
Hanya dengan pernikahan dadakan ini, mampu membuat Reno merasa bersalah besar pada Rima.
Terlebih setelah menerima penolakan Rima terhadapnya waktu itu. Membuat ia merasa harus meluruskan segalanya, pada Diandra dan juga Rima.
Harapannya pada Rima ternyata masih sangatlah besar, dan ia tak ingin kehilangan begitu saja.
"Aku mencintai seseorang!"
Ucapnya langsung dengan Diandra. Berada di dalam kamar di rumah bapak dan ibunya, berdiri dengan saling berhadapan. Ia tak pernah tahu, dan tak mau tahu tentang sakit yang dirasakan sang istri saat ini kala mendengar kalimat itu.
Diandra hanya mampu menutup mata demi menguatkan hati dan raga. Untuk kata itu, ia bisa menebak, tapi jujur tak bisa ia terima. Dan ia pun telah bisa membaca kemana arah pembicaraan itu. Bahkan ia bisa menebak siapa yang Reno maksud itu.
Tapi, ...?
Hatinya bahkan masih diam, seolah kepercayaannya itu tiadalah benar.
"Tak apa kak. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Bukankan cinta bisa datang karena terbiasa?"
Gadis ini masih saja memberi harapan pada Reno, juga cinta dan dirinya sendiri. Berharap suatu saat nanti mereka
"Maaf!"
Lagi Reno. Sejujurnya ia tak ingin mengekang Diandra dengan hubungan pernikahan ini, toh semua ini juga tak pernah ia harapkan.
Berlalu begitu saja, tanpa menanggapi, takut jika tanggapan itu justru akan semakin menyakitkan bagi gadis ini.
Diandra hanya tersenyum masam.
Berhasil memasuki kehidupan Reno, ia telah dibopong untuk turut tinggal dalam keluarga pria pujaan hatinya itu, namun belum mampu tinggal di hati Reno.
Hingga suatu hari kala senja menyapa bumi, ia yang baru saja datang seketika menegang.
Saat memandang seluet dua tubuh yang saling berdampingan duduk di teras belakang rumah mertuanya.
Ia tahu yang satunya, Pria pujaan hati yang telah menjadi suaminya.
Bersama dengan seorang gadis.
"Aku mencintai seseorang!"
Kalimat itu menjadi racun yang terus menghantui dan merusak hari-harinya.
Berjalan perlahan menuju ke arah sana dengan perlahan, berusaha agar tak menimbulkan bunyi apapun.
Nampak di sana, seorang gadis yang tengah bersandar mersa di dada Reno, yang di balas dengan tangan yang melingkar di pundak sang gadis.
"Kamu gak perlu pria lain selagi masih ada kakak. Limpah semuanya padaku, kamu mau sandaran, peluk atau minta uang juga, hahaha."
Enteng sekali pria itu berkata, tanpa mengetahui ada seorang wanita yang menikmati kesakitan saat mendengarnya di balik dinding.
__ADS_1
Panas, panas sekali hatinya saat ini. Ia pikir Reno hanya mampu mencinta, dan tak akan bertindak lebih.
Bagaimana bisa Reno membawa wanita itu masuk ke rumah mereka. Lalu di mana ibu dan bapak? Apakah kedua orang tua itu tahu dengan kelakuan anak prianya ini?
Apa ini yang Reno maksud?
Tapi bukankah,...?
Ah, ia tak lagi mau memikirkan tentang siapa wanita yang sebenarnya Reno cintai.
Sekarang ini, ia menjabat sebagai istri Reno. Wanita yang berhak atas segalanya pada pria itu.
Tak boleh ada seorang lainpun yang bisa menggantikan posisinya.
Tak ada.
Jika memang ada, ia harus berhadapan langsung dengannya.
Kembali melangkahkan kaki setelah berhenti sejenak, kali ini dengan berani dan tak lagi bersembuyi.
Muncul dari balik pintu, dan tanpa aba-aba Diandra telah mampu menarik keras lengan yang terasa empuk di gengamannya.
PLAK.
Ia mampu mendaratkan tapak tangan pada gadis yang menurutnya tak tahu aturan itu.
Membalas sakit hati yang menumpuk dengan segala tingkah acuh dan penolakan Reno padanya. Menyalurkan segala amarah dan cemburu yang baru saja tercipta akibat pemandangan itu.
Suara lantang Reno belum mampu mengendalikan amarahnya.
Diandra justru kembali menggunakan kekuatannya untuk mendorong pria itu kala hendak membantu sang gadis.
"Apa?"
Ucapnya langtang, melawan.
