
Dalam sebuah klub terdengar musik dengan irama kencang nan memekakkan gendang telinga, disertai dengan cahaya lampu kelap-kelip yang semakin membuat kepala pening.
Duduk enam orang lelaki dalam satu private room, dan dua diantarnya Dihyan beserta asisten setianya, Reno.
Setelah cukup lama menunggu, masuklah beberapa gadis dengan membawa beberapa botol minuman. Ada yang
berwarna merah gelap dan ada pula yang berwarna gold.
Salah seorang dari mereka mencoba menuangkan minuman itu dengan kelentikan jari dan kaki jenjang yang terpamerkan hingga jauh ke atas lutut.
Tak lupa senyum manja, kemudian mendekati Reno terlebih dahulu.
Mengapa Reno?
Karena mungkin Renolah yang memiliki raut wajah paling tampan diantara para pria itu.
“Thank’s,” ucapnya singkat sambil mengulurkan tangan demi meraih gelas yang tadi disodorkan oleh gadis itu.
Ah tidak, gadis itu sengaja menyentuh tangannya, hemm mulus.
“Your welcome, honey,” berikut kerlingan mata dengan wajah yang sengaja dimanja-manjakan.
Tak sampai disitu gadis itu kini telah duduk tepat di sampingnya, sambil menyilangkan kaki.
Membuat bawahannya terangkat semakin mengekspos bagian atas lututnya.
Gadis itu tepat berada di antara Reno dan Dihyan.
Tapi sangat jelas bagi mereka, gadis itu lebih memprioritaskan Reno dari pada Dihyan. Mungkin karena itu
bagiannya dan memberikan Dihyan pada temannya yang lain.
“Don't touch me, please!” Kalimatnya, saat gadis itu mulai meraba paha Reno dengan sangat pelan dan lembut.
Sementara yang lain hanya tersenyum memandang interaksi mereka.
Oughhh please, help me!
“Sedikit saja!” Gadis itu justru semakin manja merapatkan tubuhnya.
“Please!” Dengan sangat berat seolah memohon dilengkapi dengan tangannya yang terangkat sepuluh jari penuh, simbol stop.
Gadis itupun menyerah, tapi kini berpindah pada Dihyan yang juga tepat disampingnya.
Mungkin pria itu lebih menerimanya dari pada Reno.
“Me too!” Dihyanpun mengangkat tangan dengan merenggangkan kelima jarinya, membuat sang gadis memberenggut kesal.
Dasarnya tak kenal menyerah, ia mengambil segelas minuman dan memberikannya pada Dihyan.
Tidak, tapi langsung menyodorkannya tepat di mulut Dihyan memaksa untuk meminumnya, hingga mau tak
mau minuman itu hingga setengah.
__ADS_1
Setelah meletakkan kembali gelasnya, ia langsung menjatuhkan diri ke pelukan Dihyan, dan menggosok-gosokkan dirinya.
Ia tak boleh kosong, harus mendapatkan salah satu dari mereka.
Senang dapat, cuanpun mendarat.
Tapi semakin ia gencar mendekati Dihyan semakin pula pria itu menjauh, bahkan telah menghempaskan tangannya secara kasar. Membuat gadis itu mengalah.
Mungkin wanita itu harus mencari korban lain, eh target maksudnya.
11.30 WITA.
Lelaki itu langsung menerobos seketika saat Bi Titi baru saja membukankan pintu.
“Rima ada bi?” Tanyanya sambil terus melangkah.
“Ada di kamarnya pak, mungkin sudah tidur,” Bibi Titi menjawab dengan sedikit perasaan was-was.
Bau alkohol menyeruak seiring pria itu berlalu. Bau dan menyengat.
Dihyan terus melangkah menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, sebab kebutuhannyapun kini sangat mendesak. Kebutuhan yang sedari tadi ditahan setelah mendapat godaan dari gadis seksi.
“Rima, buka pintunya Rima!” Dihyan sambil mengetuk pintu kamar dengan sangat keras. Harus cepat, atau ia mungkin akan pingsan karena terlalu lama menahan.
"Ck, RIMAAAAA," Teriakannya menggelegar. Namun yang dipanggil tak merespon.
