
Lely memasang sikap awas saat kaca spion menanggkap sesuatu yang berbeda.
Mobil suv berwarna hitam itu sejak tadi berada di belakangnya. Entah arah tujuan mereka sama atau ada hal lainnya? Ia pun ragu tentang itu.
Perasaan lega saat mobil itu justru melambung jalurnya.
Ah, rupanya ia terlalu berprasangka buruk.
Namun tidak, kembali awas saat mobil itu melambat. Tak pernah menyangka jika mobil lain yang melaju di sampingnya turut menggiringnya pada jalur yang tak biasa.
"Kenapa? Kok belok?" Ucap Rima sama waspadanya.
"Gak tau, tuh mobil kayaknya ngikutin kita deh."
Sejak tadi ia hanya diam sebab tak ingin membuat Rima panik. Namun waktu demi waktu yang mereka jalani kini benar memacu adrenaline.
Diapit oleh dua mobil, seolah tak bisa berbuat apa-apa.
Merasa terancam dengan hadirnya dua mobil tersebut. Dan mereka hanya berdua saja di dalam mobil ini.
Merasa semua aman-aman saja, Romi melepaskan pengawasan kepada dua wanita itu.
Kembali pada kebiasaan sebelumnya, menggunakan motor kesayangan.
Memasuk daerah pergudangan dengan blok-blok yang terlihat sepi.
Mobil suv di depannya semakin memperlambat laju, sementara yang di samping semakin memepet.
Hingga mobil hitam itu mulai berhenti, mau tak mau Lelypun turut berhenti.
"Rima, hubungi Romi!" Lely sambil menatap pintu mobil yang mulai terbuka.
"Sharelok, kalo bisa suruh Romi ke sini! Perasaanku gak enak." Tak bisa lagi menyembunyikan perasaan di saat seperti ini.
Mobil ada dua, entah orang yang di dalam ada berapa banyak.
"Kamu jangan kayak gitu!" Rima sambil menguncang lengan Lely. Bukan panik lagi, tapi rasa telah beralih. "AKu jadi takut nih."
"Udah?" Lely tak menanggapi, justru meminta kepastian tentang perintahnya barusan.
"Iya-iya. ini juga baru mau kirim." Tangannya mulai bergetar.
"TURUN!"
Hah, Rima terhentak kaget. Saat tangannya sedang sibuk mengetik, ia justru mendengar seseorang tengah menggebrak kaca jendelanya.
"Kamu jangan takut! Hadapi semampu kita." Lely.
Tangannya juga turut meraih gawai, pesan singkat terkirim pada mama Cinta sebagai sikap waspada selanjutnya.
Beberapa pria juga terlihat turun dari mobil yang lain satunya. tak butuh waktu lama para pria itu telah mengelilingi
mereka. Benar, pria-pria itu mengincar mereka.
"Turun! Atau kami pecahkan kaca mobilnya!" Penampilan pria-pria itu sama memakai hoddie dan scraft menutup wajah.
Salah seorang dari mereka telah berjalan dengan membawa palu. Yang pastinya itu akan digunakan untuk memecah kaca mobil mereka.
"Mau apa?" Lely saat menurunkan kaca mobil.
"Buka!" Satu pria menyelipkan tangan di pintu kaca yang baru saja diturunkan.
Namun segera menarik kembali tangannya, saat Lely justru kembali menaikkan kaca jendelanya.
Geram, wanita itu seolah sedang mempermainkan dirinya.
__ADS_1
"Aaaa." Teriakan Rima menggema saat pria itu memukul kaca dengan palu di tanggan. Sementara Lely hanya melindungi wajah dengan lengannya. Kaget dan takut menjadi satu.
Lely membuka pintu dengan keras, sengaja demi menghantam tubuh pria tadi. Tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pun dengan Rima, mencoba mengikuti jejak Lely, menghantam pria di sampingnya dengan pintu mobil.
Meski tak bisa dipungkiri rasa takut belumlah surut, namun menyerah untuk saat ini rasanya terlalu cepat.
Sama terpelanting, kedua pria itu seakan memberi jalan pada Rima dan Lely untuk keluar terlebih dahulu.
Dengan segera, Lely pun berlari ke samping. Menjaga RIma sudah menjadi prioritas utamanya.
Kalah jumlah, statement yang pernah di ucapkan Leli kali ini terbukti.
Ada 8 pria, melawan mereka yang hanya berdua. Memang bisa?
Bukan, apakah mereka sanggup menghadapi mereka?
Sama-sama membelakangi, mereka mencoba menghadapi pria-pria itu.
Tak wajar mungkin karena mereka perempuan, tapi inilah hidup.
Kadang keras dan memaksa untuk tetap dihadapi apapun yang terjadi.
Melayangkan tendangan ke segala arah, begini rasanya di kepung.
"Aku akan mencoba mengecoh mereka. Kamu segera lari, cari bantuan. Telpon polisi!" Bisik Lely tepat di belakang Rima.
"Kita hadapi sama-sama!"
