Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Aromatherapy


__ADS_3

" Jadi kapan aku bisa kerja lagi?" Rima menagih janji. Tiga buah tespek telah tergeletak di atas meja nakas, dan hasilnya semua dua garis merah.


Menimbulkan kebahagiaan tersendiri pada masing-masing mereka. Dihyan  yang bahagia karena akan menjadi seorang ayah seperti angannya sejak dulu. Sementara Rima bahagia karena akan mendapatkan secuil kebebasan lagi.


"Nanti kita cari sama-sama, aku juga masih sakit Rima." Dihyan seolah masih ingin mendapat perhatian lebih dari Rima. "Bilang saja Kalau kamu ada rekomendasi!"


Rima menganggukkan kepala, " Aku bahkan tidak punya kartu identitas." Sindirnya.


Sejak penculikannya, ia tak mendapatkan barang-barangnya kembali.


"Ada, kamu tenang aja!" Senyum manis Terukir di wajah Dihyan.


"Nanti suruh bi Sumi ambil tasmu di dalam lemariku!"


"Beneran ada?" Antusiasnya Rima dijawab dengan anggukan kepala Dihyan.


"Kenapa nggak dari dulu?" Sambil menggebrak meja di depan mereka, kesalnya Rima saat tahu Dihyan ternyata menyembunyikan barangnya selama ini. Dikiranya barangnya itu telah hilang dan ketinggalan di Pulau berbentuk K itu.


"Sengaja. Memang tunggu kamu hamil dulu, baru ngasih."


Saat ini mereka sedang duduk di dekat pintu balkon Kamar Rima sambil menikmati sarapan pagi mereka. Sepasang kursi kayu dengan meja bundar di tengah, baru saja diletakkan Pak Dodo dan Pak Eko atas permintaan Dihyan.


Kondisi kesehatan pria itu belum terlalu baik, hanya bisa beraktivitas di sekitaran kamar, namun pria itu masih ingin menikmati pandangan di luar.


Rima telah berdiri meninggalkan Dihyan yang masih menikmati segelas susu hangat penambah tenaga. Gadis itu terlihat mondar-mandir, mengumpulkan pakaian kotor untuk diberikan pada Bik sumi nanti.


"Kamu mau ke mana?"


Pekik Dihyan saat melihat Rima baru saja membuka pintu kamar mandi.


Dihyan belum bisa kehilangan Rima dari pandangan matanya meski hanya sebentar.


"Isssshhhh, aku mau pup!" Kesal.


Dihyan selalu mengikutinya semenjak kemarin. bahkan untuk masuk ke kamar mandi sekalipun pria itu tetap mengekori. Jika saja hanya buang air kecil, sikat gigi atau mandi, Rima tak terlalu masalah.


Tapi ini?


Ia bahkan telah menahan rasa ini sejak semalam, namun di tahan, apalagi jika bulan karena DIhyan. Rasanya aneh ketika ia harus duduk sambil mengeluarkan dengan di bawah pengawasan orang lain meskipun itu suaminya.


"Aku ikut!"

__ADS_1


Tuh kan, belum apa-apa pria itu sudah beranjak dari kursinya.


"Isssh, Aku cuma mau pup, udah di ujung tanduk ini."


Meskipun katanya memang di ujung tanduk, yakinlah Rima takkan mampu melakukan itu jika harus dijaga.


" Iya nggak apa-apa, pup aja aku nggak ngapa-ngapain kok!" Dihyan berusaha meyakinkan Rima, masa iya takkan mengganggu aktivitasnya. "Aku balik belakang."


Bahkan saat ini, mereka tengah berdebat di depan pintu kamar mandi.


"Kamu apaan sih!" Kesalnya Rima, hingga ia membungkukkan badan mengambil selembar baju kotor dari keranjang dan melemparkannya ke arah Dihyan.


Ck, gini amat yah ngidamnya? Aneh.


Mungkin lebih baik jika ia yang ngidam makanan aneh-aneh seperti mangga muda, atau rujak, pikir Rima melayang jauh. Wajah masih ditekuk menampakkan jika dirinya masih penuh dengan kekesalan.


Benar, Ia semakin membatasi ruang gerak Rima. Tahu jika gadis itu tengah memendam kekesalan, tapi ia bisa apa? Hanya Rima yang mampu mengobatinya dari rasa pening yang menghantam kepala sejak kemarin.


