Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Mereka


__ADS_3

Dua kamar baru saja selesai direnovasi, kamar untuk Rima dan Dihyan, dan satu kamar untuk yang bayi yang kini telah memiliki nama.


Azka Baihaqi Elramdan, itu namanya.


Nama indah pemberian dari sang kakek, sebab kedua orang tuanya terlalu pusing untuk mencarikan nama untuk putra pertama mereka.


Dihyan baru saja pulang kantor menghampiri Rima dan mama yang kini tengah berada di ruang tengah, bersantai sejenak menikmati tayangan ringan dari televisi dengan tiga buah cangkir teh hangat di atas meja.


Di atas karpet bulu kembali diletakkan kasur bayi dengan seorang gadis yang bertugas sebagai baby sitter.


Dihyan meletakkan empat buah katalog yang berbeda di atas pangkuan Rima.


"Ini apa?" tanya wanita itu.


" Buat acara Aqiqah!"


" Hah?"


Kedua wanita itu sama terkejutnya, pasalnya pria itu belum melakukan diskusi apapun pada mereka.


" Kok kamu nggak bilang dulu sama mama?"


" Tadi papa yang bilang di kantor, langsung dicariin EO sama orangnya." Dihyan langsung menjatuhkan tubuh diantara kedua wanita itu.


" Kapan?" Rima.


" Nggak tahu Papa maunya kapan." Dihyan.


"Ck, apaan sih?" Protesnya Rima saat Dihyan menjatuhkan kepala di pundaknya, sementara tangan telah melingkar di belakang punggungnya, saat ini ia dalam mode serius, sementara pria itu terlihat santai.


Jujur saja Ia pun merasa sedikit risih saat harus bermesraan di sana. Pasalnya bukan hanya ada Mama, tetapi ada seorang gadis yang tengah menjaga Putra mereka di sana, tak ingin disebut merusak pikiran suci nan polos.


"Mlekum."


Sapaan salam zaman anak sekarang, membuat mereka semua melongo.


" Salam itu yang benar! Kalau salamnya kayak gitu kita mau balas bagaimana?" Dihyan mewakili pertanyaan orang-orang yang di sana. " Yasalam?"


Gadis itu hanya nyengir dan terus melenggang masuk hingga ikut bergabung.


"Waaah, ade kecilnya juga ada di sini." Terus turun duduk di karpet bulu.


" Eh, jangan dek, mandi dulu sana jangan langsung pegang adek dulu, banyak kumannya!" Rima telah mengulurkan tangan hendak menahan pergerakan adik iparnya, sayangnya tangan DIhyan masih menahan tubuhnya.

__ADS_1


" Vaaaa, dengerin kakak ipar kamu!" Suara pria itu datar namun mampu menahan pergerakan gadis di sana.


"Sejak kapan anak SMA pulang jam sore?" Dihyan, bahkan ia yang pulang lebih dulu.


"Ck, aku pulang siang, sisanya nongkrong bentar sama teman-teman."


" Dan mama mengizinkan anak gadisnya setiap hari seperti ini?" Jiwa penjaga sebagai seorang kakak pada adik perempuannya timbul. Andaikan benar kelakuan adiknya tiap hari seperti ini, sudah pasti ia akan memberi gembok pada sepatu sang adik agar tak bisa lagi ke aman-mana.


" Gak setiap hari juga kakakku yang cakep, Itupun kalau lagi ada tugas atau ada yang mau didiskusikan." Tugas menjadi alasan terkuatnya setiap diadili oleh Papa Mamanya.


"Udah ah, kalian mandi dulu sana!" Usir Rima pada sang suami dan iparnya saat melihat Dihyan hendak menghampiri Putra mereka setelah Diva beranjak dari sana.


" Pelit banget!"


Dasar bu dokter, segalanya harus bersih. Padahal menurutnya ini sudah bersih, toh iya bekerja dalam ruangan tidak seperti Diva yang memang telah menjelajah pada beberapa tempat.


" Cepetan ishhhh."


Sebab Dihyan Justru menetapnya dengan jahil.


Masih sempat mengecup pipi sang istri sebelum segera berlalu dari sana.


" Kata Papa kalau kondisi Rima sudah membaik acaranya minggu depan."


Ucap pria itu sambil mulai melangkahkan kaki meninggalkan mereka di sana.


