
“Assalamu alaikum om,” Dengan sekali telpon langsung tersambung.
“Waalaikumsalam. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanpa basa basi papa Cakra melontarkan pertanyaan inti.
“Emmm, gini om. Emmmm, Dihyan tidak masuk kantor hari ini katanya lagi tidak enak badan,” Reno.
“Lalu?”
“Emmmm, sebenarnya saya mau risent. Maaf om!” Reno.
Ia menundukkan kepala saat berucap. Biar bagaimanapun rasa sungkan tetap ada.
“Kenapa? Apa ada masalah?” Papa Cakra.
“Emm, om sudah tau kalau Rima kabur?” Reno sedikit ragu.
Tak ingin disebut mencampuri urusan keluarga orang lain meski itu bos sekaligus teman sejak lama.
Namun tak bisa terus membohongi diri, ada niat untuk merengkuh RIma.
Terlebih saat ini, saat ia tahu wanita itu semakin terpukul dan tersakiti. Ia ingin memiliki Rima seutuhnya.
“Iya, om sudah tau. Mungkin dia sakit karena itu. Apa karena itu kau ingin mundur?” Cakra.
“Maaf om, sebenar kemarin Dihyan meminta bantuan untuk mencari keberadaan Rima, tapi aku menolak bahkan sempat mukul dia juga om.”
“Maaf om, bukannya membela Rima, tapi aku sering liat Dihyan memperlakukan Rima. Aku kasihan liat dia om. Bahkan dia pernah berniat bunuh diri.”
Biarlah dirinya dinilai sebagai seorang pengadu, tak apa.
Yang jelas saat ini, ia tak ingin Rima kembali pada Dihyan.
Sekarang ia harus mencari dukungan untuk memisahkan Dihyan dan Rima, selamanya!
“Setelah keadaan Rima kembali membaik bukannya berhenti, Dihyan masih terus menyakitinya, Andra juga om."
Terus meniup pada bara berharap akan terbakar hangus.
"Maaf, mungkin om tidak menerima ini, tapi itulah yang terjadi. Dihyan bilang Rima keguguran karena jatuh dari tangga, aku hanya menebak dia yang membuat Rima terjatuh, dan dia diam saja berarti benar.”
“Jadi,... Emmm,.... dari itu aku tidak mau membantunya. Jika Rima kembali maka Dihyan kembali menyiksanya. Jadi,...?"
Ucapannya terhenti, masih bimbang.
"Aku ingin mundur om. Maaf!”
Panjang lebar penjelasannya, berharap semoga keadaan berpihak padanya.
Hening sejenak, dengan hembusan yang sesekali terdengar berat. Mungkin pria paruh baya itu tengah memikirkan langkah yang tepat.
“Jangan mundur! Om minta sama kamu, temani Dihyan dulu, kita liat perkembangannya. Hari ini dia sakit,
mungkin dia menyesal setelah Rima kabur. Mudah-mudahan saja dia bisa berubah! Jangan mundur ya!” Bujuk Cakra.
Ok deal, Reno menahan surat pengunduran dirinya dan kembali membantu Dihyan mengerjakan tugas kantor.
__ADS_1
Meski dalam hati, ada sesuatu yang hendak ia hianati dari kalimat Om Cakra.
Lagian tak ada janji yang ia ucapkan.
Mungkin terkesan jahat, saat ia dianggap sebagai salah satu orang terdekat dan dipercaya, niat dalam hati justru berbanding terbalik.
Hanya ingin semua kembali ke garis yang sebenarnya.
Tanpa ada yang tersakiti, Rima dan juga dirinya.
Dihyan?
Terserah, semuanya juga karena ibl!s itukan?
Sepulang kerja, tak lupa Reno mengunjungi Dihyan untuk membicarakan beberapa urusan pekerjaan sekaligus
melihat kondisi bosnya itu.
“Sudah lebih baik?” Reno mendapati Dihyan yang sedang bermain dengan laptopnya di taman belakang
rumah. Pria itu meletakkan laptop di pangkuan.
“Kenapa?” Dihyan singkat tanpa menoleh padanya. Jemari masih sibuk di atas keyboadr.
