Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Dihyan Bimbang.


Pikirannya kini berada di tengah-tengah. Ia ingin merenovasi kamar Rima, memberikan kenyamanan pada wanita itu.


Namun ragu untuk meminta izin pada Rima. Betapa canggungnya keadaan mereka ini. Terlalu banyak yang di otaknya saat ini. Apakah Rima tidak tersinggung nantinya? Lalu di mana akan ia ungsikan selama masa renovasi kamar.


Berjalan perlahan mendekati Rima yang sedang menyusui anaknya.


Mama baru saja pergi, bersama dengan Diva demi memberi kebutuhan bayi lainnya. Stroller, baby box, itu yang paling penting saat ini.


Dihyan mendudukkan diri tepat di samping Rima, tubuhnya sedikit Condong ke depan demi memperhatikan lebih dalam anak dan istrinya, tangannya terangkat memeluk anak dan istrinya sekaligus.


Usapan tangan yang bergerak lembut disertai dengan kecupan-kecupan ringan pada keduanya silih berganti.


Memperhatikan bibir Sang putra yang menempel di dada istrinya. Bibir yang terus bergerak demi kehidupannya dengan mata yang justru terpejam erat, terlihatlah sangat lucu pada pandangan pria ini.


Sejujurnya ia tak bisa membendung perasaan bahagianya saat ini, berharap akan selalu seperti ini kedepannya.


" Rima," Tertahan karena otaknya masih menyusun kata-kata.


"Hemmm," Rima hanya berdehem. Wanita ini juga tengah menikmati indahnya menjadi ibu. Telunjuknya sengaja diselipkan pada telapak tangan sang bayi. Membiarkan jari-jari mungil itu menggenggam telunjuknya.


Dihyan masih terdiam memilah kata.


" Kenapa?" Rima, saat tak ada kelanjutan dari pria yang berada belakangnya.


Ck, harusnya Dihyan menunjukkan contoh gambar kamar yang disukai Rima, agar wanita itu tak merasa tersinggung. "Emmm, nggak pa-pa!"


" Loh kok, kenapa?" Rima menoleh, menatap Dihyan yang sama menatapnya sambil tersenyum kaku.


" Mau ngomong apa sih, Bilang aja!" Ucapnya lagi.


" Nggak pa-pa kok, nggak jadi!" Dihyan merasa tak enak jadinya.


" Justru aku tersinggung kalau kamu kayak gini!" Rima.


Dihyan justru menenggelamkan wajahnya pada tengkuk sang istri. "Emmm.…"


" Kamu suka model kamar yang seperti apa?" Setelah beberapa lamanya berpikir.


" Kenapa?" Rima.


" Aku ingin renovasi kamar ini, sekalian mengganti ranjangmu dengan yang lebih besar biar kita bisa tidur bertiga dengan lebih leluasa."


" Aku sering takut bergerak kalau tidur seperti ini, takut nanti dedeknya terjepit, atau aku Timpa. Bagaimana?"

__ADS_1


Rima tersenyum, hanya karena ingin merenovasi kamar ini Dihyan membutuhkan waktu untuk berbicara dengannya.


" Ya terserah kamu saja, ini kan rumahmu."


Jujur Dihyan tak suka kalau mendengar kata itu keluar dari bibir Rima. " Ini juga rumahmu Rima, apalagi kamar ini kamarmu."


" iya iya maaf." Tak ingin kembali berdebat dengan hal-hal yang tidak penting. " Terserah kamu saja mau yang bagaimana."


" Aku nggak tahu seleramu yang bagaimana, makanya aku tanya. Takutnya nanti Pilihanku tidak sesuai dengan keinginanmu." Dihyan.


" Iya nanti aku pikirkan, kalau Kamu punya rekomendasi boleh juga."


Ah akhirnya, Dihyan dapat bernafas dengan lega setelah membicarakan tentang kamar dan Rima pun tak tersinggung.


Satu pekerjaan beres. Tinggal mencari rekomendasi model kamar dan orang yang akan mengerjakan kamar.


" Kamu tidur di kamarku dulu ya selama kamarmu dikerjakan!"


"Terserah kamu!"


" Kamar tamu mungkin akan penuh, karena mereka semua nginep di sini. kamu nggak papa kan?"


" Ya Bagus dong kan kita jadi ramai. Pas buat tahun baruan."


Semakin lapanglah terasa dadanya kini.