Pria itu pun mencoba menenangkan diri, menghirup nafas dalam-dalam.


Benar ketenangan bisa sedikit ia rasakan saat mencium aroma tubuh Rima yang masih menempel pada kain yang baru saja mendarat di wajahnya karena lemparan dari Rima. Memandang tangannya yang menggenggam sebuah kain. Baju yang kemarin Rima gunakan saat membersihkan akuarium. Kembali menarik kain itu hingga bertemu dengan indera penciumannya.


Hemmm, lumayan mampu menstabilkan rasa pening.


Aroma tubuh Rima yang menempel di kain itu seperti menjadi aromaterapi untuk mengobati kepalanya yang pening.


Hingga tanpa ia sadari, Rima bahkan telah meninggalkan kamar mereka sambil membawa pakaian kotor.


"Di bawah ada karyawan kamu!" Rima muncul kembali, bahkan gadis itu telah cantik dan wangi setelah mandi. dan itu tanpa Dihyan seperti kemarin.


" Aku mandi dulu, Kamu tungguin ya!" Pintanya pada Rima.


Kain baju Rima masih terlilit di lehernya, sebagian kain dinaikkan menutupi hidung dan bibirnya.


Rima tak menggubris kebiasaan Baru Dihyan, setidaknya ia bisa sedikit leluasa bergerak dari sebelumnya.


Sambil menyiapkan pakaian Dihyan,Rima menunggu pria itu keluar dari kamar mandi.


Turun sambil bergandengan tangan, terlihat seperti sepasang suami yang sangat berbahagia.


" Aku minta minum dulu ya!" pamit Rima segera ditahan oleh Dihyan.

__ADS_1


" Aku nggak bawa baju kamu!" Ucapnya dengan menggenggam gelangan tangan Rima, membatalkan niat gadis itu menjauh darinya.


Di ujung tangga keduanya saling berpandangan, sama-sama berpikir tentang solusi untuk Dihyan.


Apakah Rima harus terus terus mendampingi ke mana pun Dihyan berada?


"Kamu temani aku dulu!"


Rima menganggukkan kepala, entah ia harus bahagia atau marah saat Dihyan menggantungkan hidup padanya. Tapi capek juga kali!


" Bi siapkan minum!" Dihyan harus mengencangkan suara agar Bibi yang berada di dapur bisa mendengarkan suaranya.


" Aduh kenceng banget!" Rima ngusap telinga dengan tangannya, Dihyan berteriak di dekat telinganya.


"Sorry sorry sorry! Hehehe." Membantu Rima mengusap telinganya sambil nyengir.


Jalan berdua menuju ke ruang tamu. Di sana ada Armada yang sudah menunggunya dengan beberapa berkas yang ditumpuk di atas meja.


Hingga beberapa waktu, Bi Sumi kembali datang dengan kain yang diulurkan pada dihyan, " Terima kasih bi!"


"Kamu boleh pergi!" Ucapnya pada kini pada Rima.


" Kamu nggak apa-apa?"Rima menatap pada Dihyan demi memastikan kondisi pria itu.


" Iya nggak apa-apa, kan masih di rumah, masih bisa manggil kamu."Dihyan.


Kain kaos yang sejak tadi pagi melilit di lehernya menjadi obat penenang menggantikan Rima. Kasihan jika Rima selalu ada di sisi-nya sementara ia harus bekerja. Berpikir Gadis itu akan bosan jika hanya tinggal duduk berdiam diri di sampingnya. Hendak menyalakan tv, itu justru akan mengganggu konsentrasi kedua pria itu dalam bekerja.


" Ya udah aku ke belakang ya. Teriak aja, kalau butuh sesuatu." Rima mulai beranjak.


Kembali menahan langkah memandang pria muda yang duduk di sofa sebelah.


" Aku titip suamiku ya, kalau ada apa-apa panggil aja!"


Dihyan tersenyum, setidaknya Rima masih memiliki rasa perhatian padanya meski hanya sedikit.


Hingga beberapa saat, kedua pria itu memilih untuk pindah ke ruang kerja, mungkin butuh konsentrasi lebih.


Slow dulu yah!


Besok kita mulai nanjak lagi.

__ADS_1


Jangan esmosi n jangan sedih. Tetap calmdown!


__ADS_2