahan yang sering mereka hadapi kadang membuat Rima mangkir dari pekerjaannya. Dan itu membuat ia dicap sebagai dokter p3malas oleh rekan-rekannya.
Belum lagi, ia yang hanya bertugas saat matahari terbit saja. Dan itu semua permintaan DIhyan langsung pada pemimpin Rumah sakit.
" Ya makanya, aku ingin membuatmu lepas dari tuntutan-tuntutan itu. Jika kamu punya klinik sendiri, maka kamu lebih leluasa mengatur waktumu. Bagaimana?"
" AKu seperti menjval rah!m demi sebuah klinik." Tubuh wanita itu melemah seketika.
"Bukan menjual Rima, Ck kamu ini bahasanya kok gitu."
" Anggap saja ini sebagai hadiah kehamilan untukmu. Syaratnya hanya sebuah tesp3ck bergaris dua. Ok?"
"Baiklah. Deal." Tangan wanita itu terulur hendak menjabat tangan DIhyan. Namun pria itu justru memilih bangkit dari duduk malasnya.
"Baikah, mungkin kita harus bekerja keras mulai dari sekarang!"
Dihyan telah mengangkat tubuh Rima dalam gendongannya, melangkah menuju ke kamar. di sana ya akan memulai sebuah kata bekerja keras.
...----------------...
__ADS_1
nggak usah dijabarkan ya bagaimana cara Dihyan bekerja keras.
kan otor termasuk Insan Solihun.