
Sementara semua yang menjadi saksi pernikahan itu hanya menganggap bahwa Reno gugup saat mengucapkan qobul.
Wajar saja sebenarnya, mengingat pria itu baru menghapalkan kalimat itu beberapa waktu lalu.
Kembali ke depan.
“Mungkin pengantinnya gugup,” Ucap seseorang mencairkan keheningan ruangan itu.
“Nama pengantin wanitanya Diandra Umaiza Binti Cakra Pratama.”
Apa? Diandra Umaizah?
Bukan Rima Damayanti?
Mata Reno membulat seketika. Kesadarannya seolah direnggut secara paksa.
Berarti yang tadi hanyalah mimpi semata.
Artinya benar aku harus melepas Rima? Apa ini akhir dari penantianku?
Setelah sekian lama berdiri dalam rindu, duka dan bahagia kini iapun gagal bertahan? Cintanya kini seolah tak utuh itu, kini benar-benar retak berkeping dan semakin jauh dari sang pemilik.
Hanya bisa menundukkan kepalanya dan tanpa sadar ia mengenggenggam erat tangan yang sedari tadi ia jabat, dan tangan itu adalah tangan papa Cakra, calon mertuanya.
“Bisa diulang?”
Belum.
Sang mempelai pria masih menata hati, mungkin belum siap menerima kenyataan. Ia masih tertunduk mencari mimpinya yang kini retak seribu, seolah ingin berkata tolong bangun aku dalam buaian ini.
Inginnya ia menarik tangan Pak Herman yang juga duduk tak jauh dari meja itu, mengganti posisi Pak Cakra saat
ini. Atau inginnya berlari meraih tangan Rima lalu membawanya pergi menjauh dari keluarga Pratama, toh mereka juga bisa hidup tanpa nama keluarga itu.
Apapun namanya, aku ingin Rima!
Namun ia bisa apa sekarang ini. Jodohnya adalah Diandra dan bukan Rima.
Ia hanya bisa berdoa dalam hati, Tolong Ubah Takdirku! Tolong Ganti Jodohku!
“Bisa diulang?”
Ia masih terdiam, masih berusaha menerima kenyataan pahit ini.
Ya, ia memang harus menerima semua ini.
Tampil disini bukan hanya membawa dirinya sendiri tapi juga membawa nama baik keluarganya.
Bapak, ibu pasti akan malu dengannya jika semua ilusi yang ada di otaknya berjalan tanpa perhitungan.
“Saya siap!” Ucapnya masih menggenggam tangan papa Cakra.
“Baiklah! Kita mulai!”
“Ananda Reno Setiawan Bin Khaerudin saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Diandra Umaiza Binti Cakra Safwan Pratama dengan mas kawin berupa emas seberat 2 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah.”
__ADS_1
“Saya terima nikah Diandra Umaiza Binti Cakra Safwan Pratama dengan mas kawin berupa emas seberat 2 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah”
Sah?
SAH.
Suara serempak mengisi ruangan itu.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, kini cinta mereka telah lebur dan pudar dengan kata-kata.
Ketika semua orang tengah menengadahkan tangan sambil berdoa, ia justru mengepalkan ke dua tangannya di depan dadanya hanya demi memendam rasa sakit melepas pujaan hatinya.
Benarkah ia mampu melepasnya?
Bahkan saat orang itu telah terikat tali pernikahan ia masih menunggu dan mengharapkannya.
Kini mempelai wanita telah di tuntun untuk duduk di sampingnya. Dan salah satu yang menuntun sang mempelai
wanita adalah?
Hem, wanita yang ia puja.
Wanita yang ia impikan jadi mempelainya.
Wanita yang tadi namanya ia sebut saat qobul pertama ia ucapkan.
Tak mampu menatap, ia hanya menundukkan kepalanya semakin dalam.
Kini sang mempelai telah menandatangani surat nikah dan saling menyematkan cincin pernikahan.
Setelah Diandra mencium tangannya, kini berganti ia yang mencium kening istrinya.
Entah ini keberuntungan atau sebaliknya karena saat ini pandangangannya selurus dengan mata dengan tatapan
sayu dari seorang wanita di sebelah sana, berharap bahwa wanita itulah yang ia kecup keningnya.
Dan pemandangan itu membuatnya betah mencium kening sang istri. Sangat lama, hanya untuk menikmati tatapan sayu sang pujaan hati di sana.
Setelah selesai melakukan akad nikah, kedua sang mempelai digiring kembali ke kamar untuk berganti kostum.
Diandra sampai Terkesima saat mendapatkan gaun pengantin Indah sementara ia sendiri tak pernah melakukan fitting baju.
