Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Malam telah berada di pertengahan, acara pun telah Usai. Menyisakan perut yang terisi penuh, lelah dan kantuk yang mulai menyerang.


" Dibilangin gak usah nyalahin petasan, masih juga dinyalain. kalau Adik bayinya bangun Gimana?"


Suara tapak-tapak kaki yang masuk ke dalam rumah hampir secara beriringan. Suara Diandra yang terdengar kesal pun turut terdengar memasuki rumah.


" Kan adek bayinya nggak bangun Kak, jadi aman." Diva menanggapi.


" Mana kamu tahu kalau tidak bangun?" Diandra.


" Itu kan, ... Kak Iyan juga masih enteng. Kalau memang adeknya nangis, pasti Kak Iyan keluar panggilin Kak Rima."


" Sudah sudah,Rima kamu cepetan lihat anakmu!" Mama cinta mencoba menengahi.


" Tahu nih satu orang. Udah jadi emak-emak masih main sampai lupa waktu!" Diandra masih dengan nada juteknya.


Suara Rima tak terdengar meski hanya sepatah kata. Sudah seperti ini saja dia merasa sangat senang. Perihal suaminya yang akan marah, sebentar akan kita hadapi.


Langkah kaki yang tadi terdengar bergerombol kini mulai pecah, mengarah ke tempat peristirahatan masing-masing.


Diva, Diandra dan Rima berjalan ke arah yang sama?


" Ngapain kamu ikut-ikut?" Diandra yang merasa diikuti oleh Rima, terlalu pe-de. Padahal wanita itu hanya ingin mengambil anak yang tadi dititipkan di kamar dua anak gadis ini.


" Ngapain Kakak di kamar Kita?" Kini Dihyan yang menjadi pusat omelan Diandra, saat melihat pria itu Tengah berada di kamarnya.


" Cuma pinjem doang, Rima malas naik turun." Pria itu mencoba membela diri, sebenarnya ia bingung dengan suara bernada kesal yang sedari tadi ia dengar dari adiknya ini.


" Kamu kenapa kesal kayak gitu?" tanyanya.


" Lihat istri Kakak, bukannya ngurusin anak malah sibuk main petasan!" Masih dengan nada kesal.


Sementara Rima hanya meringis, berjalan mendekati kasur di mana putranya tertidur mengabaikan suara tantenya yang dari tadi menggerutu.


Namun satu yang mencuri perhatian Dihyan, gadis itu terlihat kesal tapi bukan marah. Terlihat berbeda dari sebelumnya, gadis itu akan benar-benar marah atau setidaknya menghasutnya.


Tapi kini adiknya yang satu itu hanya mengomel seperti seorang ibu pada anaknya. Dan Rima justru hanya menanggapi dengan diam atau sesekali meringis, mungkin telinganya telah penuh dengan suara Diandra.


"Ahhh adik bayi, masih bobok ya?" Di sana Diva telah membuang tubuh ke arah ranjang, tengkurap di samping sang bayi dengan tangan terulur demi menyentuh tubuh mungil itu.


" Jangan digangguin Dek," Dihyan segera berlari menepis tangan sang adik. Antengnya tak se anteng yang merek bayangkan. Lengannya bahkan sudah sedikit pegal karena lumayan lama menggendong.


Tak perlu dilarang kedua kalinya, karena Diva segera berbalik bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Plak.


" Cuci muka dulu, Sikat gigi baru ganti baju! Nggak boleh langsung tidur kayak gitu!" Belum pun mendarat di Pulau mimpi, Gadis itu terlonjak kaget saat bokongnya dipukul sangat keras.


Ah begini menjadi si bontot, terlalu banyak penjagaan dan tak bisa seenaknya.


" Ngantuk banget Kak!" Entah Kakak siapa yang Iya maksud, tadi hanya mendengar suara Rima yang yang menyuruhnya membersihkan diri terlebih dahulu. Mata bahkan telah terpejam, kaki di bawah bekerja menarik selimut untuk tubuhnya.


Keadaan yang riuh itu justru terlihat hangat di mata Dihyan. Seperti satu keluarga yang sebenarnya, berharap semoga saja ini bukan drama yang dibuat-buat di hadapannya saja.


" Biar aku yang gendong!" Dihyan Segera mengmbil alih sang putra.


" Kamu main petasan juga?" Tanyanya sekolah tak percaya.


" Bukan juga, tapi dia yang jadi tokoh utama. Lompat-lompat, teriak-teriak kayak anak kecil, Nggak sadar diri kalau sudah jadi emak-emak." Jawaban Diandra sebelum berhasil masuk ke kamar mandi.


Dihyan justru semakin penasaran.


