Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bukan Acting!


__ADS_3

Rima belum bernapas.


Dihyan mencoba mengangkat dagu sekali lagi Rima mencoba membuka jalan pernapasannya.


Mencubit hidung Rima dengan ibu jari dan telunjukknya, kemudian mencoba mengirim udara dari mulutnya ke


mulut Rima.


Mungkin berhasil, terlihat dada Rima sedikit mengembang.


Dihyan kembali mengulang tindakannya hingga Rima batuk dengan mengeluarkan air dari dalam mulutnya.


Sedikit lega, setidaknya RIma tidak jadi mati.


Kali ini ia mengendong Rima berjalan masuk meninggalkan TKP. Tak bisa dipungkiri, ada garis-garis cemas tertentuk diwajahnya. Rima masih harus mendapatkan penanganan khusus.


Takut jika Rima meninggal di rumahnya, atau takut jika dirinya benar-benar menduda. Yang jelas rasa takut


benar adanya.


“Bi panggilkan Andra!” Dihyan berteriak meskipun napasnya masih tak beraturan.


Dihyan membawa Rima menuju kamarnya, membaringkan tubuh masih basah itu di atas kasurnya.


Terlihat bi Titi menghampirnya dengan sangat tergesa-gesa. “Non Rima kenapa pak?” Terlihat panik. Dan ini benar adanya, bukan acting.


Belumpun ia sempat menjawab, Andra telah nampak memasuki kamarnya, “kenapa?”


“Tenggelam?” Dihyan singkat, masih mencoba mengatur napasnya.


"Kok bisa?" Tanyanya tak percaya. Setahunya, RIma bukanlah manusia yang tak tahu berenang.


Jago malah. Belum lagi jika kecentilannya datang saat memamerkan gaya berenang yang diketahuinya, beuhhh ****! n gokil!


“Cepat periksa dia!”


"Ck, aku mana bisa?" Meskipun malas Andra tetap mendekati Rima, memeriksa denyut nadi dan pernapasannya demi mencari sisa-sisa kehidupan disana.


"Masih ada detaknya kok. Belum mati." Sarkas Andra saat mulai menjauh dari kasur.


“Dia gak apa-apa. Tunggu yah aku panggilin dokter!” Andra meninggalkan kamar Dihyan.


“Bi, tolong ganti bajunya!” Pada Bi Titi yang masih berdiri dengan cemas.


“Iya pak.”


“Mau kemana bi?” Saat wanita itu hendak beranjak.


“Mau ambil pakaiannya non dulu!”


“Hem,” dia masih berdiri terpaku menatap sang istri.


Tak menunggu waktu lama, bi Titi kembali ke kamar dengan membawa piyama Rima.


Bi Titi seolah ragu saat hendak membuka kemben dari tubuh Rima, pasalnya Dihyan masih tetap berdiri tegap di


tempatnya dengan tatapan yang seolah tak berkedip.


Meski wajah pria itu kembali datar, namun Bi Titi tahu jika bosnya itu turut merasakan panik. Atau entahlah.

__ADS_1


Bi Titi memilih menutup seluruh tubuh Rima dengan selimut dengan dirinya yang juga ikut bersembunyi di balik sambil mengganti pakaian Rima. Rempongkan?


Tak sampai disitu.


“Pak sepreinya basah,” Bi Titi sambil menengok ke arah Dihyan yang masih belum melepaskan pandangannya.


“Iya sekalian di ganti aja!”


“Gak mau pindahin non Rima dulu?”


“Gak usah! Atau sepreinya di lepas aja dulu!”


“Iya pak!” Bi Titipun akhirnya melepas seprei yang basah itu tanpa menggantinya dengan yang baru.


Andrapun muncul dengan seorang pria yang diyakini sebagai seorang dokter.


Dihyan hanya menatap pria itu dengan segala tindakan yang dilakukan setelah tadi meminta ijin pada sang suami pasien.


“Nyusahin orang aja!” Kalimat terakhir yang dipilih Andra saat mulai menjauh dari Rima.


“Kenapa di bawa ke sini?” Kalimat ini tertuju pada Dihyan yang telah berada di depannya.


“Aku panik, kakiku langsung melangkah ke sini!” Seolah tau apa yang ada dipikiran sang adik, atau entah


memang ini jawaban dari dalam hatinya.


“Kakak yakin gak menyentuh dia lagi?” Sambil melirik mantan sahabatnya.


