Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Orang Iseng


__ADS_3

Tok.


Tok.


Tok.


Dua orang pria berdiri masing-masing di pintu Rima dan Leli sambil mengetuk kaca jendela mobil.


Tak nampak wajah karena tertutupi oleh scraft bermotif. "Keluar!"


Kedua wanita itu terkejut, saling memandang, "Buka gak?" Lely.


"Ya kan memang mau turun. Gak bisa turun kalau pintunya gak dibuka." Santainya seorang Rima.


Berniat untuk menikmati hasil keringat dengan memanjakan perut. Mereka berlabuh di sebuah restoran demi menikmati seporsi seafood.


Bukan restoran bintang lima, asalkan nyaman dan pas dikantong.


"Masalahnya kita gak tau mereka itu siapa." Lely.


Pembicaraan masih berlangsung, dan kedua pria juga masih menunggu di luar sambil kembali mengetuk jendela kaca.


Rima menatap keluar mobil, suasana malam hari tak terlalu sepi. "Masih rame kok."


Tak perlu terlalu khawatir pikirnya.


"Ya udah."


Selesai kata itu, mereka sama melepas seatbell bersiap untuk turun.


"Ada apa?"


Lely mendahuli, mungkin ia telah melakukan kesalahan saat mengemudi tadi. Senggolan kecil bisa saja terjadi.


Sementara di sebelah, pria satunya langsung menarik Rima menjauh dari sana.


"Eh, eh. Ngapain? Main tarik-tarik aja!" Ocehnya sambil sedikit membungkuk demi menahan bobot tubuh.


Sementara pria yang berdiri di hadapan Lely turut bergerak cepat dengan membalikkan tubuh, mengumpulkan tangan di belakang gadis tubuh itu. Pergerakan gadis itu kini telah terkunci.


Rima mulai menyerang, melayangkan pukulan dari satu tangannya yang bebas. Tepat mengenai dada, pria itu sempat mengeluh sebelum kembali mencoba meringkus Rima.


Sadar jika dirinya terancam, kaki masih bebas hingga mampu melayangkan tendangan di kepala pria itu.


Merasa bersukur setelah dulu mencaci maki Lely yang sering membanting tubuhnya tanpa ampun.


Ternyata dunia memang tak sesantai yang ia pikirkan. Kadang harus memaksa tubuh menerima sesuatu yang menyakitkan hanya demi keselamatan.

__ADS_1


"S!al!" Pria itu kembali mengeluh. Tak siap sebenarnya jika harus mendapatkan serangan itu. Pikirnya wanita anggun ini lemah dan tak bisa berbuat apa-apa.


Menatap RIma yang menggunakan rok sepan yang telah ditarik hingga ke atas lutut dengan kuda-kuda yang siap menyerang.


Sementara Lely, mencoba mengeser tubuh demi menghindari tekanan di pundaknya. Segera berbalik turut menyerang dengan menghentakkan lutut ke atas, tepat mengenai alat vital lawan.


"Euuugggh." Keluh pria itu meringis sambil mencengkeram adik kecilnya. Menunduk dengan berjingkat-jingkat mencoba menyalurkan rasa sakit. Ngilu sekali.


Entah dari mana datangnya dua pria lain dengan penampilan yang hampir sama, hoodie berwarna gelap dan scraf yang menutup wajah.


Tak boleh lengah sekalipun pukulan Lely segera mendarat di dada pria yang satunya.


Namun tidak untuk RIma. Ia merasa dikepung dengan dua pria sekaligus.


Dan dengan penampilannya yang seperti ini, rasanya kurang bebas. Bahkan belahan di belakang roknya kini telah bertambah semakin ke atas.


Masih tetap siaga dengan kuda-kudanya. Melirik satu persatu pria yang juga siap menyerangnya.


"Tunggu!" Ucapnya dengan mengulurkan tangan ke depan, kaki telah rapat tanpa kuda-kuda lagi.


Menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Hingga akhirnya, "TOLONGGGG!"


"TOLONGGG!"


Sontak semua orang mendekat, hampir membentuk lingkaran mengelilingi mereka.


