
" Kalau saya, ikut dengan keputusan bapak saja." Pak Udin langsung menjawab sedemikian rupa, mau jawab apa lagi menolak pun rasanya sudah semakin sulit.
Keberadaan mereka benar-benar diterima dalam keluarga ini.
" Ya tanyakan dulu sama anak-anak Pah, maunya gimana?" Itu suara mama CInta membuat seluruh mata kini memandang Diandra dan Reno secara bergantian.
" Reno bagaimana?" Pak Cakra memilih bertanya saat tak lagi mendengarkan jawaban.
" Terserah bapak saja."
Ia bisa apa di saat terhimpit seperti ini.
Ibu dan bapak jelas menginginkan Perjodohan ini. Tak lupa di sana ada Pak Herman yang turut memandangnya dengan dalam dan sama hangatnya.
Dalam hati merutuk, mengapa harus ada Ayah Rima di antara mereka di saat seperti ini? Ini akan semakin membuat sulit posisinya untuk mendapatkan Rima.
" Kamu Ndra?" pertanyaan yang sama untuk Diandra.
" Aku ikut saja keputusan mama papa." Jawab wanita itu malu-malu dengan menundukkan kepala.
Pipi telah merona merah, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya. Hari di mana menuju perjalanan cintanya pada seorang pria yang telah lama ia kagumi. Dan ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan apa adanya untuk meraih.
" Alhamdulillah!" Jawab mereka hampir serentak.
" Jadi sekarang kita bisa membicarakan pertunangan kan?"
Semuanya mengangguk menjawab pertanyaan Pak Cakra, kecuali Reno.
" Bisanya kapan?" Pembicaraan masih didominasi oleh Pak Cakra sebagai tuan rumah.
"Yan, Kapan perusahaan punya waktu senggang?"
Pria yang ditanya justru terkekeh, " Kamu Nenye? Kamu bertenye-tenye?" Lengkap dengan wajah menye-menye-nya.
"Yan, ini papah loh yang tanya? Kamu mau dikutuk jadi doraemon?"
Pria itu langsung terbahak seketika.
" Lagian papa tanyanya kayak gitu?"
" Tanya waktu perusahaan senggang? Jika perusahaan senggang, berarti perusahaan itu sebentar lagi akan bangkrut. Ya Nggak ada lah Pah, pabrik harus jalan terus biar Cuan terus mengalir."
"Ck, maksud Papa kapan, Aduh kok bingung gini yah? Kapan kita punya waktu? Masalahnya ada pada kita bertiga ini, Siapa yang memantau perusahaan nantinya? Gini nih kalau semuanya berada dalam satu perusahaan."
Dihyan sempat melayangkan protes, saat Papanya justru meminta bantuan pada ayah mertuanya untuk memantau perusahaan
" Oh iya ya, bisa-bisa menantu saya melakukan demo besar-besaran seorang diri. Hahaha!" Kembali tertawa.
" Acara pertunangan hanya berlangsung satu hari, jadi nggak usah terlalu pusing akan meninggalkan perusahaan berhari-hari. untuk segala kebutuhan dan persiapan kita bisa limpahkan pada para wanita."
Usulan Dihyan diterima dengan mereka yang saling mengangguk hampir serempak.
__ADS_1
" Jadi kapan waktu yang tepat?" Papa Cakra.
" Bulan ini mungkin bisa, tapi jangan akhir juga."
Pembicaraan ini masih terjadi antara kedua bapak anak itu.
Mungkin papa adalah orang yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam perusahaan. Namun Dihyan dan Reno lah yang Justru lebih tahu tentang keadaan di sana.
Mendengar ucapan Dihyan, Reno pun tak mampu berkutik, Ia hanya bisa membenarkan dalam hati namun tak mampu menolak pun mengiyakan ia tak bisa. Saat ini perasaannya Tengah kalut.
Apakah ia harus menerima Perjodohan ini sebagai jembatan untuk menarik Rima dalam dekapannya?
Lalu bagaimana dengan anggapan orang-orang yang berada di ruangan ini, terlebih Pak Herman.
Akankah pria itu membencinya?
Lalu bagaimana dengan ibu yang jelas-jelas tak menerima dan mengakui cintanya?
tak Maukah Rima kembali berjuang bersamanya?
" Bagus, dua minggu lagi kita sudah bisa ada kan acara pertunangan. Untuk semuanya biar ibu-ibu saja yang mengurusnya!"
Keputusan itu mampu menarik Reno tersentak dari alam khayalannya. Di bawah pandangan yang tertunduk Ia hanya mampu membulatkan mata penuh.
Bahkan sebagian hatinya tak mampu menerima keputusan sepihak ini.
