
Reno menunduk dengan bibir yang mengukir senyum.
Bayangan wajah Lely yang kesal saat melihat dirinya dan Rima tengah bersama, lucu sekali pikirnya.
Mereka yang selalu mencuri waktu, mengambil kesempatan saat Lely tak ada, meski hanya sebentar.
"Kamu kenapa?" Suara itu turut menghentak lamunannya.
"Senyum-senyum sendiri nggak jelas. bayangin apa sih? Gebetan?" Serentetan kata dengan nada sindiran membuatnya tersadar jika ia kini sedang berada di tempat lain.
Tempat yang berbeda dengan yang di tempati Rima saat ini. Lumayan jauh untuk kata sebuah rindu.
"Kamu udah punya gebetan? Baguslah kalau begitu."
Bodo amat pikirnya.
Dia sedang bahagia, dan tak ingin diganggu. Lebih memilih keluar menjauhkan diri demi mencari kembali kebahagiaan semu meski hanya lewat bayangan.
Kembali ke ruangannya sendiri, segera merogoh saku mengeluarkan ponselnya.
Terus menggulir hingga nama Yanti terpampang di layar.
Senyum sempurna kembali Terukir di wajah, membayangkan wajah cantik sang pemilik nama yang telah diplesetkan sedikit.
Status Rima saat ini Belumlah jelas.
Ah Rima, rindu rasanya.
Layar ponselnya kembali ditekan-tekan menghasilkan sebuah pesan.
"Rima, bantuin cari kos-kosan dong!" 🗨
Send.
Hanya dengan hitungan detik centang dua berwarna hijau terlihat.
Masih menetap layar ponsel, tahu jika orang di sana sedang mengetik pesan.
Ck, lama sekaliiiiii, keluhnya dalam hati, Tak sabar.
"Buat siapa?" 🗨Rima.
"Buatku kalau lagi ke sana." 🗨Reno.
" Kakak mau yang bagaimana?"🗨Rima.
Senyum lagi-lagi mengembang menandakan bahagia tengah bertamu saat membaca pesan.
Namun rasa penasaran kian menggebu.
Sedang apa Rima di sana?
Kembali menggeser layar, menghubungi hendak mendengar suara.
"Lagi ngapain?" Tanyanya saat baru saja telepon terhubung.
"Nggak ngapa-ngapain." Rima.
"Kamu nggak kerja?"Reno.
"Enggak." Rima.
Kesempatan.
Kembali menggeser layar hendak melakukan video call.
Dan beruntungnya Rima cepat merespon. Hingga pada detik selanjutnya, ia telah bisa memandang wajah cantik sang kekasih.
Kekasih, peristiwa di pantai Losari yang lalu menandakan Rima telah menerima pengakuan cintanya.
__ADS_1
Di layar nampak wajah Rima yang sedang berbaring.
"Kamu ngapain?" Tanyanya. Wajah tersenyum dengan tangan terulur menempatkan ponsel di depan layar komputer.
Ingin menampakan wajah dengan view terbaiknya.
"Mau tidur." Rima
Reno telah menumpuk tangan di atas meja, menaruh dagu di atasnya. Ingin menikmati dulu menatap sang pujaan hati yang menampilkan wajah bersih tanpa polesan.
Ck, semakin cantik saja.
"Gak kerja?"
"Sift sore. Kakak gak kerja?" Rima.
"Ini lagi di kantor."
Senyum semakin terkembang saat menatap Rima yang melenguh sambil bergerak mencari posisi terbaik untuk tidur.
"Minggu depan jemput di bandara ya!" Pintanya lagi.
Rima mengangguk, hati bagai mendapatkan siraman beribu kelopak bunga secara tiba-tiba.
Menumpang mobil Lely dengan perdebatan-perdebatan kecil terasa lebih menyenangkan baginya.
Definisi dikasih hati minta jantung, dan tak tahu malu.
Perbincangan ringan yang mampu menikis rindu.
Reno belum mau menutup panggilan, biarlah Rima tertidur sendirinya. Ia masih ingin memandang menikmati wajah cantik itu.
Masih tetap memandang ponsel meski panggilan telah berakhir.
Kembali teringat wajah cantik itu yang terkejut saat mendapati dirinya di rumah sakit dengan menarik koper besarnya, minta diantar ke bandara saat hendak pulang.
Terdiam melongok, namun masih tetap cantik dalam pandangan matanya.
"Tunggu aku!"
"Setelah perceraian-mu beres nanti, aku juga akan pindah ke Makassar."
Janji yang dulu pernah ia ucapkan di hadapan Rima, kembali ia ucapkan lirih sambil layar ponsel bergambar dirinya dan Rima.