Reno memberikan beberapa berkas padanya, tanpa di persilahkan ia duduk bergabung dengan Dihyan. Mereka hanya dibatasi oleh meja bundar yang terbuat dari kayu.
“Sudah ada kabar dari Rima?” Reno mencoba menelisik keadaan bosnya itu.
Rapi, meski sedikit pucat. Mungkin hanya kelelahan atau apalah, bukan sakit kan?
“Kenapa gak masuk?”
“Cari Rima,” Dihyan singkat, belum ada niat untuk menatap pria di sampingnya.
Hingga beberapa saat mereka berada dalam keheningang.
“Arrkkkhhh,” Reno terlonjak kaget ketika Dihyan melempar laptop yang sedari tadi berada di pangkuannya.
Reno menatap tajam teman lamanya itu.
Kembali mencoba menebak isi hati sang pria. Rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat kondisi sang atasan.
Rasain!
Dihyan meremas rambutnya dengan sangat keras, dan menghempaskan tubuh ke sandaran kursi tempatnya duduk.
Memejamkan mata erat demi menetralisir emosi dalam diri. Hembusan kasar beberapa kali terdengar sambil diiringi gelengan kepalanya.
Frustasi?
Mungkin saja. Dan ia harus menjalaninya seorang diri, bahkan orang tuanya tidak mau membantunya.
Reno hanya menikmati pemandangan itu, sebenarnya ia binggung harus berbuat apa. Secercah rasa iba melihat
kondisi temannya itu.
__ADS_1
Apakah Dia telah mencintai Rima?
Tapi mengapa sulit mengatakan itu. Bahkan saat rumah tangga kalian telah berada di ujung tanduk.
Kekuasaanmu saja belum tentu mampu menyelamatkan rumah tanggamu. Kau hanya belum tau siapa orang dibelakang istrimu itu. Ada tangan dan kekuasaan yang lebih kuat darimu.
Rima terlalu lama menderita untuk menghadapi Dihyan, terlalu lama.
Tak sebanding dengan penderitaan yang kini kamu alami. Biarkan Rima mencari kebahagiaannya sendiri, atau setidaknya keselamatan dirinya dari tangan dingin suaminya.
Dianra muncul dari balik pintu dengan membawa segelas air putih ditangan.
Saat Reno hendak meraih tapi gadis itu langsung menjauhkan tangannya, "jangan ini untuk kakakku!” Ucapnya.
“Tapi aku juga haus ndra,” Reno. "Dia udah punya minum." Matanya melirik ke meja.
“Astaga!” Andra terkejut ketika melihat laptop yang telah terbaring lemah di lantai dekat kolam renang.
Kembali memandang sang kakak, itu pasti ulahnya.
“Jangan diminum, bentar yah!”
Andra menyimpan gelas itu di atas meja lalu berlajan mendekati laptop malang itu. Meletakkan benda itu di meja, dan menarik tangan Reno meninggalkan Dihyan.
“Kenapa?” Reno.
“Minuman itu ada obat penenangnya, Kak Reno ambil minuman lain aja!” Bisik gadis itu.
“Dihyan kenapa?” Reno dengan kening beradu, bingung.
Andra menceritakan keadaan Dihyan yang semalam ia beri obat penenang saat mendapati kakaknya berada di luar
kendali.
Separah itukah?
Ck, baru beberapa hari orang itu langsung prustasi saja.
Hati kembali ingin tertawa terbahak saat mendengar penuturan Diandar, bukannya tersentuh juga.
“Aku kasihan sama kakak,” Andra.
“Kenapa? Apa dia kehilangan mainnya?” Reno seolah mengejek, lengkap dengan senyum sinis.
“Kak Reno ngomong apasih?” Andra mulai tersulut emosi.
“Lah memang aku salah?” Reno.
“Gak ada kata lain yang lebih bernilai kah? Apa Kakak sudah jatuh cinta sama Rima ya?”
“Cinta kadang terasa jika orangnya telah pergi, dan itu akan menjadi sia-sia belaka,” Reno.
“Aku pulang dulu!” Reno.
” Tunggu, aku haus, minum dulu!” Iapun melangkah mendatangi dapur.
__ADS_1