Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Surat Cinta Dari Pengadilan


__ADS_3

“Ren, tolong bantu aku cari Rima!” Kalimat itu beberapa kali terlontar dari mulut Dihyan saat mereka bertemu, kadang mengiba.


Namun bukannya menjawab Reno akan meninggalkan Dihyan, bahkan kadang tanpa kata pamit.


Beruntung kamu Dihyan, Reno tidak menyerahkan surat pengunduran dirinya dan membiarkanmu menjalani hari-hari yang semakin tersiksa di matanya.


Di saat pria itu sibuk dengan urusan kantor, kamu justru sibuk mencari istrimu yang pergi.


Harusnya berterima kasihlah pada Reno!


Hinga tepat empat puluh hari sejak Rima kabur.


“Arrrkkkkk,”


Lagi-lagi suara Dihyan menggema memenuhi seluruh rumah.


“Kak, ada apa?” Dianra masih setia menemani kakaknya untuk tinggal di rumah itu. Dan itupun atas perintah papanya. Berlari pelan mendekat ke arah DIhyan.


Andra melihat berkas yang tak jauh dari tempat duduk Dihyan, nampak berkas itu telah kusut.


Hanya membaca sekilas, orang-orang bisa menebak isinya apa?


PENGADILAN AGAMA, Surat Gugatan Perceraian.


Prank!


Prank!


Prank!


Beberapa barang telah menjadi korban menyusul surat cerai itu. Tragis, dan naas.


Bahkan sebelum ditemukan, Rima telah mengajukan gugatan cerai padanya.


Bagaimana caranya?


Artinya RIma benar-benar keguguran waktu itu.


Jika tidak, pengadilan tak akan menyetujui perceraian saat istri saat tengah mengandung bukan?


Dihyan menghempaskan tubuhnya sendiri diatas sofa, menopang kepala dengan kedua tangannya, berat dan pening. Mata tertutup mengeluarkan setitik air.


Dihyan menangis? Ya, dia menangis setelah sekian lama menahan kesedihannya sendiri, kini ia telah berani mengeluarkannya.


Ia mulai rapuh, meski belum lelah mencari.


Sekerat perih semakin terasa.


“Kak,” Andra mendekati kakaknya.


Mengulurkan tangan hendak menepuk pundak sang kakak. Memberikan ketenangan dan dukungan.


Namun hal yang tak disangka-sangka terjadi, Dihyan menepis tangan yang dulu selalu ada di sampingnya, mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke lantai.


Kini Dihyan telah berdiri di depan adik perempuannya itu.


“Karena kamu! Karena kamu istriku pergi!” Dihyan meneriakinya, sangat keras hingga ia tak sanggup untuk tidak menutup telinganya.


“Kamu yang menghasutku untuk membencinya. Kamu yang bilang Rima sengaja membunuh Nindi, padahal kamu tau sendiri keadaan Nindi saat itu.”


“Nindi sakit Ndra." Ucapanya dengan penekanan.


"Kanker serviks stadium akhir. Kamu tau itu kan? Setidaknya kamu tau berapa persen kemungkinan Nindi bisa bertahan. Bukan menuduh Rima membunuh Nindi."

__ADS_1


"Kamu perempuan Ndra, setidaknya kamu mengerti perasaan Rima. Rima mengorbankan kebahagaiannya dan mengikuti kemauan Nindi untuk menikah denganku.” Dihyan masih berdiri di depan Andra dengan telunjuk yang beberapa kali mengarah ke arah DIandra.


Mungkin dia lupa jika dirinya juga turut andil dalam menyiksa Rima, bahkan sangat menyiksanya hingga melakukan percobaan bunuh diri.


“Arrrkkkkk,” Dihyan mengamuk tak menentu. Menarik rambut sendiri yang semakin sakit saja. Meja kaca yang berada tepat di hadapannya tak luput dari amukan.


“Kamu tau,Nindi menginginkan anak dari Rima, dan aku membuatnya keguguran.”


Isak tangis tenggelam oleh teriakannya sendiri.


Sadar atau tidak, Dianra hanya terdiam mendengarkan ocehan kakaknya.


Benar dia yang menghasut kakaknya untuk membenci Rima.


Benar keadaan Nindi sulit untuk bertahan, dan dia mengalihkan penyebab kematian Nindi pada Rima.


Benar Rima mengorbankan kebahagiannya sendiri demi memenuhi keinginan terakhir Nindi.


Bagaimana perasaan Rima ketika itu harus menikah dengan Dihyan, orang yang tidak ia cintai.


YA, aku yang salah. Aku tidak mengerti keadaan Rima. Dendam bod dohku mengalahkan perasaanku sebagai wanita.


Kini Andra turut mengeluarkan cairan bening dari matanya.