Mendengar kata minggu depan, justru membuat Mama kelabakan. Sangat wajar jika mengadakan pesta besar untuk kelahiran cucu pertama. Tapi apa mungkin semuanya disiapkan hanya dengan waktu satu minggu?


Wanita paruh baya itu segera membuka satu buah katalog yang tadi diberikan Dihyan.


Baru beberapa lembar terbuka, dia merasa pusing sendiri.


" Semuanya cantik-cantik, mama jadi bingung." Ucapnya sambil menatap sang menantu dengan kedua tangan berada di atas kepala.


Begini kalau terlalu didesak oleh waktu, pikirnya.


" Jangan minggu depan ah!" Ucapnya lagi.


" Mama nggak mau, banyak yang harus kita urus. Minimal dua sampai tiga Minggu lagi. Belum juga nama-nama yang mau diundang. Dari pihak keluarga kamu juga, pasti mau ngundang banyak, kita kan memang belum pernah ada kan acara besar-besaran dua keluarga."


Rima hanya mengangguk membenarkan Semua ucapan mama yang panjang lebar.


Benar, semua ini papa dan Dihyan lakukan untuk memperkenalkan keluarga baru mereka.

__ADS_1


Terutama Dihyan yang hendak menunjukkan kepada dunia sosok Rima dalam hidupnya. Hendak memperlihatkan Siapa pemilik wanita cantik, sedikit ****! dan penuh pesona itu.


Jika suatu saat nanti ada pria yang mencoba mendekati istrinya dalam bentuk apapun, bisa dipastikan bahwa pria itu adalah pengganggu rumah tangga.


Hingga akhirnya pesta besar-besaran dengan dalih aqiqah benar dihari ke dua puluh satu kelahiran putra mereka.


Tenda-tenda putih berhias tirai biru telah terpasang di depan rumah Dihyan. Lengkap dengan balon berwarna putih dan biru sebagai hiasan.


Souvenir untuk para tamu undangan telah berjajar teratur di sisi dinding.


Seluruh tamu undangan pun telah silih berganti memberikan ucapan selamat pada Dihyan dan Rima.


Beberapa orang dari mereka terkejut, pasalnya setelah kepergian Nindy pria itu tak berkabar saat menikah dengan Rima.


Terlalu banyak spekulasi-spekulasi yang muncul dengan acara dadakan seperti ini.


Dihyan yang mungkin selingkuh saat istri pertamanya sedang sakit.


Atau, Rima yang mengandung sebelum pernikahan mereka.


Tapi Dihyan sedikit tak peduli.


Cukup baginya urusan pekerjaan dan rumah tangga yang menjadi pemikirannya saat ini. Terserah orang mau bilang apa tentangnya.


Tak lupa pria itu memperkenalkan istrinya pada Pak Khaerudin beserta istri.


Ia masih bisa menangkap wajah terkejut wanita yang berstatus sebagai Ibu dari Reno itu dan wajah istrinya yang terlihat menundukkan kepala dengan malu-malu saat keduanya saling berjabat tangan.


Ia masih mencoba melapangkan dada saat menebak sejauh mana perkenalan dua wanita itu. Nyatanya ucapan Reno dulu masih betul-betul membekas dalam hati dan otaknya.


Tak mengapa, di sini ia bisa meminta perlindungan secara tak langsung dari ibunya Reno untuk menjaga agar hubungannya bersama Rima jauh dari pengganggu terutama putranya, Reno.


Beberapa lamanya Dihyan mencoba bersapa dengan Pak Udin, meski hanya sekedar bertanya kabar keluarga. Sesekali melirik ke arah kedua wanita itu yang hanya terdiam dengan senyum yang sama kakunya.


Pria itu hanya cukup menggenggam tangan Rima seolah menunjukkan pada seluruh mereka yang hadir jika hubungan mereka sedang dalam masa-masa indah dalam berumah tangga.


Reno, jangan di tanya di mana kini pria itu.


Kini ia berada di luar, di bawah naungan tenda yang jauh dari keluarga inti sang pemilik acara.


Apakah kalian mampu melihat kekasih hati yang bahagia, tapi bukan dengan dirimu?


Ini tak seperti ekspektasinya.

__ADS_1


harusnya mereka bertukar tempat


__ADS_2