Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Semuanya Yang Ada di Dirimu!


__ADS_3

" Kamu tau pemikiran pria saat melihat penampilan wanita yang terbuka?" Tanya Dihyan, mata memandang serius  dan begitu dalam pada Rima, tangannya terdiam pada paha putih mulus sang istri.


Sementara yang ditatap hanya bisa menundukkan pandangannya. Ia merasa sedang diinterogasi dan sebentar lagi mungkin akan dihukum karena cara berpakaiannya ini. Ah, kayak anak sekolah saja!


" Tanpa kalian sadari, wahai kamu yang selalu menyebut dirinya lemah namun selalu bisa menjatuhkan kaum lawannya meski tak melawan."


Ck, panjang sekali!


" Kalian telah membangkitkan syahw@t kami dengan hanya berjalan dengan pakaian mini seperti ini." Tangannya langsung menyapu seluruh tubuh Rima, dari atas hingga ke bawah dengan gerakan cepat.


"Bahkan saat kalian tak melakukan apa-apapun, kalian bisa saja melumpuhkan kami dengan wajah cantik kalian. Makanya sebagian ulama mewajibkan cadar agar kaum lelaki tetap bisa mengontrol diri dengan tak memandang wajah cantik kalian!"


Hah, ternyata pria ini bisa ceramah panjang lebar juga.


"Jadi sebenarnya apa yang membuatmu lumpuh?" Rima memandang Dihyan dengan pandangan sinis mengejek.


Hem, kalimat Dihyan terdengar terlalu dramatis.


Lumpuh katanya. Padahal ia merasa selama ini DIhyan tak pernah bertekuk lutut padanya. Baginya tetap saja pria ini hanya menginginkan anak darinya, tidak lebih.


Mereka kini telah saling pandang, terlihat ada perang dalam ruang antara yang tercipta antara mereka.


Dan juga ia sangat berharap agar Dihyan tak menyuruhnya menggunakan hijab sebagai syarat agar tetap bertahan di sisi pria ini.


Oh Tuhan, ia belum siap jika harus menutup seluruh tubuhnya.


"Semuanya yang ada di dirimu!" Jawaban Dihyan terdengar begitu mantap dengan nada yang serius, bukan hanya itu pandangan mata yang begitu dalam pun mampu mengalahkan Rima.


Nyali wanita itu kini menciut seketika. Ia masih mencoba menelusuri makna dari ucapan Dihyan.


Semuanya? Semua yang ada di dirinya?


Hah, mungkin pria itu hanya ingin mengujinya saja, atau,...?


"Jadi kalau kalian ketemu dengan cewek s3ksi, itu kalian benar-benar langsung on?"

__ADS_1


Eh, kok larinya ke sini sih, lebih menjurus.


" Maybe no, maybe yes!"


" Kami bisa saja terangsang, tapi bisa juga merasa sebaliknya. Bahkan kadang ada perasaan j!j!k jika penampilan itu sudah terlihat tidak wajar. Kaliankan suka sekali berbohong!"


" Berbohong dengan bentuk tubuh yang katanya m0nt0k padahal fake!"


" Kalian terlalu memaksakan diri untuk tampil sempurna, padahal semua orang tau jika setiap manusia itu pasti punya kekurangan masing-masing!"


PLAK.


Rima langsung saja melayangkan telapak tangan di lengan sang suami.


"Ya iyalah, bulshit banget kalau ada orang yang gak mau tampil sempurna!" Protesnya dengan suara lantang.


Iapun sama, begitu mengangungkan yang namanya kesempurnaan.


" Iya tau. Tapi gak usah terlalu memaksakan diri, bahkan kalian rela memperlihatkannya pada semua orang, padahal yang berhak melihatnya adalah suami kalian saja."


Bah, sepertinya pokok pembahasan kembali pada pakaian.


"Ck, jadi maunya apa?" Langsung saja, dari pada dengar ceramah lagi.


Dalam hatinya kini berdoa agar Dihyan tak benar-benar menyuruhnya menutup aurat.


"Aku cuma hanya ingin merubah penampilanmu saja! Berpakaian yang layak ketika harus keluar rumah!"


Mata wanita itu langsung saja berputar.


Tuh kan benar dugaannya.


"Inikan masih layak pakai!" Menunjukkan penampilannya sendiri. Ia masih ingin menantang DIhyan. Kapan yah mereka berdebat seperti ini? Rasanya seperi, hem seru juga!


Apalagi jika ia pemenangnya.

__ADS_1


"Sizenya kekecilan Rima, ini bukan untukmu, ini untuk anak SD." Dihyan.


Ck, lagi-lagi wanita itu cemberut.


"Aku gak menyuruhmu untuk menutup aurat secara tiba-tiba."


Ia pernah mendengar tauziah langsung dari kakak sepupunya berpesan untuk membimbing istrinya dengan perlahan dan lembut.


"AKu cuma mau kamu menggunakan pakaian yang sedikit longgar di tubuh, bukan melekat semua seperti ini." Lagi-lagi tangannya bekerja menelusuri seluruh tubuh Rima, dari dada hingga ke lutut dengan segera.


" Dada tak boleh terlalu nampak keluar, rok atau celana harus berada di bawah lutut. Dan semuanya tak boleh membentuk tubuh!" Nadanya kini telah terdengar tegas dan tak terbantahkan.


Hah, sedikit lega meski Rima belum ikhlas.


Memikirkan tentang penampilannya, berapa pakaian yang harus ia singkirkan?


" Tapi,... kamu kan tau, penampilanku memang seperti ini."


Kalah, saat ini ia merasa telah kalah bertarung argumen dengan Dihyan. Mungkin saat ini ia harus mulai membujuk, agar bisa bertahan pada penampilannya.


" Semua baju-bajuku memang mini dan ketat!" Merengek dengan nada suara manjanya. Wajah juga masih memasang tampang yang cemberut menggemaskan.


"Gampang, kan tinggal beli yang baru lagi!"


"Kita gak punya waktu untuk belanja sekarang. Mertua Andrakan masih di Rumah sakit, Reno juga belum datang kan?"


Hahaha, rasanya Dihyan ingin tertawa keras saat ini. Apa hubungannya merubah penampilan Rima dengan keadaan mertua adiknya itu. Ada-ada saja wanita ini.


"Bisa kok. Kita bisa belanja sekarang, abis itu langsung jengukin mertuanya Andra dengan penampilan barumu!"


"AYO!"


Dihyan telah berdiri dari duduknya, otomatis Rima yang selama berdebat berada dalam pangkuannyapun ikut berdiri.


Pasrahlah wanita itu kini!

__ADS_1


Asal semuanya aman terkendali.


Tinggal bagaimana caranya agar Reno  mau kembali dengan Diandra.


__ADS_2