Dan kini mereka telah berdiri di atas pelaminan sambil menyambut dan menerima ucapan selamat nemempuh hidup baru yang memiliki arti lain baginya.
Jangan tanya kenapa semua begitu apik, tersusun sempurna meski hanya memerlukan beberapa waktu saja. Semua itu karena hasil pemikiran Dihyan, dan itu ia lakukan demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Undangan digital yang di sebarkan secara tiba-tiba, membuat tamu-tamu yang tak terduga ikut berdatangan. Meski banyak para teman dan kolega yang melayangkan protes melalui kolom komentar sebab acaranya dilakukan dengan tiba-tiba.
Tak sedikit pula yang meminta maaf karena tak sempat datang sebab sedang berada di luar kota.
Acara yang tadinya diperkirakan hanya sampai siang, Kini harus berlanjut saat mereka mendapatkan tamu undangan yang jauh lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.
Di sudut sana, Rima terduduk seorang diri. Tubuhnya disembunyikan di balik pilar hingga tak terlihat dari keriuhan pernikahan ini.
__ADS_1
Ia kira, Ia bisa berlapang dada melepaskan Reno untuk Diandra. Nyatanya tak semudah itu, kenyataan ini terlalu pahit untuk ia telah begitu saja.
Hatinya saat ini terasa begitu sakit, pilu dan terpukul saat memandang kedua mempelai berdiri di atas pelaminan sambil menyambut dan menyapa para tamu undangan. Padahal sejak tadi ia telah mencoba mempersiapkan hati, menguatkan diri dengan pemandangan ini.
Oh ya ampun!
Ia tak pernah mengira jika ia tak kan pernah sanggup untuk membagi Reno untuk wanita lain.
Reno yang kini telah jatuh ke tangan Diandra tak mungkin baginya untuk kembali menarik tangan pria itu. Jika tidak, perselisihan kembali akan terjadi antara dirinya dengan Diandra dengan sebab yang sama.
Pikirannya melayang saat-saat indah bersama dengan Reno.
Saat harus berlari kencang sambil bergandengan tangan agar bisa terhindar dari kejaran Lely.
Saat harus menyisihkan waktu istirahat demi untuk bisa bersama.
Saat makan bersama di sebuah Resto meski masih dengan sembunyi-sembunyi.
Ah, dulu semua terasa sulit karena selalu ada penghalang diantara mereka, namun justru begitu indah.
Sayang kini semua telah berlalu.
Ikhlas?
Kata yang terlalu sulit baginya, namun terpaksa harus ia tanamkan sejak kini. Ia tak berniat untuk kembali menyakiti hati Diandra.
"Rima."
Rima masih menunduk meski Indra pendengarannya menangkap suara yang begitu sangat Iya kenali Tengah menyapanya.
"Rima."
Wanita itu masih enggan mengangkat kepala. Pandangannya yang ke bawah tengah menangkap dua pasang sepatu heels milik pemilik suara.
Kini tubuhnya semakin tertutupi oleh keramaian oleh dua sahabatnya itu, membuat ia memiliki kesempatan untuk mengeluarkan rasa sakit hatinya melalui tangisan.
Kedua tangan Rima terulur Demi meraih masing-masing tangan Olivia dan Pratiwi yang turut hadir gandengan masing-masing. Tangan itu menggenggam dengan begitu erat seolah tengah memohon sebuah kekuatan dari kedua wanita ini.
Harusnya pernikahan ini bisa mereka gunakan sebagai reuni keempat sahabat ini, namun semuanya terasa berbeda.
Rima dengan penampilannya seperti ini, tengah menampakan sebuah kesedihan yang begitu mendalam.
Dari sela kedua tubuh sahabatnya, Rima masih bisa menangkap senyum bahagia Diandra di atas pelaminan sana.
Dan itu bisa ditangkap oleh kedua gadis ini.
Via dan Tiwi mengikuti arah pandangan Rima, lalu kau kembali memandang ke arah wanita itu. Entah mengapa saat ini pemikiran keduanya sama.
Rima dan Diandra kembali terperangkap dalam hati yang sama. Tapi bagaimana bisa? Mereka sama-sama mengetahui bahwa Rima saat ini telah menjabat sebagai kakak ipar Diandra.
Pandangan keduanya kembali tertuju pada Rima, yang kini bahkan tengah menggigit bibir bawah demi mengurangi isak tangisnya agar tak terdengar.
" Apa benar-benar…?" Kata-kata via terhenti, enggan melanjutkan sebab takut akan menjadi bumerang bagi mereka nantinya.
Tiwi mengangkat kedua bahu, gadis itu pun rasanya takut meski hanya mengeluarkan pendapat.
__ADS_1