"Gak bisa!" Leli segera memisahkan diri dari Rima, berusaha mengecohkan konsetrasi para pria. Tak terima dengan penolakan Rima.
Setidaknya ia lebih mampu menghadapi lebih dari satu orang dari pada Rima yang belum bisa di ukur secara
pasti kemampuannya.
Dua orang mampu ia kalahkan dengan beberapa tendangan dan pukulan, meskipun begitu diapun sempat mendapatkan sebuah pukulan di perutnya akibat serangan secara bersamaan.
Memisahkan diri dari Rima merupakan kesalahan strategi yang dia ambil. Terbukti Rima kewalahan, dengan
dua tangannya telah berada di belakang tubuhnya dengan di pegangi oleh seorang pria.
Namun, memang mama Cinta tak salah memilih orang dalam mendampingi dan menjaga Rima. Dengan sekali tendangan yang mendarat ke punggung sang lelaki. Dengan begitu, pria berikut Rimapun tersungkur ke lantai.
Kekuatannya memang tak di ragukan.
Cepat Lely mengambil tangan Rima guna membantunya agar segera berdiri, “Rim, kamu lari! Cepat!”
“Aku gak mungkin meninggalkan kamu sendiri di sini!” Rima berdiri tepat dibelakang Lely.
Niatnya ingin teriak ditahannya. Hanya buang-buang tenaga saja. Tak ada orang nampak di sekitar sini.
“Aku gak papa kok, setelah kamu pergi aku juga bisa lari. Kita ketemu di pertigaan!”
“Cepat!” Suara Leli membuatnya benar-benar berlari meninggalkan sahabat yang beberapa bulan ini setia menemani dirinya.
Lely berhasil menangkis beberapa serangan yang menghalau langkah Rima, hingga gadis itu mampu berlari sediki lebih jauh lagi.
"BERHENTI!"
Teriakan itu tak digubrisnya, masih berlari dengan segera mencari bantuan.
Namun baru beberapa meter, DOR.
Suara tembakan terasa memekakan telinga. Perasaannya seketika itu menjadi tak karuan.
__ADS_1
Ia dan Lely tak pernah memiliki senjata api. Lalu siapa yang meledakkan suara itu. Dan siapa yang menjadi korban benda itu.
Tak urung langkah kakinya berhenti dan membalikkan tubuh demi melihat kebelakang, penasaran.
Miris, pemandangan ini tak pernah ia harapkan.
Lely telah bersimpuh dengan kedua tangan terbentang dan dikuasai dua orang pria di masing-masing sisi.
Seolah waktu Rima berhenti saat itu juga.
“Berhenti atau temanmu kamu kami tembak!” Lengkap dengan moncong pistol yang berada di kepala Lely.
Sudut bibir telah pecah dengan bekas pukulan di pipi. Itu yang terlihat, yang tidak terlihat? Entah berapa banyak luka yang diterima Lely untuk melindunginya.
Kejam sekali.
“Kemari! Dan kami akan melepaskan temanmu ini.” Kembali suara itu ia dengar.
Lagi perasaan ingin berteriak, namun apa daya tenaganya seolah hilang demi melihat kondisi sahabatnya di sana.
Ingin menangis, tapi pun tak bisa.
“Serahkan diri anda jika ingin temanmu selamat!”
“Rima, jangan!” Suara Lely parau. Pasti menahan rasa sakit.
Sejenak Rima menundukkan pandangan ke arah bawah temannya itu.
Tanah yang Lely pijaki sedikit terlihat basah, dan berwarna gelap.
Apakah Leli benar-benar tertembak?
Rima memejamkan mata, bimbang dengan keputusan apa yang akan ia ambil.
Kini gadis itu telah mengangkat kedua tangan ke atas, menyerah.
“Rima, jangan Rima!”
“Lari Rima, aku gak papa.” Pinta sahabatnya itu. Meski dalam keadaan seperti itu ia masih memikirkan keselamatan RIma.
“Lepaskan dia, bawa aku saja.” RIma.
Sama ingin berkorban demi sahabat.
Hanya satu kerlingan mata, seseorang yang lain kini telah membekuk tangannya, mengikat ke depan.
“Lepaskan temanku!” Pintanya.
Entah terwujudkah atau tidak. Yang ia tahu, matanya seketika itu pula langsung ditutupi dengan kain.
"Rima b0d0h!"
Dituntun ke sebuah arah yang ia tak tahu ke mana?
"Rima berhenti Rimaaaaa!"
Masih jelas dalam pendengarannya suara Lely yang mengaung memanggil namanya, menyuruhnya berhenti dan
menyuruhnya kembali berlari.
Ia bisa apa dalam kondisi seperti ini?
Sekarang ia bahkan tak tahu nasibnya setelah ini.
Apakah ia terlalu bodoh, mengikuti perintah para penjahat itu? Belum tentu juga mereka melepaskan Lely setelah mendapatkan dirinya.
__ADS_1
Masih dengan tuntunan kedua orang itu, ia memasuki sebuah mobil.
Bagaimana ini?