
Sayup-sayup suara masjid yang memperdengarkan lantunan ayat suci kembali terdengar, menandakan waktu shalat sebentar lagi. Hari menjelang sore, shalat ashar menanti.
Kembali ia, ayah dan abang tengah bersiap untuk ke masjid. Dengan baju yang semalam ia pakai dan sarung yang melilit di pinggannya.
Dihyan hanya membawa satu baju cadangan, jika ia masih akan tinggal semalam lagi bisa dipastikan ia akan
menggunakan baju itu lagi atau pilihan ke dua pinjam baju sama abang atau ayah atau ia tak memakai baju.
Setelah shalat ashar, ayah mengajak mereka untuk menemui seseorang. Seorang pria setengah baya yang
sedikit lebih tua dari ayah, dengan janggut yang sedikit memutih dan kain sorban yang melilit di pundaknya. Yang ia yakini bahwa orang ini yang tadi bertindak sebagai imam saat shalat.
“Assalamualaikum abah!” Sapa ayah terlebih dahulu.
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”
“Abah sehat?” Lanjut ayah.
“Alhamdulillah,”
“Ini bah, ada yang mau curhat katanya,” Ayah langsung mendorong pundakku demi mendekat pada abah.
Dihyan bingung, memandang ayah lalu pada pria yang dipanggil abah.
Terakhir memandang abang yang justru duduk melipat kaki. Kembali menatap ayah lalu berganti menatap abangnya lagi, mungkin mencari tolong.
Bingung dengan keadaan ini,bingung dengan apa yang menjadi bahan curhatanku. Harus mulai dari mana? Dan harus curhat apa?
Teralalu lama diam, ayah kembali terdengar bersuara, “Abah, bagaimana hukumnya seorang istri yang meninggalkan rumah dan suaminya?”
“Seorang istri tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka
Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.”
Ia bukanlah termasuk orang alim, justru termasuk dalam golongang dzalim.
Ia adalah seorang suami yang selalu menyiksa istrinya bahkan hampir membunuh, sangat wajar jika istrinya pergi hanya demi menyelamatkan nyawanya.
Jika karena alasan itu apakah Rima tetap mendapat laknat? Tidak adil rasanya.
Bukankah justru dirinya yang harus dilaknat?
Ia tertunduk.
Kalimat dari abah serasa tak ia terima.
Rima tidaklah bersalah.
Ia yang salah.
Lirih terdengar suara tangis, Dihyan kembali menangis setelah sekian lama.
Selama ini ia mulai sibuk bekerja, dan di paruh waktunya mencari keberadaan RIma.
Tak lupa mengorbankan diri dalam ilusi, karena rindu yang membelenggu belum ingin ia akui.
Hingga lelahpun menjadi pengantar tidur hampir di tiap malamnya.
Sementara ke tiga pria lainnya hanya memandang Dihyan yang masih setia dengan isak tangis.
Saling berpandangan, mencari jawab dari seluruh pertanyaan yang tak terucap.
__ADS_1
Ayah menatap abang, mengira mungkin pria itu mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.
Sementara yang ditatap menggelengkan kepala, seolah berkata ia tak tahu apa-apa.
Di masjid hanya tinggal mereka bertiga, seluruh jamaah telah meninggalkan masjid kembali pada aktifitas masing-masing.
Bergeser sedikit mendekati Dihyan, Abang kini menepuk-nepuk pelan punggung DIhyan.
Beberapa mereka saling terdiam, hanya berbicara dengan kode.
"Aku,...." Dihyan mulai mengeluarkan kata, meski tangis belum reda sepenuhnya.
"Aku yang salah bah." Ucapnya masih terbata.
Bahunya terguncang demi menahan tangis agar tak sampai pecah.
"AKu yang telah menyiksanya."
"Aku yang telah memfitnah dia telah membunuh istri pertamaku." Berusaha berbicara, semoga setelah ini hati bisa lega.
"Aku juga yang membunuh anak yang ia kandung." Kini DIhyan telah bersimpuh di depan abah.