"Kamu kenapa hah?" Reno yang tadi nya terhuyung ke belakang kembali tegap seketika, turut mendorong bahu Diandra yang kini telah berada di hadapannya.
"Kamu gak pa-pa dek?" Suara Reno berubah lembut kala menyapa sang gadis yang telah bersimpuh di lantai akibat laku istrinya.
Marah, kecewa, sedih dan merasa bersalah langsung saja menyerangnya.
"Kita bangun!" Ucap Reno lagi, masih dengan nada yang pelan. Kedua tangan di pergunakan untuk membantu sang gadis berdiri.
"AKu gak pa-pa kak."
Hah, suara itu sepertinya ia kenal. Bahkan sangat familiar rasanya.
"Ma-maaf kak!" Gadis itu mendongak setelah merapikan sedikit pakaiannya.
__ADS_1
Diandra terpaku di tempat kala menyadari siapa gadis itu. Satu kesalahan besar baginya yang tak meneliti terlebih dahulu. Mungkin sebab tertutup oleh api cemburu dengan segala sakit yang ia tahan selama ini, hingga ia tak lagi mampu mengenali adik iparnya sendiri.
"Dir, Dira." Sapanya cepat kala menyadari gadis itu telah meninggalkan tempat mereka berdiri saat ini.
"Apa?" Ia justru mendapat gertakan yang di sertai dengan dorongan kembali di bahunya.
"Puas kamu?" Reno.
"Puas kamu terus saja menggunakan kekuatanmu untuk melukai wanita lain?"
Pria itu telah beranjak meninggalkan dirinya sendiri.
Ah,harusnya ia bergerak cepat agar bisa meminta maaf langsung pada Dira, adik iparnya.
"Dira." Panggilnya dengan berlari menyusul sang gadis yang berjalan sambil tertunduk. Sang gadis yang baru saja paham tentang posisinya kali ini.
Ia hanyalah seorang adik dari pria yang telah beristri. Ia tak bisa sepenuhnya lagi memiliki sang kakak, ada yang lebih berhak darinya. Harusnya memang telah menjaga jarak dari sang kakak, sebab ada hati yang harus di jaga, kakak iparnya.
"Dira," Diandra berhasil meraih pundak Dira, menahan gadis itu untuk tak segera masuk ke dalam kamar.
Gadis yang tertunduk dengan wajah sendunya. Gadis yang menahan rasa sakit hati dan fisiknya. Mungkin mulai sekarang ia harus menemukan tempat sandaran baru selain dengan sang kakak.
"Kamu mau apa lagi?"
Reno yang justru datang kembali demi memisahkan dua wanita itu. Kembali mendorong pundak Diandra agar menjauh dari sang adik.
Keributan itu nyatanya mampu mengganngu penghuni lain di rumah itu. Ibu muncul dari dalam kamarnya demi mengecek apa yang terjadi. Keningnya berkerut saat memandang ketiga anak-anaknya dengan ekspresi yang berbeda satu sama lain.
"Ada apa?" Tanyanya pada siapa saja yang ingin menjawab.
"Tanyakan saja pada menantu kesayangan ibu ini." Hanya Reno yang berani berkata, bahkan telunjuknya turut di hentakkan di hadapan sang istri.
"Kenapa?" Ibu dengan lembutnya. Ia tahu digertak begitu dihadapan orang lain, pasti membuat menantunya itu terluka dan malu. Tangannya bergerak menyapu lembut pundak Diandra, menenangkan dan seolah berkata jangan takut ada ibu yang mendampingimu.
"Aku gak sengaja buk." Diandra mulai berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak sengaja bagaimana? Pakai kekuatan kayak gitu?" Lagi-lagi Reno membantahnya. Jelas saja, adiknya bahkan tertuduk saat menerima ayunan tangan dari Diandra, pasti sakit pikirnya.
Tak hendak menyaksikan pertengkaran ini, Dira memutuskan untuk melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamarnya. Biar bagaimana ia tetap saja merasa bersalah. Benar-benar ia harus menjaga jarak dari sepasang suami istri ini demi keamanan rumah mereka. Semua tak lagi sama.
"Ibu tahu, gadis pilihan ibu ini telah menamp@r putri kesayangan ibu."
Jawaban Reno mampu membungkam semuanya. Ibu bahkan terhentak kaget saat mendengar itu.
Putrinya yang menjadi kesayangan seluruh keluarga.
Putrinya yang mendapat limpahan kasih sayang.
Putrinya bahkan tak pernah mendengar suara-suara keras dari dua pria penghuni rumah ini.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan Diandra, anggota baru yang harus ia sambut dengan sebaik-baiknya.