Karena tak ingin mengganggu yang lain yang sedang tidur, dia memutuskan untuk mengambil kunci cadangan dan
membuka pintu kamar Rima.
“Ada apa?” Tanya Rima saat melihat Dihyan telah berada diatas kasur yang sama dengannya.
“Aku butuh bantuanmu!”
Dan selanjutnya Dihyan telah merapatkan bibir mereka dan berhasil mengukung tubuh Rima.
Rima menepuk dada Dihyan agar lelaki itu menjauh, tapi tidak. Dihyan terus saja mencoba menghimpitnya.
Rima mendorong kuat dada kekar itu, dan membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Berusaha menunda sesuatu yang mendobrak dari dalam perutnya.
Melihat ekspresi wajah Rima, Dihyanpun melepas himpitannya yang dengan segera berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Terasa seseorang menepuk-nepuk punggungnya, namun aroma itu sangat tak bisa diterima oleh indera penciumannya.
Ia mengedikkan bahunya dan berusaha menepis tangan itu seolah berkata, “Jangan sentuh aku!”
Dihyan menurut mengambil sedikit jarak.
Hingga Rima menyelesaikan urusannya, Dihyan hanya berada di luar kamar mandi menatap punggungnya yang
masih terbungkuk tengah membersihkan diri.
“Abis minum?” Pertanyaan pertama saat ia membalikkan badannya menatap manusia yang menyebabkannya mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
“Kamu bau!” Di lengkapi dengan gerakan tangan yang memerintahkan Dihyan untuk pergi.
Membuat lelaki itu sedikit menepi dari hadapannya hanya untuk memberinya jalan keluar.
Rimapun keluar digantikan dengan Dihyan yang kini telah memasuki kamar mandinya.
Gemercik air terdengar dari kamar mandi sesaat setelah pintu tertutup mendakan pria itu tengah mandi.
Pintu terbuka dengan menampilkan Dihyan yang keluar dengan menggunakan handuk di pinggannya.
Ia sudah segar,sudah harum. Semoga saja Rima mau menerimanya dan bekerja sama, karena keinginannya belum juga surut.
Jika tidak, tak ada pilihan lain kecuali memaksa. Ya desakan ini sangat mengganggunya.
Tapi sosok yang ia cari justru tak ada di sana, lalu kemana?
Malam-malam begini?
“Rima! Rima!” Panggilnya dengan sedikit panik.
Dihyan keluar dari kamar Rima hanya dengan menggunakan handuk di pinggangnya dengan sedikit rasa cemas
mencari pemilik kamar.
“Rima!” Ia mulai menuruni tangga sambil terus memanggil nama Rima.
“Apa yang kamu lakukan?” Dihyan saat melihat Rima berada di depan meja makan dengan sebuah mangkuk berisikan mie instan berkuah merah dengan toping telur mata sapi.
Sudah liat ada mie instan, ya pasti mau makanlah!
Rima hanya melirik, tanpa mencoba menjawab pertanyaan sia-sia itu.
“Aku juga lapar!” Dihyan yang telah berada tepat disamping Rima.
What? Lapar?
Bukannya dia baru pulang? Apa diluar gak makan? Heh.
Rima menyodorkan mie yang telah tampak sangat menggiurkan itu, seleranya telah melayang.
Dihyan langsung duduk di kursi yang sama setelah Rima berdiri, mungkin ia benar-benar lapar.
Rima hanya meminum susu hangat, dan kemudian kembali ke kamarnya dengan membawa segelas air putih. Tak lupa pintu dikunci agar pria itu tak masuk lagi ke kamarnya.
Setelah makan, Dihyan kembali panik karena tak menemukan Rima di sana.
“Heh, Rima!” Ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan sedikit berlari melewati anak tangga.
Semakin kesal karena mendapatkan pintu itu dikunci dari dalam sementara kunci cadangan yang tadi ia
gunakan sudah tak ada di tempatnya.
"Rimaaaaa," Geramnya.
__ADS_1
Menutup mata erat-erat, "Awas kamu!"
Ah, ini benar-benar menguji kesabarannya.