Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Akhir Cerita Cinta Yang Salah


__ADS_3

Reno duduk terdiam di kursinya.


Tepat di depannya, tempat di mana ia dan Diandra harusnya melakukan pertukaran cincin sebagai tanda pertunangan tengah di rombak.


Di sana, nampak orang-orang yang diketahui sebagai event organizer tengah sibuk mempersiapkan tempat untuk calon mempelai pria dan penghulu beserta saksi-saksinya melaksanakan Ijab Kabul.


Sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih mengkilap dan berhias dengan bunga-bunga kini telah digotong masuk ke tempat itu. Kursi-kursi pun telah dijejer rapi saling berhadapan sedemikian rupa.


Sementara ia sendiri hanya terpekur memandang kosong ke arah depan. Pikirannya berkecamuk setelah mendengar perkataan Bapak jika hari pertunangan ini diganti dengan pernikahan.


Harapannya setelah hari pertunangan ia bisa semakin dekat dengan Rima dengan berada di dalam naungan keluarga yang sama. Namun bagaimana jika ia menikah nanti?


Apakah benar Rima akan tetap menantinya?


Atau justru Rima akan benar-benar meninggalkan dirinya?


"Ren, Reno!" Ia terkesiap saat punggungnya ditepuk dan namanya dipanggil. Menoleh ke samping bapak yang kini tengah memandangnya.


" Sudah hafal?"


Ia menggelengkan kepala saat mendengarkan pertanyaan itu. Bagaimana mungkin ia bisa berkonsentrasi menghafal kalimat qobul dengan perasaan yang luluh lantah seperti ini?


" Kita ke dalam, katanya ada kamar untuk kamu."


Bapak berpikir jika Reno mungkin tak bisa berkonsentrasi dalam keadaan sedikit gaduh seperti ini. Reno butuh tempat yang tenang.


Memasuki sebuah kamar tamu yang tadinya diisi oleh keluarga jauh dari Pak Cakra sengaja dikosongkan untuk pria itu.


Bukannya langsung menghafal kan kalimat qobul seperti yang diperintahkan, pria itu justru menghempaskan bokongnya di tempat tidur. Kedua tangan bertumpu di atas lutut dengan menggenggam rambutnya erat-erat.


Kepalanya terasa berat,bbagaimana ini? apa yang harus ia lakukan saat ini?


Tak mungkin pula iya menggagalkan Rencana hari ini, kedua orang tuanya pasti malu, terutama bapak.


Ia tak bisa lagi memikirkan Siapa yang ada di balik rencana yang mendadak ini. Pikiran yang hanya fokus pada perasaan Rima.


Untuk beberapa lama waktunya Ia benar-benar tak bergerak dari tempatnya, hingga ibu hadir demi memanggilnya kembali ke depan.


" Reno, tempatnya sudah siap!" Tubuh yang tadinya hanya berdiri di ambang pintu perlahan mendekat dengan langkah yang sangat pelan.


Melihat kekacauan putranya, Ibu bisa menebak Bagaimana perasaan pria itu saat ini. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Membantu Reno Demi meraih sebuah kata cinta jelaslah sebuah kesalahan besar menurutnya.


Mungkin dengan adanya pernikahan ini akan mengubur perasaan itu sedikit demi sedikit.


" Ayo rapikan dulu!" Tangan yang mulai keriput itu berada di kedua lengan Sang putra demi membantunya berdiri.

__ADS_1


Menepuk kemeja batik pada sisi yang terlihat kusut. Rambut kembali dirapikan dan dengan sebuah sisir yang  ia temukan di atas meja.


Berusaha untuk tak membalas tatapan sendu putranya, mungkin ia takkan tega setelah itu.


" Sudah siap, sudah cakep!" Tangannya kini menggenggam pergelangan tangan Reno bersiap untuk menarik tubuh yang jauh lebih tinggi itu keluar dari sana.


" Buk,…" Reno berusaha menghentikan langkah, hendak meminta iba Pada sang ibu.


" Ayo ayo, semuanya sudah siap di luar nungguin kita." Ibu kembali menariknya, tak ingin terpengaruh sedikit saja. Sekarang saja, Hatinya sudah sangat tersentuh. Namun tidak, dia tidak boleh kalah sekarang ini.


Reno harus benar-benar mengubur cintanya pada wanita itu.