“Aku mau mandi. Angkut aja kalau mau!” Dihyan meninggalkan adiknya menuju ke kamar mandi.


Heh, barang kali di angkut?


Mata Rima mulai mengerjap pelan menyesuaikan cahaya lampu yang menyapa matanya.


Di mana? Di surga?


Rima, Rima. Memang orang yang bunuh diri masih bisa masuk surga? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


“Jangan bangun Rima! Jangan bangun! Tidurlah! Kumohon Terpejamlah!”


Mungkin jika tak bangun lagi, adalah hal yang paling baik untuknya saat ini.


Terlebih di sana, ada sang ibu yang telah menantikan kehadirannya. Setidaknya ia tak perlu merasa bimbang dan sedih lagi. Ia akan tertawa kembali sekencang-kencangnya.


Tangannya bergerak meraih kepalanya yang masih terasa pusing.


Kamu bodoh Rima, mau bunuh diri di kolam renang belakang rumah. Apa lagi ada pak Dodo di sana, ya minimal


mereka melihatmu. Dan sekarang kamu mau tau siapa yang telah menolongmu?


Benar saja, gerakan tangannya tadi mampu menarik perhatian pria di sudut sana yang tengah memangku laptop di


pahanya.


“Sudah bangun?” Pertanyaan yang mampu membuat bola matanya justru terbuka lebar.


“Diam! Jangan bicara apapun!”


Piyama kuning lengan panjang, sering ia gunakan saat terasa dingin karena musim hujan. Pelan-pelan tangan yang berada di balik selimut mengusap dadanya untuk memastikan keadaannya saat ini. Benar saja, dia tak

__ADS_1


memakai dalaman apapun.


Matanya berkeliling memandang sekitarnya.


Di sana, sebuah bingkai yang sangat besar dengan gambar sepasang pengantin menghiasi dinding.


Oh My God! Good! Dan sekarang kamu sedang berada di kamar pria itu.


Pria itu berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Rima.


Rima, pejamkan matamu! Kembalilah tidur, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu!


“Tak usah pura-pura tidur! Buka matamu!” Suara itu semakin mendekatinya.


Jangan buka matamu Rima! Tetap pejamkan!


Dihyan berdiri di ujung kakinya dengan melipat kedua tanggan di dadanya.


“Apa niatmu berpakaian seperti itu keluar kamar? Memamerkan tubuhmu indahmu heh?”


“Ingin bilang, pak Dodo lihat aku! Pak Eko liat tubuhku!” Kali ini dengan nada yang mengejek lengkap dengan bibir yang mencibir.


“Kamu haus sentuhan lelaki?"


"Kenapa tidak bilang pada suamimu?”


“Ugh,” Leguhan terdengar dari bibir RIma saat sesuatu menindihnya.


Berat.


Tapi ia masih mengeratkan pejaman matanya.


“Huff,” hembusan napas itu menyempurnakan ketegangannya.


“Inikah yang kamu mau?" Dihyan mulai menyerigai meski tak terlihat oleh RIma.


"Aku akan memberikannya dengan senang hati!”


Rima menggeleng keras, sebentar lagi badai kembali datang.


Dihyan terkekeh saat mengetahui bahwa wanita itu tak menggunakan dalaman. Kemenagan jelas berada padanya.


Good job Bi Titi, Thank’s!


Dihyan memulai aksinya dengan mempertemukan bibir mereka. Selanjutnya perlahan namun pasti, DIhyan kembali menguasai tubuh Rima.


Sekali lagi rintihan demi rintihan lolos dari bibir Rima, namun sekali lagi pula Dihyan tak menghiraukannya. Hingga menuntaskan urusannya, merasakan surga dunia melalui tubuh sang istri.


Tanpa peduli kesakitan dan betapa ringkihnya RIma saat ini.


“Jangan lagi memamerkan tubuhmu pada siapapun! Atau kau tau apa yang akan kau terima.” Dihyan mulai memisahkan tubuhnya setelah berhasil mendapatkan puncak keindahan biologisnya.


Rima bo doh! Sekarang apa?


Lihatlah, kamu benar-benar hancur! Maka nikmatilah!


Terlalu lelah untuk memikirkan semuanya, terlebih lagi tubuhnya memang masih belum stabil matanya kembali terpejam.


Sungguh ia tertidur.

__ADS_1


Bukan acting!


__ADS_2