
Hingga pagi menjelang kembali Rima mendapatkan tangan suaminya bertengger di atas perutnya, dan kaki yang
juga menimpa kakinya. Jangan lupakan bantalnya yang juga ditumpangi Dihyan.
“Pak, aku mau bangun. Aku mau berangkat kerja.” Ucapnya ketika tangan Dihyan semakin terasa berat saat ia
ingin memindahkannya.
“Hemm,” Dihyan.
Untunglah setelah itu ia mau memindahkan tangannnya dari tubuh Rima.
Dengan begitu Rima dapat segera bangkit menuju ke kamar mandi.
Dan saat ia keluar dari kamar mandi, Dihyan telah duduk bersandar di head board ranjang, “ Periksa pesanmu!” Ucapnya tanpa menatap Rima.
Sementara Rima hanya mengambil pakaiannya dan memilih memakainya di dalam kamar mandi, tanpa peduli dengan apa yang diucapkan suaminya.
Masih ngantuk, namun pekerjaan menantinya.
Kembali keluar setelah menggunakan pakaian lengkapnya.
Berganti Dihyan yang memasuki kamar mandi, tapi kemudian pria itu berbalik menatapnya, “Tolong ambilkan
pakaianku di kamar dong!”
Apa? Dihyan meminta diambilkan pakaiannya? Di kamarnya?
Memangnya tak apa jika Rima masuk ke sana?
“Aku boleh masuk ke sana?” Tanya Rima dengan bimbang.
“Kenapa? Cuma ambilkan pakaianku kan?” Kemudian menutup pintu kamar mandi.
Baiklah!
Rima harus masuk ke kamar Dihyan dan Nindy hanya untuk menyiapkan pakaian suaminya.
“Periksa pesanmu!” Ia ingat kata-kata Dihyan saat ia telah berada di RS.
Pemberitahuan tentang uang yang masuk ke rekeningnya sebesar Rp. 10.000.000,-
Dan pesan dari Dihyan.
Sewa kasur sebesar Rp 7.500.000,-
Sewa bantal @ Rp 500.000,- = Rp. 1.000.000,-
Sewa guling Rp. 500.000,-
Sewa selimut Rp. 1.000.000,-
Total Rp.10.000.000,-
Mungkin ini adalah rincian dari dana yang tadi masuk ke rekeningnya.
Ia tersenyum sangat lebar. Dihyan benar-benar membayar sewa kasurnya sebelum di tagih.
Tapi tunggu dulu, itu berarti dia mendengarkan ocehan Rima semalam termasuk saat ia mengocet tentang om-om gunung merapi? Om-om labil dan om-om puber?
Oh God!
__ADS_1
Mampus kamu RIma!
\=============
Semua jenis pekerjaan pasti memiliki konsekuensi tersendiri. Apapun itu, harus dijalankan.
Seperti Rima yang saat ini masih berada di rumah sakit meskipun jam kerjanya telah lama usai.
Sebuah kecelakaan beruntun terjadi di simpang lima sudut kota.
Sebuah truk tronton kehilangan kendali. Truk mengalami rem blong dan menyeruduk, menabrak sejumlah kendaraan roda dua dan empat yang tengah mengantri menunggu pergantian lampu merah ke lampu hijau.
Banyak korban berjatuhan dalam peristiwa naas tersebut.
Semua tenaga medis diturunkan, demi menanggulangi korban jiwa bertambah.
Termasuk Rima, yang harus menunda kata pulang.
Berkejar-kejaran dengan waktu, demi meminimalisir kata terlambat pada korban.
Pukul 20 lebih, mereka baru bisa bernafas lega.
Seluruh pasien telah mendapatkan pertolongan pertama.
Duduk berselonjor di lantai RS, menghilangkan sedikit penat dan lelah yang sempat terlupakan. Air dalam kemasan banyak yang telah tandas.
"Makan?"
"Iya, lapar banget."
Berjalan bergerombol perlahan dengan sendirinya langsung terbagi hingga beberapa kelompok.
Kantin rumah sakit seketika penuh dengan tenaga medis yang Memang harusnya pulang sejak tadi. Pun dengan Rima.
