
Telah seminggu lebih kepergian Reno, tanpa kabar, tanpa bayangan sekalipun.
Meski semua keluarga Pratama mencoba mencari keberadaan pria itu, tanpa memberi tahukan tentang yang sebenarnya pada keluarga pria itu.
Biarlah mereka beranggapan Reno memang pergi karena pekerjaan di luar kota yang sulit dijangkau meski dengan alat komunikasi.
Di sini peran Diandra sangatlah berpengaruh.
" Reno telpon?" Tanya ibu pada sang menantu.
Khawatis selama seminggu lebih ini, ia tak pernah lagi mendengar suara sang putra.
" Tadi katanya sempat menelpon ke kantor bu, tapi hanya sebentar soalnya harus buru-buru kerja lagi." Diandra menjawab sesuai dengan perintah sang kakak.
Terlalu kentara jika ia berbohong jika Reno pernah menghubunginya. Ibu tahu jika hubungan mereka belum terlalu baik.
" Kenapa gak pernah nelpon ibu yah?"
" Susah bu. Kata kak Iyyan, di sana Reno cuma bisa pake telpon kantor, kalo diluar telepon selulernya gak ada sinyal."
Ibu hanya bisa menganggukkan kepala, setidaknya ia tahu kondisi sang putra yang jauh di rantau orang dalam keadaan baik-baik saja, meski itu semua hanya kebohongan belaka.
Diandra yang masih tetap setia tinggal di rumah mertuanya meski sang suami tak ada di sana.
Besar harapannya jika suaminya pulang nanti, melihatnya di sini dengan segala ketulusannya.
\=======
Gelap malam telah menggiring sebagian insan untuk terlelap menikmati mimpi setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan.
Telpon Dihyan berderu telah beberapa kali, berhenti lalu kembali berdering mengacaukan indera pendengaran di tengah malam buta ini.
Kesal sekali jika mimpi yang begitu indahnya harus digangu. Meski berat, pria itu menggeser tubuh di atas ranjang agar bisa menggapai benda itu, matanya bahkan masih tertutup rapat.
Awas saja jika itu bukan sesuatu yang penting!
"Hemm," Hanya bergumam saja, semoga yang diseberang sana mengerti jika telah mengganggu tidurnya.
"Halo Kak."
Suara panik Diandra mampu merenggut paksa kesadarannya.
Terlalu khawatir dengan kondisi sang adik seketika itu pula mata Dihyanpun seolah dipaksa untuk terbuka.
__ADS_1
"Ndra, kamu kenapa Ndra?"
Tubuhnya seketika terbangun duduk di pembaringan.
"Kak, tolong!"
"Kamu kenapa Ndra? Ngomong yang jelas."
Pria itu berkata dengan sangat lantang, jelas saja malam-malam begini sang adik menelpon dan meminta tolong, ada apa pikirnya.
"Bapak kak, hiks."
Kesal sekali DIhyan saat ini. Belum apa-apa adiknya itu telah menangis saja. Bagaimana mau menolong jika ia pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ndra, ngomong yang bener!"
"Stttt," Suara Rima menenangkan sang suami, takut jika Azkha yang terlelap di box bayinya turut terbangun karena suara sang ayah.
"Kenapa?" Tannyanya berikut dengan usapan lembut di lengan.
Dihyan hanya menggeleng, toh ia pun belum tahu apa-apa.
"Andra, kamu masih di sana?"
"Kak, tolong kami. Bapak terjatuh," Lalu masih dilanjutkan dengan suara isak tangis gadis itu.
"Bapak pingsan, udah dicoba bangunkan tapi gak bangun-bangun juga."
Hah.
Kedua suami istri itu kini saling pandang.
" Kenapa gak di bawa ke rumah sakit Ndra? Ingat umur bapak, segalanya bisa terjadi jika kita terlambat mengambil tindakan." Bukan Dihyan tapi kali ini Rima yang mengambil alih ponsel itu.