Sejenak ia kembali terlarut sendirian dengan pikiran-pikiran yang membuat kepalanya terasa berat. Pundakpun turut, tak ada semangatnya.
Sementara di sana, para pria sedang bercengkrama. kembali hangat seperti pembicaraan ini sebelumnya. Ada Dihyan juga yang ikut bergabung.
Mengapa hatinya kesal saat melihat pemandangan ini.
Seandainya kalian tahu bagaimana perasaan pria itu saat ini.
Rasanya benar-benar menyesakkan dada.
Ingin mengamuk, menolak Segala keputusan, namun tak bisa. Tangan dan kakinya seolah terikat dengan erat di bawah harapan orang-orang yang berada di sini.
...****************...
Para tamu telah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan mereka dengan perasaan yang berbeda-beda.
Diandra masuk ke dalam kamar kakaknya, turut bergabung bersama Diva dan Rima yang memilih bermain ponsel sambil rebahan.
Ia berjalan menghampiri keponakannya terlebih dahulu, memberikan kecupan sayang sebelum bergabung dengan dua wanita yang berada di atas ranjang.
"Uuughhhh," Dengan kedua tangan membentang, sengaja memang untuk mengganggu kedua wanita itu.
"Apaan sih kak, gangu kita aja deh! Mentang-mentang udah mau nikah juga." Suara Diva melayang diiringi dengan tangan yang bergerak demi menghempas tangan milik kakak perempuannya.
"Ssssttt, jangan ribut, keponakanku sedang tidur. Kamu mau diusir dari kamar ini?" Diandra.
__ADS_1
"AKu bahagiah." Ucapnya tanpa ditanya terlebih dahulu. Bahkan tanpa berbicara seperti itu, orang-orang akan tahu tentang kondisi hati gadis ini. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya, dengan wajah yang bersinar terang.
"Ck, lebay, bahagia-bahagia. Untung laku, jadi gak jadi peraw@n tva." Diva sewot, bahkan bibir gadis itu turut mencibir.
"Apasih?" Diandra membalikkan tubuh, membelakangi sang adik, menghadap ke arah Rima.
"Rima, aku bahagiah." Ucapnya lagi dengan memandang lekat wanita yang telah kembali menjadi sahabatnya ini.
Ia ingin Rima menjadi tempat mencurahkan segala isi hati setelah mama dan Dihyan.
Rima membalas dengan senyuman pula.
"Kamu tahu,...?"
Sejenak gadis itu terdiam, memilah kata. sementara Rima hanya mampu memandang mata yang penuh binar-binar kebahagiaan itu seraya menanti kata.
"AKu sudah lama menyukai kak Reno, tapi gak berani ngomong. Takut ditolak, takut juga kalau Kak Reno justru menghindar setelah tau perasaanku padanya."
Ck.
Ada suara mencebik di balik punggungnya. Ia tahu, Diva sedang kesal, bahkan mungkin mencibirnya lagi. Tapi tak peduli, itu juga sebabnya Diandra tak memilih Diva sebagai tempat curahan hatinya.
"Rima."
"Kamu tidak pernah punya hubungan dengan kak Reno kan?"
Pertanyaan yang mampu membuat seluruh organ tubuh terhenti sejenak.
Rima mengerjapkan mata, mengatur napas perlahan berharap segala perasaan gundahnya saat ini tak terbaca.
"Pernah." Ucapnya dengan keyakinan.
Hingga Diandra terkesiap dan Diva bangkit sedikit, kepalanya muncul di balik tubuh Diandra.
"Waktu Mbak Nindy masih hidupkan, Kak Reno sering ke rumah. Tapi aku gak terlalu berharap banyak, soalnya kak Reno terlalu ganteng sih, pasti banyak yang suka, iya kan?"
Puuuffttt.
Seketika suasana yang tadinya tegang kini berganti lega.
"Heem, kak Reno memang ganten sih, jadi mikir kita kalau punya cowok banyak yang suka." Diva membenarkan.
Membuat Andra juga menganggukkan kepalanya.
"Tapi setelah kamu baikkan sama kak Iyyan, udah gak suka lagi kan sama Reno?" Andra sedikit menuntut, tak ingin kebahagiaannya ternoda dengan kabar yang pernah ia dengar.
"Emang masih bisa suka?" Pertanyakan jebakan, karena Rima tak mampu menjawab Andra.
" Kakakmu mungkin bisa kesurupan, hahaha," Tertawa keras agar sedih yang bersarang di hati tak terlihat.
Seandainya Diandra tahu jika ada luka dalam hati wanita ini dengan adanya perjodohan ini, apakah Diandra masih mau melanjutkan hubungan itu?
__ADS_1
Dan apakah Rima hanya mampu berdiam diri menerima semua ini meski harus kembali terluka.