Dan semakin lama, tubuh itu semakin menunduk hingga bersujud.
"Aku yang salah."
"Aku yang berdosa."
"Aku membvnvh anakku sendiri."
"Dia hamil waktu jatuh dari tangga, itu anakku. Aku pembvnvh."
"Aku pembvnvh."
Ayah dan abang terperangah mendengar pengakuan Dihyan itu. Saling memantap dalam satu sama lain.
Suara tangisan Dihyan menyamarkan ucapannya, namun jelas tertangkap oleh indera pendengaran mereka.
Serumit itu kah?
Pantas saja istrinya pergi, katanya diculik.
Sementara abah, tetap tenang dengan mengusap pelan punggung DIhyan.
Seseorang mengakui kesalahannya saja sudah luar biasa.
Semua terdiam, mendengarkan DIhyan yang terus saja bergumam-gumam kecil diiringi tangisannya.
"Istriku tidak bersalah."
"Jangan laknat dia karena pergi dari rumah." Masih bersujud di depan abah.
Ayah dan abang kembali saling memandang.
Dihyan meminta pada siapa?
Abah?
Bukan hak abah, jika istrinya itu di laknat atau tidak.
Ingin tertawa, tapi tak tepat waktu.
__ADS_1
Suara tangis telah mereda, perlahan kembali menegakkan tubuh sambil menghapus jejak-jejak cengengnya.
Abang bergerak, berdiri dan berjalan ke sudut masjid. Di sana ada kardus berisi air mineral yang diperuntukkan untuk jamaah.
Menyodorkannya pada Dihyan yang baru saja berhenti menangis. Pasti haus pikirnya.
Benar, segelas air mineral langsung tandas.
Berangsur menyodorkan gelas kedua, mendapat gelengan kepala dari Dihyan.
"Alhamdulillah jika mau mengakui dosa seseorang. Lebih bersyukur lagi ketika ia mau bertaubat."
"Sesungguhnya seorang hamba, jika ia melakukan dosa maka terdapat bintik hitam dalam hatinya, dan jika ia bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa itu serta beristighfar, maka hatinya kembali dibersihkan".
"Adakah jalan untukku bertobat?" Dihyan.
"Ada."
"Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan."
Lanjut abah membacakan hadis tentang taubat teruntuk DIhyan.
"Lalu bagaimana dengan istriku?"
"Hukum istri meninggalkan suami adalah jelaslah haram."
"Kecuali beberapa kasus, termasuk tentang keselamatan sang istri."
"Apakah dengan istriku pergi berarti jatuh talak padanya?" Dihyan.
Ayah dan abang hanya menjadi pendengar pria yang tengah curhat itu.
"Apa memang talak terucap dari suami?"
Dihyan menggeleng, mengingat diri tak pernah mengucapkan kata talak meski hanya dalam mimpi.
Bahkan ia mati-matian mempertahankan rumah tangganya dengan memohon pada papa agar membatalkan perceraiaannya.
"Kamu bisa menjemput istrimu, dia masih istrimu."
Bagai mendapat oase di padang pasir, ingin sekali ia berlari menuju sumber air demi itu demi membasahi kerongkongan yang kering.
Tapi Jangan berlari, arah menuju oase itupun ia tak tahu kemana.
Bayangan RIma tak nampak sekalipun.
Meski dalam hati bertekat ingin menjemput Rima, dan melanjutkan pernikahan dengan wanita itu.
\==============
Dari beberapa sumber.
Saat kalian membaca bab ini, jangan lupa tinggalkan oleh-oleh meski hanya satu ketikan jari.
Bab ini ada sedikit rasa takut. Takut salah, takut lalai dan takut berbohong.
Jika ada kesalahan atau kekhilafan dalam penulisan tolong tegur Dinda dengan kalimat yang tetap santun dan sopan.
Jangan di bully apalagi dihakimi.
Karena Dindapun masih baru belajar, dan akan terus belajar demi mempersembahkan yang terbaik.
__ADS_1
Meski masih banyak kekurangan.