Seperti yang telah dikatakan Mama Cinta, jika anak-anaknya ikut serta mengungsi di rumah Putra sulungnya. Bukan hanya Divany, ada Diandra juga meski dengan raut datar dan hanya diam meski seluruh keluarga sedang tertawa bersama. Canggung, tapi ia merasa kesepian saat ditinggalkan seorang diri di rumah. Jadilah tadi sore ia memilih melajukan mobilnya ke rumah ini.


Menjadikan rumah Dihyan dan Rima saat ini ramai.


Malam ini mereka berbicara banyak. Tentang acara apa yang pas untuk tahun baru besok, dan yang paling bersemangat di antara mereka adalah gadis SMA itu, Divany.


Dan hari ini, dia mulai mempersiapkan segalanya. Bersama dengan Mama Cinta dan Armada yang setia mendorong troli di belakangnya, menampung semua bahan-bahan untuk acara Barbeque-an ala-ala malam nanti.


Dalam perjalanan pulang tak lupa gadis itu menepuk pelan pundak pria muda yang kini berada di balik kemudi.


" Kak singgah bentaran Kak!" Kepalanya melongok keluar, memandang para pedagang kaki lima yang menjual bermacam-macam jenis petasan.


" Ngapain Dek." Mama cinta berbalik, memandang anak buntutnya yang duduk di belakang kursi penumpang.


" Mau beli petasan mah." Tangan telah menekan handle pintu mobil.


" Nggak boleh, di rumah kan ada adik bayinya."


" Dikit aja Mah, nggak usah yang besar-besar." Tubuhnya yang telah berdiri di dekat mobil itu kembali berbalik menatap sang ibu yang akhirnya ikut turun dari mobil.

__ADS_1


" Nanti papa sama kakakmu marah loh!"


" Ya udah kembang api aja deh, yang nggak meletus. Kan biar tambah ramai mah." Gadis itu mulai bernegosiasi, memasang wajah manja seimut mungkin.


Armada ikut turun, bersiaga Jika saja tenaganya kembali dibutuhkan.


" Ya udah kalau nggak diizinin, mending keluar tahun baruan sama temen." Mode mengancam on.


" Ngaco, kita lagi ngumpul kamu malah mau keluar. Emang Papa ngisinin?"


" Gampang, kan ada Kak Armada yang jagain." Mata melirik manja pada pria yang berdiri di dekat mama, yang akan menjadi tumbalnya nanti.


Alasan Ia kenapa selalu dilarang keluar malam ya jelas karena keamanannya. Namun sekarang Ia mempunyai seseorang yang bisa di jadikan p


Ya anggap saja Bodyguard. Bodyguard cakep, hehehe.


" Ya udah belinya jangan banyak-banyak. Nggak usah yang meletus-letus!" Hingga akhirnya Mama Cinta mengalah, daripada gadis itu nekat keluar dengan seribu satu macam alasan.


Dan ternyata, keputusan Armada untuk turun dari mobil sangatlah tepat. Katanya sedikit, tapi,...


Mereka kembali masuk ke mobil pada posisi masing-masing. Dengan Divany yang duduk di kursi tengah kini telah berdampingan dengan segala macam kembang api dan juga,…


Petasan.


" Eh Kak jangan dulu!" Diva, saat melihat Armada bersiap menurunkan petasan miliknya.


" Kenapa?" Tanya pria itu, beberapa bahkan telah berada dalam dekapannya.


" Nanti, pas momennya. Takut disita masalahnya."


Armada mengangguk, membenarkan alasan gadis ini.


Masuk ke dalam rumah dengan tentengan di kedua tangan masing-masing. Segala macam kembang api dan petasan masih tersimpan di dalam mobil.


Rima tak kalah semangatnya dari gadis muda itu, turut membantu jalannya acara. Meninggalkan bayinya yang terlelap di samping sang suami.


Taman samping dekat kolam renang menjadi titik kumpul keluarga ini.


Ayah dan papa mertuanya telah berada di sana, dengan Arman, Pak Eko dan Pak Dodo sebagai pelengkap yang terlihat sedang mempersiapkan pembakaran.


Sementara para wanita terlihat hilir mudik dari dapur ke teras samping sambil membawa seluruh kebutuhan.


Dihyan, pria itu masih bertugas sebagai penjaga anak. Ikut tenggelam dalam lelapnya mengikuti jejak Sang putra mahkota. Dan selama masa itu berlangsung, Rima memanfaatkannya dengan baik. Ikut bergabung dan keluarga, sekali turut membantu kegiatan yang menurutnya sangat seru.


" Maaf!"

__ADS_1


__ADS_2