
Rima Masih terdiam di depan wastafel kamar mandi rumahnya, menatap pantulan diri di dalam cermin.
Bayangan Reno tadi siang yang memeluknya dari belakang berikut dengan kata-kata yang mengiris hati terus saja membayangi.
" Kamu belum tidur?"
Bahkan Ia tak mendengar suara pintu terbuka saat Dihyan turut masuk ke kamar mandi.
"Peluk aku!" Ucap Rima. Pandangannya terlihat Sendu, hati masih menyisakan sakit yang ditinggalkan Reno.
Dihyan berjalan dengan senyuman di wajah, hanya memeluk, kecil. Bahkan lebih dari ini pun ya bisa, dan dengan senang hati.
Mulai menempelkan diri dengan kedua tangan yang menyusup di antara tubuh dan tangan Rima.
"Bukan seperti itu!" ucap Rima, tangannya bergerak mengarahkan tangan kanan Dihyan melingkar di dada atasnya, ia ingin mengulang adegan siang tadi bersama Reno.
"Cium Leherku!" Ucapnya lagi.
Ia ingin mengulang kembali kejadian sama persis seperti yang Reno lakukan tadi padanya.
Rima menengadahkan kepala, saat wajah Dihyan telah tenggelam di ceruk lehernya.
"Emmm, wangi!" Dihyan menghirup dalam aroma tubuh yang selalu menjadi obat sakit kepalanya. Bibir dan hidung menempel di kulit RIma.
"Bukan, bukan seperti itu, Ck!" Kesal saat Dihyan tak mendalami perannya. Pria itu seperti tengah bermain-main.
Pikiran Rima mulai meraba, bagaimana tadi Reno menempatkan wajah?
"Gak usah terlalu rapat ishh." Tangannya bergerak, memperbaiki posisi kepala Dihyan seperti kehendaknya.
"Seperti ini?" TAnya Dihyan.
B0d0hnya pria itu mengikuti saja, sementar ia hanya sebagai pengganti pelepas rindu Rima.
Sementara wanita itu mulai perlahan memejamkan mata, angannya melambung tinggi, bahwa Reno lah yang berada di belakangnya dan sedang memeluknya saat ini.
Setitik air bening, tak sadar meluncur dari matanya, "Aku juga merindukanmu?" Ucapnya entah sadar atau tidak.
Dihyan tersentak saat dengan apa yang baru saja ia dengar.
Juga?
Menjadi kata kuncinya kali ini, karena Iya sama sekali belum berkata apa-apa.
"Kamu merindukan siapa Rima?" Pelukan telah mengendur, kepala pria itu terangkat menatap wajah Rima.
mata pria itu terpuka lebar demi menelisik kejadian saat ini.
__ADS_1
Rima sadar bahwa ia telah salah bicara, " Aku merindukan kakakku, Romi," Ucapnya masih dengan menutup mata, hendak menikmati angan yang sempat tertunda. Tapi tak bisa.
Ia kini justru di serang rasa takut secara tiba-tiba.
Dihyan kembali memeluknya seperti tadi, "Maafkan Aku!" Saat wajahnya kembali tenggelam di Curug leher Rima.
"Mereka baik-baik saja di sana. Romi sibuk. Papa memberinya jabatan sebagai kepala gudang, Leli sekretarisnya. Mereka berdua sama-sama sibuk."
"KAMU BAHKAN TAK MEMBERIKU AKSES UNTUK BERBICARA DENGAN KELUARGAKU SENDIRI!"
Suaranya sangat lantang, demi menyingkirkan rasa sesak yang kini bercampur kesal.
Dihyan bahkan tersentak, suara Rima menggelegar, memantul pada dinding-dinding kamar mandi.
Bergerak, membalikkan tubuh Rima, memasukkannya dalam pelukannya.
"Rima, maafkan aku. Nanti kita ke rumah ayahmu!" Tangannya bergerak naik-turun, mengusap rambut panjang Rima.
"Kumohon jangan menangis seperti ini. Aku akui, aku salah tapi,-"
"Kamu memang salah, salah, egois, dari dulu!" Berbata dengan tangis yang masih berlangsung. Tubuhnya digoyangkan ke kiri-ke kanan, berupaya memberontak hendak melepaskan pelukan Dihyan.
"Rima, kumohon jangan seperti ini, aku takut ini akan mempengaruhi keadaan bayi kita."
