
“Kamu liat bagaimana aku memperlakukan pelakor itu kan!” Ucapnya lirih sambil mengelus pipi Ghea dengan lembutnya.
Sangat lembut, bahkan hanya menggunakan ujung jari-jarinya.
Bukan terlena, namun justru membuat gadis itu merinding ketakutan.
Gadis itu semakin merinding setelah menyaksikan semuanya.
Dan kini ia harus berhadapan dengan istri sang bos yang tadi marah bahkan sampai membanting seorang wanita kini berlaku lembut bahkan sangat lembut hingga membuatnya jijik dengan sentuhan itu.
Rima berbalik memandangi Dihyan dengan gaya sensualnya, “Kamu masuk!” Dengan nada memerintah.
Entah takut atau apa, Dihyanpun tak tahu. Pria itu patus saja mengikuti perintah Rima dengan berjalan menuju ke ruangannya. Ia hanya memperhatikan Rima yang masih berdiri di depan Ghea.
Rima kembali berkonsentrasi pada gadis yang kini menjabat sebagai sekretaris dari suaminya itu, “Aku ingin meminta rekaman cctv di ruangan bosmu bersama gadis itu!”
“Emm, siapa tadi namanya?” Rima, sambil menepuk-nepuk telunjuk di kening dengan mata yang memandang ke
langit-langit seperti sedang berpikir.
“Bu Fe- Fely,” Ghea membantu Rima mengingat nama wanita itu dengan sedikit gugup.
Bukan gugup, tapi sangat gugup. Takut jika ia kembali menjadi korban ke dua wanita di hadapannya ini.
Ada rasa menyesal dalam hati, harusnya tadi ia tak perlu menyuruh Armada untuk pergi membawa berkas ke bawah. Harusnya ia saja yang pergi, jadi tak perlu melihat pertikaian ini.
Aaaah, lagi-lagi menjadi saksi kejadian-kejadian pertengkaran tentang masalah perselingkuhan yang melibatkan bosnya.
“Ya betul, bu Fely yah." Suara Rima kembali menyadarkannya.
"Dan ingat aku ingin rekaman yang paling erotis!"
"Ah tidak-tidak, aku ingin semua rekamannya, mulai saat ia masuk sampai selesai. Takutnya kamu potong-potong rekamannya,” Bersamaan dengan jarinya yang bermain di dagu Ghea.
“Dan aku ingin kamu kirimkan sekarang juga! Gak pake lama.” Ia kembali mencubit mesra dagu Ghea dengan lembut.
Membuat gadis itu hanya mampu menutup matanya rapat. Takut, pastinya. Ia masih ingat bertapa mudahnya istri bosnya itu membalikkan tubuh lawannya tanpa terlihat ada beban sedikitpun.
Wanita jenis apa yang sedang berdiri di hadapannya ini?
Bukankah ini wanita yang pernah diperebutkan oleh bos dan asistennya.
Seperti inikah wanita itu?
Dihyan menutup pintunya tak mampu melihat tingkah laku g3nit istrinya pada Ghea.
“Kamu mengerti sayang!” Rima lagi.
__ADS_1
Berikut dengan anggukan kepala Ghea sebagai tanda mengerti.
“Terima kasih sayang! Ummah," Kecupan lembut dari bibirnya benar-benar mendarat ke pipi Ghea, beralih ke pipi lainnya.
Entah apa yang dirasakan Ghea saat ini, mendapat perlakuan g3nit seperti ini dari seorang wanita.
Euuuwww. Rasanya mau muntah saja!
Tapi mungkin ini lebih baik, dari pada harus di banting di atas lantai.
Kedua pipinya terasa terbakar, mungkin sisa gincu merah menyala itu membekas di pipinya.
Iapun tak tahu, dan masih takut bergerak sedikitpun meski hanya menyapu demi membersihkan pipinya.
Tubuhnya kaku, ia bahkan harus menahan napasnya. Hanya mata saja yang mampu berkedip demi membasahi bola matanya. Tanpa ia sadari giginya gemeretak sebab gemetaran.
Melihat pintu Dihyan tertutup, Rima segera berlari ke arah Reno yang baru saja membalikkan tubuhnya hendak
masuk ke ruangannya.