Rima Damayanti, seorang dokter dengan segala keanggunan dan kecantikan yang dimiliki bertindak seperti yang dikatakan Diandra tadi.


Ah, mungkin Dihyan tidak terlalu mengenali pribadi istrinya. Atau rima yang sejenak melepaskan diri dari betapa beratnya menjadi orang dewasa.


Mentari di awal tahun telah menampakkan diri dengan malu-malu. menyisakan berbagai memori yang mungkin hanya untuk di kenang.


Dan pagi ini, pandangan pertama yang ia temukan saat membuka mata adalah foto indah berbingkai emas besar.


Sejenak ia terdiam mengamati pemandangan di di depannya. Foto sepasang pengantin yang tersenyum dan seolah menatap ke arahnya.


Senyuman yang terlihat begitu tulus dan menyimpulkan kebahagiaan yang tiada tara. Foto sang suami bersama istri pertamanya, Nindy.


Semalam mereka tidur di kamar Dihyan, setelah sebagian barang-barang pribadinya telah dipindahkan.


Rima tersenyum meski ada sedikit yang mencubit dalam hatinya. Ah, memang inilah jalannya. menjadi istri kedua, atau bahkan menjadi istri bayangan.


Ia sadar, hingga detik ini Dihyan masih begitu mencintai Nindy, dan dirinya hanya sebagai pencetak anak bagi Dihyan.


Hanya seperti itulah pemikiran Rima pada pernikahannya ini.


Tapi tak mengapa baginya, asal bisa membuat semua orang merasa bahagia.


Menoleh ke sisi samping, Dihyan sudah tak ada lagi di sana.


Jam berapa sekarang?

__ADS_1


Oh ya ampun, waktu telah menunjukkan pukul 11, mendekati siang hari dan  Ia masih berada di kamar ini sendirian.


Sendirian? Bahkan tanpa bayinya.


Dan kini ia baru tersadar dengan satu kewajibannya tentang kehidupan lain yang bergantung padanya, menyusui Sang putra.


Bangun dengan sedikit tergesa-gesa dan keluar dari kamar tanpa memperhatikan penampilannya dulu.


"Biiii,…" Panggilnya dengan sedikit kencang, kaki pun Melangkah dengan cepat menuruni anak tangga.


"Bi,…" Otak yang tadinya memerintahkan kaki untuk melangkah ke dapur terhenti sejenak, demi memasang Indra pendengarannya baik-baik saat terdengar riuh ramai di ruang keluarga.


Benar saja semua telah berkumpul di sana, dan putranya berada di tengah-tengah menjadi rebutan di antara keluarga mereka.


Rima terus berjalan hendak bergabung.


" Emaknya baru bangun!" Sapaan itu yang baru saja terdengar dari adik iparnya, Siapa lagi kalau bukan Diandra. "Ckckck, Mana belum mandi lagi."


Dengan singlet yang memang sedikit lebih besar dan celana short super pendek, membuat sang suami yang melihat penampilannya segera berdiri demi menghalangi pemandangan orang-orang pada tubuh Sang istri.


" Ganti baju dulu!" Tanpa aba-aba, Dihyan segera menarik tangan istrinya demi menghilang dari pandangan seluruh keluarga.


Rima menurut saja, meski di Sana hanya ada keluarga mereka saja, namun ia tak ingin berdebat kembali dengan Dihyan dan Diandra. pasti akan kalah.


" Ayah mau pamit pulang dulu." Saat mereka baru saja selesai menyantap makan siang.


"Yah," Rima masih mencoba memelas, ia masih ingin ayahnya tinggal di sini.


"Besok ayah sudah masuk kerja, gak bisa ijin. Awal tahun begini banyak yang ambil cuti, dikasi cuti malam diperpanjang sendiri. Jadi kita-kita yang gak terlalu berkebutuhan harus mengerti dengan mereka yang sedang pulang kampung." Senyuman itu terlihat begitu lebar dan tentu bahagia.


"Benar itu!" Papa turut menimpali.


Hingga akhirnya Rima tak lagi memiliki alasan untuk tetap menghalangi langkah ayahnya meninggalkan rumah ini.


"Tapi ayah janji, harus sering-sering datang jengukin!" Pinta Rima dengan pelukan manja bergelayut di lengan sang ayah.


"Iya, kamu juga kalau bisa sering-sering datang bawa cucu ayah."


"Kan belum bisa keluar besan." Itu suara mama, hampir seluruh keluarga yang turut mengantar hingga ke teras, tanpa si bayi.


Mobil yang di kendarai ayah telah melaju meninggalkan kediaman Dihyan.


"Dasar manja!"

__ADS_1


Masih saja terdengar suara-suara sumbang dari belakang.


__ADS_2