Gila!


Sudah sedari tadi ia berkelahi di sini, bahkan bajunyapun telah basah karena keringat tapi tak ada seorangpun yang maju demi melerai mereka.


Dan kini hanya dengan bermodalkan suara nyaringnya, orang-orang telah berkerumun saja.


Coba dari tadi kek, tidak perlu capek-capek begini.


Lely mengedarkan pandangan, mereka menjadi perhatian.


"Dia mau rampok saya!" Teriakan Rima kembali ditujukan pada ke dua pria dengan penutup wajah di hadapannya.


Keempat pria itu saling melirik Tak Bergerak. Salah dalam mengambil tindakan mereka mungkin saja menjadi bulan-bulanan massa.


Satu gerakan kepala dari salah satu dari mereka menjadi komando bagi yang lain untuk segera meninggalkan lokasi.


Salah satu dari mereka harus di papah oleh temannya yang lain. Pangkal paha masih terasa nyeri setelah menerima tendangan maut.


"Isssh, Kenapa tidak diburui?" Satu suara mulai terdengar dari belakang.

__ADS_1


"Iyo! begal Mungkin yang tadi?" Disambung yang lainnya.


Kini barusan itu mulai maju, mendekati keempat pria.


Barisan terhenti saat melihat keempat pria justru menaiki mobil.


"Mana ada begal naik mobil?" Suara lain terdengar.


"Perampok mungkin?"


"Sudah mi! Sudah mi! Aman mi toh?" Seorang pria bertubuh gempal melarai kerumunan kemudian berjalan ke arah Rima, "Tidak apa-apa ji dek?"


"Iye om. Makasih banyak Om!" Rima sambil menunduk sopan pada pria itu. Tinggal beberapa bulan di kampung orang, ia telah bisa mengerti bahasa sehari-hari mereka.


"Rok kamu sobek, masih tetap mau makan?" Lely yang turut menghampiri, berdiri di belakang Rima demi menutupi bagian tubuh yang terlihat.


"Ya makan lah. Tambah lapar malahan." Rima.


"Ya udah tunggu!" Lely menggiring Rima menuju mobil, mengambil jaket dari dalam mobil lalu melilitkan di pinggang Rima untuk melindungi.


Sejenak mereka lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mungkin karena perut telah menyahut untuk di isi. Tenaga lumayan terkuras sejak tadi.


Kembali menjadi topik pembicaraan saat mereka berkumpul di rumah. Hanya sebagai bahan pembicaraan ringan bersama Romi sebelum masuk ke kamar.


Namun pria itu Justru menanggapinya dengan serius. "Kamu bener kalau mereka cuma perampok biasa?" Romi.


"Ck, rugi banget rampok orang kayak aku?" Rima dengan entengnya.


"Rugi apanya? Lumayan loh kalau dapat mobil sama dompet." Lely. " kaca spion aja bisa dijual." Lanjutnya.


"Tapi masalahnya itu di parkiran loh, bukan di lorong-lorong sepi. Emang tukang parkirnya nggak ada ya?" Romi.


Kedua wanita itu saling memandang.


Mau dibilang tukang parkir ada, tapi sewaktu mereka baru masuk ke area itu memang tidak ada.


Pria berompi orange itu muncul saat mereka hendak meninggalkan lokasi saja. Memandu baik jalannya mobil saat hendak keluar dari area parkir.


"Mungkin lagi ke toilet." Rima.


"Bukan, Tukang parkirnya ada waktu mau bayar saja." Romi dengan wajah tenang, mulai bersandar di sandaran sofa.


Hari-hari selanjutnya, Romi menjadi sopir kedua gadis itu, hendak melindungi dengan caranya. Motor yang biasa ia gunakan beraktivitas tersimpan rapi di halaman.


Lely memang jago, namun dari cerita mereka dulu empat orang pria menjadi berat dihadapi oleh dua orang wanita.


To Be Continued!

__ADS_1


Jangan lupa oleh-olehnya kak. Bisa like, comen, vote juga boleh


__ADS_2