Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bukan Bingkai Biasa


__ADS_3

"Rima."


Dihyan yang baru saja datangpun tak ia sadari. Hingga suara itu terdengar berikut kedua tangan yang telah melingkar di tubuhnya.


"Jangan seperti ini!" Ucap pria itu lirih dari balik telinganya. Pria itu telah mendengar semua perkataan Rima yang mungkin dalam dari hati terdalam. Namun pria itu jelas tak setuju dengan semua yang ia dengar dari bibir sang istri.


Ia yang dianggap tak menginginkan Rima sebagai istrinya, tidak, tidak seperti itu.


Rima yang tak pernah membuka mata dengan semua yang telah ia lakukan selama ini. Rima yang tak pernah melihat ketulusannya. Dengan kedua tangannya mampu membalik tubuh semampai itu menghadap ke arahnya. Merengkuh, memeluk, mendekap dengan penuh perasaan.


Pandangannya kini beralih pada bingkai besar yang berada di hadapannya.


" Simpan foto pernikahanmu dengan Nindy, setidaknya yang besar itu. Kamu tak tahu bagaimana perasaan Rima saat kalian bangun dan hal yang pertama yang ia lihat adalah foto pengantin itu. Dia pasti cemburu, apalagi foto pernikahan kalian sendiri tidak ada yang kamu cetak biar cuma sebiji!"


Perintah mama itu telah sedari lama, saat Rima baru saja kembali ke sisinya, namun ia abai. Beranggapan jika Rima pun tak pernah mengusik dan membahas itu.


Ternyata ia salah.


Mereka terlalu sibuk memperbaiki hubungan yang sering menemui batu sandungan dalam pernikahan mereka, tanpa pernah membahas perasaan masing-masing.


Dan kini ia telah melihat sisi cemburu Rima pada sebuah gambar yang sering ia jadikan pelipur lara pelepas rindunya pada mendiang sang istri.


"Maafkan aku!" Ucapnya dengan lirih, tangan melingkar sempurna pada tubuh sang istri sebentar-sebentar bergerak mengusap lembut di punggung.


Ia memang salah, salah banyak. Rima telah mengorbankan segalanya demi hubungan mereka, tapi apakah dirinya turut berkorban seperti Rima.


Tidak, ia bahkan masih sangat egois membiarkan sebuah gambar yang membuat sang istri terluka.


Kedua tangannya kini telah menangkup kedua pipi mulus yang telah basah itu, mengusap dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku!" Ucapnya lagi.


"Mama udah baikan, tapi masih di suruh istrirahat sana dokternya jadi kita belum di bolehkan masuk dulu!" Lebih baik mengalihkan topik dulu. Berbicara dalam keadaan karut marut seperti sekarang ini mungkin tak kan membuka jalan terbaik.


Dihyan mulai menyeret langkah menjauh dari sana menuju ke tempat tidurnya, Rima yang masih berada dalam dekapannya turut ikut. Perlahan membaringkan diri masih mengikutkan Rima dalam tindakannya.


"Kita istriahat dulu, sebentar baru bisa liat kondisi mama!" Tangan kembali bergerak di belakang punggung Rima.


Mata yang sedari tadi telah digunakan mengorbankan air mata itu memang telah berat, belum lagi beban dipundak yang sama beratnya hingga menjadikan Rima mudah terlelap dalam dekapan hangat sang suami.


Dihyan mampu menenangkannya dengan segala kata ringan dan sentuhan lembutnya.


Sementara Rima tertidur, Dihyan kembali bangkit setelah mampu melepaskan diri dari dekapan sang istri dengan sangat pelan.


Kini ia telah berdiri tepat di depan bingkai foto yang telah menjadi dilema.


Pembahasan dalam hatinya kini telah bertengkar. Hendak melepas namun tak tega. Biar bagaimanapun wanita itu pernah memenuhi hati dan hari-harinya.


Tak apa Iyyan, Rima akan maklum, toh hanya sebuah foto.


Cemburu Iyyan, Rima pasti cemburu. Dia akan tetap berpikir kamu hanya menganggapnya sebagai pencetak anak bukan sebagai istri yang seutuhnya.


Dalam hati seolah terbagi menjadi dua kubu.


Yang satu ingin menanggalkan foto itu, namun sebagian hati kecilnya masih menyayangkan jika foto itu harus hilang dari pandangan matanya.


Tapi bagaimana dengan Rima?


Wanita itu mungkin belum pernah merasa bahagia selama hidup bersama dengannya.

__ADS_1


Sementara Ia yang masih terus saja mempertahankan keutuhan rumah tangganya dengan gadis pilihan mendiang sang istri.


Ck, kenapa berat seperti ini padahal hanya sebuah bingkai foto saja?


Meski berat hati, kakinya melangkah meraih kursi dan menggeser dengan sangat perlahan hingga berada tepat di depan bingkai besar itu.


Sebelum ia benar-benar melepas bingkai itu dari paku yang tertancap di dinding kamar, ia masih sempat mengusap kaca bingkai tepat di posisi mendiang sang istri berdiri.


"Nindy, maafkan aku sayang! Bukan aku tak cinta lagi padamu, tapi aku hanya ingin menjalankan kehidupanku dengan normal dengan wanita pilihanmu itu."


" Rima sudah banyak menderita, aku ingin dia merasakan sedikit saja kebahagiaan dan ketenangan saat hidup bersamaku."


" Aku ingin menjadi suami yang sesungguhnya untuk Rima."


Hingga akhirnya bingkai itu telah benar-benar tak menempel lagi pada dinding kamarnya.


Berat hatinya seberat ia yang memindahkan bingkai sebesar satu meter itu seorang diri. Harus hati-hati, jika tidak mungkin ia akan merusaknya.


"Maafkan aku sayang, bukan maksudku untuk melupakanmu. Kamu akan selalu ada dalam hatiku!" Ucapnya lagi dengan lirih.


Masih dengan perlahan membuka pintu kamar, kemudian berlalu dengan bingkai besar itu. Menyerahkan pada art untuk dititipkan di ruang kerja sang ayah.


Kini ia kembali bekerja dengan sangat pelan dengan bingkai yang sama besarnya. Sebuah lukisan abstrak yang ia ambil dari ruang kerja papa-nya kini telah ia bawa masuk ke dalam kamar.


Ah, bukan ambil, tapi lebih tepatnya bertukar tanpa ijin.


Nanti sajalah berbicara dengan papa, beliau pasti mengerti dan takkan marah lukisannya dia ambil, hihihi. Padahal tak ada yang menjamin, itu hanya asumsinya sendiri.


Hingga saat Rima bangun, wanita itu telah mendapatkan pemandangan yang berbeda, tapi apa yah?

__ADS_1


Wanita itu tengah mencoba menerka apa yang berbeda itu, namun tak ketemu. Kondisi sang mama mertua lebih membuatnya penasaran saat ini. Terlebih lagi Dihyan tak berada di kamar ini bersamanya, mungkin bersama keluarga yang lain di kamar mama?


__ADS_2