Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Ada Apa Dengan Reno?


__ADS_3

Reno menendang, memukul kosong demi melampiaskan segala rasa yang ia rasakan kini. Di hadapannya, hamparan pasir dan birunya air laut menjadi pandangan. Tempat ia melepas kesakitannya.


Lagi-lagi Rima menolak ajakannya. Ia yang hendak pergi membawa Rima keluar dari keluarga besar yang merusak hubungan mereka. Ke mana saja asalkan jauh dari jangkauan keluarga itu. Masalah kehidupan tak terlalu ia pikirkan, toh mereka sama-sama memiliki kemampuan untuk bertahan dan mencari nafka.


Dan hanya karena takut menyakiti keluarga, Rima enggan untuk bersamanya padahal mereka saling mencintai.


Arrrgggghh.


"RIMA."


Di sini ia bebas berteriak apa saja, di bawah teriknya sang mentari tanpa harus memperdulikan pandangan orang-orang padanya.


Meski begitu rasa cintanya pada Rima belumlah surut, yang ada hanyalah kebencian pada sang istri, Diandra.


Semenjak menikah dengan gadis itulah, Rima menjauhinya.


Dan semenjak itu pula, Rima lebih memilih suaminya dari pada harus bersama dirinya seperti janji mereka dulu.


Belum lagi perasaan benci pada Dihyan yang telah berhasil menikahkan dirinya dengan Diandra.


Semua ini karena kedua saudara itu.


Pasir yang semula tengah menikmati deburan ombak kini berhamburan akibat tendangannya.


Dadanya kembang kempis menikmati amarah yang ia nikmati di tepi pantai ini. Kaki yang terbalut sepatu pantofel telah basah saja, namun itu belum cukup meredakan panas dalam dadanya.


Hingga sebuah ide konyol kembali melintas di benaknya, ia tersenyum miring saat sebuah bayangan bola lampu menyala di atas kepalanya.


Gegas ia melangkah kan kaki kembali ke mobil mengabaikan pakaiannya  yang sedikit berantakan.


Rumah menjadi tempat tujuannya saat ini. Meski masih jauh dari kata pulang kerja, ia telah sampai di rumah terlebih dahulu. Membuat ibu yang sedang mencuci piring bekas makan siang menatapnya dengan penuh tanya.


"Kok sudah pulang?"


"Hemmm," Hanya berdehem menjawab pertanyaan ibunya.

__ADS_1


"Sudah makan?"


Makan? Ia bahkan lupa telah meletakkan di mana kotak nasi yang tadi ia beli untuk makan siang bersama Rima.


Krukk.


Krukk.


Krukk.


Perutnya berbunyi menandakan ia memang lapar.


"Belum."


"Mau makan?"


"Boleh bu."


Pria itupun menempatkan tubuhnya duduk di depan meja makan, menatap sang ibu yang bergerak menghidangkan kembali makanan untuk putranya.


Hari masih siang, harusnya pria itu telah kembali bekerja setelah jam istirahat usai, tapi sosok itu justru duduk dan menyantap masakannya, aneh.


"Aku harus ke luar kota, hari ini berangkat." Padat dan jelas Reno berucap di sela kunyahannya. Pria itu menunduk menyembunyikan wajah yang mungkin saja bisa menampakkan kebohongan.


Ibu hanya menganggukkan kepalanya, "Berapa hari? Sudah bilang pada istrimu?"


Dan kini pria itu tak tahu harus menjawab apa, hanya diam sambil menikmati masakan ibunya.


Setelah ini ia akan benar-benar bersiap dan pergi, entah kapan lagi bisa menikmati masakan paling nikmat di jagat alam seperti ini.


Mengganti pakaiannya yang telah kering di badan setelah membersihkan diri, lalu segera mengepakkan pakaiannya ke dalam koper. Jujur ia masih berpikir hendak ke mana setelah ini. Belum ada opsi, meski rasa hendak pergi itu begitu menggebu.


Dengan menyeret kopernya, Reno keluar dari kamar. Kamar yang kini ia tinggali bersama dengan istrinya.


Ia tak memiliki rencana untuk menghubungi Diandra sebelumnya, meski bertemu juga belum tentu mereka saling menyapa.

__ADS_1


B0d0h sekali wanita itu mau bertahan dengan seorang pria yang tak pernah mencintainya, bahkan tak menganggapnya ada.


"Ibu," Panggil Reno pada sosok yang sedang duduk di sofa depan tv yang menyala. Mata itu tertutup rapat dengan bibir yang sedikit terbuka, menandakan ia sedang tertidur meski dalam keadaan duduk.


"Ibu tidur? Kenapa gak pindah ke kamar aja?"


Sepasang mata indah itu mengerjap, berusaha membohongi diri jika ia tak tertidur di depan tv. Lalu tersenyum meyakinkan diri.


"Kamu sudah siap-siap? Sudah mau berangkat sekarang?"


Reno telah rapi kembali, tangannya terulur menyentuh rahang sang putra, entahlah perasaannya kini mulai merindu saja, padahal hal ini sudah sering ia hadapi.


"Kalau mau tidur ke kamar aja, badan ibu bisa pegal-pegal nantinya!"


Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum mendapat perhatian seperti itu.


"Tapi kunci pintu dulu yah!" Reno telah bangkit kembali di susul sang ibu yang hendak melepas kepergiaanya hingga ke teras.


"Reno pergi dulu!"


 Pelukan hangat ia berikan pada sang ibu, tak lupa memberikan kecupan sayang di kening sebelum melepaskan dekapan yang entah kapan lagi akan ia dapatkan. Bahkan pria itu terdengar beberapa kali menghela napas panjang demi melonggarkan rongga dadanya yang seperti terhimpit saja.


Ibu hanya terdiam menerima perlakuan dari sang putra, entah mengapa rasanya semakin seperti ada yang lain.


"Jaga diri baik-baik! Sampaikan salam sayang buat Dira, sama bapak juga!"


" Kalo pagi ngak usah terlalu lama di penjual sayur, gosipnya makin banyak dosanya juga tambah banyak, hihihi!"


Perasaan Ibu semakin penasaran saat menerima panjang lebar pesan yang diberikan putranya. Dan apa tadi, salam? Tumben sekali Reno menyampaikan salam seperti itu, biasanya hanya sekedar memberi tahu lalu pria itu ngacir sendiri, atau paling hanya memberi sedikit uang jajan untuk adiknya.


Tapi sekarang, pamitan kali ini terasa sangat berbeda.


Belum lagi senyuman dan usapan yang lagi-lagi diiringi dengan helaan napas panjang Reno semakin membuat ibu merasa aneh.


Ada apa dengan Putranya?

__ADS_1


__ADS_2