“Kak,” Rima memeluk Reno dari belakang.
“Rima, ini kantor,” Reno sambil berbalik ke arahnya. “ Aku takut kamu nanti dihukum lagi!”
“Terserah! Aku sudah bosan!”
Tapi itu tak menghentikan aksinya.
Hanya Reno yang membalikkan tubuhnya menghadap ke Rima sambil berusaha melepaskan lingkaran tangan lentik itu.
Rima menyusuri kemeja Reno dengan jemarinya dan bermain di dada pria itu.
Sudah bisa dipastikan gelora lelaki Reno pasti bergerak naik mendapat perlakuan seperti itu, apalagi dari wanita yang memang ia cintai.
“RIMA!” Kembali suara Dihyan bergema.
“Ah, warna dasinya cantik, aku sukahhhh,” Dengan d3s@han lembut diiringi hembusan napas yang semakin membuat orang dihadapannya itu semakin menggila karena harus menahan diri.
“Suka, bukan sukahhhh! Gak pake h! Gak usah pake d3s@han kalau bersama dengan pria lain cukup aku!”
Rima meninggalkan Reno dan berjalan menuju ke ruangan Dihyan sambil menarik roknya turun yang tadi ditarik
naik saat akan melakukan eksekusi pada Fely.
Sementara Ghea hanya mampu terdiam menjadi penonton setiap adegan yang dilakoni Rima.
Otaknya masih berpikir, bagaimana bisa wanita seperti itu menjadi rebutan antara dua pria tampan.
__ADS_1
Cantik sih, *3**! juga, tapi, ...?
Ah sudahlah!
Setidaknya situasi sekarang telah aman. Dan iapun bisa bernapas dengan lega.
Dihyan mengulurkan tangannya pada Rima, “Berhenti bermain-main dengan pria manapun termasuk Reno,” saat Rima telah masuk ke pelukannya.
“Dan berhenti bermain-main dengan wanita manapun termasuk Fely,” Rima kembali mengulang dengan versinya.
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan Rima, dia, ...?"
Dihyan berhenti menjelaskan saat melihat raut wajah Rima yang seolah sedang mengejeknya, belum lagi kepala dimiringkan menandakan wanita itu seperti sedang menunggu penjelasan, tapi, ...
Heeeh, napas keras terdengar.
Dihyan tahu ini tak kan mudah baginya.
“Deal!” Dihyan mengulurkan tangannya kananya dan Rima menyambutnya hingga merekapun bersalaman.
“Karena sebentar lagi permainan akan berakhir.” Batin Rima.
Rima berjalan dengan santainya menuju ke sofa dan duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kamu lapar?” Tanya Dihyan sambil memungut sepatu Rima lalu menyimpannya di dekat kakinya lalu duduk disamping Rima.
“Tidak, aku sudah kenyang setelah mendapat tontonan gratis,” Rima tanpa menatapnya. Wajahnya terlihat datar, bahkan jejak kemarahan seolah telah lenyap dari sana.
“Rima, dengarkan aku! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dia hanya minta persetujuanku agar mau bekerja sama dengannya, tidak lebih!” Sambil menggenggam tangan istrinya, ia masih memberi penjelasan.
“Tanda tanganmu di bayar dengan tubuhnya?” Rima menoleh, tangan terulur membelai lembut wajah Dihyan.
Pria itu hanya menutup mata saat mendatkan sentuhan lembut dari jari-jari sang istri. Keningnya, pipi hingga turun ke rahang.
“Bagaimana rasanya? N!kmat kan?”
Sontak matanya terbuka saat mendapatkan pertanyaan itu. Ia benar-benar tak bisa menyelami hati sang istri yang mungkin terlihat tenang saat ini. Tak tahu apa lagi yang Rima rencanakan setelah ini.
“Tapi aku gak, ...”Kalimat Dihyan terpotong.
“Jam istirahatku hampir habis, aku harus segera kembali ke RS. Kau membuang waktuku!” Rima terlihat tenang,
sambil melihat jam dipergelangan tangannya. Mulai bangkit meski tangannya kembali diraih oleh DIhyan.
Ia sudah lelah.
Beberapa kali pria ini harus menyakitinya lagi?
__ADS_1