Niatnya pulang kerja hendak menemui Mama cinta. Orang yang ia anggap mampu membantunya untuk memperjelas status Rima, bercerai.
Tak sabar rasanya menanti status itu.
Duduk berdua dengan perantara meja. Di hadapan masing-masing telah tersaji coffee latte dan macchiato sebagai pendamping masing-masing saat berbincang.
Restoran dengan private room menjadi satu-satunya tempat mereka berbicara dengan aman.
"Sejak kapan?" Tanya Mama Cinta to The Point.
Kedekatan antara Reno dan Rima tak mungkin tak diberitakan oleh Lely. Sedikit tak percaya, namun info dari orang kepercayaannya membuat ia memang harus percaya meski sulit.
"Sejak sebelum mereka menikah." Jawabnya mantap tanpa ragu.
Baginya tak ada lagi yang perlu ditutupi. mungkin dengan jujur, sebuah jalan akan terbuka lebar untuk dirinya dan Rima.
Hembusan terdengar dari Mama cinta, " Lalu sekarang bagaimana?"
" Aku mau minta tolong sama tante!" Reno meragu.
Sebaik-baik wanita di hadapannya ini, beliau adalah ibu kandung dari Dihyan dan ibu mertua dari wanita yang ia cintai. Rasa canggung pasti ada.
"Minta tolong apa?" Mama Cinta usai menyesap coffee latte miliknya.
" Rima ingin kepastian tentang Statusnya sekarang ini." Kali ini ia berani memandang mata Mama Cinta. Bukan hanya Rima yang ingin kepastian tapi juga dirinya.
__ADS_1
Lagi hembusan terdengar dari wanita cantik itu.
Hingga sekarang Dihyan masih mempercayai jika Rima adalah istrinya. Dan anaknya itu masih terus saja mencari keberadaan Rima.
Namun, terlalu egois rasanya jika terus saja menahan Rima demi Sang putra yang pernah menyakiti.
Rima juga pastinya Mendamba sebuah kebahagiaan dalam hidup.
Bingung pastinya kini.
Satu kebahagiaan itu nyatanya mengorbankan kebahagiaan lainnya.
Cinta menggeleng, jujur berat dengan situasi ini.
Tapi mengingat lagi, Jika ia pernah menjanjikan Rima kebebasan.
"Tante akan bantu." ucapnya pelan, sepelan semangat yang ada dalam diri. Nyatanya bingung masih menghinggapi meski telah memberi keputusan.
" Terima kasih Tante!" Ucapan tulus dari asa yang terjanjikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dihyan memincingkan mata, memandang pria tampan yang tengah berdiri di hadapan. Senyum sini Terukir halus di bibir.
Hanya niat bermain-main saja, hendak mencari tahu tentang kesibukan Reno di tiap akhir pekannya.
Tentang Reno yang selalu mendapatkan alasan ketika ia minta ditemani.
Merasa Reno mengabaikan dengan sesuatu yang tidak penting baginya.
Nyatanya yang ia dapat adalah sesuatu yang menyesakkan dada.
Saat kembali memandang beberapa kiriman gambar yang telah Ia terima.
Menampakkan Rima dengan wajah cerah sumringah menanti kedatangan Reno di bandara sana.
Belum lagi tangan saling terulur seperti orang yang tak sabar menanti.
Reno bertemu dengan Rima, dengan kedua pancaran wajah menunjukkan kebahagiaan.
Ia tak mampu menelisik tentang bahagia apa itu, dan hubungan apa yang tercipta di antara mereka.
Yang ia sesali adalah, Reno telah menemukan keberadaan Rima, Tapi tak memberitahukan padanya.
Orang yang dianggapnya teman itu nyatanya tega menusuknya dari belakang.
Orang yang pernah berkata akan membantunya, nyatanya tak lebih dari seseorang pecVnd@ng.
"Keluarlah!" Ucapnya pada Reno yang baru saja memberikan laporan pekerjaan.
Kini Reno bukan lagi temannya, melainkan hanya seorang bawahan semata.
Berdiri, membalikkan badan mengarah pada dinding kaca di belakang kursi kerjanya.
Pandangan menembus tanpa batas.
Kini ia kembali sendiri.
Sebagai makhluk sosial, Ia mungkin takkan sanggup berdiri lama dengan kaki sendiri. Namun apa mau dikata ia harus tetap bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hanya karena satu kesalahan saja, Ia ditinggalkan oleh semua orang.
Sesulit itukah yang namanya kata maaf.
Mungkin mulai sekarang, dia akan kembali bekerja sendiri.
Tanpa keluarga.
Tanpa orang tua.
__ADS_1
Dan tanpa teman.
Yang butuh hanya uang untuk membayar orang suruhannya.