
Mobil melaju pelan kala memasuki halaman rumah Ayah Herman.
Terlihat sang pemilik rumah setengah duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi. Di tangannya ada selembar koran menemani.
Rima menatap nanar lurus ke depan sana, ayahnya yang turut memandang ke arah mobil mereka yang baru saja memasuki halaman rumah.
Kasihan sekali ayahnya, menikmati masa tua seorang diri tanpa kedua anak di sampingnya.
Mobil bahkan belum berhenti saat Rima mencoba membuka pintu, namun Dihyan segera bertindak cepat menggenggam tangannya sembari menahan pergerakannya.
" Sabar dulu Rima, biarkan mobil berhenti dengan baik!"
Rima menoleh, menatap pria yang sedang menggenggam lengannya. Ia hanya memamerkan wajah sedihnya. Rasanya sudah tak sabar untuk segera memeluk Cinta Pertamanya di sana.
Hingga mobil benar-benar berhenti tepat di depan rumah sang ayah, Dihyan masih menggenggam tangannya.
" Udah lepas aku mau turun!" Dan menepuk-menapuk tangan pria itu.
" Iya tapi pelan-pelan Rima, ingat kamu baru saja keluar dari rumah sakit!"
Wanita itu justru mencebikan bibir, kesal.
" Aku lepas tapi kamu pelan-pelan ya?"
Rima tak menjawab, Ia bahkan tak tak bisa berjanji untuk tidak berlari setelah turun dari mobil.
Dan benar saja, Rima mulai menahan perut bawah dan bersiap untuk berlari.
"Ayaah!"
Pria di depan sana telah berdiri dengan wajah yang sulit diprediksi saat melihat siapa tamunya saat ini. Terlihat beberapa kali mengerjakan mata, demi meminimalisir air di matanya.
"Rima!"
Pergerakan Rima langsung terhenti, berikut dengan wajah geram sang suami kembali menggenggam tangannya sembari menahan pergerakan kaki yang terlihat tidak sabaran itu.
" Pelan-pelan, gak usah lari!"
Wajah cantik yang seperti hendak menangis itu kini bercampur dengan kesal.
Hingga pria tua di sana memilih berjalan mendekati mereka.
" Ayah,dia nahan Rima," Ucapnya mengadu pada sang ayah yang telah berdiri di depannya dengan wajah yang tersenyum dan mata yang berkaca-kaca.
" Iya, aku bahkan akan mengurungmu dalam kamar, jika kamu tak bisa menjaga dirimu! Ingat tahun baru keluar dari rumah sakit!" Bukannya takut diadukan pada sang mertua Dihyan justru memarahinya, membuat ia kembali mencebikan bibir.
" Aku bilang tadi nggak usah lari!"
Ayah hanya tersenyum, kemudian Melangkah dengan kedua tangan yang merentang. Semakin maju, membuat senyum Rima semakin mengembang. Wanita itu turut merentangkan tangan, hingga akhirnya keduanya bertemu dalam dekapan.
__ADS_1
" Kangen!" Rima menenggelamkan wajah pada cerug leher sang ayah, dengan suara lirih hampir tenggelam dalam Isak tangisnya.
Perut buncit Rima menjadi perantara di antara mereka. Hampir dua tahun tak bertemu dengan sang ayah rasanya sewindu ia harus menahan Kerinduan.
" Iya Ayah juga kangen, kamu apa kabar?" Dengan lembut membelai punggung sang Putri kesayangan.
"Baik."
" Kita masuk ya, Kamu harus istirahat!" Tepukan di pundak Rima menjadi penyadar bagi mereka.
Tenggelam dalam pelukan hangat sang ayah membuatnya ia betah meski hanya berdiri.
" Ya sudah kita masuk dulu, nggak baik terlalu lama berdiri untuk ibu hamil!" Melepas pelukannya dari Rima, tangan kanannya terulur menyambut uluran tangan sang menantu.
" Ayah apa kabar?" Sapa Dihyan sambil melakukan takzim.
" Baik, kalian?"
" Alhamdulillah baik juga ya, itu kita bawakan cucu buat Ayah!"
Rima mencibir saat mendengar kata-kata mutiara seperti seseorang yang tengah memberi hadiah terindah. Namun Ia tetap diam, tanpa hendak membantah. Nyatanya kehamilannya menjadi hadiah tersendiri pada ayah.
Terlihat jelas senyum sang ayah yang semakin menjadi kala menatap perutnya disambung dengan elusan ringan seolah menyapa penduduk di sana.
Wanita itu lebih memilih memeluk lengan sang ayah, seolah ia enggan menjauh Sedetik pun dari pria ini.