"Kita gak bisa angkat, di sini gak ada cowok selain bapak."
"Ya udah kamu tunggu aku!" Dengan segera Dihyan beranjak dari ranjangnya, tujuannya sudah pasti mendatangi rumah Reno.
"Ndra, dengarkan aku!" Rima masih menguasai telpon genggam sang suami.
" Kamu coba minta tolong sama tetangga, emmm Pak RT- Pak RT buat bantuin kalian. Kalau perlu langsung sopirin kalian ke Rumah sakit."
"Aku gak tau siapa pak RT di sini dod0l, aku belum kenalan. Lagian kalau kamu nyuruh aku keluar malam-malam begini, kamu mau tanggung jawab kalo ada apa-apa denganku? Ingat ini sudah masuk sift kerjanya kunti." Gadis yang tadinya sedih seketika berubah kesal.
__ADS_1
"Iya-iya, maksudku minta bantuan mertua atau adik iparmu itu untuk menghubungi Pak Rt atau kenalan di sekitar sana!"
Menghembuskan napas saat mendengat Diandra yang langsung ngegas aja.
"Ndra, dengerin! Kita gak bisa tinggal diam sementara keadaan mertua kamu kita juga gak tau. Kamu harus cepat mendapatkan bantuan. Kalau nungguin kakakmu ke sana dulu, takutnya terlambat Ndra."
Di hadapannya Dihyan telah menggencangkan ikat pinggang sambil terus mengamati istrinya berbicara dengan sang adik. Benar kata Rima, waktu ke sana cukup memakan waktu, belum lagi waktu perjalan yang akan kembali menyita, takut terlambat.
"Gimana?" Tanyanya saat RIma telah menjauhkan ponsel dari telinga dan menyerahkannya padanya.
"Iya, katanya nanti ibu mertuanya yang cari bantuan orang-orang di sana. Kamu bisa langsung ke Rumah sakit saja. Eh tunggu yah!"
Wanita itu meraih ponselnya sendiri, menghubungi rekannya yang terkena sift malam untuk meminta pertolongan dengan segera.
" Lagian Diandra bukannya periksa malah nangis duluan?" Heran sendiri pria itu.
" Namanya juga manusia, kadang dokter dilarang untuk mengambil alih tugas jika pasien adalah anggota keluarganya. Dokter dilarang membawa perasaan saat harus bekerja."
" Kamu kayak gak sadar diri aja kalau lagi panik?"
Dihyan hanya nyengir saat mendengar ejekan Rima. Ia bahkan lupa cara menghidupkan mobil saat Rima justru harus segera di bawa ke Rumah sakit.
Ah, mungkin seperti itu gambaran sang adik saat ini.
" Aku ikut yah!" Wanita itu telah bangkit saja hendak bersiap juga.
" Gak usah, kamu di rumah aja!" Dihyan segera menekan pundak Rima agar tak meninggalkan singgasana mereka.
" Kenapa?" Rima tak bermaksud apa-apa, hanya ingin menolong dan mendampingi saja.
" Kita bagi tugas."
" Mungkin besok kita akan meminta bantuan orang rumah. Bawakan ini-itu, sarapan atau pakaian ganti."
Kali ini Rima mengangguk, meski rasa penasarannya membuat ia ingin ikut serta malam ini.
" Peluk dulu!" Dihyan melangkah mendekat pada sang istri yang masih duduk di atas pembaringan. Memasukkan sosok itu ke dalam dekapannya.
" Udah pergi sana! Malah ke enakan? Diandra udah nangis-nangis di rumahnya. Nanti aku telpon bagaimana-bagaimananya."
" Hemm," Tak lupa menjatuhkan sayang dulu sebelum benar-benar berlalu meninggalkan kamarnya.
"Gak usah turun, nanti aku kunci pintunya." Kali ini pria itu benar-benar telah menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Rima yang bekerja dengan ponselnya agar semua berjalan dengan baik dan segera.
__ADS_1