Sang pengantin pria di tuntun menuju sebuah meja yang telah tertutupi dengan kain berwarnah putih dengan


kombinasi unggu yang ditata sedemikian rupa hingga tampak seperti bunga di tiap sudutnya.


Disana telah duduk papa Cakra sebagai wali sang mempelai wanita sekaligus yang akan mengucapkan ijab kabul


guna menyerahkan tanggung jawab anak gadisnya pada calon pengantin pria.


Disebelahnya kanannya duduk seorang pria hampir seumuran dengan bapak yang mungkin adalah penghulu yang akan menuntun Papa Cakra mengucapkan ijab kabul.


Sementara di samping kirinya terlihat Om Cashel saudara tertua Pak Cakra, yang akan bertindak sebagai saksi.


Ia duduk tepat di hadapan Pak Cakra. Meskipun keduanya sering berinteraksi, namun kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.


Hari ini adalah hari pernikahannya, hari paling bahagia bagi semua orang.


Namun di otaknya justru dipenuhi dengan sosok wanita yang selalu menghantui hari-harinya.


Wanita yang selalu ingin ia jaga, wanita yang selalu tersakiti. Wanita itu justru akan segera menjadi kakak


iparnya. Dan salah satu yang selalu membuat wanitanya menderita adalah calon istrinya sendiri.


Apakah ia mampu menghadapi pernikahan ini.


Papa Cakra dan Reno telah di arahkan untuk saling berjabat tangan. Dengan tangan yang sama-sama dingin mereka mulai saling meraih tangan.


“Gugup?” Papa Cakra ketika mendapati tangannya yang dingin dan basah akibat keringat dingin.


Reno hanya tersenyum menandakan ia memang sangat gugup.


“Sama, saya juga,” Papa Cakra menjawab pertanyaannya sendiri hanya untuk menepiskan rasa gugupnya.


Ini adalah kali pertama untuk beliau melepas anak gadisnya. Berharap setelah ini, kebahagiaan akan putrinya itu dapatkan dari pria yang berada di depannya ini. Pria yang sebentar lagi akan mengambil putrinya.

__ADS_1


“Bisa di mulai?” Ucapan itu sebenarnya semakin menambah kegugupan di antara mereka.


Dijawab dengan anggukan kepala oleh kedua orang yang saling berjabat tangan.


“Ananda Reno Setiawan Bin Khaeruddin saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Diandra Umaiza Binti Cakra Pratama dengan mas kawin berupa emas seberat 2 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah”


“Saya terima nikah Rima Damayanti Binti Cakra Pratama dengan mas kawin berupa emas seberat 2 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah”


Entah kenapa semua diam.


Tak ada kata sah?


Apa yang terjadi?


“Astaga aku melupakan nama tengah om Cakra, harusnya kan CAkra Safwan Pratama, iya kan?”


Ia hanya mampu membatin dengan lirikan mata yang ke sana ke mari.


Sementara di belakang tirai sana, para wanitapun tertegun mendengarkan kalimat kabul yang diucapkan oleh sang


pengantin.


Rima tanpa sadar justru menggenggam erat lengan pengantin wanita yang sedang ia gandeng.


Sebesar itukah rasa cinta yang dimiliki lelaki itu padanya hingga mengganti nama pengantin wanita dengan namanya?


Jika boleh, inginnya ia segera berlari menumbruk tubuh pengantin pria itu. Atau segera melepas gaun pengantin sang mempelai wanita dan memasangnya di tubuhnya dan berkata akulah yang harusnya menjadi mempelai wanitanya.


Atau jika boleh ijin ia untuk berteriak tolong hentikan pernikahan ini, lihat kami! Kami saling mencintai, mohon satukan kami berdua!


Namun ia tak memiliki kuasa untuk melakukan semua itu hanya bisa memendam rasa sakit parah yang ia sembunyikan.


Tanpa ia sadari meluncur setitik air dari sudut matanya.


Tak sedikit mata yang kini tertuju padanya.


Sementara Diandra turut terdiam.


Matanya terlihat tenang memandang lurus hingga tak bertepian, meski sempat terhentak saat mendengarkan kalimat qabul dari Reno.


Simpang siur yang pernah ia dengar jika Reno mencintai Rima, semakin kuat saja.


Apakah memang benar?


Tanpa sadar Reno sendiri yang membenarkan berita itu.

__ADS_1


Mungkin memang selamanya ia akan berdiri dari balik bayang-bayang Rima.


__ADS_2