Terlambat, karena Dihyan dan Rima sebentar lagi akan bercerai, bahkan mereka belum menemukan Rima hanya untuk membujuk.


Ombak besar telah berhasil memporak-porandakan mahligai rumah tangga yang memanglah rapuh sedari dulunya.


Apakah Dihyan telah mencintai Rima?


Cinta atau tidak yang jelas sekarang Dihyan membutuhkan Rima.


Dihyan mencari Rima setiap waktu luangnya, tanpa bantuan keluarganya, hanya dengan bantuan anak buahnya.


Dianra meninggalkan kakaknya yang masih uring-uringan tak menentu.


Ada para ART yang akan menenangkan pria itu.


Bi Titi bahkan telah tahu di mana akan menemukan obat penenang untuk DIhyan.


Diandra meraih kunci mobil dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman kakaknya.


Tujuannya belum jelas, asalkan dia segera meninggalkan kakaknya setelah menuduhnya sebagai penyebab kepergian Rima.


Bukan, ralat yah. Menyebutnya sebagai penyebab Rima kabur. Karena memang yang dikatakan kakaknya benar adanya. Diapun tak menyangkal tentang hal itu.


Menggigit keras bibirnya sendiri.


Ada yang tertekan di dalam dada, saat melihat kondisi kakaknya, yang terjatuh hanya karena kepergian RIma.


Tak bisa di pungkiri, hatinya pun hancur saat ini.


Menjadi arah telunjuk sebab musabab kehancuran rumah tangga kakaknya.


Ia seorang wanita.


Ya memang, ia wanita.


Lalu apa yang salah?


Secara sadar dan seratus persen sadar kini Dianra telah berada di pekarangan Reno.


Kenapa mesti Reno menjadi orang yang pertama ia tuju saat ini? Entahlah.

__ADS_1


“Om, kak Reno ada?” Dianra tak mampu menyembunyikan airmatanya di depan bapak Reno.


“Ada di dalam. Ren, Reno. Ada Dianra,” Bapak Reno sedikit berteriak.


Tergesa berdiri dari duduk saat melihat wajah sembab gadis itu.


Reno muncul dengan sedikit berlari, bisa di tebak ini pasti tentang Dihyan.


Rasa khawatir mengingat kondisi Dihyan yang beberapa kali terlihat uring-uringan mencari keberadaan Rima.


“Kak Reno,” Andra langsung berlari menubruk dan memeluk Reno.


Kaget?


Pastinya.


Reno meringis di balik pundak gadis itu.


Meskipun terlihat akrab, Reno dan Andra tak pernah sedekat ini. Kini mereka bertemu dan langsung berperlukan? Bahkan di depan orang tua Reno.


Reno menggelengkan kepala saat pandangannya bertemu dengan pandangan bapak.


Seolah ingin mengatakan, dia tak mengerti atau ingin bilang bukan aku yang memeluknya duluan.


“Kenapa?”


Reno meskipun sedikti canggung tetap menepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya.


“Kak Dihyan,”


Andra masih memeluk Reno, suara teredam di dada sang pria juga isak tangis.


“Kita bicara di sana!”


Reno mengajaknya duduk di ruang tamu, dan berjalan masuk ke dapur guna mengambilkan minum untuk Andra.


Andra menyembunyikan wajahnya pada bantal sofa yang di letakkan di pangkuannya. Masih menangis dalam pelukannya sendiri.


Hingga Reno datang dengan segelas air putih dan diletakkan di atas meja. Reno kembali menepuk-nepuk punggung gadis itu, berupaya menenangkan.


Hingga beberapa lama, airmata berangsur surut iapun berani mengangkat kepalanya.


“Udah baikan?” Reno, dan Andra hanya mengangguk, “ Sudah bisa bicara?” Tanyanya lagi.


“Minum dulu, kamu pasti haus habis nangis!”


Diandra menuruti, memang haus hingga air gelas hanya menyiskan sedikit air putih.


“Jadi?”


Menarik napas perlahan, gadis ini telah siap berkata. Diandra menoleh ke arah Reno, mengangsur tangan menghampiri sebelah tangan pria itu yang menganggur.


“Kak, tolong bantu kak Iyyan cari Rima!”


Reno langsung mengambil tangannya yang sedari tadi masih menempel di punggung Andra setelah mendengar uacapannya. Berikut wajah yang langsung sedikit masam saat mendengar permintaan itu.


“Kak, kenapa?” Andra melihat perubahan Reno. “Kenapa kakak tidak mau membantu kak Dihyan?”


“Rima terlalu lama menderita hidup bersama Dihyan,” Reno.


“Rima mengajukan gugatan cerai.”


"Hah?"

__ADS_1


To Be Continued!


__ADS_2