"BIBI!"
Benar saja, wanita itu kembali bersiap untuk berlari.
"Non Rima, Ya ampun!" Suara di sana tak kalah histerisnya saat melihat Siapa yang datang. Wanita paruh baya itu turut berlari kecil ke arah mereka.
"Rima!" Geramnya Dihyan sambil berusaha meraih tangan sang istri.
" Aku beneran akan mengurungmu dalam kamar kalau kamu nggak bisa menjaga diri!"
" Ayah!" Panggil wanita itu manja, berharap mendapat pembelaan dari sang ayah.
" Suamimu benar, kamu sedang hamil besar, jangan lari-lari!"
Ia kembali memajukan bibir saat sang ayah justru membela pria ini.
" Non, ini benar non Rima? Ya ampun non udah hamil?"
Suara itu menghentikan perdebatan di antara mereka. Kembali menoleh dan tersenyum saat memandang wanita tua itu.
" Iya ini aku bi, Oh ya ampun kangen banget!" Ia harus menghempaskan terlebih dahulu tangan Dihyan yang kembali menahan pergerakannya baru setelah itu bisa memeluk art ayahnya itu.
" Yah aku titip istriku dulu, tapi hati-hati ya. Kehamilannya sedang rawan. Kalau ngeyel dimarahin aja!" Dihyan kembali memperikatkan.
__ADS_1
" Iya maaf-maaf, kami akan menjaga istrimu dan bayi kalian. Kamu tenang saja!"
Lagi-lagi Rima hanya mencibir saat Ayah kini berada pada Kubu Dihyan.
Berjalan beriringan, meninggalkan Dihyan bersama Pak Eko yang mengurus barang-barang mereka.
" Sudah berapa bulan?"
" Masuk ke delapan yah, bulatkan hehehe," Satu tangannya mengelus pelan memamerkan bentuk perutnya pada Ayah, sementara satu masih mendekap lengan itu tak melepas sedikitpun, sebentar-sebentar ia mendaratkan kepala di pundak kokoh itu.
Kapan terakhir ia bermanja seperti ini? Ah sudah lama sekali rasanya. Ingin mencoba pada DIhyan, nyatanya ia tak terlalu berani.
"Bawa ke kamar saja, Bisa?" Ayah menoleh saat melihat Dihyan tengah menenteng tas wanita, bisa dipastikan itu milik Rima sang putri.
Sementara Pak Eko menyeret koper milik mereka.
"Kamu juga istirahat yah?" Ajaknya pada sang istri.
"Aku di sini aja dulu! Janji gak ngapa-ngapain kok!" Ucap RIma memelas.
"AKu masih kangen sama ayah!" Kepala kembali di sandarkan pada ayah, tangannya melilit erat di lengan berharap tak kan segera lepas.
"Tapi jangan lama-lama yah, kamu kan harus istirahat. Aku janji kita nginap di sini beberapa hari, jadi masih bisa sama ayah lagi nanti!"
"Janji?" Wanita itu menoleh dengan segera. Mata berbinar penuh harapan bahwa semua ucapan sang suami benar adanya.
"Iya janji, makanya istirahat yah!"
"Bentaran lagi yah, masih mau sama ayah."
Sepasang suami istri itu tengah bernegosiasi ternyata.
"Kalau tidur sama ayah boleh?" Dikasi hari minta ampela.
"Gak boleh Rimaaaa."
" Kamu lagi hamil, kagang gak tenang kalau lagi tidur. Bisa-bisa ayah ikut begadang karena kamu."
Itu perintah mutlak untuk semuanya.
Wanita itu pasrah, kembali menyandarkan kepala di tubuh sang ayah. Meski terlalu banyak larangan, nyatanya ia harus puas sudah bisa pulang ke rumah ini kembali.
Matanya memandang ke seluruh ruangan. Nampak perabot-perabot rumah yang dulu tak ada kini kembali hadir menghiasi ruangan. Lukisan mahal, guci dan lain sebagainya.
Kehidupan ayahnya nyatanya jauh dari kata cukup, mungkin justru lebih menurutnya.
Namun apa benar, ayah tak mengetahui kondisi dan perjalanan rumah tangganya?
Apa Dihyan masih menjalankan tipuan yang dulu pada ayah?
__ADS_1
Atau ayah memang tahu, tapi enggan untuk berkata sebab terlena saat menikmati segala bentuk hadiah yang diberikan oleh pria itu.
Dalam hati ia merasa penasaran, namun ia harus siap andaikan jawaban yang ia dapatkan harus menyakiti hatinya.