"KAta dokter, kamu tidak boleh stress." Sedikit menggoncang bahu RIma demi menyadarkan tentang keadaannya yang tengah hamil.
"Kamu bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku."
"Tidak, tidak seperti itu RIma." Kepala Dihyan menggeleng kencang, segera menarik Rima kembali dalam pelukannya, merapat demi meminimalisir pemberontakan wanita itu.
"Kumohon jangan seperti ini Rima. Aku janji kita akan segera bertemu dengan ayahmu. Kamu boleh menghubungi ayahmu!" Pria itu memelas.
Akhirnya wanita itu tertidur dalam pelukan Dihyan dengan mata sembabnya.
"Maafkan aku!" Beribu kata maaf kembali Dihyan lontarkan malam ini.
Pun dengan kecupan yang ia layangkan di wajah dan kepala sang istri, ada yang sakit di bagian dadanya.
Beberapa kali harus menggigit bibir bawah demi menahan diri agar tak turut menangis.
...****************...
Dihyan telah berdiri di depan pintu ruang pemeriksaanRima. hari ini ia mencoba mengunjungi sang istri disela jam makan siang.
"Kamu?" Rima segera berdiri dari duduknya demi menghampiri sang suami. Hati terus bertanya, Apakah ini mimpi?
Tangannya bahkan telah mencengkram lengan Dihyan,
__ADS_1
Pintu yang belum tertutup rapat ditahannya, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu dengan matanya.
Mencari sosok yang beberapa kali ini datang menyambanginya di jam yang sama. dengan tujuan yang sama, yaitu makan siang.
Tak ada, sedikit lega saat sosok yang ia cari tak tertangkap pandangannya.
"Kenapa?" Dengan kening berkerut, Dihyan memperhatikan tingkah istrinya.
" Ah iya. Ti-tidak, tidak apa-apa." Berusaha memasang senyum meski hati benar-benar was-was dibuatnya.
Kini ia merasa tengah selingkuh, dan rasa takut Jika ada yang melihatnya saat ini bersama dengan pria ini.
Padahal pria yang ia genggam lengannya kini adalah suami sahnya, seseorang yang memang lebih berhak atas semua yang ada pada dirinya.
Rima beberapa kali menghembuskan nafas keras demi mengatur perasaan yang seolah tidak karuan.
"Ngapain ke sini?" Rima melirik Dihyan dengan sedikit Ketus. Jika pria ini sedang berada di sini, maka pria yang lain yang biasa mengunjunginya pasti tidak akan datang saat ini.
" Aku ingin menjengukmu, sekalian ngajak makan siang."Dihyan.
"Kenapa? nggak boleh?" Tanyanya lagi saat melihat raut wajah Rima yang mengandung sedikit kemarahan.
"Ngak, Kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang?" Rima berusaha mengendalikan raut wajahnya.
"Namanya juga kejutan, kamu mau makan di mana?"
"Cari siapa?" Kembali bertanya, Rima masih terus menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu entah itu apa, mengabaikan pertanyaannya. Rima sepertinya tak fokus dengan keberadaannya saat ini.
" Ah tidak tidak, cuma melihat apa masih ada pasien atau tidak." Sedikit gelagapan, takut jika Dihyan.
"Sudah nggak ada, kamu mau makan di mana?" Dihyan kembali bertanya, mengabaikan rasa penasaran yang ada di hatinya pada tingkah laku istrinya yang sebenarnya sangat mencurigakan.
"Di mana saja, asalkan cepat. Aku gak mau terlambat lagi." Rima, setelah bisa mengendalikan diri meski hanya sedikit.
Rasa marah, kesal dan takut. Ia sembunyikan dalam seukir senyuman yang dihadiahkan pada suaminya. Tak ingin terlalu kentara, meski sebenarnya Dihyan telah curiga.
"Kita bisa minta izin pada Hendra kan?"Dihyan.
" Tidak. Bosku mungkin saja memberikan izin Apalagi dia adalah temanmu, tapi Tidak semua orang yang ada di sini mengenalmu.
" Aku tak mau jadi bahan gosip teman-temanku."
Berjalan terlebih dahulu meninggalkan Dihyan di belakangnya.
Lintasan permintaan Reno tentang kecemburuan pria itu saat melihatnya dengan suaminya menjadi alasan Rima menjaga sikapnya saat ini.
Takut jika ternyata pria itu tengah bersembunyi dan mungkin melihatnya dari jauh.
__ADS_1