Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Percaya Aku!


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan?” Rima segera berlari meraih tubuh Reno yang telah tersungkur dilantai. Namun belumpun menggapai tubuh Reno, langkah itu terhenti secara terpaksa. Kini kedua tangannya juga telah di pegang oleh dua orang perempuan dari mereka.


Hemm, ternyata diantara mereka ada yang perempuan juga.


“Lepas ih!” Rima menggertak sambil meronta, “Kalian ini kenapa sih?” Dengan mata melotot sebab amarah yang bersambar seketika itu.


“Mari nyonya, tuan sedang menunggu!” Ucap salah satu wanita dari mereka sembari mengendurkan pegangaannya.


“Iya tahu, tapi ini lepas dulu! Aku Cuma mau ngomong sama kak Reno.”


“Tidak bisa nyonya, ini perintah tuan agar segera membawa anda!”


Nyonya! Nyonya!


Kesal dengan panggilan itu. Merasa masih sangat muda tak sesuai jika harus dipanggil seperti itu.


“Atau kalian mendapatkanku hanya tinggal jasad!” Sebuah ancaman.


Tentu saja hanya ancaman, Rima takkan mampu melakukannya. Seberaninya ia, tapi takut mat!. Trauma pun masih ada. Sakit pasti terasa sebelum ajal menjemput.


Akh ya, bukannya sebelumnya Rima memang pernah melakukan uji coba bunuh diri? Dan semua pengawal itu tahu


tentang berita itu. Itulah sebabnya penjagaannya sangat ketat.


Tak ingin kejadian dulu terulang mereka terpaksa melepaskan pegangannya pada Rima.


Setelah tangannya telah dilepas, ia berjalan menghampiri Reno yang masih terduduk di lantai.


“Kakak gak papa?”


“Kamu gak papa?”


Mereka hampir bersamaan.


Setelah mengannguk untuk menjawab pertanyaan Reno, “Kak mereka banyak,” setengah berbisik pada Reno.


“Hemm,” hanya itu yang Reno ucapkan. Sambil pandangannya mengedar ke seluruh ruangan.


Ting.


Suara  pintu lift terbuka.


Tanpa sepatah katapun, dua kali tendangan berhasil di lepas Reno pada dua orang lelaki di dekatnya hingga

__ADS_1


membuat mereka tersungkur.


Mungkin sedikit bisa membuatnya bergerak dan meraih tangan Rima dan segera berlari masuk ke dalam lift.


Dua pengawal wanita yang mendekatinyapun mendapat jatah tendangan di perut masing-masing hingga ikut


tersungkur di depan pintu lift.


Wah hebat, rekor baru untuk seorang Reno yang berani melawan wanita.


Hanya menyisakan mereka berdua di dalam lift, dan segera menekan tombol tutup.


Meskipun dengan hati berdebar mereka masih sempat tergelak di dalam lift yang sedang bergerak naik. Entah


menertawakan korban yang berjatuhan hasil dari kelakuan Reno sekaligus kekacauan yang telah mereka timbulkan, mungkin.


Tanpa sadar tangannya masih memegang pergelangan Rima.


“Kak makasih yah!” Ucapan Rima sebenarnya menyisakan tanya tentang maaf untuk dan tentang apa.


"Rima,"


"Kamu pasti berpikir jika aku yang memberi tahu Dihyan tentang keberadaanmu kan?"


Bahkan Rima belum menjawab sekalipun.


"Percaya sama aku Rima. Bukan aku!" Pintanya sedikit memelas, seolah hanya kepercayaan itu yang ia butuhkan saat ini.


“Aku mencintaimu.” Entah mengapa kalimat menjijikkan itu mampu ia ucapkan.


Bukan menjijikkan, mengingat siapapun dapat mengatakan kalimat seperti itu, tapi yang jadi masalah adalah sasaran kalimat itu.


Kalimat yang harusnya di ucapkan pada orang yang kita cintai bukan?


Tangannya terangkat membelai pipi lembut selembut kapas milik RIma. Ibu jari digunakan menelusuri pipi, hidung dan bibir milik wanita itu.


Cantik! Cantik sekali!


Tak tertandingi.


"Kamu mau aku membuktikan jika aku mencintaimu?" Tiap kata di ucapkan dengan begitu lirih.


Hembusan napas itu tepat mengenai wajah RIma. Kini kening mereka telah beradu satu sama lain.

__ADS_1


Rima mengerti maksud ucapan pria ini.


Jika ditanya seperti itu, ia ingin menjawab iya saja. Namun otak masih bekerja dengan baik. Mengingat dirinya  ternyata masih terikat pernikahan dengan pria lain.


Reno memajukan dagu, lebih dekat dari sebelumnya. Mata memandang bibir ranum milik Rima, dan itulah sasarannya. Mungkin ini akan menjadi pembuktian cintanya.


Tangan Rima terangkat, berada diantar bibir yang hampir bersua itu. "Aku istri orang." Ucapnya sama lirihnya.


Hati tertahan agar tak terlalu perih saat mengingat status itu.


Reno hanya mampu memejamkan mata. Status yang belum sempat ia robohkan itu kembali menjadi penghalang mereka.


Turut mengangkat tangan, menahan pergerakan Rima yang hendak menurunkan tangan, menggengam lembut.


Memajukan bibir membentuk sebuah kecupan di telapak tangan Rima.


“Aku mencintaimu.”


"Sangat!"


"Sangat mencintaimu, sampai membuat aku jadi bod0h."


"Kamu mau aku membuktikan cintaku seperti apa?" Reno.


"Tak usah membuktikan apa-apa. Takdir akan berkata nantinya."


Reno hanya mengangguk, membolak-balikkan tangan, mengecup tanpa henti masih dengan mata tertutup.


Sadar, jika sebentar lagi ia takkan merasakan tangan mulus kekasih hati yang milik orang lain ini.


Membuka mata, memandang wajah cantik yang turut tersenyum padanya. Namun sedikit tersentak ketika mendengar suara, “Boleh aku peluk kakak?”


Tentu suara itu ditujukan padanya dan suara itu berasal dari wanita yang di hadapannya. Karena saat ini mereka


hanya berdua.


“Sini!” Merenggangkan ke dua tangannya sebagai tanda penyambutan untuk Rima. Dengan mudah memasuki rengkuhan pria itu.


Sementara wanita yang tengah berada dalam pelukannya itu hanya tersenyum ketika mendengarkan kalimat itu. Dan ekspersi itu mampu ia tangkap melalui pantulan dari dinding lift, seolah menjawab ucapannya dengan, “Aku juga mencintaimu.”


Ia hanya mengeratkan pelukannya, dan dibalas dengan pelukan erat dari sang wanita.


Mungkin ia lupa atau bahkan tidak mau tahu tentang siapa sang penerima ucapan itu. Dan sang wanitapun seolah lupa atau tak mau tahu dengan statusnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2