Dan Saat menu telah kosong, hampir serempak berdiri meninggalkan kantin. Menuju kendaraan masing-masing, meninggalkan Rumah Sakit satu persatu.
Sementara di sudut sana, sepasang mata tengah mengintai dari balik kemudi mobil.
Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengobati Rindu Di hati.
Pukul 8.30, Jalan raya ya masih terlalu ramai meskipun saat malam.
Sepertinya malamnya kurang mulus.
Bayangan berbaring di kasur empuknya harus ia tunda saat menyadari keadaan motornya kurang baik.
Belum setengah perjalanan, entah mengapa motornya berhenti.
Ia mencoba mematikan, lalu menghidupkan kembali motornya tapi tak bisa. Seberapa keras ia memaksakan, motornya tak mau menyala. Hanya suara mesin yang seolah mengatakan maaf aku tak sanggup lagi.
Turun dari kendaraan roda dua itu.
Heh, menghembuskan napas dengan keras. Rasa lelah baru terasa.
Heh, harus apa di saat-saat seperti ini?
Kak Romi, ya meminta bantuan pada kakaknya.
Tapi baru saja ia membuka jas jinjing untuk mencari ponselnya, sebuah mobil putih telah singgah dihadapannya.
Pikirannya semakin kalut.
__ADS_1
Apa jangan-jangan orang yang akan berniat buruk padanya. Bisa sajakan? Malam-malam begini, apalagi dia hanya seorang wanita.
Pintu terbuka, dari ekor matanya ia menangkap sosok yang turun dari mobil adalah seorang pria. Dan pria itu
terus berjalan mendekati Rima yang hanya terus menunduk bersiap melayangkan tas jinjingnya jika saja lelaki itu berbuat yang tidak-tidak padanya.
Jika pria itu memang menginginkan tasnya, tak apalah. Akan ia berikan secara Cuma-Cuma asalnya dirinya selamat.
"Hai Rima."
Ia terhentak saat mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang.
menegakkan kepala demi melihat sang pemilik suara.
Suara itu sangat ia kenali.
Dan benar Reno telah berdiri tepat dibelakannya.
Reno, pria yang pernah singgah di hatinya, dan bahkan mungkin hatinya masih tersisa sedikit rasa itu.
Apakah ini rindu, karena seolah ia ingin sekali memeluk pria yang telah berada di hadapannya ini.
Jantung berdegup kencang, jari berhenti di atas layar ponsel.
senyuman manis yang disertai dengan tatapan Teduh semakin menenggelamkan angannya.
Begitupun Reno yang diam seribu bahasa, hanya mampu menatap dalam raut wajah cantik yang sangat ia rindukan.
Dan kenapa Reno bisa berada di sana saat Rima membutuhkan bantuan?
Bila ia mengatakan kebetulan, jangan percaya, karena tak ada yang kebetulan di dunia ini.
Justru sedari tadi Reno memang memperhatikan dari jauh sosok yang selalu mengisi hatinya, hingga ia berada
tepat dihadapan Rima setelah melihatnya mengalami kesulitan saat motornya tak bisa dijalankan.
" Kenapa?" Pertanyaan yang Reno lontarkan saat ia mulai tersadar.
Pula mampu menyadarkan Rima dari Kelana otaknya.
“Mogok,” jawab Rima yang telah menurunkan pandangannya, karena hanya dengan menatap Reno ia yakin hatinya
sakit.
Pria yang berdiri di dekatnya ini terlalu menggoda iman.
Tampan, lembut dan baik hati.
Sayang pria ini bukan tercipta untuknya.
“Kok bisa?” Reno mulai memajukan dirinya mendekati motor Rima, mengamatinya dari dekat. “Kapan terakhir
service?”
“Hah, service? Aku lupa,” Rima sembari menggigit jarinya, sedikit malu.
Terakhir kak Romi membawa motonya untuk di service sewaktu ia belum menikah. Itu sudah cukup lama. Yang jelas sebelum menikah.
“Kita panggil orang bengkel saja yah?” Reno mulai memainkan ponselnya.
“Kakak punya?” Rima.
__ADS_1
“Langganan kantor, tunggu yah!” Reno mulai menghubungi orang yang katanya bengkel langganan kantornya itu dan menyebutkan nama jalan tempat keberadaan mereka saat ini.